Pijat Sensasi.

Aku Hary. Ingat kisah Hadiah Untuk Istriku ? Namun kali ini aku tidak menceritakan pengalamanku dan istriku dulu, melainkan justru pengalaman keluarga temanku, Ferry.

Ya, Ferry yang dalam kisah Hadiah Untuk Istriku itu. Ferry yang bersama-sama denganku memberikan kepuasan seksual pada istriku di villa itu.

Sejak kejadian di villa itu, justru Ferry lebih terbuka mengenai keluarganya dan seluruh pengalaman kehidupan seksualnya, termasuk apa yang akan aku ceritakan ini.

Pengalaman seksualnya dimulai justru dari kebiasaannya dipijat. Ferry memang memiliki juru pijat langganannya yang setiap minggu memijatnya. Juru pijat itu seorang lelaki seumuran dengannya. Ferry memang mengambil juru pijat lelaki karena tidak ingin ada anggapan negatif, baik dari tetangga sekitarnya ataupun dari Dina istrinya sendiri. Namun justru disinilah awal mula petualangan seksual dirinya dan istrinya itu.

Inilah kisah dan pengalaman selengkapnya sebagaimana yang dia ceritakan kepadaku.

————-

Seperti yang sudah-sudah, Ferry rutin menggunakan jasa juru pijat. Darwis nama si juru pijat itu. Ferry terkesan dengan kemampuan Darwis dalam memijat karena dia sangat ahli dan bisa menghilangkan kepenatan Ferry yang sehari-hari bekerja sebagai seorang sopir di perusahaannya tempat bekerja.

Kejadian diawali saat satu hari di hari Minggu. Ferry menawari Dina istrinya untuk mencoba pijatan Darwis. Mulanya Dina menolak, karena merasa risih dipijat oleh seorang juru pijat lelaki. Namun karena Ferry mendesak, akhirnya istrinya itupun menerima, dengan syarat ditemani olehnya.

Maka mulailah Dina dipijat. Hanya mengenakan sehelai kain penutup tubuhnya, Dinapun mulai menerima pijatan Darwis. Awalnya Dina terlihat canggung dan risih, namun dengan keahlian Darwis, akhirnya Dinapun mulai menikmati pijatan si juru pijat lelaki itu.

Sebenarnya, kalau pada awalnya Dina merasa risih dan agak sungkan dipijat oleh Darwis, namun semakin lama Dina merasakan nyaman juga dengan pijatan lelaki itu. Dan tanpa diketahui Ferry, sesungguhnya diam-diam Dina merasakan ada sesuatu yang asing pada setiap sentuhan jari tangan lelaki itu. Sesuatu yang muncul begitu saja tanpa diinginkan dan disadarinya pada awalnya. Gerakan jari tangan lelaki itu, mengalirkan desiran-desiran aneh dalam dirinya. Desiran-desiran yang membuat tubuhnya terasa agak meradang. Desiran-desiran yang tanpa sadar membangkitkan hasratnya. Dan keadaan itu terus meningkat sampai akhirnya Dina selesai dipijat.

Sampai di situ, Dina harus berjuang mengendalikan dirinya yang seakan lepas kontrol. Sampai selesai dipijat, Dina tak berani bangkit dan tetap berbaring telungkup untuk menutupi perubahan pada dirinya, terutama di raut mukanya. Dina tak ingin Ferry mengetahuinya.

Dan pijatan keduapun seharusnya berlangsung seminggu kemudian. Namun karena Dina menolak dan tak ingin mengalami apa yang dirasakannya minggu lalu. Walau sesungguhnya, penolakan itu tidaklah penuh, karena sebagian hatinya menginginkan apa yang dirasakannya minggu lalu dirasakannya kembali. Dina ingin, Ferry kembali memaksanya. Dan hal itu…tak terjadi kali ini.

Dan di minggu berikutnya, kejadian itu berawal.

Kali ini Dina merasakan suatu ketegangan. Ketegangan yang sama dirasakannya pada saat pertama kali dipijat lelaki itu. Hanya ketegangannya kali ini berbeda bentuk, dan itu hanya Dina sendiri yang mengetahuinya.

Sentuhan pertama sudah membuat Dina harus memejamkan matanya. Sentuhan jari-jari tangan Darwis dipermukaan kulit punggungnya yang putih dan mulus itu. Sentuhan yang kembali membangkitkan desiran-desiran aneh dalam diri Dina. Desiran-desiran yang membuat jalan napasnya seakan tersendat.

Entah mengapa, dipijatan kali ini Dina merasakan kalau pijatan Darwis tak seperti sebelumnya. Pijatan lelaki itu kali ini seperti tak sungguh-sungguh memijat layaknya seorang pemijat, namun seperti sebuah usapan dan belaian saja. Hanya tekanan-tekanan kecil saja di bagian punggungnya yang terbuka.

Andai saja dirinya tak menginginkan, sudah pasti dirinya akan keberatan dengan apa yang dilakukan lelaki pemijat itu. Namun Dina hanya diam, karena memang sesungguhnya dirinya menginginkan dan menikmati apa yang dilakukan lelaki itu.

Dan Dina semakin sulit menahan rasa sesak di dadanya. Rasa sesak karena dirinya harus mengendalikan jalan napasnya yang semakin meningkat, namun berusaha disembunyikannya.

Dina semakin tak berdaya, manakala gerakan jari tangan Darwis di punggungnya itu sudah semakin jauh mengarah ke bagian depan. Gerakan yang terselubung namun cukup disadari oleh Dina. Gerakan yang seakan tak disengaja, namun Dina mengetahui pasti kalau lelaki itu sengaja melakukannya.

Dan Dina hanya mampu menggigit bibir bawahnya sendiri manakala jari tangan Darwis benar-benar mengarah ke perbatasan antara tulang rusuk bagian dalamnya dengan kaki bukit payudaranya. Sekujur tubuhnya terasa mulai meradang merasakan desiran-desiran yang semakin kuat, membuat aliran darahnya terus meningkat. Dan keadaan itu sungguh-sungguh tak mampu dikendalikannya manakala akhirnya Dina merasakan jelas-jelas kalau Darwis memang melakukan sentuhan di kaki bukit payudaranya.

Sentuhan yang terus berlanjut dan semakin dalam. Semakin turun dan semakin mengarah. Dina benar-benar dibuat tak berdaya. Tanpa sadar dan kendalinya, Dina merasakan bagian bawah tubuhnya sudah basah. Basah pada bagian organ keintimannya. Basah oleh gairah yang terbangkitkan oleh sentuhan lelaki itu.

Untungnya, “siksaan” itu segera berakhir. Lelaki pemijat itu menyudahi kerjanya di bagian tubuhnya. Kini Darwis mulai melakukan pijatan di bagian bawah, di kedua kaki-kaki Dina. Untuk sesaat Dina bisa bernapas lega.

Ternyata, Dina hanya mampu bernapas lega sesaat. Ya, sesaat. Karena saat Darwis mengurut bagian bawah tubuhnya itu, “siksaan” lain kembali menderanya, bahkan semakin kuat.

Kalau pada pijatan dua minggu lalu, Darwis hanya memijat sampai ke bagian sepertiga pahanya saja, namun kali ini….lebih jauh. Dina menyadari dengan pasti, kalau lelaki itu menggerakkan tangannya jauh lebih ke atas lagi. Bergerak menyelusup jauh ke atas ke balik kain yang menutupi tubuhnya. Gerakannya semakin lama semakin jauh. Dan Dina…sungguh menyadarinya, namun tak berdaya menghentikannya.

Dina hanya bisa menahan napas saat lelaki pemijat itu semakin jauh bergerak naik. Turun kembali sampai ke lekukan kedua lututnya, lalu naik lagi ke atas dan semakin mendekati ujung pangkal paha bagian atasnya. Terus dan semakin dekat. Dina semakin tegang sekaligus…ingin lelaki itu bergerak semakin jauh. Namun sampai beberapa gerakan, lelaki itu hanya bergerak sebatas beberapa inci dari pangkal paha. Dina terus menunggu dan terus menunggu, namun belum juga didapatkannya. Gerakan tangan lelaki itu tetap tak beranjak dari posisi, hanya beberapa inci dari posisi akhir yang diinginkan Dina.  Putus asa, dirinya menginginkan lelaki itu “menyelesaikan” gerakannya.

Andai saja dirinya bukan siapa-siapa. Bukan seorang wanita bersuami. Andai saja dirinya tak sedang berada di dekat suaminya. Dan andai saja… Ya andai saja dirinya bebas dari segala tuntutan norma dan aturan sebagai seorang istri, tentu Dina sudah meneriakkan apa yang diinginkannya. Dina akan meneriakkan agar lelaki pemijat itu melakukan langkah akhir. Langkah akhir yang saat ini sangat diinginkannya. Dan dengan sudut matanya, Dina melirik ke belakang dimana Ferry suaminya masih duduk menemaninya.

Namun rupanya, apa yang diinginkan Dina untuk saat ini nampaknya harus ditelannya bulat-bulat. Dina tak lagi mempunyai harapan untuk mendapatkan keinginannya. Apalagi kini gerakan tangan lelaki itu justru semakin menjauh dari posisi yang diinginkannya. Lelaki itu justru kini mengarahkan gerakannya kembali ke kedua tumitnya. Lelaki itu justru kini…menjauh. Dina hanya mampu menggigit bibirnya sendiri dengan sejuta kekecewaan.

“Akh” tanpa sadar Dina terpekik saat merasakan lecutan dalam dirinya karena tanpa diduga, dengan gerakan tiba-tiba, Darwis…bergerak naik dan langsung… menusuk pangkal pahanya. Dengan spontan Dina menoleh, bukan hendak memprotesnya, namun lebih mencari sosok suaminya yang semula duduk di kursi dekat pintu masuk kamarnya. Dan tatkala tak dijumpai sosok suaminya, pandangan Dina kini beralih ke lelaki pemijat itu. Pandangan yang bimbang apakah akan memprotes tindakan lelaki itu ataukah…membiarkannya. Dan…dengan sikap yang terbaca, Dina tak melakukan protes apa-apa. Dina bahkan menunggu tindakan selanjutnya dari lelaki itu.

Rupanya Darwis menggunakan kesempatan saat suaminya keluar. Dan apa yang dilakukan lelaki itu, justru memang yang diinginkannya. Entah karena sudah di belenggu hasrat atau memang dirinya sudah hilang kesadaran, Dina justru kali ini senang dengan ketidak hadiran suaminya itu. Dan kesempatan itu tak ingin disia-siakannya. Dina ingin merasakan sesuatu yang berbeda. Berbeda getaran dan sensasinya. Berbeda rasa dan kenikmatannya. Berbeda lelaki yang melakukannya.

Satu gerakan saja, membuat Dina harus menahan pekikannya. Satu gerakan yang membuat tubuhnya tersentak untuk kemudian bergetar hebat. Satu gerakan yang tiba-tiba namun tidak kasar. Satu gerakan sentuhan dan diikuti sapuan di permukaan selangkangnya yang membuat Dina tanpa sadar merenggangkan kedua pahanya. Satu gerakan yang melambungkan sukmanya. Satu gerakan yang….

“Mmmhhh” tak kuasa Dina melepaskan segala apa yang dirasakannya. Lelaki pemijat itu benar-benar telah menerbangkannya ke awang-awang. Gerakan jari tangannya demikian lihainya, bergerak-gerak lembut dan perlahan namun dengan tekanan yang menentukan. Gerakan dan tekanan yang sangat tepat membuat pinggul bulat Dina terangkat tanpa sadar. Satu dua gerakan yang terukur dan akhirnya…

Dina hanya mampu menggigit bantal yang menjadi penyangga kepalanya. Jari-jari tangannya meremas kuat kedua tepian bantal itu saat dengan beraninya lelaki pemijat itu menyelipkan jari-jari tangannya di lipatan celana dalamnya. Bergerak sedikit dan menyingkirkan bagian celana dalamnya, persis di posisi yang tepat. Dina tersentak tak percaya saat dirasakannya jari-jari lelaki pemijat itu…menyelusup masuk ke dalam…liang kewanitaannya !

Menusuk dalam dan dalam sekali. Dina sampai menarik pinggul bulatnya ke belakang hingga bongkahan pantatnya semakin terangkat naik. Kedua pahanya semakin merenggang. Dina hanya mampu menahan napas saat jari-jari tangan lelaki itu bergerak-gerak lincah di dalam rongga kewanitaannya, sementara jari lainnya menari-nari memijat dan menggelitik bagian tersensitif di luar rongga kewanitaannya. Dina hanya mampu diam dan terus diam merasakan seluruh perasaannya yang demikian menggila. Darwis terus melakukan gerakan-gerakan nakal di bagian terintim dirinya. Dan Dina….semakin tenggelam. Tenggelam dalam ketidak berdayaannya. Tenggelam dalam ketidak sadarannya. Tenggelam dalam ketidak ingatan akan dirinya. Dina lupa segala-galanya.

“Mmmhh…mmhhh” berkali-kali rintihan tertahannya meluncur seiring dengan semakin lihainya gerakan jari tangan lelaki pemijat itu di organ kewanitaannya. Pinggul bulat Dina tanpa kendali bergerak-gerak seakan memberi isyarat kalau dirinya amat sangat menikmati apa yang dilakukan oleh lelaki pemijat itu. Gerakan yang memberi isyarat agar lelaki pemijat itu semakin memberi segala sesuatu yang diinginkannya. Gerakan yang memberi isyarat agar lelaki itu terus melakukannya hingga akhir.

Namun sayang, Dina harus kecewa. Bertepatan dengan suara daun pintu yang terbuka, Dina merasakan lelaki pemijat itu menarik tangannya dengan cepat. Meninggalkan posisinya semula. Meninggalkan dirinya yang berada tergantung di awang-awang tanpa terselesaikan. Meninggalkan dirinya yang hanya bisa menggigit bibir bawahnya sendiri dengan segudang kekecewaan. Dina sangat kecewa karena merasa tak terselesaikan.

“Sudah pak. Selesai memijatnya” terdengar ucapan lelaki itu. Dina hanya bisa diam. Hanya bisa pasrah. Dan hanya bisa kecewa karena digantung tanpa penyelesaian.

Sampai Darwis pulang, Dina hanya bisa berbaring dengan segala perasaan yang dialaminya. Ingin rasanya dirinya minta diselesaikan oleh suaminya sendiri, namun Dina tak berani. Khawatir suaminya bertanya-tanya, mengapa selesai dipijat dirinya meminta. Khawatir akan dugaan dan pertanyaan yang mungkin timbul dalam benak suaminya. Akhirnya Dina hanya mampu diam hingga terlelap karena kelelahan sendiri.

Sebenarnya, tanpa juga diketahui oleh Dina juga, Ferry suaminya sudah mengetahui apa yang dialami dan dirasakan Dina, istrinya itu. Sejak minggu pertama, Ferry membaca apa yang dialami oleh istrinya itu. Dan pada saat itu, sesungguhnya Ferry merasa cemburu juga melihat Dina istrinya itu justru menikmati pijatan Darwis dengan cara yang berbeda.

Akibat didera rasa cemburu, itulah kenapa pada minggu berikutnya Ferry tidak memaksa Dina untuk dipijat. Namun uniknya dan anehnya, pada hari-hari menjelang minggu ke tiga, justru Ferry merasakan sesuatu yang berbeda. Ferry seolah merasakan sensasi dan gairah tersendiri menyaksikan Dina menikmati sentuhan lelaki lain. Sensasi yang akhirnya menghadirkan imajinasi akan variasi kehidupan seksuilnya. Ferry ingin mencoba petualangan baru dan nampaknya istrinya itu memungkinkan. Oleh karenanya, di minggu ke tiga ini Ferry membujuk Dina untuk mau di pijat lagi. Dan gayungpun bersambut.

Dan tadi, Ferry benar-benar merasa sangat luar biasa. Sensasi yang dialaminya dan ketegangan serta daya tarik seksualnya benar-benar memuncak manakala diam-diam setelah dirinya pura-pura keluar lalu diam-diam mengintip dari celah-celah lubang angin di bagian atas pintu kamarnya, dengan jelas dirinya melihat dan mendengar apa yang dialami Dina istrinya itu. Hampir saja dirinya membiarkan Dina menyelesaikan apa yang tengah dinikmatinya bersama lelaki pemijatnya itu. Bukan hanya penyelesaian yang sepihak dan sebatas permainan jari tangan, namun lebih dari itu. Namun Ferry tak ingin terburu-buru dan gegabah. Biarlah waktu nanti yang menyelesaikannya.

Satu minggu berikutnya kembali Dina dipijat. Kalau biasanya di hari Minggu, namun kali ini dimajukan, menjadi Sabtu sore. Ferry sendiri yang menginginkan hal itu.

Antara takut akan digantung seperti minggu sebelumnya dengan kerinduan untuk merasakan kembali apa yang dirasakannya minggu lalu. Dina sangat berharap, di kali ini dirinya bisa terselesaikan, entah bagaimana caranya nanti. Demikian juga halnya dengan Ferry. Dirinya berharap, kali ini semuanya bisa berjalan hingga akhir dan dapat mengalami suasana dan nuansa baru dalam kehidupan seksual suami istrinya. Apalagi kini keadaan sangat mendukung, karena sejak Sabtu pagi tadi kedua anaknya yang sudah duduk di bangku SMA dan SMP sedang berlibur di rumah orang tua Dina. Tinggallah mereka hanya berdua saja di rumah.

Jam tujuh malam, Darwis datang. Setelah berbincang sesaat, acarapun dimulai. Kalau sebelumnya Ferry mendahului dipijat oleh Darwis, namun kali ini Ferry menyilahkan Darwis untuk langsung memijat Dina. Untuk tak menimbulkan kecurigaan istrinya, Ferry tetap menemani Dina dipijat. Duduk tenang di sudut kamar dekat pintu kamar. Namun diam-diam, mencuri pandang di balik kamuflase bacaannya.

Sampai beberapa saat, acara pijatan berlangsung seperti biasanya. Dina rebahan telungkup dengan selembar kain yang menutupi sebatas punggung dan betisnya, sementara Darwis terus memijat. Ferry mencari cara dan alasan untuk memberi moment dan kesempatan agar apa yang menjadi fantasinya tercapai. Demikian pula sebaliknya Dina. Dia berharap menemukan moment yang tepat untuk bisa mendapatkan apa yang tak didapatkannya di minggu lalu.

Sampai akhirnya Ferrypun mendapatkan ide. Pura-pura beberapa kali menguap kantuk, Ferry memberi alasan dan kesempatan. Dengan gerakan yang meyakinkan Ferry berpura-pura terkantuk-kantuk sampai bahan bacaannya terjatuh, dan itu diamati oleh Dina istrinya, namun dia diam saja.

Tiba saatnya Ferry menjalankan skenario berikutnya. Dengan pura-pura terhuyung-huyung, Ferry melangkah keluar. Sambil berjalan ke arah sofa, dimatikannya lampu ruangan tengah itu. Cukup cahaya dari kamar tidur yang menerangi ruangan tempat bersantai itu.  Pintupun dibiarkannya terbuka sebagian lalu dirinya rebahan di sofa dengan tetap bisa saling melihat ke dalam kamar dan juga sebaliknya. Perlahan namun pasti, Ferry berpura-pura terlelap dalam tidur namun dengan sedikit memicingkan mata tetap mengawasi ke dalam kamarnya. Belum ada gerakan beberapa saat. Baik Ferry maupun Dina saling menunggu hingga akhirnya….

“Sebentar” ujar Dina sambil memberi isyarat agar Darwis menghentikan dahulu pijatannya. Dina bangkit sambil melilitkan kain ke tubuhnya lalu melangkah mendekat ke suaminya. Dari celah matanya, Ferry bisa melihat istrinya tengah menuju ke arahnya. Ferrypun langsung merapatkan kedua matanya saat Dina semakin mendekat dan pura-pura tertidur pulas.

“Mas…mas” Dina mencoba membangunkan, namun Ferry tetap diam, seakan sangat terlelap. Sekali lagi Dina coba membangunkan, namun Ferry tetap diam. Dina akhirnya kembali melangkah masuk dan…dia menutup lebih rapat pintu kamar tidurnya seperti takut terlihat dari luar. Ferry menunggu sesaat dengan penuh ketegangan.

Setelah dirasa cukup, Ferrypun bangkit perlahan dan mendekat ke pintu kamar tidurnya. Dicoba memeriksa celah pintu, ternyata tak ada celah, walau tak tertutup sampai penuh. Didekatkannya telinganya untuk mencoba mendengarkan suara dari dalam. Hening, tak ada suara. Ferry diam sejenak, lalu dengan gerakan yang sangat hati-hati, sofa kecil yang ada di dekat pintu kamar tidurnya dia angkat dan diletakkan di depan pintu.

Dengan gerakan perlahan dan hati-hati, Ferry menaiki sofa itu dengan perasaan tegang. Perlahan di angkat wajahnya sampai dapat melihat ke dalam kamar tidurnya melalui celah ventilasi pintu kamar tidurnya. Dan terlihat, Dina sudah kembali telungkup melanjutkan pijatannya. Posisi rebahan Dina cukup tepat agak menyamping dengan kaki ke tepi luar tempat tidurnya. Lampu kamarpun tidak dimatikan, semua seperti biasanya.

Dan kembali seperti minggu lalu, Ferry menyaksikan istrinya itu tengah menikmati pijatan Darwis. Bahkan kini…ya…kini, dengan jelas Ferry dapat melihat gerakan jari tangan Darwis sudah lebih jauh lagi dibandingkan minggu sebelumnya. Dan kali ini, dikala dirinya tak ikut hadir di kamar itu, gerakan Darwis tak terlihat lagi seperti tengah memijat seperti sebelumnya, namun…lebih tepat dikatakan…membelai. Ya, lelaki pemijat itu kini dengan jelas bukan lagi sedang memijat melainkan…sedang membelai-belai. Membelai-belai punggung Dina yang terbuka. Belaian yang lalu mengarah ke bagian depan tubuh istrinya itu. Dan Dina…tak menolaknya, bahkan terlihat jelas…menerimanya.

Dengan perasaan tegang sekaligus…gairah, Ferry dapat melihat gerakan jari-jari tangan lelaki pemijat itu semakin berani mengarah ke depan menuju gundukan kedua payudara Dina. Sementara Dina sendiri memang…menikmatinya. Bahkan dalam satu gerakan…Dina mengangkat sedikit badannya, memberi ruang bagi Darwis. Jelas dan sangat nyata terlihat oleh Ferry, kalau istrinya itu semakin mengangkat dadanya hingga….tergantung. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Darwis. Dengan pasti lelaki pemijat itu bergerak maju dan….

“Mmmmhhh” terdengar suara rintihan Dina saat tangan Darwis akhirnya… untuk pertama kalinya menyentuh payudaranya. Bukan hanya menyentuh, bahkan… menggenggamnya !

Sungguh suatu perasaan yang sulit dilukiskan yang dirasakan oleh Ferry saat ini. Perasaan aneh sekaligus sangat membangkitkan hasrat birahi menyaksikan untuk pertama kalinya Dina istrinya berada dalam rengkuhan lelaki lain. Dan Ferry semakin tenggelam dalam seluruh perasaannya, manakala menyaksikan Dina istrinya sangat menikmati hal itu. Rintihan Dina walau berusaha disembunyikan, terdengar jelas oleh Ferry. Bahkan kini, Dina terlihat menggelinjang dalam dekapan Darwis.

Dina sendiri sudah semakin tenggelam dalam buaian rasa nikmat. Nikmat dan sensasi yang menggila. Seluruh tubuhnya terasa menggigil merasakan gelitikan dan pilinan jari tangan lelaki pemijatnya itu di kedua putting payudaranya yang sudah mengeras. Dina hanya bisa memejamkan kedua matanya sambil berusaha menahan rintihannya merasakan permainan jari-jari tangan lelaki asing di kedua payudaranya itu. Terasa sangat berbeda, asing dan penuh misteri namun sangat nikmat. Belaian, remasan, gelitikan dan pilinan jari tangan Darwis benar-benar melambungkan sukmanya.

Walau hanya berlangsung beberapa menit saja, namun tindakan lelaki pemijatnya itu telah mengantarkan Dina ke puncak gairahnya. Dan tatkala Darwis mulai bergerak ke bawah, Dinapun….bersiap.

Ferry menyaksikan, Darwis mulai menyentuh kedua kaki istrinya. Dari apa yang dilihatnya sesaat tadi, Ferry dapat memastikan kalau segala sesuatunya akan berakhir sesuai dengan fantasinya. Dan itu semakin terlihat manakala dengan gerakan pasti, Darwis mulai memijat kedua kaki Dina. Bukan, bukan memijat, tapi… membelai ! Ya, membelai. Sambil bergerak membelai kedua paha paha mulus Dina, Darwis menyingkap kain yang menutupi bagian tengah istrinya itu lebih tinggi lagi. Hal yang tidak dilakukannya saat dirinya hadir di kamar itu. Dan hal itu ternyata…tak ditolak oleh Dina.

Satu dua gerakan, Ferry melihat belum sesuatu yang berarti. Namun digerakan berikutnya….Ferry menahan napasnya. Terlihat dengan jelas, Darwis mulai mengarahkan gerakannya ke pangkal paha Dina. Dari balik kain yang masih menutupi sebagian bongkahan pantat Dina, Ferry dapat menyaksikan gerakan-gerakan tangan lelaki itu dari gelombang-gelombang kain penutup tubuh bagian bawah istrinya itu, dan Ferry dapat memastikan kalau Darwis sudah berhasil menggapai tujuannya…pangkal paha Dina. Hal itu terlihat juga dari gerakan pinggul Dina yang terangkat naik. Juga dengan gerakan kedua paha putih mulus Dina yang merenggang. Ditambah lagi dengan…erangan dan rintihan tertahan istrinya itu.

Ferry benar-benar memuncak dalam amukan gejolak birahinya, namun dia tetap berusaha bertahan, walau lututnya terasa lemas. Sementara Dina sendiri semakin tenggelam semakin dalam. Apa yang dirasakannya minggu lalu, kali ini terasa jauh lebih hebat. Rasa penasaran, tertantang dan ketegangan, justru semakin melipat gandakan kenikmatannya. Dan tatkala kembali dirasakannya jari tangan Darwis berusaha menyelusup masuk ke dalam liang kewanitaannya yang sudah sangat basah itu, Dinapun memberi jalan dengan semakin merenggangkan kakinya.

“Mmmhhh…mmmhhh” hanya itu yang dapat dilakukannya merasakan gerakan jari tangan Darwis yang mulai menyelusup masuk ke dalam liang kewanitaannya. Terus masuk semakin dalam, mengalirkan rasa nikmat dan sensasi yang sulit dilukiskan. Sementara bagian tonjolan daging yang terletak di luar liang kewanitaannya, terus mendapat stimulasi dan rangsangan yang intens dari jari-jari tangan lelaki itu. Dina sampai meregang manakala lelaki itu dengan lihainya mengkobinasikan gerakan jari tangannya baik yang berada di luar maupun yang berada di dalam rongga kewanitaannya. Pinggul bulatnya semakin terangkat naik dan mulai memberikan respon gerakan.

Dina hanya bisa merintih dan mengerang pelan, merasakan semua sensasi, ketegangan dan kenikmatannya. Terasa sangat lihai sekali Darwis menggerak-gerakkan jari tangannya membuat Dina tanpa sadar sudah mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi hingga kini posisinya menungging dengan dada dan kepala rebah.

Gerakan itu terus berlanjut sampai akhirnya….Dina merasakan kalau lelaki itu ingin melepas penghalang satu-satunya yang menggangu segala gerakannya. Dan Dina menyilahkan lelaki itu…menarik celana dalamnya. Dina memberi jalan sampai akhirnya…terlepaslah celana dalamnya dan entah tercampak di mana. Dina semakin tak kuasa mengendalikan dirinya, sementara Ferrypun semakin memuncak menyaksikan semua ini. Apalagi saat Darwispun menyingkirkan kain penutup bagian bawah tubuh Dina tanpa ditolak oleh Dina, maka kini terbukalah seluruh tubuh indah istrinya itu. Dina telungkup menungging dalam keadaan polos tanpa penutup sedikitpun, dan Dina…menerima !

Dina sendiri, anehnya tak lagi merasa canggung dan malu demi menyadari dirinya kini sudah polos tanpa penutup tubuh sama sekali. Apalagi, saat ini dalam posisinya dan dalam posisi lelaki pemijatnya itu, Dina dapat memastikan kalau bagian organ kewanitaannya pasti tengah terpampang bebas dan jelas di hadapan lelaki itu. Namun Dina sudah tak perduli lagi dan apalagi malu. Justru dirinya kini sangat bergairah dan semakin bergairah justru saat menyadari akan kepolosan tubuhnya ini dan tengah ditonton lelaki itu.

Kembali Darwis melakukan kerjanya. Jari tangannya sesaat mengusap permukaan vagina Dina yang kini terpampang jelas. Nampak kemerahan dengan bibir kemaluan yang sudah terbuka.

Dengan jelas sekali, Ferry menyaksikan lelaki pemijat itu kembali memasukkan jari tangannya ke dalam lubang vagina istrinya. Tidak hanya satu, tapi….dua. Tidak….bukan dua, tapi…tiga. Oh ternyata…empat ! Gila ! Dina sampai mengerang dan meliukkan pinggul bulatnya merasakan tusukan empat jari tangan lelaki pemijatnya itu. Dari belakang, Ferry dapat menyaksikan kalau lubang kemaluan istrinya itu sampai meregang penuh untuk dapat menampung keempat jari tangan lelaki pemijatnya itu. Dan tatkala Darwis mulai bekerja, terdengar suara kemerocok dari vagina istrinya pertanda kalau Dina benar-benar berada dalam puncak gairahnya.

Dina sendiri benar-benar tak kuasa lagi menahan seluruh perasaannya. Tindakan nakal lelaki itu yang membenamkan keempat jari tangannya ke dalam liang vaginanya, justru terasa sangat nikmat. Nikmat karena terasa penuh dan meregang habis. Dan lebih nikmat lagi saat keempat jari tangan lelaki itu bergerak liar di dalam lubang kemaluannya. Dina hanya bisa merintih tertahan sambil meliuk-liukkan pinggulnya tanpa sadar.

Dan selanjutnya, apa yang disaksikan oleh Ferry benar-benar membuat jantungnya seakan hendak berhenti. Darwis tak hanya mengorek-ngorek lubang vagina istrinya itu akan tetapi kini….lelaki itu mendekatkan wajahnya ke selangkangan Dina dan akhirnya…mencium selangkangan istrinya itu. Bukan cuma mencium, tapi…menjilati dan mengulum vagina Dina !  Uuukhh….Ferry benar-benar tak kuat lagi rasanya.

Bahkan akhirnya, Darwis tak hanya menggarap selangkangan Dina, tapi juga payudara istrinya yang tergantung bebas. Ferry benar-benar hampir tak kuat menyaksikan istrinya digarap oleh lelaki pemijatnya itu. Sementara Dina sendiri justru sebaliknya, dia semakin tenggelam dalam sejuta kenikmatan merasakan apa yang dilakukan lelaki itu. Sementara payudaranya diremas dan dipilin-pilin putingnya, jilatan, gelitikan lidah, hisapan dan gigitan-gigitan kecil dirasakannya di clitorisnya. Ditambah lagi dengan kocokan keempat jari tangan lelaki pemijatnya itu di liang kewanitaannya membuat Dina memuncak. Dia…ingin segera diselesaikan !

Darwis nampaknya lelaki yang sangat berpengalaman. Tanpa meminta, lelaki itu tahu kapan si wanita menginginkan penyelesaian. Dengan cepat lelaki itu melepaskan garapannya di tubuh polos Dina, lalu dengan cepat juga dia melucuti pakaiannya sendiri hingga sama-sama…bugil ! Ferry tercekat menyaksikan semua itu. Lututnya gemetar. Terlihat kini di dalam kamar tidurnya, istrinya bersama dengan lelaki selain dirinya dalam keadaan sama-sama telanjang bulat. Ferrypun menyaksikan batang kemaluan lelaki pasangan bercumbu istrinya itu sudah menegang penuh, dengan tonjolan urat-urat besar di sekeliling batangnya. Ukuran batang kemaluannya tak jauh berbeda dengan ukuran batang kemaluan miliknya. Hanya diameternya yang lebih besar, sekitar 5 cm-an sedang miliknya, 4 sampai 4,5 cm-an.

Ferry semakin terpaku saat menyaksikan istrinya membalikkan badan. Kini posisi Dina telentang menghadap ke lelaki itu. Terlihat Dina memandang dengan penuh gairah batang kemaluan lelaki itu. Batang kemaluan lelaki lain pertama yang dilihatnya, membuat Dina terlihat sangat bergairah.

Penantian berjalan dengan cepat. Ferry menyaksikan Darwis langsung bersiap diantara kedua paha mulus istrinya itu, sementara Dina bersiap menerima masukan pertama dari lelaki asing dengan tak sabar. Kedua kaki mulus istrinya itu sudah membuka memberi jalan pada lelaki itu. Kedua lututnya menekuk ke atas sambil mengangkang penuh. Dina nampaknya sudah demikian menggebunya hingga tak perduli lagi kalau dihadapannya adalah lelaki lain. Bahkan saat lelaki itu menyempatkan memandangi selangkangannya yang berbulu halus dan tidak terlalu lebat itu, Dinapun tak keberatan atau merasa malu.

“Ssshh…uuuukkkhhh” erangan Dina tak mampu ditahannya. Dengan jelas Ferry menyaksikan batang kemaluan lelaki itu mulai membenam masuk ke dalam lubang kemaluan istrinya. Sementara Dina sendiri, merasakan sensasi dan kenikmatan tersendiri menerima masukan pertama dari lelaki lain. Dina merasakan liang kewanitaannya terasa penuh dan terganjal, namun sangat nikmat. Perlahan sekali Darwis membenamkan batang kemaluannya. Perlahan pula Dina merasakan kenikmatan yang semakin kuat seiring semakin dalamnya batang kemaluan lelaki itu memasuki liang kewanitaannya sampai akhirnya…

“Akh” pekikan kecil Dina mengiringi selesainya benaman batang kemaluan Darwis, yang habis membenam seluruhnya ke dalam lubang vaginanya. Darwis menekan lebih kuat, sementara Dina menarik wajahnya ke belakang merasakan tusukan ujung batang kemaluan lelaki itu di dasar lubang kemaluannya. Dina merasakan tekanan yang kuat di dalam lubang kewanitaannya, menghadirkan tekanan kenikmatan yang kuat pula.

Untuk beberapa saat lamanya Darwis diam sambil tetap menekan, sementara Dinapun tetap menarik kepalanya ke belakang. Sambil menekan, Darwis tak menyia-nyiakan kedua gundukan payudara Dina dan meremasnya dengan sedikit kuat. Di balik kisi-kisi lubang ventilasi pintu kamar, Ferry hanya bisa terpaku. Berkecamuk perasaannya, namun tak ada niatan untuk menghentikan semua itu. Ferry justru merasa sangat terangsang melihat istrinya tengah bersenggama dengan lelaki pemijatnya itu. Ferry tak lagi memikirkan, apakah dirinya normal ?  Yang ada saat ini adalah sensasi yang luar biasa menyaksikan Dina tengah meregang kenikmatan. Seakan masih tak percaya, kalau Dina istrinya itu benar-benar melakukan hal itu. Benar-benar memberikan kesempatan kepada lelaki lain untuk menikmati tubuh polosnya, termasuk sampai menerima masukan batang kemaluan lelaki itu ke dalam lubang kemaluannya. Lubang kemaluannya yang selama ini hanya dirinya yang mengisi, namun kini untuk pertama kalinya istrinya itu menerima masukan lelaki lain, dan Dina nampaknya sangat menikmatinya.

“Sssshhh” erangan Dina mulai terdengar lagi saat Darwis mulai bergerak mundur. Kedua bola mata Dina terpejam rapat. Bibirnya terbuka sebagian. Dari raut wajahnya terlihat kalau Dina istrinya memang sangat menikmati hubungan seks pertamanya dengan lelaki lain itu. Ferry mengamati bagaimana batang kemaluan Darwis mulai bergerak maju mundur keluar masuk ke dalam lubang kemaluan istrinya. Batang kemaluan itu terlihat mengkilat dibasahi oleh cairan pelumas lubang kemaluan Dina.

“Ssshhh….mmmmhhhh” hanya itu yang keluar dari celah bibir Dina, mengiringi pergerakan batang kemaluan Darwis, si lelaki pemijat itu. Dari ekspresi wajah Dina terlihat kalau istrinya itu memang tengah merasakan kenikmatan.

Dina sendiri, dalam buaian kenikmatannya dan dalam selubung gairahnya, merasa heran, kenapa rasanya persenggamaannya kali ini nikmat sekali. Pergesekan dinding liang kewanitaannya dengan batang kemaluan lelaki itu terasa kuat dan nikmat sekali, padahal ukurannya tidak banyak berbeda dengan batang kemaluan suaminya sendiri. Apakah semua ini karena pengaruh keasingan dari lelaki yang tengah bersamanya itu ?  Sosok lelaki asing yang memberi nuansa dan sensasi yang berbeda ?  Penuh misteri namun penuh daya tantang yang kuat.

Masih sempat juga terpikir olehnya, apakah yang dilakukannya ini benar ?  Sebagai seorang wanita yang bersuami, dirinya melakukannya dengan lelaki lain ? Di rumahnya sendiri ?  Disaat suaminya lengah ?  Apa ini lazim ?

Namun ternyata sesuatu yang tidak lazim itu sangat luar biasa. Curi-curi kesempatan seperti ini juga terasa sangat excited. Adrenalinnya terpacu tinggi, menghadirkan ketegangan dan sensasi yang luar biasa. Dan akhirnya, rasa nikmatnyapun terasa sangat hebat. Dina tak kuasa lagi menolak segalanya. Dina sudah tenggelam dalam gulungan ombak kenikmatan birahi yang hebat. Setiap pergerakan lelaki itu, terasa sangat kuat dan nikmat sekali, hingga tanpa sadar pinggulnya bergerak mengimbangi gerakan lelaki itu. Dina hanya bisa pasrah pada “serangan” lelaki itu yang mendatangkan rasa nikmat yang luar biasa. Dina hanya bisa merintih dan mengerang, walau sekuat tenaga dirinya berusaha menahan suaranya agar tak membangunkan suaminya. Dina tak ingin semua yang dirasakannya ini berakhir tanpa penyelesaian.

“Mmmhhh…mmmhh…” erangan kecilnya terus meluncur mengiringi pergerakan Darwis yang semakin cepat menusuk-nusukkan batang kemaluannya ke dalam liang kewanitaannya. Pinggul bulat Dina berputar-putar tanpa sadar. Aliran kenikmatan terus memburunya dan tekanan dalam dirinyapun mulai terasa. Dina semakin tak kuasa menahan segalanya dan membiarkan lelaki itu melakukan apapun yang diinginkannya. Bahkan kedua gundukan payudaranyapun dibiarkannya berkali-kali diremasi jari-jari tangan lelaki itu. Dina…pasrah.

Tekanan dalam dirinya dengan cepat bergerak naik. Jalan napasnya semakin memburu, sementara gerakan Darwis semakin cepat dan kuat. Tusukan lelaki itu terasa sangat dalam. Kenikmatan yang dirasakannya terus mengalir seakan tanpa henti. Dina benar-benar tak berdaya dibuatnya, sampai akhirnya….

“Mmmhh..!” pekiknya ditahan. Kedua betisnya langsung menyergap pinggang lelaki itu dan memitingnya kuat-kuat. Dina….meledak hebat. Tubuh polosnya melengkung, mengejang dan menggeletar kuat. Kepalanya tertarik jauh ke belakang. Wajahnya mengekspresikan sesuatu yang amat sangat yang tengah dirasakannya. Urat-urat lehernya hingga muncul. Dina…sangat kenikmatan.

Ferry benar-benar merasa takjub sekaligus tak percaya menyaksikan semua ini. Dihadapannya, dengan jelas melihat istrinya tengah memacu birahi dengan lelaki lain. Dengan jelas terlihat, istrinya amat sangat menikmati apa yang dilakukannya. Ferry benar-benar terpaku.

Setelah beberapa saat Dina meregang, perlahan terlihat istrinya itu mulai mengendurkan jepitan kedua betisnya di pinggang lelaki pemijatnya itu seakan sebuah isyarat kalau Dina siap melanjutkan. Dan hal itu segera direspon oleh si lelaki.

Darwis meraih kedua betis indah Dina dan mengangkatnya hingga kedua kaki jenjangnya itu lurus terangkat naik. Sambil kedua tangannya memegangi betis Dina, Darwispun melanjutkan kembali gerakannya dan Dinapun…kembali menikmatinya.

Ferry terus memandangi bagaimana batang kemaluan lelaki itu keluar masuk ke dalam lubang kemaluan istrinya. Sementara Dina terlihat sangat menikmatinya. Rintihan dan erangannya kembali terdengar. Kedua bola matanya masih terpejam rapat dan bibirnya setengah terbuka. Berkali-kali, kedua alis Dina melengkung seakan hendak bertaut. Sesekali wajahnya tertarik ke belakang, terutama saat si lelaki menusuk dalam.

Kini lelaki itu mendorong kedua kaki Dina dengan kedua bahunya sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. Posisi kedua kaki Dina condong ke arah tubuhnya. Lututnya mendekati kedua gundukan payudaranya yang terguncang-guncang indah akibat pergerakan si lelaki. Posisi ini memberikan tusukan dan tekanan yang makin kuat. Hal itu terlihat jelas dari ekspresi wajah istrinya itu yang makin ekspresif menandakan kenikmatan yang dirasakannya semakin tinggi.

Dalam tempo beberapa menit saja, lelaki itu sudah menghujami Dina dengan kecepatan dan kekuatan yang tinggi. Dinapun terlihat semakin tenggelam dalam buaian kenikmatan birahinya sampai akhirnya Dinapun kembali menggapai puncak kenikmatan birahinya. Namun kali ini, Ferry melihat, Darwis tak memberi kesempatan pada istrinya itu untuk menikmati dahulu klimaksnya. Lelaki itu terus melanjutkan gerakannya yang cepat dan kuat hingga terlihat Dinapun seperti megap-megap menahan semua yang dirasakannya. Ferry sempat gemas juga dengan lelaki itu, namun baik dirinya maupun Dina istrinya, tak memiliki daya dan kesempatan, atau memang tak ingin melakukan pencegahan itu kalau tak ingin semua yang tengah berlangsung itu berakhir lebih cepat.

Ferry tak ingin mengakhiri ketegangan, sensasi dan keasikannya menyaksikan pergumulan istrinya dengan lelaki itu, sementara Dina sendiri tak ingin segera mengakhiri ketegangan dan kenikmatannya. Demikian juga halnya dengan Darwis, lelaki pemijat itu tak ingin segera berhenti menikmati tubuh wanita yang demikian indah dan nikmatnya itu.  Klop sudah. Ketiganya tak ingin buru-buru menghentikan semua itu.

“Ganti posisi bu, nungging” terdengar suara Darwis. Ferry tercekat mendengarnya. Walau pelan, namun Ferry dapat menangkap ucapan lelaki pemijat pasangan bercumbu istrinya itu. Dan Ferry lebih kaget lagi saat melihat Dina istrinya itu… menerima permintaan Darwis !

Sesaat setelah Darwis mencabut batang kemaluannya dari dalam lubang kemaluan Dina, Ferry melihat istrinya itu langsung merubah posisi tubuhnya. Membalikkan badan dan langsung….nungging !  Akh gila !  Dina sudah benar-benar… gila ! maki dirinya sendiri tak percaya. Namun Ferry kembali hanya bisa terpaku di tempatnya. Lututnya terasa sudah semakin lemas, namun dia tetap berusaha untuk berdiri di tempatnya.

Dengan jelas Ferry melihat, lelaki itu kembali bersiap membenamkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluan Dina. Kali ini dari arah belakang.

“Sssshhh…mmmhhh” erangan Dina kembali terdengar saat lelaki itu dengan perlahan membenamkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluannya. Tanpa kesulitan, Ferry melihat batang kemaluan Darwis terus bergerak masuk ke dalam lubang kemaluan istrinya sampai habis seluruhnya membenam. Lalu sambil memegangi, atau…meremas-remas bongkahan pantat indah istrinya itu, Darwis kembali bekerja, menghujam-hujamkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluan Dina.

Dalam tempo singkat, terlihat Darwis sudah demikian cepatnya bergerak. Hal ini membuat Dina semakin kenikmatan. Sesekali lelaki itu menjulurkan tangannya menggapai payudara Dina yang tergantung bebas, untuk kemudian meremasnya. Sesekali juga lelaki itu membelai-belai punggung mulus istrinya itu. Ferry benar-benar tak berdaya menghentikan semua tindakan lelaki itu.

Gerakan maju mundur Darwis sudah cukup cepat dan kuat, namun dengan kelihaiannya, gerakan itu tak sampai menimbulkan suara tepukan yang keras. Lelaki itu menyadari kalau tak hati-hati akan membuat kegaduhan. Diam-diam Ferry sangat takjub dengan kemampuan pengendalian diri, baik si lelaki maupun Dina istrinya. Kalau saja dirinya tak menyaksikan langsung dan menonton langsung dari celah-celah kisi-kisi ventilasi pintu kamar tidurnya, tentu dirinya tak akan tahu kalau istrinya dan lelaki itu tengah melakukan persenggamaan.

Ferry terus mengamati seluruh gerakan dari pasangan bercumbu di dalam kamar tidurnya itu. Mengamati bagaimana bernapsunya si lelaki menyetubuhi istrinya, dan juga mengamati bagaimana reaksi dan ekspresi istrinya yang demikian menikmati pergumulan pertamanya dengan lelaki lain selain dirinya itu sampai akhirnya terlihat istrinya kembali meregang mendapatkan puncak kenikmatan birahinya. Kali ini si lelaki memberi kesempatan pada Dina untuk menyelesaikan dulu apa yang baru didapatkannya itu. Sambil menekan kuat-kuat pinggulnya, lelaki itu meremasi kedua bongkahan pantat Dina.

Untuk beberapa saat, Ferry melihat tubuh polos istrinya yang masih menungging itu, mengejang hebat. Sesekali terlihat sentakan-sentakan kuat pada tubuh bugil istrinya itu yang nampak mulai dibasahi oleh keringat. Keadaan itu berlangsung beberapa saat lamanya sampai akhirnya perlahan istrinya menjatuhkan tubuh polosnya itu ke depan hingga tertelungkup diikuti si lelaki yang tak ingin batang kemaluannya terlepas dari dalam lubang kemaluan Dina.

Kini dalam posisi telungkup, Dina kembali menerima hujaman dari si lelaki pemijatnya. Sambil setengah menindih tubuh bugil Dina, lelaki itu terus bergerak dan Dinapun kembali terdengar merintih-rintih kenikmatan. Dengan cepat lelaki itu meningkatkan gerakannya, sambil terus menikmati sekujur tubuh polos Dina. Sesekali lelaki itu membelai-belai gundukan payudara Dina yang tertindih tubuhnya sendiri.

Akhirnya pergumulan mereka berakhir dalam posisi itu. Si lelaki menumpahkan cairan kenikmatannya diatas bongkahan pantat indah Dina, lalu keduanya lekas berpakaian kembali. Ferrypun dengan cepat namun hati-hati, langsung turun. Lututnya terasa sangat lemas, hampir saja dia terjatuh.

Setelah menempatkan kursi sofa kecil itu ditempatnya kembali, Ferrypun kembali rebahan di sofa dan berpura-pura tertidur pulas. Dengan susah payah dirinya coba mengendalikan diri, terutama pada bagian selangkangannya yang sulit untuk diredakan.

Sampai akhirnya, dari celah matanya yang terbuka sedikit, Ferry melihat lelaki pemijat itu keluar dari kamar tidurnya di temani Dina istrinya yang hanya menutupi tubuhnya dengan sehelai kain yang tadi digunakannya.

“Bapak…” ujar lelaki pemijat sambil memandang ke arahnya.

“Biar, nanti saya sampaikan. Suami saya kalau sudah pulas, susah dibangunkan” ujar Dina sambil tertunduk, agaknya rasa malunya telah kembali. Malu karena baru saja dirinya melakukan sesuatu dengan lelaki itu yang selama ini hanya dilakukannya bersama dirinya, suaminya.

Lelaki itupun langsung pamit dan beranjak pergi. Dina langsung melangkah ke arah dirinya, Ferrypun memejamkan matanya rapat-rapat dan berpura-pura pulas.

“Mas…mas…” istrinya coba membangunkannya. Apakah memang bermaksud membangunkannya, ataukah sekedar memastikan kalau dirinya masih pulas tertidur. Dan Ferry memutuskan untuk tetap berpura-pura tertidur. Dina segera beranjak pergi dan kembali ke dalam kamar tidurnya. Kamar tidur yang baru saja digunakannya untuk memacu kenikmatan birahi bersama lelaki itu. Wuih..

berlanjut…..

from :  http://pelangicinta30.wordpress.com/2011/01/31/pijat-sensasi/

Pijat Sensasi 3

Bagaimana, kamu senang sayang ?” Ferry berbisik pada Dina istrinya, setelah selesai melakukan “pertempuran” birahi di medan pertempuran baru mereka. Dina yang masih kelelahan, hanya mengangguk sambil tersenyum puas. Diliriknya suaminya sesaat, lalu dia mengecup mesra pipi suaminya itu sebagai ungkapan rasa senang dan terima kasihnya karena telah memberinya sebuah pengalaman yang sangat berkesan. Sambil mencium pipi suaminya, Dina melirik ke arah Darwis yang sedang duduk santai di sudut kamar. Lelaki itu balas memandang ke arahnya sambil menyunggingkan senyum. Dina melirik ke arah pangkal paha lelaki itu. Nampak batang kemaluannya yang terkulai seakan kelelahan setelah memberinya kenikmatan.

Hening beberapa saat, tak ada percakapan. Ketiganya, di kamar tidur itu, masih sama-sama dalam keadaan polos, saling terdiam seolah berusaha mengembalikan stamina mereka masing-masing setelah menguras tenaga untuk berlomba memberi dan menerima kenikmatan birahi. Tanpa terasa, satu jam lamanya mereka melangsungkan pertempuran yang seru. Hanya lirikan dan pandangan mata mereka bertiga saja yang mengkomunikasikan antar mereka. Sesekali tangan Ferry menyentuh dan membelai bagian-bagian di tubuh polos Dina. Selebihnya…hening.

Namun keheningan itu berakhir cepat. Ferry kembali memegang kendali. Diajaknya Darwis bergabung kembali diatas pembaringan. Saling bincang dan saling canda, tanpa rasa malu atau risih mempertontonkan tubuh bugil mereka masing-masing. Ferrypun memberi ijin pada Darwis untuk bebas memperlakukan tubuh polos istrinya itu sesukanya, demikian sebaliknya. Hingga obrolan dan perbincangan merekapun terselingi kegiatan-kegiatan yang membangkitkan kembali gairah mereka, terutama Dina yang dikelilingi dua lelaki sekaligus. Darwis sendiri, sebagai seorang lelaki yang sudah menduda selama lima tahunan, tentu saja sangat bernapsu memandangi kemolekan dan kemulusan tubuh bugil wanita dihadapannya itu. Apalagi, suaminya mengijinkan sepenuhnya untuk melakukan apapun terhadap istrinya itu sekehendak dan sesuka hatinya. Maka kesempatan itu tak disia-siakannya.

Bukan saja terus memandangi betapa merangsangnya tubuh bugil Dina, namun Darwispun selalu menyentuh, meraba dan membelai bagian-bagian tubuh bugil Dina, tanpa kecuali. Hanya bagian selangkangan Dina saja yang tak dijamahnya karena memang selain agak canggung, juga kesulitan oleh posisi Dina yang duduk di atas pembaringan itu. Tindakan Darwis rupanya tak sepihak karena mendapat sambutan dan balasan dari Dina. Sesekali wanita itu, atas ijin suaminya yang sudah memberi kebebasan, menyentuh, membelai ataupun menggenggam batang kejantanan Darwis dan karenanya dengan cepat terbangkitkan lagi.

“Kita mulai lagi yuk ? Kamu udah siap lagi sayang ?” Ferry yang juga terbangkitkan gairahnya oleh pemandangan erotis dihadapannya saat tubuh bugil istrinya dijamahi oleh Darwis hingga tubuh polos istrinya itu beberapa kali menggelinjang dan juga saat melihat betapa Dina istrinya sangat senang menyentuh dan memegang batang kemaluan lelaki itu disamping juga terus memegangi batang kemaluan miliknya sendiri, akhirnya memutuskan untuk memulai babak berikutnya.

Dina, dengan sikapnya sebagai seorang wanita, hanya senyum memandang suaminya. Dari tatapan matanya, Ferry memahami bahwa istrinya itupun sudah kembali berhasrat untuk melanjutkan petualangan birahinya. Baik Ferry maupun Dina nampaknya sangat bergairah menyambut moment dan babak baru kehidupan seksual mereka. Moment dan babak baru yang baru saja mereka alami, membangkitkan gelora dan hasrat yang demikian menggebu.

“Ya udah, kalau gitu, gimana kalau kamu sama Darwis memulai aja dulu, biar aku lebih fresh lagi” ujar Ferry seakan sangat memahami kalau keduanya, Darwis dan Dina istrinya, akan lebih cepat ON bila mereka bercumbu dahulu. Darwis yang sudah lima tahun menduda, tentu sangat haus untuk menikmati tubuh indah wanita dan Dina istrinya, akan lebih bergairah bila bercumbu dengan lelaki baru, yang lebih menantang dan penuh daya misteri.

Tanpa menunggu waktu, Ferrypun turun dari pembaringan, memberi kesempatan pada keduanya untuk memulai. Darwis sendiri, setelah memastikan mendapat lampu hijau dari Ferry dan Dina sendiri, langsung menyergap tubuh bugil wanita dihadapannya dengan gairah meluap-luap. Dengan cepat tubuh bugil Dina dibaringkan, lalu dengan penuh napsu berkobar, lelaki itu menciumi sekujur tubuh bugil Dina. Mendapat serangan gencar seperti itu, membuat Dina terkejut juga, namun akhirnya diapun mulai menikmatinya.

Dina sangat kaget, sekaligus bergairah, merasakan cumbuan yang demikian panasnya. Dina menyadari, ini semua disebabkan oleh rasa dahaga lelaki ini akan wanita setelah sekian tahun tak didapatkannya. Apalagi kini dia diberi kesempatan seluas-luasnya oleh lelaki yang memiliki hak atas dirinya. Tanpa beban mental, maka lelaki itupun mengambil kesempatan ini sebaik-baiknya. Demikian sebaliknya dengan Dina sendiri.

Maka percumbuan keduanyapun berlangsung dengan bergelora. Dina tak lagi ragu mengerang dan merintih merasakan nikmatnya cumbuan lelaki itu. Tak hanya menerima cumbuan, Dinapun membalas dengan rabaan tangannya di tubuh lelaki itu, serta geliatan tubuhnya dan gesekan-gesekan kulit lembut tubuhnya ke kulit tubuh lelaki itu.

Dimulai dari leher jenjangnya, terus turun ke bahunya, dada atas, melewati gundukan payudaranya, turun ke bawah, keperutnya, sampai ke bagian sedikit di bawah pusar Dina, lalu ke kedua pinggulnya, ciuman dan jilatan lidah Darwis kembali mengarah ke atas dan akhirnya terkonsentrasi di kedua gundukan payudara Dina.

Sementara mulut lelaki itu gencar mencecar kedua payudaranya, tangan lelaki itu terus bergerak menjelajahi sekujur tubuh bugil dirinya sejauh yang dapat dicapainya sampai akhirnya mengarah ke pangkal pahanya. Dina merenggangkan kedua pahanya, memberi jalan. Diawali sebuah usapan lembut dipermukaan vaginanya, membuat Dina semakin merintih dan mengerang kenikmatan. Kembali dibukanya kedua pahanya lebih lebar dan mulailah lelaki itu membuka bibir kemaluannya. Jarinya bergerak lincah namun terukur, mulai menjelajahi permukaan organ kewanitaan Dina, mengalirkan rasa nikmat yang semakin tinggi.

“Mmmhhh…mmmhhh…uuukkkhhh…ssshhhh…uuukkkhhh….uuukkkhhh” berkali-kali Dina merintih dan mengerang. Tubuh polosnya yang berada di bawah tindihan tubuh polos lelaki itu terus menggelinjang-gelinjang mengekspresikan kenikmatannya, apalagi saat dirasakannya jari tangan lelaki itu mulai menjamah clitorisnya. Pinggul Dina sampai terangkat naik saat merasakan usapan jari tangan lelaki itu di clitorisnya. Bergerak mengusap-usap beberapa saat untuk kemudian intens melakukan pijatan, gelitikan dan sesekali pilinan di clitoris Dina membuat dirinya semakin melayang dalam kenikmatan yang hebat.

Kombinasi permainan jari tangan di clitorisnya dan permainan mulut lelaki itu di putting payudaranya, membuat Dina dengan cepat memuncak. Dinding-dinding liang kewanitaannya dengan cepat mengembang dan basah, siap untuk kembali dimasuki.

Dan masukan pertama diterima Dina adalah jari tangan lelaki itu. Seperti yang sudah-sudah, lelaki itu memulai dengan satu jari tangannya, menyelusup masuk dan menusuk dalam-dalam ke liang vaginanya. Menari-nari sebentar didalamnya untuk kemudian menyusul jari tangan kedua, ketiga dan keempatnya. Dina benar-benar tak kuasa menahan seluruh kenikmatannya. Kelopak matanya sayu, bola matanya terbalik-balik, wajahnya berkali-kali tertarik ke belakang, sementara erangan dan rintihannya terus mengalir, ditambah lagi gerakan pinggulnya yang tengah terangkat naik itu, bergerak berputar-putar merasakan seluruh permainan lelaki itu. Dina sudah tak ragu lagi mengekspresikan segala kenikmatannya.

“Cu…cuk…kup. Mulai sek…karang” tak tahan lagi Dinapun meminta dimulai babak kedua pertempuran model terbarunya ini.

“Mas, sini” sambil menunggu Darwis memulai, Dina meminta suaminya mendekat. Ferrypun langsung mendekat, duduk di samping tubuh polos istrinya itu yang siap menerima masukan pertama di babak keduanya ini.

Tanpa menunggu lama, Dina langsung menyambar batang kemaluan Ferry yang sudah menegang akibat menyaksikan pemandangan erotis yang dipertontonkan oleh istrinya dan lelaki pasangannya itu. Sesaat Dina mengamati langkah lelaki itu yang sudah bersiap diantara kedua paha mulusnya. Dina memperlebar bukaan kedua pahanya, sementara dilihatnya Darwis tengah mengarahkan batang kemaluannya ke selangkangan dirinya.

“Ssshhh…mmmhhh” sebuah sapuan awal dari kepala batang kemaluan lelaki itu dirasakan Dina dipermukaan vaginanya. Hanya sekali, ya, hanya sekali saja sapuan itu untuk kemudian…

“Sssshhhhh….uuuuukkkkhhhh” erangan panjang Dina mengiringi lajunya benaman batang kemaluan Darwis ke dalam lubang kemaluannya. Terus membenam masuk makin dalam, mengalirkan rasa nikmat yang terasakan sampai ke ujung-ujung jari. Ferry melihat, bola mata istrinya terbalik dengan kelopak mata sayu saat Darwis mulai membenamkan batang kemaluannya itu. Nampak sekali kalau Dina istrinya itu sangat menikmati semuanya, dan Ferry tentu saja senang.

Sambil mengamati reaksi kenikmatan istrinya, Ferrypun memberi tambahan kenikmatan pada Dina dengan meremas-remas payudara istrinya itu. Sementara itu dilihatnya Darwis terus membenamkan batang kemaluannya semakin dalam dan akhirnya, batang kemaluan lelaki yang seukuran batang kemaluannya sendiri itupun habis membenam seluruhnya ke dalam lubang kemaluan istrinya. Dina sampai menarik kepalanya ke belakang sambil mengangkat dadanya saat merasakan tusukan terdalam Darwis. Keduanya diam sejenak untuk kemudian Darwispun mulai bergerak. Menarik perlahan pinggulnya ke belakang hingga batang kemaluannya kembali muncul, lalu kembali membenamkannya hingga tandas diiringi rintihan dan liukan pinggul indah Dina. Tarik lagi, benamkan lagi. Terus berulang-ulang dengan tempo yang semakin cepat. Dinapun semakin menggeliat-geliat dan mengerang-ngerang dalam kenikmatannya. Sampai akhirnya gerakan Darwis konstan. Belum mencapai puncaknya memang, tapi sudah cukup memberi kenikmatan yang tepat untuk Dina. Hal itu terlihat dari reaksi Dina istrinya.

“Ma..ju mas” pinta Dina disela-sela kenikmatannya menerima tusukan Darwis. Ferrypun maju, mendekatkan tubuhnya ke istrinya sampai posisi selangkangannya persis berada di samping wajah istrinya itu. Dengan memiringkan wajahnya, Dina segera melumat batang kemaluan suaminya itu sambil menikmati tikaman-tikaman batang kemaluan Darwis di liang vaginanya. Kedua payudaranyapun terus diremas-remas oleh suaminya dan juga Darwis, memberi efek ganda pada kenikmatan yang didapatkannya.

Menit demi menit berlalu, kenikmatan terus dirasakan oleh Dina, dan gairah terus dirasakan meningkat oleh Ferry menyaksikan persetubuhan istrinya dengan Darwis. Sampai akhirnya, Darwispun mempercepat dan memperkuat gerakannya saat Dina meminta. Rupanya Dina sudah merasakan tekanan dalam dirinya dan sebentar lagi akan berada di puncaknya dan akhirnya meledak dengan sejuta kenikmatan hingga membuat tubuhnya bergetar dan mengejang hebat.

Benar saja, kurang dari dua menit kemudian, Ferry merasakan cekikan jari tangan Dina di batang kemaluannya. Didahului pekikan panjang istrinya itu, terlihat tubuh bugil Dina langsung mengejang hebat lalu bergetar. Dina sudah mendapatkan hasilnya. Ferry bersiap menggantikan posisi Darwis.

Tanpa berucap, baik Ferry maupun Darwis seakan sudah saling mengerti. Darwis mundur dan Ferry maju menggantikan.

“Aku diatas mas” rupanya Dina menginginkan ganti posisi. Ferrypun langsung berbaring telentang, dan Dina bangkit lalu mengangkangi tubuh bugil suaminya persis diatas selangkangannya. Diraihnya batang kemaluan Ferry dan diarahkannya ke selangkangannya untuk kemudian….

“Sssshhhh….uuuukkkhhh” erang Dina mengiringi gerakan turun tubuh bugilnya. Batang kemaluan Ferrypun membenam masuk ke dalam lubang kemaluannya. Terus turun sampai menduduki selangkangan suaminya itu. Diam sejenak untuk kemudian mulai bergerak naik turun. Ferrypun langsung menangkap kedua payudara istrinya itu yang membusung menantang, sementara Darwis duduk menonton sambil mengocok-ngocok batang kemaluannya sendiri untuk mempertahankan ketegangannya.

Gerakan naik turun Dina diatas selangkangan Ferry, makin lama makin cepat. Demikian juga dengan erangan dan rintihan kenikmatannya, semakin cering dan panjang. Pinggul indahnya bergerak lincah, berputar-putar atau maju mundur sambil terus tubuhnya naik turun. Nampak butiran-butiran keringat mulai bermunculan dari sela-sela pori tubuh polosnya, menampilkan sosok tubuh yang terlihat makin segar dan menggairahkan.

“Mas…Darwis, sini” panggil Dina tak tega membiarkan lelaki itu sendirian. Sambil terus naik turun diatas selangkangan suaminya, Dina meminta lelaki itu berdiri disisinya, lalu tanpa ragu lagi menangkap batang kemaluan lelaki itu dan menggenggamnya erat-erat. Sesekali sambil terus turun naik diatas selangkangan suaminya, Dina menyempatkan mengulum batang kemaluan lelaki disampingnya itu, atau sekedar mengocok batang kemaluan lelaki itu dengan kelembutan jari tangannya. Terus dia lakukan semua gerakannya sampai tekanan kembali dirasakannya. Secara otomatis, Dinapun meningkatkan kecepatan gerakan tubuhnya.

Ditengahnya gerakan turun naik tubuh bugil Dina, sesekali Darwis menyempatkan menangkap payudara wanita itu yang tengah menikmati batang kemaluan suaminya sendiri. Dina terlihat semakin bergerak cepat, sementara butiran-butiran keringatnya semakin banyak dan mulai membasahi tubuh bugilnya itu, namun seakan dia tak perduli. Nampaknya sesaat lagi Dina akan mendapatkan hasilnya.

“Aaakh Masshh!” benar saja. Diiringi pekikan panjangnya, Dina langsung ambruk menindih dan memiting tubuh bugil suaminya dengan kuat. Terlihat tubuhnya yang mulai basah kuyup itu mengejang hebat. Ferry merasakan seluruh batang kemaluannya diremas-remas dan dihisapi lubang kemaluan istrinya itu dengan sangat cepat dan kuatnya. Untuk sesaat, Ferry membiarkan istrinya menikmati dahulu seluruh kenikmatan yang baru didapatkannya itu.

Sementara Darwis yang masih berdiri di samping keduanya, sambil mengocok-ngocok sendiri batang kemaluannya, memandangi tubuh bugil Dina di hadapannya. Walau yang terlihat hanya bagian belakang tubuhnya, tetap saja kemolekan tubuh telanjang wanita itu sangat menggairahkan sekali. Kulitnya yang putih bersih dan mulus, nampak terlihat semakin segar karena dibasahi oleh keringat. Pada tengkuknya, terlihat untaian-untaian anak rambut yang melekat erat oleh basah keringatnya, seolah membentuk lukisan-lukisan erotis yang tergores dengan indahnya. Bahu Dinapun memberi daya rangsang birahi tersendiri. Punggung indahnya nampak bergerak turun naik oleh hembusan napasnya yang memburu karena baru saja bekerja keras untuk mendapatkan kepuasan birahinya. Sementara pinggang rampingnya, berpadu dengan pinggul bulat dan mencuat ke luar membentuk lekukan indah dan berdaya tarik birahi kuat. Ditambah bongkahan pantatnya yang membusung padat, rasanya memiliki daya tarik tersendiri. Daya tarik yang seakan magnet untuk menggerakkan tangan setiap lelaki normal untuk meremas dan membelainya. Darwis sudah cukup merasakan bagaimana nikmatnya permukaan selangkangannya dan batang kemaluannya akan  kelembutan, kepadatan dan kenikmatan tersendiri bila bergesekan dan berhimpitan dengan bongkahan pantat indah itu. Darwis semakin tak sabar ingin kembali diberi giliran untuk menikmati tubuh molek wanita itu, namun dia harus bersabar karena hak dan ijin atas seluruh keindahan dan kemolekan tubuh polos wanita itu berada di tangan Ferry, suaminya yang saat ini tengah menikmatinya.

Dan tatkala datang ijin itu, Darwispun bersorak senang. Masih dalam posisi merangkak menindih tubuh bugil suaminya itu, Darwis dipersilahkan melanjutkan. Dari arah belakang, Darwispun segera bertindak. Saat Ferry sudah melepas batang kemaluannya sendiri dari liang kemaluan istrinya itu, Darwispun langsung menggantikan.

“Sssshhh…mmmhhh….” kembali erangan wanita itu meluncur saat lubang kemaluannya dimasuki batang kemaluan Darwis. Langsung membenam masuk seluruhnya. Darwis masih merasakan remasan-remasan dinding lubang vagina istrinya Ferry itu di seluruh batang kemaluannya yang kini sudah membenam habis kedalamnya. Untuk sesaat Darwis diam, meresapi kelembutan, kehangatan dan kenikmatan lubang kemaluan wanita itu yang masih berdenyut-denyut, sisa dari klimaks yang baru didapatkannya. Sambil menunggu, tangan Darwispun tak tinggal diam. Seluruh permukaan bagian belakang tubuh polos Dina diusap-usapnya sampai ke bongkahan pantat indahnya, meresapi betapa halus dan lembutnya permukaan kulit tubuh bugil wanita itu. Lalu dengan penuh perasaan, diremas-remasnya bongkahan pantat istrinya Ferry itu.

“Mmmhhh…mmmhhh…” kembali didengarnya rintihan wanita saat Darwis mulai bergerak. Perlahan, penuh penghayatan meresapi nikmatnya cengkeraman lubang kemaluan wanita di batang kemaluannya. Bergerak mundur perlahan, lalu kembali dibenamkannya sampai terasa menusuk dasar lubang kemaluan wanita itu. Kembali bergerak mundur, lalu maju lagi. Terus berulang-ulang memberi dan menerima kenikmatan bersama ibu rumah tangga yang luar biasa ini. Darwis sangat beruntung memperoleh kesempatan menikmati sepenuhnya tubuh ibu rumah tangga ini.

Sambil terus bergerak maju mundur, kedua tangan Darwis tak henti-hentinya meremasi kedua bongkahan pantat Dina, seakan kedua tangannya hendak memuaskan diri menikmati bongkahan pantat yang sangat merangsang itu.

Perlahan namun pasti, Darwis semakin mempercepat gerakannya. Perlahan namun pasti, Dinapun merasakan aliran kenikmatan yang semakin intens mengalir ke dalam dirinya. Sambil menikmati tusukan batang kemaluan lelaki di belakangnya, Dina berpagutan dengan suaminya yang berada di bawah tubuh polosnya itu. Kedua tangan suaminyapun sejak beberapa saat lalu, intens memberi stimulasi tambahan dengan meremasi kedua payudaranya yang tergantung bebas itu, memberi nilai tambah akan kenikmatan yang dirasakan Dina. Sungguh, ternyata melayani dua lelaki sekaligus, kenikmatannya tak terbayangkan. Sensasi dan ketegangannya sangat berbeda, memacu adrenalinnya secara maksimal. Belum lagi, kepuasannya karena dapat merasakan kenikmatan birahi secara maksimal dan sangat memuaskan. Dirinya dapat meraih seberapapun puncak kenikmatan yang ingin diraihnya, sepanjang tenaganya tersedia.

Sisa-sisa puncak kenikmatannya telah habis, dan karenanya Dina dapat kembali meresapi sepenuhnya tahap pendakian puncak kenikmatan birahi berikutnya. Gesekan, tekanan dan tusukan batang kemaluan Darwis dari belakang, kembali mengalirkan rasa nikmat yang bersumber dari dalam liang kenikmatannya. Dina terus merintih dan mengerang merasakan kenikmatan birahinya yang dia rasakan dari sejak tadi pagi, dan Dina masih ingin terus merasakan semuanya. Kesempatan yang mungkin tak akan terulang lagi ini ingin dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mendapatkan kepuasan setinggi-tingginya. Dan itu, kini sedang dilakukannya.

Gerakan Darwis semakin cepat dan kuat. Aliran kenikmatan terus mengalir ke dalam tubuhnya, dikombinasi dengan lecutan dan sentakan kenikmatan saat ujung batang kemaluan lelaki itu menghantam ujung liang rahimnya dan juga dasar lubang vaginanya. Pinggul dan pantat bulat indahnya, bergerak-gerak liar mengiringi lajunya tusukan batang kemaluan lelaki itu. Dina merasakan juga, jari-jari tangan lelaki itu terus menerus meremasi kedua bongkahan pantatnya, menghadirkan sensasi tersendiri. Apalagi di bagian depan tubuhnya, dibawah tubuh bugilnya, suaminya Ferry terus memberikan kenikmatan tersendiri dengan mencumbu kedua payudaranya. Lengkap sudah rasanya kenikmatan birahi yang dialami dan dirasakannya hingga memacu tekanan dalam dirinya. Tekanan yang sangat dihafalnya. Tekanan yang menandakan dirinya akan segera kembali mendapatkan ledakan puncak kenikmatan birahinya yang mampu melontarkan sukmanya jauh ke ketinggian yang kemudian akan menghempaskannya dengan kuat dalam hamparan keindahan dan kedamaian. Untuk beberapa saat lamanya nanti, dirinya akan merasakan kehilangan tenaga, daya dan segala sesuatunya. Tulang-tulang tubuhnya seakan dilolosi. Namun untaian kebahagiaan dan kepuasan akan menyelimuti seluruh batinnya. Dan Dina menginginkan hal itu terus berulang. Berulang dan berulang sampai waktunya selesai nanti.

“Uuukkkhhh maaassshhh….leb…bih cep…pat…leb…bih cep…paaatt. Yaaa…… terus…ter…rus, ak…ku mau….da…pet la…ggiiii….ooouuuukkkhh….” Dina meminta Darwis mempercepat gerakkannya karena merasakan tekanan dalam dirinya semakin memuncak dan hampir mendapatkan klimaks berikutnya. Darwispun langsung menggenjot tubuhnya sehingga benturan permukaan selangkangan lelaki itu dengan permukaan pantat Dina, menimbulkan suara bertepuk yang cukup keras. Tubuh bugil Dina yang semakin basah oleh keringat itupun sampai terhentak-hentak kuat hingga Ferry suaminya yang berada di bawah berusaha menahan hentakan tubuh bugil istrinya itu agar dapat terus mengulum dan menjilati putting payudaranya. Darwis terus bergerak, Dinapun terus mengerang dan merintih sambil memutar-mutar pantat indahnya hingga akhirnya..

“Mmmaaaassshhh !” pekiknya panjang disusul kemudian wanita itu memeluk kuat tubuh bugil suaminya yang berada di bawahnya. Darwis menghentikan gerakannya sambil menekan kuat-kuat tubuhnya agar batang kemaluannya membenam sedalam-dalamnya di lubang kemaluan istrinya Ferry itu. Darwis kembali merasakan remasan dan hisapan lubang kemaluan Dina di seluruh batang kemaluannya. Sambil memberi kesempatan kepada Dina untuk menikmati semuanya terlebih dahulu, jari-jari tangan lelaki itu terus meremas-remas bongkahan pantat Dina.

Untuk beberapa saat lamanya Dina meregang dan mengejang sampai berangsur-angsur badai pucak kenikmatan birahinya mereda. Setelah itu, tanpa dikomando, Darwis kembali menyingkir, memberi kesempatan pada Ferry, suami wanita itu, untuk melanjutkan.

Ferry menelentangkan tubuh bugil Dina, istrinya. Lalu dengan cepat diapun membenamkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluan istrinya itu. Dina kembali merintih merasakan terobosan batang kemaluan suaminya. Dina sungguh-sungguh merasa bergairah sekali merasakan lubang kewanitaannya bergantian dimasuki dua batang kemaluan lelaki berbeda. Kenikmatannya seakan tak pernah berakhir, walau sekujur tubuh bugilnya sudah bermandikan keringat.

Dina tak menyangka, ternyata melayani dua lelaki sekaligus itu, nikmatnya luar biasa dan sangat puas karena dapat mereguk kenikmatan birahi sebanyak-banyaknya.

Kali ini Ferry suaminya yang memberinya kenikmatan. Sementara Darwis menunggu giliran berikutnya sambil duduk disamping tubuh bugil Dina. Tangannya terus menjelajahi permukaan tubuh polos Dina dihadapan suaminya yang sedang sibuk menusuk-nusukkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluan istrinya itu. Dinapun, sambil menikmati tusukan batang kemaluan suaminya dan remasan serta belaian tangan Darwis di kedua payudaranya, jari-jari tangan lembut Dina terus memegangi batang kemaluan lelaki itu seakan takut kehilangan.

Selesai mendapatkan satu klimaksnya lagi, Dina gantian menerima masukan dari Darwis. Sekujur tubuh bugilnya semakin basah kuyup, namun dirinya masih ingin melanjutkan mereguk kenikmatan birahinya itu. Seakan memiliki tenaga ekstra, Dina sungguh-sungguh ingin merasakan selama mungkin liang kewanitaannya bergantian di tusuk-tusuk dua batang kemaluan lelaki pasangan senggamanya itu.

Posisi berikutnya kembali berubah. Kali ini dalam posisi duduk berhadapan dengan suaminya. Sama-sama mengambil peran aktif. Sama-sama bergerak dan sama-sama menikmatinya. Walau kelelahan mulai menderanya, namun Dina masih belum ingin berhenti. Masih ingin menikmati hujaman kedua batang kemaluan itu di liang kenikmatannya.

Namun akhirnya, setelah hampir satu jam lamanya, Dina tak bisa memungkiri daya tahan tubuhnya. Tenaganya seakan telah terkuras habis, sementara bagian vaginanya mulai merasakan linu. Dina meminta diselesaikan dulu dan ingin beristirahat dahulu.

Akhirnya setelah Darwis dan suaminya Ferry menyelesaikan satu putaran lagi dan keduanya mendapatkan hasilnya, Dinapun terkapar tak berdaya namun dengan tingkat kepuasan yang luar biasa. Selangkangannya terasa linu namun kenikmatannya masih terus dirasakannya. Liang kewanitaannya yang akhirnya terbebas dari “serangan” kedua batang kemaluan lelaki pasangannya itu, terasa berdenyut-denyut nikmat. Sementara tubuhnya yang masih polos itu seakan tak bertenaga. Keringat benar-benar membanjiri sekujur tubuh bugilnya. Dina beristirahat dengan diapit oleh Ferry suaminya dan Darwis “suami” keduanya. Mereka bertiga beristirahat untuk kembali mengumpulkan tenaga dan akan melanjutkan babak berikutnya.

Pengobatan

Setelah perkawinan kami memasuki tahun kelima, aku dan istriku mengalami hubungan suami istri yang makin hari makin hampa, karena kesibukan mengurus 2 anak kami yang masing-masing berumur 2 dan 3 tahun. Istriku malas sekali jika diajak berhubungan suami istri, alasannya terlalu capai bekerja sebagai ibu rumah tangga dan mengurus anak. Aku yakin istriku bukan tipe istri yang suka selingkuh, selain taat beragama, norma-norma moral dan kesusilaan sangat dijaga benar oleh istriku, ini dikarenakan istriku berasal dari keluarga baik-baik dan harmonis.
Aku berusaha mencari informasi bagaimana memulihkan hubungan kami supaya normal kembali. Jika kupaksakan berhubungan, istriku berteriak kesakitan, meskipun sudah dengan pemanasan (four play) yang lama. Istriku tidak terangsang sama sekali dan lubang kemaluannya tetap kering, dan jika dipaksakan masuk, dia akan menjerit kesakitan. Aku berusaha mencari alternatif untuk penyembuhan frigiditas istriku ini. Sudah berbagai terapi dan dokter psiater sex yang canggih kami datangi, tetapi tetap saja istriku belum hilang frigiditasnya.
Istriku berumur 28 tahun dan aku 31 tahun, pada awalnya perkawinan kami boleh dikatakan cukup bahagia, namun sekarang karena istriku mengalami frigiditas yang nampaknya permanen, membuatku bingung mencari solusinya.
Sebelum kulanjutkan, aku ingin menceritakan istriku yang bernama Mia, yang kukawinkan 5 tahun yang lalu, untuk ukuran orang Indonesia dia termasuk wanita yang cukup jangkung dengan tinggi 170 cm dengan berat 49 kg. Kulitnya kuning langsat, rambut sebahu, memiliki leher yang jenjang.
Apa yang kusuka dari istriku adalah kakinya yang panjang dan jenjang, serta bibirnya yang tebal dan sensual, buah dadanya tidak terlalu besar namun bentuknya indah mancung ke atas. Yang membuatku penasaran adalah puting payudaranya yang besar, hampir sebesar ujung kelingking, itu yang membuatku senantiasa gemas dan ingin selalu menghisapnya.
Kembali ke masalah tadi. Setelah mendapat informasi dari seorang rekan kerja, dia mengatakan bahwa di daerah Ciputat ada orang pintar/Dukun yang dapat menyembuhkan segala penyakit termasuk penyakit frigiditas seperti istriku ini. Namanya Pak Acan, dia sering dipanggil Abah Acan (bukan nama sebenarnya). Sebenarnya istriku ragu-ragu untuk berobat ke orang pintar itu, namun atas desakanku tidak ada salahnya dicoba.
Singkat cerita, kami pun pergi ke tempat itu, dan memang banyak yang datang dengan berbagai penyakit, kami pun mendaftar dan mendapat giliran terakhir.
Sambil menunggu, aku mengamati pasien-pasien sebelumnya, ternyata terapi orang pintar tersebut adalah dengan memijat dengan menggunakan minyak (seperti minyak kelapa) yang dibuatnya sendiri. Setiap pasien perempuan harus melepas seluruh bajunya, bh dan tinggal celana dalam, dan mengenakan sarung yang disediakan.
Aku sempat mengamati kamar kerjanya yang serupa dengan kamar tidur itu pada saat pintunya terbuka. Beberapa wanita sedang menanggalkan BH dan memakai sarung. Begitu istriku tahu tentang itu, dia hampir saja mengurungkan niatnya untuk berobat karena risih harus buka pakaian segala, apalagi harus melepas BH.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.30, kemudian giliran kami dipanggil ke dalam. Aku pun disuruh masuk oleh assistennya.
Orang itu meperkenalkan namanya, kemudian menanyakan keluhan penyakit istriku, dia pun mengangguk-angguk mengerti dengan syarat seluruh terapi harus diikuti dengan serius tanpa ragu-ragu. Kami pun mengiyakan, asal istriku dapat sembuh.
Kemudian Abah Acan menyuruh istriku menanggalkan pakaiannya, begitu istriku membuka BH-nya, kulihat ekor mata Abah Acan agak terkejut melihat buah dada istriku yang putih dan mancung ke atas itu, serta puting susunya yang cukup besar itu.
Setelah sarung dililitkan di tubuh istriku yang hanya tinggal mengenakan celana dalam, kemudian istriku disuruh tidur telentang di kasur yang sudah disediakan. Aku melihat Abah Acan mulai meminyaki rambut dan kepala istriku dengan minyak, kemudian istriku disuruh duduk, serta merta lilitan sarung yang dipakai istriku terlepas. Kemudian dari arah belakang Abah Acan meminyaki punggung istriku.
Posisi Abah Acan duduk menghadap punggung istriku. Dari arah belakang kedua tangannya mulai meminyaki payudara istriku yang kiri dan kanan, seluruh permukaan payudara istriku diminyaki, dan kemudian aku melihat Abah Acan melakukan pijatan-pijatan yang menurutku sepertinya pijatan pijatan erotis.
Aku juga melihat tangan Abah Acan meminyaki puting susu istriku, tangannya yang hitam dan telapak tangannya yang besar dan kasar itu meminyaki puting susu istriku. Dan aku terkejut ketika aku melihat jari-jari Abah Acan yang besar itu juga memelintir-melintir puting susu istriku yang besar itu. Anehnya aku melihat istriku diam saja, tidak memberikan perlawanan. Sungguh aku heran, dengan aku saja suaminya dia paling tidak suka puting susunya kupegang-pegang tapi ini kenapa, sama Abah Acan dia diam saja?
Puting susu istriku yang dasarnya memang sudah besar itu semakin besar dan keras terlihat semakin kencang dan mencuat karena terus dipelintir, dipencet dan ditekan-tekan oleh jari-jari Abah Acan, yang kiri dan kanan.
Aku semakin mengamati bahwa pijatan Abah Acan tidak lagi memijat, tapi justru meremas-remas kedua payudara istriku. Aku bertanya-tanya dalam hati, kenapa dia tidak memijat bagian tubuhnya yang lain tapi justru hanya kedua payudara istriku saja. Kuperhatikan kedua puting susu istriku semakin besar dan mencuat keras. Sungguh kontras menyaksikan kedua telapak tangan Abah Acan yang hitam dan besar dengan payudara istriku yang putih yang diremas-remas oleh tangan yang kasar.
Aku semakin heran, apakah ini terapi untuk menghilangkan frigiditas istriku? Dan yang lebih aneh, buah dada istriku nampak makin keras dan mengencang seiring dengan puting susunya yang juga mengencang. Apalagi istriku kok diam saja diperlakukan demikian, karena benar-benar kusaksikan Abah Acan bukan memijat, tapi meremas-remas buah dada istriku seenaknya, dan itu dilakukan cukup lama.
Segala macam bentuk pertanyaan timbul dalam hatiku, bayangkan buah dada istriku diremas-remas oleh Abah Acan di hadapan mata kepalaku sendiri, dan aku mendiamkannya. Dan yang lebih aneh lagi sarung yang masih melilit di pinggang istriku diturunkan ke bawah oleh Abah Acan, tentu saja paha istriku yang putih panjang dan mulus langsung terpampang.
Lalu dia berkata kepada istriku, “Neng, tolong dibuka celana dalamnya, Abah mau periksa sebentar..!”
Anehnya entah karena kena sirep atau apa, istriku menurut membuka celana dalamnya tanpa membantah sedikit pun. Tentu saja aku kaget dan lidahku tercekat. Jantungku berdegup dengan kencang. Kok, Abah Acan menyuruh membuka celana dalam istriku. Dan yang membuat jantungku lebih berdegup dengan kencang, kenapa istriku tidak keberatan atas permintaan Abah Acan?
Setelah istriku melepaskan celana dalamnya, aku melihat sendiri mata Abah Acan terkesiap melihat kemaluan istriku, yang bersih tanpa rambut sedikit pun. (Memang bulu kemaluan istriku selalu dicukur, agar nampak bersih) Dan memang aku mengakui kemaluan istriku termasuk indah seperti kemaluan anak gadis umur 14 tahun, dengan kedua bibir kemaluan yang tertutup rapat.
Jantungku semakin berdegup kencang ketika Abah Acan menyuruh istriku berbaring dan sekaligus melebarkan pahanya ke kiri dan ke kanan yang secara otomatis kemaluan istriku terpampang tanpa ada yang menutupi sama sekali.
Lalu Abah Acan berkata, “Neng, Abah mau periksa dalam yah.., Neng tenang-tenang aja, yang penting frigid-nya Nneng bisa sembuh.”
Lalu istriku pun mengangguk tanda setuju.
Dan tanpa kusadari, batang kemaluanku sudah tegang luar biasa, apalagi ketika jari-jari Abah Acan yang berbuku-buku besar itu mulai membelai-belai kemaluan istriku. Dia mulai memijat mijat bibir kemaluan istriku seraya mengolesinya dengan minyak. Jari-jari Abah Acan, yang besar dan berlumuran minyak itu mulai mempermainkan kemaluan istriku. Aku melihat jari telunjuk Abah Acan menyentuh kelentit istriku. Jari tengahnya mulai masuk perlahan-lahan merojok ke dalam kemaluan istriku.
Aku hampir tidak percaya pada pendengaranku, aku mendengar istriku melenguh kecil dan mendesah-desah tertahan, seperti orang yang sedang menahan suatu kenikmatan orgasme (sebenarnya aku senang mengetahui bahwa sebenarnya istriku tidak frigid). Aku melihat mata istriku begitu redup, seperti orang keenakan. Abah Acan tidak hentinya terus mulai memundur-majukan jari tengahnya ke dalam liang kemaluan istriku. Jari tengah Abah Acan yang besar dan hitam itu masuk dengan lancarnya ke dalam kemaluan istriku. Nampaknya minyak pelumas di dalam kemalaun istriku sudah keluar.
Aku terkejut paha istriku semakin dibuka lebar, dan tanpa disadarinya istriku mulai mengoyangkan pinggulnya.
“Oh.. Bah.. oh.., eh.., eh.., eh..!” desahnya.
Istriku kemudian mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi, sudah dipastikan istriku terangsang luar biasa oleh permaianan Abah Acan.
Aku melihat istriku benar-benar menikmati apa yang dilakukan oleh Abah Acan pada dirinya. Jari-jari Abah Acan yang berada di dalam liang kemaluan istriku membuat tubuh istriku yang telanjang bulat itu mengelinjang-gelinjang tidak karuan sambil tangannya mencengkram kasur serta mengangkat pinggulnya dan pantatnya, kemudian mengoyangkannya ke kiri dan ke kanan. Jari tengah Abah Acan yang besar dan kasar itu terbenam dalam sekali di dalam lubang kemaluan istriku. Aku juga melihat jempol jarinya mengosok-gosok klitoris istriku. Sungguh lihay sekali Abah Acan membangkitkan birahi istriku.
Aku melihat mata istriku menandakan keenakan, dimana biji matanya yang hitam tidak nampak, sementara jari-jari Abah Acan terus bergerak mundur maju di antara bibir vagina istriku, dan makin lama jari-jari Abah Acan makin jauh terbenam di dalam vagina istriku. Lalu yang membuat jantungku berdegup kencang, Abah Acan memutar-mutar jarinya yang sedang berada di dalam kemaluan istriku, diputar ke kiri dan ke kanan, lihay sekali dia merojok-rojok kemaluan istriku.
Klitoris istriku juga menjadi perhatian penuh Abah Acan, jempol Abah Acan yang besar dan kasar permukaanya itu terus mengosok-gosok klitoris istriku. Semakin lama nampak klitoris istriku membesar dan menonjol kepermukaan, sungguh pemandangan yang luar biasa. Digosok dan dimainkan sedemikian rupa, klitoris istriku semakin besar sebesar biji kacang tanah, dan istriku pun melenguh tidak karuan menahan kenikmatan yang didapat oleh Abah Acan.
Aku pun semakin tercekat, karena Abah Acan mulai memasukkan tambahan jarinya, yaitu jari telunjuknya yang berbuku-buku besar itu ke dalam kemaluan istriku. Bersama jari tengah dan telunjuknya yang besar itu, Abah Acan semakin menggila mengexplorasi kemaluan istriku serta sering memutar-mutar jarinya di dalam.
Tidak dapat dibayangkan selama ini, aku saja suaminya tidak pernah melakukan apa yang seperti Abah Acan lakukan. Jangankan memasukkan jari ke dalam kemaluannya, menggosoknya dari luar pun istriku tidak mau, alasan istriku tidak hygienis. Susah dibayangkan, bagaimana rasa nikmatnya Abah Acan ketika jarinya masuk ke dalam kemalauan istriku yang kecil dan tertutup rapat itu dirojok oleh kedua jari Abah Acan yang besar-besar itu.
Apalagi tangan kiri Abah Acan yang bebas mulai menggapai payudara istriku dan mulai meremas-remasnya bergantian yang kiri dan kanan serta memelintir-melintir puting susu istriku bergantian. Aku melihat puting susu istriku yang sebesar ujung kelingking itu membesar dan mencuat ke atas karena diperlakukan demikian.
“Ahhh..!” suara desahan istriku makin keras terdengar (sebenarnya istriku paling malu mendesah-desah keenakan seperti ini, biasanya dia tahan, tidak mengeluarkan suara) tapi dengan Abah Acan dia benar-benar tidak tahan.
Sungguh aku heran, dengan Abah Acan, kok jadi lain. Kalau aku suaminya yang melakukan dia tidak mau, jangankan memasukkan jari ke dalam lubang kemaluannya, meremas-remas buah dadanya saja istriku tidak mau, ngilu katanya. Dengan Abah Acan dia merelakan kedua payudaranya diremas-remas, dan membiarkan Abah Acan mempermainkan puting susunya (yang menurut dia sangat geli dan sensitif). Dan yang membuatku tidak habis berpikir dan membuat birahiku semakin naik, kenapa dia membiarkan jari-jari Abah Acan masuk ke dalam lubang kemaluannya, sedangkan aku ditolaknya dengan tegas jika ingin mempermainkan kemaluannya.
Tapi aku tidak dapat berpikir lama lagi, karena aku sedang menyaksikan pemandangan yang sangat luar biasa, dimana istriku sedang menikmati perbuatan Abah Acan. Jari-jari Abah Acan semakin dalam terbenam dan semakin cepat maju mundurnya.
Dan, tiba-tiba aku melihat kedua paha istriku menjepit kencang tangan Abah Acan yang berada di selangkangan istriku. Kedua tangan istriku menarik tangan Abah Acan sambil berusaha menekan pinggulnya ke depan serta menarik tangan Abah Acan dan berusaha menekan jari-jari Abah Acan untuk lebih jauh masuk ke dalam vaginanya.
Istriku merintih histeris tidak tertahan, “Ahh.., ahh.., ahh.., ahhh..!”
Rupanya istriku telah mencapai orgasme dengan sempurnanya.
Abah Acan dapat merasakan cairan istriku telah keluar dan meleleh ke bibir kemaluannya. Dan aku juga melihat wajah Abah Acan sudah memburu penuh nafsu. Dengan perlahan dia membuka celana hitam komprangnya, kemudian membuka celana dalamnya, lalu tersembul lah batang kemaluan Pak Acan yang sudah membesar dan menegang itu, yang dikelilingi oleh urat-urat yang besar. Aku pun tercekat memandang batang kemaluan Aban Acan yang besar dan panjang itu. Jantungku berdegup dengan kencangnya.
Lalu Abah Acan menoleh kepadaku, “Pak, Bapak rela tidak sebagai suami, demi untuk kesembuhan istri Bapak ini, istri Bapak musti saya suntik dengan ini,” sambil menunjukkan batang kemaluannya yang besar itu, “Saya harus menyetubuhi istri Bapak sekarang. Biar frigidnya hilang.”
Aku pun terdiam, pikiranku berkecamuk, tiba-tiba seperti suara halilintar yang memecahkan telingaku, istriku berkata, “Biar saja Abah Acan, saya mau, yang penting.. saya bisa sembuh.”
Jantungku berdegup kencang, tapi tubuhku menjadi lemas mendengar perkataan istriku barusan. Istriku rela disetubuhi oleh orang yang baru dikenal, bahkan dilakukan di depan suaminya, seingatku Mia adalah istriku yang paling setia, alim dan tidak pernah macam-macam, tapi kenapa sekarang jadi begini, apakah kena guna-guna..? Sirap..? Atau apa..?
Aku tidak dapat berpikir lebih lama lagi, dengan perlahan dan pasti Abah Acan mengarahkan topi bajanya ke dalam kemaluan istriku. Istriku pun juga cukup kaget melihat topi baja Abah Acan lebih besar dari batang kemaluannya. Dan sialnya, sepertinya istriku tidak sabar menunggu batang kemaluan Abah Acan menghampiri kemaluannya. Tanpa rasa malu sedikit pun, istriku menarik pinggul Abah Acan dengan kedua belah tangannya untuk cepat merapat ke selangkangannya.
Tapi ternyata Abah Acan sadar diameter kemaluannya yang hampir 3 cm itu memang terlalu besar untuk kemaluan istriku yang mungil dan imut-imut itu, (sebenarnya ada perasaan minder dalam diriku, karena batang kemaluanku jika dibandingkan dengan Abah Acan jauh lebih kecil).
Perlahan Abah Acan mengosok-gosok topi bajanya di permukaan kemaluan istriku yang kecil dan mungil itu. Aku pun deg-degan melihat pemandangan yang spektakuler itu, apa bisa masuk seluruh batang kemaluan Abah Acan ke dalam vagina istriku..?
Aku melihat wajah ketidaksabaran istriku karena Abah Acan belum memasukkan seluruh batang kemaluannya ke dalam liang vaginanya. Nampak wajah protes dari istriku dan Abah Acan mengerti. Perlahan dan pasti topi baja Abah Acan sudah mulai terbenam masuk ke dalam kemaluan istriku. Mata istriku mendelik-delik ke belakang, merasakan kenikmatan yang luar biasa, dan membuat perasaan iri menjalar di tubuhku. Istriku memeluk tubuh Abah Acan dengan kencangnya, seolah tidak mau melepas batang kemaluan yang sudah masuk ke dalam vaginanya.
Istriku semakin memperlebar kedua pahanya lebar-lebar, ke kiri dan ke kanan, mempersilakan batang kemaluan Abah Acan masuk tanpa hambatan. Kini seluruh batang kemaluan Abah Acan sudah terbenam di dalam liang vagina istriku. Abah Acan tidak langsung memainkan batang kemaluannya, dibiarkannya sesaat batang kemaluan itu terbenam, ini membuat istriku makin gelisah. Dan sungguh di luar dugaan, Abah Acan berusaha mencium bibir istriku yang sensual itu, aku menyaksikan bagaimana bibir Abah Acan yang hitam itu melumat bibir istriku yang tebal dan sensual itu.
Aku tahu sebenarnya istriku tidak mau dicium oleh sembarang pria, tapi karena desakan birahi yang meluap-luap, mau juga istriku membalas ciuman Abah Acan dengan ganasnya. Kulihat mereka berpagutan, namun istriku sudah tidak tahan.
Dia berkata, “Ayo dong.., Abah Acan, mulai..!”
Perlahan dan pasti Abah Acan mulai memaju-mundurkan batang kemaluannya di dalam vagina istriku. Aku melihat disaat batang kemaluan Abah Acan menghujam ke dalam, bibir kemaluan istriku pun ikut melesak ke dalam, dan disaat batang kemaluan tersebut ditarik keluar, bibir vagina istriku pun ikut melesak keluar. Hal ini dikarenakan batang kemaluan Abah Acan yang terlalu besar untuk ukuran vagina istriku yang kecil dan imut itu.
Aku melihat wajah istriku merah padam, menahan kenikmatan yang luar biasa. Matanya terpejam-pejam saat menerima hujaman batang kemaluan Abah Acan serta bibirnya mendesis-desis. Ternyata istriku sangat menikmati persetubuhannya dengan Abah Acan, dikarenakan memiliki batang kemaluan yang besar dan panjang. Sementara aku melihat wajah Abah Acan, matanya merem melek, menikmati liang vagina istriku yang kecil dan imut-imut itu.
Tanpa ada rasa malu, di sela-sela rengekan nikmat yang keluar dari bibir istriku, aku mendengar dia berkata, “Ahh… Ayo dong.. Bah Acan, cepetan..!”
Rupanya istriku sudah ingin mencapai orgasme. Istriku semakin cepat menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, dan mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi. Dan benar saja, Abah Acan semakin mempercepat permainannya, topi baja dan batang kemaluan Abah Acan yang dikelilingi oleh urat-urat yang besar sekarang begitu mudahnya masuk keluar dari dalam liang kemaluan istriku yang sempit itu.
Sukar dibayangkan, batang kemaluan Abah Acan yang demikin besar itu dapat menerobos masuk dan keluar dengan mudahnya, ini dikarenakan pasti istriku sudah mengeluarkan cairan pelumasnya begitu banyaknya. Tapi karena saking besarnya batang kemaluan Abah Acan, bibir kemaluan istriku tetap melesak ke dalam atau ke luar ketika dihujam maupun ketika dicabut.
Ini merupakan pemandangan yang sangat menakjubkan, cepatnya batang kemaluan Abah Acan masuk dan keluar, diikuti dengan cepatnya bibir vagina istriku melesak ke dalam dan keluar. Aku pun sudah tidak tahan untuk melakukan masturbasi melihat istriku disetubuhi oleh laki-laki yang belum dikenal dengan batang kemaluan yang luar biasa besarnya.
Abah Acan ternyata tidak mau rugi sama sekali, apabila diperbolehkan menyetubuhi istri orang dalam rangka penyembuhan, harus dimanfaatkan sebaik mungkin, tidak boleh ada bagian tubuh yang dilewatkan. Memang sungguh keterlaluan, sempat-sempatnya Abah Acan melahap kedua buah dada istriku yang terguncang-guncang terkena hentakan batang kemaluannya.
Dengan rakus disedot-sedotnya puting susu istriku dengan kuatnya yang kiri dan kanan bergantian, sungguh Abah Acan menikmati puting susu istriku yang sebesar ujung kelingking itu (seperti anak kecil ngempeng dot). Pasti nikmat karena terasa puting itu di mulut yang menghisapnya.
Efek dari ini semua istriku tidak tahan untuk berteriak-teriak menikmati kenikmatan yang amat sangat yang belum pernah dirasakan. Dan tiba-tiba aku melihat tubuh istriku mengejang kaku dan bergetar seperti dialiri listrik ribuan volt. Tangan dan kakinya memeluk Abah Acan dengan kuat seperti lengket.
“Ahh.., ahh… Ahh..!” tangannya mencakar punggung Abah Acan hingga berdarah dan bibirnya mengigit lengan Abah Acan hingga berdarah pula.
Pinggul istriku diangkat menempel di tubuh Abah Acan, seolah tidak dapat lepas, istriku mengalami orgasme yang luar biasa hebatnya, yang seumur hidup belum pernah dirasakannya.
Sementara Abah Acan pun sudah tidak tahan, dia mempercepat kocokannya. Dan akhirnya ketika ingin memuntahkan laharnya, dia cepat mencabut batang kemaluannya yang besar dan berurat itu dan ditumpahkannya cairannya diatas pantan bulat istriku.
Setelah selesai, Abah Acan menyuruh istriku mandi air kembang yang disediakannya dan memberikan beberapa ramuan kepadaku untuk diminumkan istriku. Kemudian Abah Acan juga memberikan semacam dildo dari karet, untuk menstimulir birahi istriku, karena katanya istriku hanya dapat orgasme dengan ukuran penis yang besar dan panjang minimal dengan diameter 2 cm dan panjang 20 cm.
Ketika hendak pulang, kutanyakan berapa ongkos tarif terapi yang baru saja dilakukannya. Dikatakannya gratis, untuk istriku karena sudah dibayar dengan tubuh istriku. Dia mengatakan aku merupakan pria yang beruntung mempunyai istri yang lubang kemaluannya kecil dan peret meskipun sudah beranak 2.
Demikianlah pembaca. Setelah kejadian di tempat Abah Acan, istriku sudah mulai berangsur-angsur sembuh dari frigidnya, dan terus menjalankan terapi serta minum ramuan yang dibuat oleh Abah Acan.

from :  http://pelangicinta30.wordpress.com/2011/02/09/pengobatan/

Cerita Pijat Pasutri

Ini adalah kisah nyataku sebagai Sensual Massage Therapist yang telah aku lakoni beberapa tahun terakhir ini, Bagi yang belum membaca kisah-kisahku sebelumnya, aku perkenalkan diri.

Aku biasa dipanggil WIDHO atau Mas Wid. Bekerja sebagai karyawan kantor di Staff Engineering, sebagaimana orang pada umumnya. ditambah keahlianku dalam hal memijat, menjadikanku Therapist Pijat yang banyak dicari pasutri. Terutama di daerah Jakarta – Tangeran dan sekitarnya.
Dan inilah salah satu kisahku….pada Pasutri yang pertama kali mereka rasakan pemijatan pasutri..

********************

Seperti biasa, hari itu setelah kerjaan kantor beres, aku buka email jasapijatpasutri@yahoo.com. Ada pesan masuk. Aku baca isinya,

aku pun membalas email tersebut dan kami chatting YM aku kirim dengan tambahan nomor hp kalo-kalo orang ini tertarik untuk menghubungiku lebih lanjut.

Tak berapa lama, hpku berbunyi. Hmm…nomor baru nih.

“Halo..”,sapaku.

“Halo, ini dengan Deva?”, ada suara cowok diujung sana.

“Benar. Ini dengan siapa?”

“Aku Hendra (samaran). Aku baru terima foto kamu, bro”

Akhirnya percakapan lewat sms ini berlanjut melalui telepon. Rupanya dia pasutri dari Surabaya yang ingin merasakan sensasi 3some. Dia berumur 32 tahun sedangkan istrinya 27 tahun. Hmm masih muda juga. Tapi istrinya masih keberatan untuk diajak 3some dan Hendra ingin agar aku merayu istrinya itu.

“Gini aja bro”, jawabku. “ Bilang aja kalo aku cuman mijit aja untuk ngilangin rasa capek. Ga bakal macem2 dan istri kamu bisa nolak kalo pas aku pijit merasa ga nyaman. Kalo masih kurang yakin, bisa ngobrol sama aku lewat hp atau ym.”

Besoknya, Hendra member tau kalo istrinya ingin chat langsung sama aku lewat ym.

“Oke”, jawabku.

Di ym, istrinya memperkenalkan diri bernama Erna (samaran). Dia merasa risih karena suaminya selalu saja minta agar dirinya mau diajak ml sama cowok lain. Padahal dia tidak mau dan tidak suka kalo ada cwok lain menyentuh dirinya. Risih katanya.

“Gini mbak, biar suami mbak ga penasaran lagi, saya bisa bantu. Saya akan pijit mbak Erna di depan mas Hendra. Tapi saya tidak akan macem2 dan cuman mijit aja. Paling tidak, suami mbak udah ga merasa penasaran lagi”, kataku.

“Tapi aku ga mau lho kalo lebih dari itu. Kalo cuma pijit aja sih gapapa. Kebetulan badanku capek semua”, Jawabnya ketus.

“Iya mbak. Saya bisa dipercaya kok”, kataku meyakinkan.

“Tapi aku pengen liat wajah kamu dulu. Bisa liat lewat cam kan?”, katanya masih belum yakin juga.

Setelah melihat wajahku, diapun setuju untuk dipijit.

Akhirnya kami sepakat minggu depan bakal ketemu di Surabaya..

Hari Sabtu pagi, aku berangkat dari Kediri. Singkat kata, mereka menjemputku di terminal Bungurasih Surabaya.

Hmm…Erna cantik juga ternyata. Aku taksir,tinggi sekitar 160cm dengan berat badan ideal, kulit putih dan hidung mancung.Tapi yang paling menonjol saat aku melihatnya adalah dadanya yang aku taksir berukuran 34b. Hmm..aneh juga ya. Ada suami yang rela dan kepengen istrinya yang cantik dinikmati orang lain di depan dirinya. Ah…masa bodoh, ngapain aku mikirin urusan orang lain. Tujuanku kesini adalah untuk membantu memuaskan orang yang meminta bantuanku.

Sesampai di hotel, aku bersih-bersih badan dulu dan menyiapkan peralatan untuk memijat seperti handuk dan minyak zaitun. Aku sampaikan ke Hendra bahwa ini cuman pijit aja tanpa ada 3some karena Erna tidak bersedia. Hendra pun setuju.

Aku persilakan Erna untuk berbaring tengkurap. Aku mulai dengan memijat telapak kakinya.Ketika pijatan semakin naik, aku minta ijin melepas celana jeans yang dia pakai. “Maaf mbak, kalo ga dilepas nanti kotor kena minyak.”

Erna pun melepas celana jeansya. Aku mulai urut dengan minyak perlahan. Semakin lama semakin ke atas. Saat sampai di bagian paha dalam, dia mulai mendesis..

”Ehhmmm…”sambil sedikit menggeliat.

Aku semakin intens memberikan pijatan di paha dalamnya. Semakin lama jari-jariku semakin menyentuh pangkal paha. HHmm…terasa hangat.Kepalanya dia benamkan ke bantal. Mungkin malu atau tidak kuat menahan rangsangan. Aku tidak tahu. Tapi dia tidak menolak untuk diteruskan.

Aku pijat lagi pahanya tanpa terlihat sengaja menyentuh bukit berbulunya. Oww..udah basah celana dalamnya.

Aku pun minta ijin melepas celana dalamnya dengan alasan yang sama, agar celananya tidak lengket. Dia angkat pantat pertanda tidak keberatan dan akupun langsung melapaskannya.

Aku mulai pijat pantatnya perlahan namun mantap. Aku belum berani terlihat terlalu vulgar dengan menyentuh langsung bagian tengah lubangnya. Aku naikkan pijatanku ke atas sampai bahu. Tangan aku susupkan dari samping menyentuh sisi payudaranya.

Dia mendesis lagi…”Uffhh..”

Kaitan bh nya pun aku lepas dengan seijin Erna dan kemudian melumuri punggungnya dengan minyak zaitun.

Aku sengaja tidak memberikan rangsangan lebih, agar dia merasa penasaran.

“Udah mbak, sekarang telentang”.

Erna membalikkan badannya dan menutupkan handuk sebatas dada sampe pangkal paha. Sambil memejamkan mata, dia pasrah menunggu pijatanku selanjutnya. Tampak kalo dia masih agak malu-malu.Tapi tak apa. Aku yakin dia pasti sudah sangat terangsang.

Aku pijat lengannya menggunakan minyak zaitun sambil aku duduk bersila di sampingnya. Jari-jarinya aku arahkan ke selangkanganku. Ketika ujung jarinya menyentuh bongkahan di celanaku yang mulai membesar, dia menoleh ke arah suaminya yang duduk di sofa agak jauh dari tempat tidur.

Mungkin dia merasa malu kalo-kalo suaminya melihat tangannya yang menyentuh penisku. Tapi Hendra hanya diam saja sambil merokok. Wajahnya tidak menunjukkan reaksi melarang ataupun menyetujui. Karena suaminya cuek, Erna pun tak begitu peduli dengan suaminya lagi. Jari-jarinya yang ada di selangkanganku mulai mengusap-usap perlahan tak kentara. Seakan tak sengaja. Matanya tetap terpejam seakan menikmati pijatanku di lengannya.

“Hmm…udah mulai berani rupanya”, pikirku sambil tersenyum.

Aku tetap pura-pura memijat langan dan pundaknya, padahal penisku udah mulai bergerak membesar.

Pijatanku kuarahkan ke payudaranya. Handuknya aku perosotkan ke bawah. Tampak putingnya yang berwarna coklat muda.sudah mengeras tegak ke atas. Aku urut payudara kanannya dari samping menuju ke tengah. Saat menyentuh putting, tubuhnya menggelinjang sambil mendesah pelan..”eehh…”

Terlihat sekali kalo dia berusaha menahan desahan. Tapi setiap pijatanku menyentuh putingnya, dia kembali menggeliat dan mendesah.’’Ahh…”

Aku lihat Hendra merubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. Sepertinya dia mulai ikut terangsang melihat istrinya aku perlakukan seperti itu.

Erna mempergunakan tangan kirinya untuk menutup mata karena tidak tahan dengan rangsangan yang dia rasakan, Sementara tangan yang ada di selangkanganku mulai berani menggenggam erat penisku. Dia sudah tidak malu-malu lagi mengelus dan mengocok penisku dari luar. Setiap putingnya aku sentuh, genggamannya pada penisku semakin erat.

Aku sengaja tidak memberikan rangsangan ke putting terus menerus. Saat dia mulai terangsang, aku pindahkan tanganku ke perutnya. Berhasil..dia terlihat kecewa dan mulutnya cemberut.

Hehe aku tertawa dalam hati. Aku menoleh kearah Hendra. Diapun mengacungkan jempol pertanda dia suka atas perlakuanku.

Akupun tidak menyia-nyiakan isyarat jempol dari Hendra. Tanganku turun lagi dari perut menuju ke bawah. Aku urut paha Erna dari bawah ke atas. Saat sampai di pangkal paha, aku sentuhkan jari telunjukku tepat di tengah-tengah gundukan vaginanya.

“auuwhh…” Erna berteriak lirih. Sepertinya dia agak terkejut dengan tindakan beraniku. Mungkin dia merasa seperti kesetrum saat jemariku menyentuh liang surganya.Tangannya kembali meremas penisku.

Kali ini gentian aku yang terkejut. Erna tanpa ragu menelusupkan tanganya ke balik celanaku. Kebetulan aku memakai celana kolor tanpa celana dalam, sehingga dengan mudah tangannya masuk menyentuh kulit penisku. Ahh….enak juga pijatannya.

Kini aku semakin berani memijat area vitalnya yang sudah semakin basah. Jari tengahku mengorek garis tengah vaginanya dari bawah ke atas. Saat jariku menyentuk klitorisnya, bisa ditebak, lenguhannya semakin keras dan kocokannya semakin cepat.

Aku masukkan jariku ke dalam lubang. Pelaaann…tapi pasti. Aku tekuk jariku di dalam vaginanya untuk mencari daerah yang menonjol dan kasar. Nah…ketemu!. Ini dia g-spotnya. Akupun menggerak-gerakkna jariku keluar masuk.

“Oohh….oogghh…ooouuwggh..”, Erna sudah tidak bisa membendung suaranya lagi. Dia tidak lagi merasa malu. Yang ada hanyalah nafsu dan gairah yang semakin memuncak. Dia sudah tidak memperdulikan lagi suaminya yang sudah berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah ranjang untuk melihat lebih dekat istrinya yang menikmati perlakuanku.

“Oohh..yeah….ahhh..disitu..teruuss…aahh….”…teriaka nnya semakin tak terkendali. Aku tau sebentar lagi dia pasti akan meledak. Aku percepat kocokan tanganku.

“Ahh…tteeruuuss..akk..kkuu…kkeell….aahh…papaahh…ak u keluaarrr…ooggghhhh….”, Erna menjerit keras sekali. Pantatnya naik saat aku tekan jariku lebih dalam. Tangan kirinya ternyata sudah dipegang erat sama Hendra. Pantas saja dia teriak “papa” saat orgasme.

Sementara tangan kanannya tetap memegang penisku. Bedanya, dia sudah tidak mengocoknya tapi menggenggam erat sekali karena menahan orgasme yang dahsyat.

Sekitar lima detik tubuhnya mengejang dengan pantat naik keatas. Setelah gelombang orgasmenya mereda, dia seakan kembali ke alam sadar. Dia menoleh ke suaminya sambil tersenyum malu.

“Gimana,ma? Enak?”, Tanya Hendra.

“Ah papa..gitu masih ditanya”, jawab Erna malu sambil mecubit paha suaminya. “Papa ga marah?”, Erna bertanya ragu.

Hendrapun tersenyum, “Kenapa marah? Kan aku yang minta dari dulu tapi kamu ga pernah mau”

“Makasih ya,pa. Tadi benar-benar luar biasa. Mas Deva tau letak g-spotku”. Erna menyebutku dengan panggilan Mas.

Seakan teringat kalo tangan kanannya masih memegang penisku, Erna menoleh ke arah genggaman tangannya, kemudian dia bertanya ke suaminya, “Pa, boleh ga aku isep punyanya Deva?”

“Kenapa, ma? Kamu suka?” Hendra malah balas bertanya.

“Iya, habis punya Deva gede”. Erna menjawab dengan polosnya. Mungkin dia merasa takut kalo suaminya tersinggung, cepat-cepat Erna sambung kata-katanya. “Maaf ya pa. Bukan maksudku kalo punya papa kecil, cuman punya Deva lebih
gede dikit”

Hendra hanya tertawa , “Gapapa,ma. Aku udah tau kok kalo punya Deva lebih gede. Kan dulu udah ditunjukin fotonya. Kalo mama suka, jangankan diisep. Dimasukin ke punyanya mama, papa ga marah kok”

“Makasih ya, pa.” Erna memeluk tubuh suaminya yang berdiri di samping ranjang dan kemudian mencium bibirnya.

Aku cuman tersenyum aja melihat tingkah mereka berdua.

Erna kembali menggenggam penisku yang tadi dilepaskannya.

Kini aku berdiri di atas ranjang betumpu pada lutut. Celanaku dipelorotkan ke bawah oleh Erna. Kini di depan wajahnya, terpampang penisku yang sudah mengacung tegak. Matanya sedikit melotot, tapi sedetik kemudian dia sudah bisa menutupi rasa kagumnya.

Wajahnya mendekat perlahan. Dia jilat lubang penisku yang sudah mengeluarkan cairan precum. Hmm..tampak dia menikmatinya. Mulutnya dibuka lebar-lebar seakan ingin menelan seluruh penisku. Kini tampak kepalanya maju mundur memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Sayangnya cuman seperempat dari penisku yang bisa dia telan.

Diapun melepas lagi sambil geleng-geleng.“Ahh…ga muat”, katanya. Mungkin dia ingin menelan semuanya.Hihihi..aku cuman ketawa geli dalam hati melihat tingkahnya.

Dia masukkan lagi penisku ke dalam mulutnya. Kini dia tidak peduli muat atau tidak, yang dia lakukan hanyalah memaju mundurkan kepalanya sambil menghisap penisku. OOhh….rasanya benar-benar melayang.

“Rupanya cewe ini jagoan juga ngisepnya”, pikirku. Tadi sepertinya dia wanita yang lembut dan pemalu. Tapi kini terlihat liar dan buas. Tangannya mengocok cepat sambil mulutnya terus menghisap keluar-masuk. Hendra tidak tahan melihat adegan ini. Dia melepas celananya. Tampak penisnya sudah menegang.

Ooo..pantas Erna bilang kalo punyaku lebih besar. Aku liat, penis Hendra panjangnya cuman standar, mungkin 13cm dan diameternya sekitar 3,5cm. Hendra meraih tangan kiri Erna dan diminta untuk mengocok penisnya.

Sekarang Erna memainkan dua penis sekaigus. Penis suaminya dikocok dengan tangan kiri sedangkan penisku dihisap sambil dikocok dengan tangan kanan.

Sekitar 10 menit dia melakukan itu. Aku semakin ga kuat. Bahaya, kalo diteruskan, aku bisa keluar nih.

Untungnya Erna sudah merasa capek duluan. Dia lepaskan penisku sambil geleng-geleng “Gila, gede banget. Mulutku sampe capek musti nganga lebar.”

Aku dan Hendra hanya tersenyum mendengarnya.

Aku segera ambil inisiatif, “Mbak sekarang tidur telentang ya” Erna nurut. Dia mungkin penasaran apa yang akan aku lakukan terhadapnya.

Sambil mengocok penis suaminya perlahan, Erna memperhatikan aku yang mengambil posisi berlutut di depannya. Tanganku menyentuh vaginanya. Erna kembali mendesah, “Ahh..”.

Aku ambil kondom di dekat tempat tidur. Erna sadar, sebentar lagi dia akan disetubuhi orang lain di hadapan suaminya. Inilah pertama kalinya dia bersetubuh dengan pria selain suaminya sendiri. Mungkin dia sedikit ragu, tapi tak ada penolakan karena tampaknya diapun ingin merasakan seperti apa rasanya penis orang lain.

Vaginanya sudah mulai basah lagi. Rupanya dia sudah kembali terangsang setelah mengalami orgasme tadi. Aku bentangkan pahanya lebih lebar. Aku lihat, wajah Erna sedikit tegang.

“Santai aja mbak. Aku pelan-pelan kok”

Erna hanya mengangguk pelan sambil tangannya terus mengocok penis Hendra. Matanya tak berkedip memandang penisku.

Akupun perlahan menempelkan kepala penisku di bibir vaginanya. Aku tidak langsung memasukkannya, melainkan menggesek naik turun di garis lubang nikmat itu. Erna melenguh ..”Oohh..”

Ketika aku rasa cairannya sudah semakin banyak, aku masukkan perlahan penisku

“Ahh..pelaann…mass”

Aku tidak menjawab. Penisku aku tarik keluar sedikit, kemudian aku masukkan lagi perlahan. Gila..sempit banget. Penisku terjepit. Padahal masih baru masuk separo.

Erna menggigit bibirnya. Hendra menyorongkan penisnya ke mulut Erna. Seakan tahu kalo penis itu sebagai obat penahan sakit, Erna pun mengulumnya. Kini konsentrasinya terpecah pada penis Hendra. Akupun kembali menekan agak dalam. Bless…Ahh…akhirnya masuk juga seluruh batang penisku.

“EEhhmmmpphh…” Erna berteriak sambil masih mengulum penis Hendra.

Aku diamkan sesaat. Ketika kedutan vaginanya mulai berkurang, aku memompa perlahan. Terasa seret banget. Aku heran juga, “Seperti merasakan anak abg aja”, pikirku.

Semakin lama, cairan vaginanya semakin banyak. Aku bisa lebih lancar menggenjot penisku lebih dalam lagi.

Gerakanku semakin cepat. Sementara itu aku lihat hisapan Erna pada penis Hendra juga semakin kuat. Aku lakukan beberapa variasi goyangan dan tusukan pada vagina Erna sehingga dia merasakan gairahnya semakin memuncak. Terlihat dari lenguhannya yang semakin keras dan kocokan pada penis Hendra yang semakin cepat.

Erna melepas hisapannya dan teriak,”Ahh..lebih cepppaatt…teruuss…aku mau kelluarr…la..giii”

AKu percepat gerakanku. Hendra juga menunjukkan tanda-tanda mau keluar. Dia minta istrinya kembali menghisapnya. Sebentar kemudian, aku lihat Hendra memuntahkan spermanya di mulut Erna. “Ahrrgghhh…”, Hendra berteriak tertahan.

Erna menelan sperma suaminya. Beberapa meleleh di sudut bibirnya. Mungkin saking banyaknya

Sementara kocokanku semakin aku percepat lagi. Pantat Erna mengikuti gerakanku…

Dan akhirnya…”Uuurrgghh…….”Erna teriak dan tubuhnya mengejang kaku. Di saat yang bersamaan, aku pun menyemprotkan spermaku. “Ogghhrrhh….” Kepalaku menegadah ke atas menahan nikmat yang luar biasa dahsyat.

Tubuhku lemas. Aku rubuhkan tubuhku diatas tubuh Erna. Sementara Hendra duduk di tepi ranjang . Kami bertiga lemas setelah merasakan kepuasan yang hamper bersamaan.

Aku bisa merasakan dada Erna masih ngos-ngosan.

Hendra mengelus rambut Erna sambil bertanya. “Bagaimana ma?, Enak?”

“Enak,pa. Aku belum pernah merasakan seperti ini sebelumnya”, jawabnya dengan masih ngos-ngosan.

Hari itu kami habiskan waktu di hotel untuk melakukan 3some beberapa kali lagi sampai terasa benar-benar lemas. Hendra terlihat sangat puas. Dia berterima kasih karena akhirnya berhasil merealisasikan fantasinya selama ini.

from :  http://khusus-dewasa.com/search/cerita-dan-gambar-pijat-pasutri

Pengalaman Pijat

Namaku Dania.. Tapi teman-temanku memanggil Nia, usiaku 24 tahun, dan aku bekerja disalah satu bank swasta, tinggi badanku 167 dan berat 52, bra 36a, kulitku putih.. Maklum karena aku berasal dari Sulut. Selain itu akupun juga hobby aerobik.. Sehingga bentuk tubuh selalu aku jaga. Face..? jangan ditanya.. Bukannya aku ge’er.. Tetapi dari SMP, SMU, kuliah sampai tempat kerjaku sekarang.. Aku selalu menjadi perhatian rekan-rekan.
Setelah membaca beberapa cerita disini, akupun tertarik untuk sharing pengalamanku disini, perlu netters ketahui.. Aku adalah seorang bisex dan exibithionist juga, tetapi itu semua ada penyebabnya kenapa aku menjadi seorang bisex dan exibithionist.. Walaupun sekarang aku sudah bertunangan tetapi tunanganku tidak mengetahui apa yang terjadi dengan diriku, dia tahu kalau dulu aku wild dan dia memaklumi itu. Tetapi sekarang apa yang aku ceritakan adalah sebuah pengalaman yang tidak ada satupun orang yang tahu, termasuk tunanganku, dan ini adalah sebuah pengalaman yang aku alami baru-baru ini.. Kira-kira 1 bulan yang lalu.
Waktu itu aku bersama teman-teman kantor berlibur ke Pangandaran, kami pergi berempat.. Aku, Lina, Mita dan cowoknya Mita.. Edy namanya. Setelah menempuh perjalanan lebih dari 5 jam, akhirnya kami tiba di Pangandaran.. Dan kami langsung menyewa satu bungalow yang terdiri 1 ruang tamu, 2 kamar tidur, 1 kamar mandi dan 1 dapur.
Karena kami tiba sudah larut malam, maka setelah menurunkan barang-barang.. Kami pun langsung masuk ke kamar masing-masing, aku satu kamar bersama Lina, sedangkan Mita satu kamar bersama cowoknya, kamar yang aku tempati terdiri atas dua ranjang yang terpisah, sebuah lemari pakaian dan meja rias dengan kacanya yang besar dan jendela yang menghadap ke laut.
Karena capek, lelah dan ngantuk.. Kami pun langsung tidur tanpa ganti baju lagi. Keesokan harinya aku bangun jam 10 pagi dan aku melihat Lina sudah tidak ada ditempat tidurnya, aku pun langsung bangun dan menyisir rambutku yang panjang (sebahu lebih) dan keluar kamar, ternyata tidak ada siapa-siapa..
“Wah pada kemana mereka..” pikirku, tetapi tiba-tiba HP ku berbunyi, ternyata Lina menelphon.
“Sudah bangun non..” serunya.
“Kalian lagi dimana sih?” seruku.
“Oh iya.. Sorry, kita lagi pergi cari film nih.. Tadi enggak tega bangunin kamu..” seru Lina.
“Yaa.. sudah.. Titip makanan yaa..” sahutku
“Okey non” lalu hubungan terputus.
Kini aku sendirian di bungalow itu, lalu aku pun segera mandi.. Dan menikmati segarnya guyuran air dari shower, setelah mandi akupun memakai CD dan BH warna pink (aku suka yang satu warna) dan memakai kimono, setelah itu aku duduk-duduk disofa tamu sembari mengeringkan rambutku dengan handuk, tiba-tiba aku melihat secarik kertas diatas meja, disitu tertulis ‘menyediakan jasa pijat, urut dan lulur’ dan dibawahnya ada nomor teleponnya.
“Ah betapa enaknya dipijat.. Kebetulan badan lagi pegel..” pikirku sembari membayangkan dipijat oleh si mbok dirumah, lalu aku menelphon nomor itu dan diterima oleh seorang wanita disana, setelah mengutarakan maksudku, akhirnya wanita itu bilang.. Tidak lama lagi akan datang pemijat ke kamar aku, setelah itu akupun duduk menanti..
Tak lama kemudian pintu diketuk dari luar, segera aku bangkit dan membuka pintu.. Dan.. Terkejutlah aku, karena tampak seorang pria dengan baju putih berdiri diambang pintu, lalu.
“Selamat siang neng.. Anu.. Tadi manggil tukang pijat yaa?” seru pria itu.
Tampak pria itu berumur kira-kira 45-an, tidak terlalu tinggi tapi kekar dan berkulit coklat.
“Eh.. nggak.. Anu.. Iya pak..” sahut aku, “Anu.. Bapak tukang pijatnya..?” tanyaku.
Pria itu tersenyum lalu, “Iya neng”.
Wah.. Kini aku rada sedikit panik, tidak menduga kalau tukang pijatnya seorang pria, tapi tanpa aku sadari aku malah mempersilahkan bapak itu masuk, setelah masuk.
“Mau dipijat dimana Neng?” tanyanya.
“Ngk.. Di.. Kamar aja pak” sahutku, lalu aku membiarkan bapak itu mengikutiku menuju kamar, tiba didalam kamar, bapak itu segera dengan cekatan membereskan ranjang tidurku, lalu menyuruhku untuk tengkurep diatas ranjang.
Aku mengikutinya, dan berbaring tengkurep diatas ranjang.. Lalu terasa tangan si bapak itu yang kasar itu mulai memijat-mijat telapak kaki dan kedua betisku, aku benar-benar merasakan nikmatnya pijatan bapak itu, kemudian.
“Maaf neng.. Kimononya dibuka yaa” serunya,
Aku hanya diam saja ketika kimonoku dibuka dan diletak diranjang satunya lagi, kini hanya tinggal CD dan bra saja, setelah memijat betis dan bagian paha.. Si bapak beralih ke punggungku, memang terasa enak pijatan si bapak ini, setelah itu aku merasakan si bapak menuangkan oil ke atas punggungku dan mulai mengosoknya, lalu.
“Maaf yaa Neng” serunya sembari melepas tali BHku, aku hanya diam saja, kedua tanganku aku taruh dibawa bantal sementara kepalaku menoleh ke arah tembok, terasa geli juga ketika si bapak mulai mengurut bagian samping tubuhku.
Lalu terasa tangan si bapak mulai mengurut kebagian bawah dan menyentuh CD ku, lalu “Maaf yaa neng..” serunya sembari tangannya menarik CDku kebawah, aku terkejut tapi anehnya aku membiarkan si bapak itu melorotkan CD ku hingga lepas, kini si bapak dengan leluasa mengurut tubuhku bagian belakang yang sudah telanjang itu, lalu si bapak mengosokan oil ke seluruh tubuhku bagian belakang dari pundak sampai ketelapak kaki dan dibawah sinar lampu kamar, aku yakin tubuhku akan tampak mengkilap karena oil itu.
Aku hanya berdiam diri saja.. Dan membiarkan si bapak mengurut bagian dalam pahaku, kedua kaki ku direnggangkan.. Oouhh.. Pasti sekarang dibapak dapat melihat kemaluanku dari belakang.. Pikirku, tapi aku hanya diam saja.. Dan diam-diam merasakan nikmat ketika tangan dibapak menyentuh-nyentuh bibir vaginaku, lalu dibapak naik ke atas tempat tidur dan duduk berlutut diantara kedua paha ku, aku hanya bisa pasrah saja ketika si bapak merenggangkan kedua pahaku lebih lebar lagi dan membiarkan kedua tangan si bapak mengurut-urut bagian pinggir vaginaku..
Gilaa.. Aku terangsang hebat.. Dan setiap jari-jari si bapak menyentuh bibir vagina ku.. Akupun mengelinjang.. Setelah cukup lama, akhirnya si bapak menuangkan oil ke atas pantatku.. Terasa cairan oil itu merambat melewati anus dan terus sampai ke vaginaku, kemudian dengan kedua tangannya.. si bapak mulai mengurut bongkah pantatku, dan aku benar-benar merasakan nikmat dan membiarkan si bapak membuka bongkah pantatku dan pasti dia dapat melihat bentuk kemaluanku dengan jelas dari belakang berikut anus ku.. Oohh
Tiba-tiba terasa jari-jari si bapak mengusap-usap anus ku.. Gilaa.. Aku terangsang hebat.. Apalagi terasa sedikit demi dikit jari telunjuk dibapak itu dicolok-colok ke dalam anus ku.. Bergetar hebat tubuhku.. Dan tanpa aku sadari aku mengangkat pantatku hingga setengah menungging, tiba-tiba kedua tangan si bapak memegang pangkal paha ku dan mengangkat pantatku ke atas, aku menurut saja.. Hingga akhirnya aku menungging dihadapan si bapak itu, kepala ku.. kubenamkan ke atas bantal.. Dan membiarkan si bapak mempermainkan vaginaku dengan jari-jarinya..
Tiba-tiba.. Ooouuhh.. Aku mengeluh panjang ketika terasa jari si bapak menyusup masuk ke dalam anusku.. Terasa sedikit mules ketika jari telunjuk si bapak itu di sodok-sodok keluar masuk lobang pantatku, oohh.. Aku hanya bisa meringis saja dan akupun mengelinjang hebat ketika tangan si bapak yang satunya menyusupkan jarinya ke dalam liang vaginaku..
Gilaa.. Aku merasakan nikmat luar biasa.. Aku hanya pasrah saja dan membiarkan si bapak mengocok-ngocok vagina dan anusku dengan jari-jarinya,
Tanpa sadar aku meluruskan kedua tanganku untuk menopang tubuhku.. Hingga kini posisiku seperti orang merangkak, sementara si bapak tetap duduk berlutut dibelakang. Cukup lama juga jari-jari si bapak menyodok-nyodok liang vaginaku dan lobang pantatku.. Dan aku benar-benar menikmati.. Sehingga tanpa sadar vaginaku sudah basah bercampur dengan oil.. Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang menempel dimulut vaginaku, ternyata si bapak telah mengarahkan batang kemaluannya ke bibir vaginaku, aku hanya pasrah dan membiarkan ketika secara pelan-pelan batang kemaluan si bapak mulai ditekan masuk ke dalam vaginaku.. Oohh.. Nikmat.. Tanpa disadari.. Aku mengerak-gerakan pinggulku juga, tubuhku terguncang-guncang ketika si bapak mulai menyodok-nyodok vaginaku dengan batang kemaluannya..
Aahh.. Nggkk.. Ohh.. Aku benar-benar merasakan nikmat.. Dan diam-diam aku mencapai klimaks tanpa sepengetahuan si bapak itu, tiba-tiba si bapak mencabut batang kemaluannya dari vaginaku.. Lalu oohh.. Gilaa.. Terasa ujung batang kemaluan si bapak ditempelkan ke anusku.. Wah dia mau menyodomi aku.. Pikirku memang aku pernah melakukan anal sex.. Tapi ini..
Lalu si bapak menarik kedua tanganku kebelakang dan menyuruh aku membuka belahan pantatku dengan kedua tanganku sendiri.. Kemudian terasa jari-jari si bapak mengolesi anusku dengan oil.. Dan kadang-kadang menyusupkan satu dua jari nya ke dalam.. Kemudian terasa pelan-pelan batang kemaluan si bapak menerobos masuk ke dalam anus ku.. Aakk.. Nggkk.. Aku mengeluh.. Rada sakit dikit.. Tapi setelah semua batang kemaluan si bapak amblas.. Dan ketika si bapak mulai menyodok-nyodok keluar masuk.. Ahh.. Nikmatnya.. Terasa sedikit mules tapi aku benar-benar enjoy anal sex ini..
Tetapi kini aku merasakan kenikmatan yang.. Tidak klimaks-klimaks.. Sampai basah tubuh ku dengan peluh.. Tetapi si bapak tidak kunjung klimaks juga, rasa nikmat.. Mules.. Campur aduk.. Aku hanya bisa meringis-ringis sembari memejamkan mata saja, tetapi akupun tidak tinggal diam.. Jika si bapak menghentikan gerakannya, maka aku langsung mengerakan pinggulku maju-mundur sehingga batang kemaluan si bapak tetap keluar masuk lobang pantatku hingga akhirnya lama kelamaan gerakan si bapak semakin cepat.. Dan terdengar nafasnya yang semakin memburu, rupanya si bapak sudah mau klimaks.. Dan
Akupun membuka belahan pantatku semakin lebar dengan kedua tanganku, lalu terdengar si bapak mengerang aahh.. Nggkk.. Lalu ia menjabut batang kemaluannya dari lobang pantatku lalu disemburnya airmaninya kepunggungku crot.. crot.. Terasa ada cairan kental dan hangat membasahi punggungku.. Sampai kerambutku dan akupun seketika rebah telungkup.. Dengan nafas masih memburu.. Dan masih merasakan nyeri di duburku.
Setelah itu si bapak.. Pergi ke kamar mandi.. Akupun segera mengambil CD ku dan mengelap air mani si bapak yang belepotan dipunggung ku.. Tiba-tiba aku mendengar suara pintu dibuka.. Akupun segera mengenakan kimonoku dan berjalan keluar kamar.. Ternyata si bapak itu sudah tidak ada.. Loh gimana sih ini orang.. Pikirku.. Ah.. Biar aja kalau enggak mau dibayar..
Lalu akupun menuju kamar mandi.. Terasa lengket punggung ku karena oil tadi, tetapi tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.. Akupun segera merapihkan kimonoku dan berpikir.. Pasti si Lina dan kawan-kawan sudah pulang, ketika pintu aku buka tampak seorang ibu-ibu dengan kebaya berdiri diluar.. Lalu.
“Selamat siang neng.. Neng yang.. Mau dipijet kan?” seru ibu itu.
“Iya.. Ibu siapa” tanyaku
“Saya tukang pijatnya neng” sahutnya..
Gilaa.. Siapa dong bapak tadi.. Walaupun aku terkejut.. Tetapi jujur.. Aku enjoy sekali dengan permainan si bapak itu.. Tapi.. Andaikan tunangan kutahu.. Ah.. Jangan sampailah.

GAIRAH MELIHAT ISTRIKU DI ENTOT ORANG LAIN

Cerita Sex Istriku Dientot Temanku, Namaku Iyan biasa dipanggil iyan, aku tinggal di tengah-tengah kota Jakarta, saat ini pekerjaanku adalah seorang IT pada beebrapa perusahaan di Jakarta, bandung dan Semarang. Usiaku saat ini 29 tahun, karena pekerjaanku sebagai wiraswasta di luar kota kota Jakarta, aku sering sekali berpergian keluar kota. Bahkan terkadang aku hanya satu atau dua hari tinggal di rumahku di daerah Rawamangun Jakarta Timur. Istriku bernama “Nur” usianya 25 tahun lulusan salah satu universitas swasta di Jakarta. Alhamdulilah aku dikarunia seorang putera yang sedang lucu-lucunya bernama “firman” dengan usia 1,5 tahun. Ditengah kesibukanku yang teramat sangat itulah aku sering kali tidak bisa memenuhi hasrat biologis istriku.
Sudah hamper 3 tahun aku menikahi istriku yang selalu diliputi rasa bahagia dan lumayan berkecukupan. Hari-hari kami selalu kami jalani dengan indah, aku bersyukur sekali ternyata Tuhan sangat baik padaku, sehingga aku mendapatkan istri yang benar-benar sangat sayang dan penuh pengertian. Setiap aku ingin minta berhubungan sex dengan istriku, dia tidak menolak dan bahkan selalu memberikanku kepuasan yang tidak digambarkan dengan kata-kata. Meskipun aku sendiri juga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kepuasan sexual istriku. Tiap kali berhubungan aku selalu bertanya dan berdiskusi tentang permainan sex kami, sehingga kami bisa saling memahami kekurangan kami masing-masing. Bahkan setelah itu istriku biasanya meminta berhubungan sex lagi sampai berkali-kali dalam satu malam.
Sampai pada suatu hari istriku mengeluh padaku, tentang profesiku yang selalu meningalkan rumah sampai berhari-hari. Padahal istriku ingin sekali merasakan kehangatan belaianku yang hingga akhirnya sampai berhubungan sex. Tetapi mau gimana lagi, aku tetap sulit menerima keinginannya, karena itu adalah sudah menjadi resiko tanggaung jawab ku dalam profesiku ini. Aku sudah memberikan pengertian baik-baik kepada istriku, walaupun pada akhirnya istriku mengerti dengan keadaanku ini. Tetapi tetap saja aku tidak tega.
Aku tahu pasti kalau istriku sangat setia padaku, karena istriku adalah istri yang taat pada agama. Setiap keluar rumah dia selalu menjaga pandangannya, tak lupa dia sellau mengenakan jilbabnya ketika keluar dari rumah. Banyak temanku bilang kalau istriku itu sangat cantik, tingginya 160 cm / 152 kg, kulit putih dan wajahnya seperti maudy kusnaedi, apalagi payudaranya mnotok banget dengan ukuran 36b. aku paling suka meremas dan menghisap payudaranya, tidak ada bosan-bosannya walaupun hampIr tiap hari aku meremasnya.
Hari semakin hari, bulan semakin bulan terus berlalu, aku melihat istriku adalah type wanita yang mudah sekali terangsang dan nafsunya sulit dikendalikan bila diatas ranjang. Dia selalu sekuat tenaga melepaskan hasrat sexnya jika ku pulang kerumah, tidak siang ataupun malam, hari-hariku selalu tidak lepas dari kata sex. Aku maklumi karena aku hanya pulang satu hari dalam seminggu. Ditengah kegalauanku akupun mendiskusikan masalah ini kepada istriku. Terus terang akupun sangat kewalahan melayani nafsu sex istriku yang menurut saya “sangat gila” karena aku pikir aku juga ingin sekali menghabiskan satu hari in dirumah untuk istirahat.
Setelah aku berdikusi cukup lama dengan istriku barulah aku mengambil kesimpulan bahwa dia cukup menderita dengan kepergianku. Dia selalu melampiaskan hasrat sexualnya dengan melakukan mastrubasi dengan tangannya. Aku tidak habis pikir kenapa ini bisa terjadi, kasian sekali istriku. Tapi bagaimanapun juga istriku tidak selingkuh dengan pria manapun demi kesetiannya terhdap aku.
Akhirnya aku memiliki ide yang cukup gila untuk menuruti keinginan istriku ini, ya memang ini cukup gila dan melanggar kaedah agama. Tetapi mau gimana lagi ini sudah menjadi kesimpulanku untuk mengakhiri penderitaan istriku. Aku mencoba merayu istriku agar melampiaskan sexnya kepada orang lain yang bisa memuaskan dirinya selama aku tidak berada di rumah. Awalnya istriku menolak karena alasan agama dan memang tidak pantas dirinya dijamahi orang lain selain aku. Tetapi setelah aku memberikan pengertian dengan beberapa perjanjian-perjanjian yang harus ditepati diantara kami berdua. Sampai pada akhirnya kami menyepakati ide itu, dengan catatan istriku bisa bermain sex dengan hanya satu orang laki-laki selain diriku yang aku pilih, selain itu aku memberikan peringatan kepadanya agar jangan sekali-kali memasukkan spermanya kedalam vaginanya.
Setelah aku pikir-pikir aku telah memilih sosok laki-laki tampan dengan usia 20 tahun bernama Irwan, dia adalah rekan kerjaku ketika kami masih bekerja diperusahaan swasta pada beberapa tahun yang lalu, dia juga sudah punya istri dan dua orang anak, kebetulan sekali saat ini masih nganggur. Langsung saja aku mengajaknya bertemu empat mata di sebuah rumah makan. Tanpa basa basi lagi aku langsung mengajaknya bekerja mulai pukul 17:00 sampai 22:00 malam. Tugasnya hanya melayani dan memenuhi hasrat sexual istriku. Tetapi sebelumnya aku ingin sekali melihat bagaimana dia melayani istriku diatas ranjang di hadapanku.
Seminggu kemudian, setelah aku pulang dari luar kota saya dan istri saya sudah ceck in di sebuah hotel di daerah matraman Jakarta Pusat tepat pukul 17:00 BBWI. Sedangkan Anakku sudah aku titipkan ke orang tuaku, kini aku sedang menantikan kehadiran Irwan yang janjinya akan datang tepat pukul 18:00. di dalam kamar hotel tersebut, istriku kuperintahkan untuk mengenakan pakaian yang ketat dan sexy yang sengaja aku belikan dari Bandung. Jangankan irwan, aku saja yang sudah sering melihat istriku masih nafsu ketika memandang istriku berdandan seperti ini. Saat ini istriku mengenakan kaos putih ketat yang didalamnya hanya dibalut bra tipis, sedangkan bawahannya mengenakan rok bahan warna hitam yang panjangnya sampai selutut tapi belahannya hampir memamerkan seluruh pahanya yang putih dan mulus. Bibirnya dipoles dengan lisptik warna transparan dengan rambut panjang terurai rapi di atas bahunya. Sesaat aku melihat wajahnya begitu tegang manantikan kedatangan Irwan, sesekali aku menyentuh dadanya berdegap kencang tak karuan menantikan saat-saat yang menegangkan ini.
Tak lama kemudian, aku mendengar suara ketukan pintu, setelah aku buka ternyata benar Irwan sudah datang. Aku persilahkan masuk dan sembari menikmati minuman dingin dan makanan kecil yang baru saja kami beli. Sebelumnya aku bertanya kepada istriku apakah istriku suka pdanya, rupanya tanpa pikir panjang dia menjawab itu adalah terserah saya, kalau saya setuju maka dia juga menuruti perintah saya. Ya pada akhirnya aku mempersilahkan Irwan mendekati istriku di ranjang yang cukup lebar dan luas ini.
Jantungku berdebar-debar melihat istriku yang kelihatnnya tampak tegang setelah disentuh oleh tangannya Irwan. Aku melihat Irwan sosok pria yang lembut, dia tidak langsung menyambar istriku dengan sentuhan-sentuhan yang mengarah pada bagian sensitifnya. Awalnya Irwan memeluk istriku yang duduk tersipu malu menghadap sebuah cermin yang terpampang di depannya. Irwan memeluk kepala istriku dengan lembut meskipun aku lihat istriku sangat kaku sekali. Aku hanya duduk di samping kanan ranjang itu, memang agak jauh karena kamar hotelnnya juga cukup besar bagi ukuran untuk 3 orang. Kelihatannya aku lihat Irwan cukup sabar memeluk istriku, sambil mencunbu istrku, dia tidak sungkan-sungkan mengucapkan kata-kata yang entah aku juga tidak mendengarnya. Berkali-kali pipinya dicium oleh Irwan, tanpa canggung-canggung Irwan juga mencoba menciumi tangan, leher, hidung dan jidatnya. Istriku hanya diam saja, pdahal kalau aku main sex dengan istriku dia selalu rajin menciumi semua daerah kapalaku sampai air liurnya membasahi permukaan wajahku.
Kini Irwan mencoba mencium bibir istriku dengan lembut, kudengar dari kejauhan suara bercakan bibirnya yang saling beradu. Aku lihat istriku juga membalas ciumannya dengan sesekali menggerakan tangannya di bahu Irwan. Ketika beberapa saat ciuman, nampaknya Irwan sudah berani menggerayangi tubuh istriku, awalnya dari punggungnya sampai kini daerah payudaranya, tangan kirinya seperti sudah melekat di payudara kiri istriku. Dia mencoba meraba-raba sambil mencoba meremas-remas dengan lembut. Dapatkan cerita tukar pasangan lainya di ceritaserudewasa.info. Aku merasa sangat menggairahkan melihat adegan ini, apalagi ketika mereka berdua melakukan ciuman yang dahsyat, rasanya sudah beberapa kali mereka melakukannya. Tak lama kemudian Irwan melepaskan ciumannya dan kedua tangannya mengarah ke kedua buah payudara istriku, dua tangannya mencoba meremas-remas payudara istriku dengan berbagai macam variasi.
Istriku hanya terlihat pasrah saja, kedua tangannya ada dibelakang pinggangnya untuk menahan serangan tubuhnya. Irwan sudah tak sabar untuk membuka kaos dikenakan istriku, dia menarik kedua tangan istriku ke atas dan membukakan kaosnya, yang selanjutnya membuka kancing bra. Ouwww.. rupanya payudara istriku sudah terpampang jelas tanpa sehelai benagpun di hadapan Irwan yang nampaknya sudah bersiap-siap melahap payudara istriku.
Kini istriku tidur terlentang mengikuti arahan Irwan, tanpa ragu lagi Irwan melahap payudaranya. Tak henti-hentinya mulutnya menjilat-jilat putingnya sambil meremas-remas payudaranya. Istriku hanya bisa memegang kepala Irwan dengan menahan kenikmatannya. Desahan-desahan kecil mulai terkuak dari mulutnya, ya memang istriku paling suka dijilati payudaranya, itu merupakan rangsangan yang hebat sebelum melakukan ml. ketika payudaranya terus dihisap, dijilat dan diremas-remas oleh Irwan matanya mulai melihat kea rah ku, aku nggak tau apa yang ingin dia katakan, pastinya dia saat ini mersakan rangsangan yang hebat.
Cukup lama irwan menguasai peyudara istriku, akhirnya kini irwan membuka rok istriku dengan cepat, lalu tanpa ragu lagi dia membuka celana dalam istriku. Ouww pengalaman yang sangat menraik ketika seluruh tubuh istriku terpampang jelas tanpa sehelai benangpun di hadapan Irwan. Hatiku berdebar-debar menantikan apa reaksi irwan selanjutnya. Opsss nampaknya irwan membuka lebar-lebar paha istriku, dan…………….benar-benar aku tidak menyangka dia mulai menjilati vagina istriku yang nampaknya sudah basah karena rangangan yang begitu hebat. Belum lama irwan menjilati vagina istriku, kini istriku mendesah hebat, kedua tangannya mulai mengepaal keras. Kepalanya mulai bergerak tak karuan, kulihat matanyapun sudah tak mampu melihat kejadian ini. Tetapi meskipun begit, istriku masih saja menyebut-nyebut namaku ketika mendesah hebat. Aku senang rupanya istriku bisa merasakan apa yang dia inginkan, ini adalah bukti rasa cintaku padanya. Kini aku melihat wajah irwan benar-benar tenggelam di kedua belah selangkangan istriku, karena paha istriku terus mengggelinjang tanpa arah mejepit kepala irwan yang sedang isbuk menghisap vaginanya.
Setelah permainan ini, irwan bangun dari ranjangnya, lalu dia membuka semua pakainannya sampai dia benar-benar telanjang di hadapan istriku. Ku lihat penisnya cukup besar, meskipun tak jauh ukurannya dibandingkan dengan penisku. Rupanya Irwan sudah tidak sabar ingin memasukkan penisnya kedalam vaginanya. Dalam kondisi yang agak lemas, istriku menwarkan untuk menghisap penisnya, tetapi Irwan menolaknya entah alasannya apa.. Irwan kini sudah berada di depan kedua selangkangan istriku, nampak istriku hanya berposisi terlentang menghadap irwan yang sedang duduk sambil memoles-moles penisnya. Baru saja Irwan merenggangkan selangkangan istriku dan ingin memasukkan penisnya. Istriku langsung memanggilku untuk menghampirinya. Langsung saja aku menghampiri istriku itu walaupun entah apa yang dia inginkan. Kini aku duduk di sebelah kepala istriku dan aku bertanya kepada istriku “kenapa sayang?”, lalu istriku menjawab “ maafkan aku ya sayang, tapi aku tetap cinta dan sayang sama papah, aku ingin papah mengusap-usap kepalaku ketika aku dijamah mas irwan, mau khan?”. Aku hanya mengangguk-nganggukan kepalaku dan mencium keningnya. Setelah itu aku mempesilahkan irwan memasukan penisnya kedalam vagina istriku.
Tak lama kemudian Irwan mencoba memasukkan penisnya ke dalam vagina istriku, sulit juga isrwan memasukkan penisnya kedalam vagina istriku. Akhirnya istriku mencoba membantu dengan tangannya untuk memasukan penisnya. Kini penisnya sudah masuk kedalam vaginanya, sudah kutebak irwan mencoba menggerakkan pantatnya dengan dorongan yang cukup pelan. Memang ini adalah strategi ml yang konvensional yang sudah biasa aku lakukan sehari-hari dengan istriku. Tetapi nampaknya istriku begitu sangat menikmati permainan ini, kulihat dia memejamkan matanya sambil menggigit bibirnya menahan rasa nikmat yang ada pada tubuhnya. Kaki istriku tepat ada di punggung irwan dengan vagina yang sudah terbuka lebar di hadapannya. Sesekali aki melihat penisnya begitu gagah keluar-masuk ke dalam vagina istriku. “papahhh…sshhhhh oouwwwwww…… ppaaahhhhhhhhhhh”, aku benar-benar terkejut mendengar rintihan istriku yang cukup keras itu, tidak biasanya istriku merintih sangat keras. Gerakan tubuhnya bergetar hebat tak beraturan, tak bosan-bosannya Irwan terus menancapkan penisnya ke liang vagina istriku, sambil meremas-remas payudara istriku. Aku hanya mengusap-usap kening istriku yang tampaknya benar-benar berada dalam kondisi orgasme. Disamping aku juga lihat Irwan menikmati permainan ini, dengan mengeluarkan desahan halus yang keluar dari mulutnya.
Hampir 15 menit berlalu irwan belum juga lelah terus mendorong pantatnya ke dalam vagina istriku, aku lihat penisnya begitu kekar masuk kedalam liang kemaluan istriku. Padahal keduanya sudah dibasahi keringat disekujur tubuhnya, walaupun hotel ini menggunakan AC yang sangat dingin. Semakin lama istriku mencoba bangkit dari tidurnya dan memeluk irwan lalu menciumi bibirnya. Owwwww ini adalah making love yang sangat romantis yang pernah aku lihat seumur hidupku. Istriku kini ada di atas pangkuan irwan yang secara bergantian menggoyang-goyangkan pantatnya. Hampir setengah jam kemudian Irwan berisyarat bahwa dia ingin mengeluarkan sesuatu dari kemaluannya, cepat-cepat istriku bangun dari pangkuan irwan, ya benar saja tak lama kemudian irwan memuncratkan spermanya di atas selimut ranjang hotel ini. Lalu istriku mencoba membantu mengocok-ngocok penisnya agar spermanya bisa keluar sebanyak mungkin.
Rupanya permainan ini sudah selesai, aku Bantu istriku mengambilkan tissue untuk mengelap sperma yang masih menempel di tangannya. Irwan bergegas ke toilet untuk bersih-bersih. Terlihat senyuman hangat terpancar di wajah istriku, aku cukup bahagia istrku bisa menikmati kepuasan sexualnya meskipun bukan denganku. Aku coba membantu membersihkan cairan yang ada di lobang vaginanya dengan tissue ini. Lalu tak lama kemudian istriku meninggalkanku untuk ke toilet.

Selingkuh Dengan Tukang Pijat Langganan Suamiku

Pijat memang terbukti mampu meregangkan otot yang kaku dan menyegarkan tubuh. Makanya suamiku setiap malam minggu mendatangkan tukang pijat langgannya kerumahku. Namun setelah mengenal Pak Jono, semua menjadi berubah. Tidak suamiku saja yang tambah segar akan service Pak Jono, aku pun menuai kepuasan tiada tara dengan kehadiran dia di rumahku. Hingga perselingkuhan itu pun terjadi. Berikut cerita panas dari kisah pribadiku yang lebih lengkap.
Aku adalah seorang isteri dari seorang karyawan swasta. Aku punya anak dua. Yang kedua kelas satu. Aku sering nungguin anakku yang kedua di sekolahnya, terutama waktu olah raga.
Guru olah raga anakku bernama Pak Jono. Ia suka sekali bercanda dan berhumor. Tubuhnya tinggi, kurang lebih 175 cm dan berbadan besar dan kekar. Warna kulit agak hitam. Ia baru saja bercerai dengan isteri 4 bulan yang lalu. Jadi ia seorang duda. Selain ia guru olah raga, ia pun pintar memijat. Banyak guru lain minta dipijet olehnya.
Ketika olah raga seperti biasanya ia memakai celana training. Sambil menunggu anakku aku memperhatikan ia yang sedang olah raga bersama murid-murid kelas dua. Begitu aku memperhatikan diantara selangkangannya aku lihat tonjolan yang memanjang dan besar. Aku berkata dalam hatiku, wuh panjang dan besar sekali barangnya.
Suamiku hobi dipijat. Tukang pijat langganannya selama ini adalah pemijat tunanetra.
“Guru olah di sekolah anak kita pintar memijat, ngerti urat lagi katanya. Coba saja mas!” kubilangi suamiku.
“Boleh juga kita panggil ke sini malam minggu depan. Mau enggak dia ngurut malam-malam?”
“Enggak tahu ya .. Coba aku tanyakan besok ya.”
Keesokan harinya aku pergi ke sekolahan dan bertemu dengan Pak Jono.
“Pak, mau enggak mijetin suami saya?” tanyaku. “Tapi kalo bisa malam hari, Pak.”
“Boleh juga asalkan ongkosnya mahal,” katanya sambil bercanda.
Setelah suamiku pulang kantor sambil makan malam aku ceritakan padanya bahwa Pak Jono mau.
“Boleh panggil ke sini tapi malam sekitar jam 22.00,” kata suamiku.
Sampai waktu yang ditentukan Pak Jono datang ke rumahku. Ia ngobrol dengan suamiku sambil bercanda sehingga baru saja kenal suamiku merasa akrab dengannya. Aku duduk di dekat suamiku menemaninya. Kemudian suamiku menyuruhku merapikan kamar depan dekat ruang tamu.
Mulailah suamiku dipijet oleh Pak Jono sambil ngobrol ngalor-ngidul. Pak Jono banyak ngebanyol karena memang ia hobi bercanda. Aku nonton TV sambil tiduran di sofa ruang tamu ngedengerin obrolan Pak Jono dan suamiku.
Suamiku mulai bercerita agak serius dengan suara pelan-pelan.
“Aku ini tidak kuat dalam dalam hubungan seksual. Kenapa, ya? Jadinya isteriku suka marah-marah kalau hubungan intim. Kalau Pak Jono bagaimana dengan isteri Anda?”
“Saya sekarang duda sudah 4 bulan. Kalau dulu sebelum cerai saya kebalikan bapak. Ia kewalahan dengan kemampuan saya sampai ia minta cerai.”
“Wah, hebat kamu ini, Pak.”
Pak Jono yang biasanya suka bercanda mulai berbicara serius.
“Mungkin Bapak terlalu lelah, atau mungkin punya Bapak terlalu kecil dan pendek. Bapak urut yang membesarkan dan memanjangkan saja. Saya hanya bisa mengeraskan saja. Kalau memanjangkan dan membesarkan aku tidak bisa,” katanya pada suamiku.
“Wah, tukang urut yang memanjangkan dan membesarkan itu banyak yang bohong,” kata suamiku.
“Ada yang bener, Pak. Ada teman saya berhasil dari 13 menjadi 17 cm dan menjadi besar lagi,” kata Pak Jono berusaha meyakinkan.
“Pak Jono pernah nyoba enggak?” tanya suamiku selanjutnya.
“Saya tidak perlu karena punya saya sudah sangat panjang dan besar. Panjangnya 19 cm dan besarnya 4,5 inch,” jawab Pak Jono sambil tertawa. “Kalau punya bapak berapa?”
“Punya saya panjangnya 12 cm besarnya 2,5 inch.”
Mendengar obrolan suamiku dan Pak Jono aku berkata dalam hatiku.
“Wuh… besar dan panjang sekali punya Pak Jono, pantesan tonjolannya panjang dan besar dan itu belum bangun. Apalagi kalau barangnya sudah bangun.”
Aku jadi berkhayal, kalau seandainya…. Wah, nikmat sekali…
Setelah mereka selesai aku pura-pura tidur. Kemudian suamiku membangunkan aku.
“Bagaimana, Mas? Cocok enggak pijetan Pak Jono?” tanyaku setelah Pak Jono pulang.
“Wah bagus sekali, lebih bagus daripada langganan saya. Sekarang saya mau langganan sama Pak Jono saja. Saya sudah bilang kalau saya mau pijet tiap malam minggu.”
“Kalau kamu mau juga, boleh coba malam minggu depan. Pijetannya bagus kok. Badanku rasanya enteng dan enak sekali,” kata suamiku
“Aku mau, tapi malu mas, nanti ia cerita di sekolahan.”
“Ya enggak sih, nanti kita bilangin jangan cerita-cerita pada orang lain.”
Keesokan harinya saya ketemu Pak Jono. Sambil tersenyum, ia langsung bertanya padaku.
“Bagaimana Bu? Cocok enggak Bapak dengan pijetan saya?” tanya Pak Jono padaku.
“Cocok sekali… Malam minggu depan bapak disuruh suamiku pijet lagi. Bahkan suamiku mau langganan.”
“Ya.. Bapak sudah bilang sama saya.”
Setelah suamiku menawarkan untuk diurut oleh Pak Jono, hatiku tidak karuan, membayangkan bermacam-macam, bercampur takut dan ingin merasakan sesuatu. Karena memang aku jarang menemukan kepuasan dengan suami. Selain punya suamiku lemes, barang kecil dan pendek dan tidak tahan lama.
Hampir-hampir setiap malam aku membayangkan penis punya Pak Jono. Aku berkata dalam hati, barang Pak Jono pasti kehitam-hitaman, besar dan panjang. Biasanya orang yang agak hitam itu kuat, mana badannya tinggi, besar dan kekar. Pokoknya sangat jantan. Kayak apa kalau badan yang besar itu menindiku dan memelukku keras-keras, sementara badanku langsing seperti ini, dan tinggiku hanya 155 cm. Apa kuat aku ditindih badan raksasa itu. Apa bisa masuk barang sebesar itu ke lobangku yang kecil ini. Apa tidak mentok kesakitan bila barang yang keras dan panjang ditekan ke lobangku dengan tenaga yang raksasa. Pokoknya aku membayangkan antara takut dan ingin merasakan.
Kata teman-temanku barang gede dan panjang itu sangat nikmat sekali. Saking nikmatnya, katanya sampai ngeyut ke ubun-ubun.
Malam ini malam minggu, Pak Jono akan datang. Hatiku berdebar-debar. Jam menunjukkan 21.30. Tak lama kemudian Pak Jono datang. Suami mempersilahkan masuk, dan bilang padanya bahwa aku mau juga dipijet malam ini, dan suamiku minta tidak bercerita macam-macam ke orang lain. Pak Jono menjawab, “Ya, tidak dong, Pak.”
Suamiku mulai diurut. Kurang lebih jam 23.00 suamiku selesai diurut.
Sekarang giliran aku yang akan diurut. Aku pakai kain sarung. Suamiku tiduran di sofa di ruang tamu sambil nonton TV.
Aku mulai tengkurep, hatiku dag-dig-dug. Pak Jono mulai menyingkap kain sarungku di bagian betis dan memegang betisku sambil mengurut pelan-pelan, aku merinding merasakan urutan Pak Jono, karena sebelumnya aku membayangkan sesuatu yang nikmat.
Kini Pak Jono membisu seribu bahasa tidak seperti biasanya suka bercanda dan berhumor, mungkin menikmati pandangan terhadap betisku yang mulus. Maklum ia menduda 4 bulan. Semakin merinding dan berdebar-debar hatiku ketika Pak Jono meletakkan kakiku ke pahanya. Sambil mengurut ia maju sedikit-sedikit sehingga kakiku menyentuh ke bagian selangkangannya sehingga terasa kakiku menyentuh benjolan yang mulai mengeras.
Dengan suara pelan dan terpatah-patah Pak Jono bertanya.
“Paha ibu mau diurut?”
“Ya pak, memang di bagian itu agak terasa nyilu-nyilu. Pelan ya, Pak,” aku pun menjawab dengan suara pelan.
Pak Jono mulai menyingkap pelan-pelan sarungku sampai di bawah sedikit pinggulku. Ketika Pak Jono mengurut pahaku sampai ke selangkanganku, aku merintih dengan suara pelan-pelan takut kedengaran suamiku. Pak Jono pun terasa meningkat rangsangannya terasa dari sentuhan tangannya yang kadang-kadang mengurut sambil mengelus dan meremas pahaku apalagi ketika sampai di selangkanganku.
Semakin timbul sensasi yang luar biasa ketika Pak Jono membuka kain sarungku di bagian atas pinggulku dan memelorotin cdku sedikit ke bawah. Kini ia mulai mengurut sambil meremas-remas pinggulku, dan rangsanganku semakin tinggi, aku merintih dengan suara pelan. Dan Pak Jono tahu kalau merangsang, aku juga tahu kalau Pak jono juga merangsang.
Aku berkata dalam hatiku: sebelum aku diurut dalam posisi terlentang, aku akan pamit sama Pak Jono untuk buang air kecil sambil aku ingin melihat apakah suami sudak tertidur atau belum.
Ketika Pak Jono menyuruhku terlentang, aku berkata kepadanya: “Aku mau ke kamar mandi dulu untuk buang air kecil.”
Ketika keluar kamar aku lihat suamiku tertidur pulas mungkin karena lelah seharian dan habis diurut.
Di kamar mandi aku berkata dalam hati. Kalau nanti sarungku disingkap sampai ke selangkanganku dalam posisi terlentang, pasti Pak Jono akan melihat bulu jembutku. Ia akan semakin merangsang. Aku menginginkannya meraba vaginaku dan memasukkan jarinya ke lobang vaginaku.
Setelah masuk ke kamar, aku bilang bahwa suamiku tertidur lelap. Ketika mendengar kataku Pak Jono semakin bersemangat.
Kini aku terlentang di hadapan Pak Jono. Dan Pak Jono tidak was-was lagi ia membuka sarungku sampai ke selangkanganku. Aku memenjamkan mata sambil menggigit bibirku.
Kini Pak Jono tidak memijat lagi tetapi ia mengelus-elus dan meremas-rema pahaku dengan gemesnya. Kini ia melihat bulu jembutku dan mengelus-elus bibir vaginaku, dan semakin tidak tahan rasanya aku ingin memegang barangnya Pak Jono sambil penasaran tapi malu. Pak Jono semakin berani menusukkan jarinya ke lobang vaginaku yang sudah membasah dengan ledir.
Aku mulai memberanikan diri meraba selangkangan Pak Jono. Dan Pak Jono membuka resleting celananya. Sambil aku melirik ke selangkangannya, Pak Jono mengeluarkan rudalnya. Aku terkejut astaga besar dan panjang sekali. Warnanya kehitam-hitaman, nampak urat-uratnya mengeras, dan kepala rudal jauh lebih besar lagi dari batangnya. Aku menggenggamnya tapi genggamanku tidak muat saking besar.
Sambil mengelus-elusnya, aku bayangkan kalau rudal yang kepalanya sangat besar ini dimasukkan ke lobangku. Apakah tidak robek lobang vaginaku dan jebol lobang rahimku. Sensasiku semakin meningkat. Perasaanku bercampur ingin menikmati dan takut robek dan jebol.
Pak Jono kini semakin ganas mengocok lobang vaginaku dengan jarinya, dan aku sangat ingin ditindihi dan disetubuhi tapi takut kalau suami bangun kalau mendengar jeritanku. Sambil mengocok Pak Jono menciumi pipiku. Pelan-pelan ia lalu mengecup bibirku, semakin lama ia semakin ganas mencipoki, aku pun terangsang berat.
Kemudian ia memelukku dan menindihku sambil berusaha menyingkap sela-sela samping CD-ku untuk memasukkan rudalnya, tapi tidak berhasil masuk. Kemudian ia menekan lagi.
“Aduh…” jeritku sambil menggigit bibirku tidak tahan.
Tekanan kedua kalinya ini tidak berhasil memasukkan rudalnya ke lobang vaginaku. Kemudian ia menekan lagi dengan tenaga yang super keras dan hampir masuk, tapi terdengar suara suamiku mengegok. Pak Jono dan aku pun kaget terbangun dan menutupkan sarungku ke seluruh tubuh. Dan aku mengakhiri pijetan.
Kemudian aku membangunkan suamiku. Pak Jono pun pamit pulang karena memang sudah larut malam. Kemudian aku mengajak suami masuk kamar, aku sudah tidak tahan. Barang suami juga mengeras tidak seperti biasanya. Kini aku menyalurkan rangsanganku dengan suami sambil membayangkan disetubuhi Pak Jono. Malam itu aku benar-benar merasakan puncak orgasme yang luar biasa tidak seperti biasanya, juga suamiku.
“Ma… Malam ini tidak seperti biasanya. Urutan Pak Jono memang luar biasa membuat kita benar-benar mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa. Kita minggu depan urut lagi ya, Ma…” kata suamiku.
Hari-hari aku hidup dalam bayangan: Kalau malam minggu depan suamiku tidak ada di rumah, aku akan menyiapkan minyak pelumas agar dioleskan ke lobang vaginaku. Aku membayangkan barang Pak Jono yang besar dimasukkan sambil melelukku, menyepokiku dan menggenjotku. Membayangkannya saja sangat nikmat apalagi benar-benar dimasukkan. Sambil rasa khawatir kalau lobangku nanti robek dan lobang rahimku jebol.
Kini malam minggu datang, hatiku berdebar-debar membayangkan sesuatu yang besar dan panjang, membayangkan lobang vaginaku membengkak lebar, dan lobang rahim diterobos barang besar. Pak Jono datang memakan pakaian yang serasi nampak sangat gagah dan manis. Ketika suami ngobrol dengan Pak Jono telpon berdering. Ternyata teman suamiku mengajak ke luar kota untuk mengurus bisnisnya.
“Ya nanti setelah dipijet,” jawab suamiku.
Malam ini aku semakin yakin bahwa aku akan disetubuhi dengan Pak Jono.
“Ma… saya nanti setelah diurut akan pergi ke luar kota,” kata suamiku padaku.
“Jadi, saya tidak usah dipijat, habis tidak ada Mas.”
“Tidak apa-apa pijet saja, Pak Jono orangnya baik, aku sudah percaya kok.”
Mendengar pernyataan suamiku, hatiku girang karena sebentar lagi pasti aku disetubuhi oleh Pak Jono yang berhari-hari aku membayangkannya.
Setelah suamiku selesai diurut ia mandi. Dan Aku bilang pada Pak Jono, “Tunggu dulu ya pak, minum-minum dulu kopinya. Aku mau menyiapkan pakaian bapak untuk ke luar kota.”
Setelah suamiku menyiapkan semua yang akan dibawa ke luar kota, ia pamit ke Pak Jono. Aku mengantarkan sampai pintu gerbang.
Begitu Bapak berangkat hujan turun rintik-ritik. Aku masuk ke ruang tamu dan bilang sama Pak Jono, “Tunggu dulu ya pak, aku pakaian dulu.”
Aku memakai sarung dan kaos… dan sengaja aku tidak memakai BH dan celana dalam.
Begitu aku keluar, sorotan mata Pak Jono menatap payudaraku, aku tersenyum. Aku duduk di kursi sebentar. Aku bayangkan bahwa Pak jono duda selama 4 bulan, berarti ia tidak berhubungan selama 4 bulan. Aku yakin ia tidak jajan sembarangan. Aku begitu yakin malam ini aku akan digenjot berkali-kali dan berjam-jam. Memang aku ingin sekali berhubungan badan sepuas-puasnya.
Sekarang aku memilih kamar untuk urut di bagian belakang, agar jeritanku yang keras nanti tidak terdengar oleh siapapun. Aku mengajak Pak Jono ke kamar belakang, dan hujan turun cukup deras sehingga cuaca dingin mengantarkan impianku, dan tidak akan terdengar suara apa pun kecuali jeritanku, bunyi cipokan yang mengganas, dan bunyi lobang vaginaku yang digenjot oleh kepala rudal besar dan tenaga yang super keras.
Kini aku beduaan yang sama mengharapkan kepuasan seksual dengan sepuas-puasnya. Pak Jono membuka kain sarungku dan tinggal kaos yang menutupi payudaraku. Ia meremas-remas pahaku. Aku mengelinjang-gelinjang. Kemudian Pak Jono membuka celananya. Rudalnya tegang, membesar dan memanjang. Uratnya mengeras dan kepala rudalnya membesar sekali. Ia menciumi pahaku terus ke bibir vaginaku. Aku sudah tidak tahan karena mulai tadi sudah merangsang karena membayangkan kenikmatan yang sebentar lagi akan aku rasakan.
Ia membuka bajunya dan kaosku. Kini kami berdua telanjang bulat. Hujan turun makin lebat, jam menunjukkan 23.00. Ia meremas-remas tetekku sambil mengocokkan jarinya ke lobang vaginaku.
“Pak, masukkan… aku sudah tidak tahan.”
“Aku juga tidak tahan, aku sudah 4 bulan tidak pernah berhubungan badan, aku ingin malam ini benar-benar puas, mungkin aku main sampai pagi,” timpal Pak Jono.
“Aku juga pak… Aku serahkan semua tubuhku pada Pak Jono. Tapi, oleskan minyak pelumas yang kusiapkan ini ke lobang vaginaku dan ke rudal Bapak agar aku tidak merasakan sakit.”
Aku siapkan parfum dan minyak pelumas yang harum.
“Bu… lobang Ibu kecil sekali,” katanya begitu ia mengoleskan minyak pelumas dicampur dengan ludahnya.
Kini Pak Jono mengangkangkan pahaku lebar-lebar. Pelan-pelan ia menindihiku. Aduh rasanya berat sekali. Ia arahkan rudal besar dan panjang itu lobang vaginaku. Ia menekan, tapi tak berhasil masuk. Kedua kalinya ia menekan lagi dan tidak juga berhasil masuk, aku menjerit kesakitan.
“Pertama rasanya agak sakit, karena lobang ibu kecil sekali, dan barang saya besar sekali, jauh tidak ngimbang,” katanya merayuku.
Ketiga kalinya ia mengolesi lobangku dengan minyak pelumas banyak sekali sampai meleleh ke lobang anusku, ia campur air ludahnya. Ia mengolesi juga rudalnya dicampur dengan ludahnya, kemudian ia menekan rudal besar, panjang, hitam dan keras sekali. Ia menekannya dengan tenaga yang super keras, akhir masuklah kepala rudal besar itu, dan aku pun menjerit kesakitan.
Ia terdiam, menahan sejenak, sambil menindihiku dan menciumiku, merayu dan berbisik ke telingaku.
“Ditahan sakit dahulu ya, nanti Ibu akan merasakan kenikmatan yang luar biasa.”
Aku mengangguk.
“Tahan ya, Bu, aku akan tekan lagi agar masuk semua,” bisiknya lagi.
Ia menekannya dengan tenaga yang keras, aku tidak tahan.
“Aduh.. sakit, Pak,” Jeritku tertahan sambil menggigit bibir.
Akhirnya barang itu trot… bleees… masuk semua. Rasanya rudal itu masuk menembus ke lobang rahimku. Kini beralih dari rasa sakit ke rasa nikmat yang luar biasa.
“Pak .. rasanya nikmat sekali.”
Semakin ganaslah Pak Jono menggenjotnya. Nyaring sekali bunyi lobang vaginaku akibat genjotan yang luar biasa. Nikmatnya luar biasa terasa sampai ke ubun-ubun, aku menggigil, meraung-raung kenikmatan.
“Aah… uuuh… uuh… aku… aku… mau mencapai puncak, Pak…”
Pak Jono menekan keras-keras. Aku pun mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Pak Jono sangat kuat dan bertahan lama, ia belum mencapai orgasme. Aku sudah lemas, tapi karena Pak Jono meremas-remas kembali tetekku dan menjelati vaginaku, aku mulai merangsang lagi.
Pak Jono menyuruhku nungging. Ia menusukkan kembali rudalnya dan mengocoknya dan menggenjot dari belakang, bunyinya semakin keras, ceprok… ceprok.. ceprok… sambil ia mengelus-ngelus lobang anusku. Ia ngambil minyak pelumas dan dioleskan ke lobang anusku, jarinya ditusukkan ke lobang anusku.
“Aduh… Pak!” jeritku.
Tapi ia pintar sekali menciptakan rangsangan baru. Ia kocok lobang anusku pelan-pelang dengan jarinya, lama-lama aku merasakan nikmat.
“Enak.. Pak… Nikmat… Pak.”
Akhirnya Pak Jono menambahi minyak pelumas ke lobang anusku, dan mencabut rudalnya dari vaginaku, ia oles-oleskan kepala rudalnya ke pintu anusku.
“Hangat rasanya, nikmat Pak, nikmat Pak.”
Kemudian menusukkan tepat ke lobang anusku dan menekannya. Akhirnya barang besar itu masuk juga. Cepret… prot… ia tekan pelan-pelan hingga separuh penis itu. Ia mendorongku agar aku tengkurep. Begitu tengkurep ia menindihku, menekankan lagi sisa separuhnya. Aduh nikmat sekali rasanya di anus. Sampai terasa ada cairan muncrat dari dalam lobang anusku. Ia terus mengocok dan menggejot semakin cepat, aku merasakan nikmat sambil menahan genjotan. Prot… prot… druuuuut. Semakin ganas ia menggenjot sampai aku terkentut-kentut dibuatnya. Akhirnya Pak Jono mencapai puncaknya dan muncratlah pejunya memenuhi lobang anusku.
Malam itu aku benar-benar merasakan kenikmatan yang luar biasa. Aku disetubuhi oleh Pak Jono sampai 4 kali hingga pagi.
Pak Jono guru olah raga yang humoris. Setelah kejadian yang pertama itu aku masih sering ke sekolahan tapi aku sering menghindar untuk ketemu Pak Jono karena malu dengan kejadian yang kualami itu, kecuali banyak teman-teman.
Pada suatu ketika aku duduk berjauhan dari tempat olah raga, tapi aku melihat Pak Jono memperhatikan aku dari kejauhan, dan waktu itu kebetulan sepi tidak ada ibu-ibu yang lain. Pak Jono memandangi aku, aduh .. aku rasanya malu, kemudian ia duduk di sebelahku dan bertanya.
“Bagaimana, Bu… Masih terasa sakit dan nyelunya. Maafin aku ya, Bu..”
“Enggak kok udah enggak… Memang sehabis berhubungan badan dengan Pak Jono itu terasa lobang vaginaku terganjal oleh sesuatu sampai dua hari,” jawabku sambil tersenyum malu.
Pernah suatu malam aku diajak nonton film BF oleh suami, aku pura-pura menolaknya, tapi suamiku memaksa dengan merayuku.
“Bagus kok filmnya dan agar kita nanti lebih hangat lagi. Kebetulan film itu antara orang hitam dan wanita Jepang.”
Ketika melihat kemaluan orang hitam aku terbayang barang Pak Jono.
“Pa.. besar dan panjang sekali anunya… sampai perempuannya menggeliat-geliat, menggigit bibir, dan ngerinti-rintih, sakit kali ya, Pa ..” bisikku pada suamiku.
“Tidak justeru itu ia merasakan puncak kenikmatan.”
“Kalau punya Papa… seperti itu asyik ya, Ma ..” bisik suamiku.
“Ah, mana mungkin. Papa kan orangnya kecil dan pendek, sedangkan dia tinggi besar.”
Suamiku berbisik lagi sambil meraba barangku: “Mungkin punya Pak Jono seperti itu ya, Ma..”
“Enggak tahu ya, Pa.. Kok Papa bilang begitu?” jawabku dengan perasaan terangsang.
“Ya soalnya dia pernah cerita pada saya.”
“Apa ceritanya, Pa ..?”
“Dia kalau berhubungan badan dengan isterinya, sebelum ia cerai, isterinya sampai sambat-sambat. Padahal isterinya juga tinggi besar, bagaimana kalau isterinya kecil seperti kamu?”
“Papa… kok isterinya Pak Jono dibandingin ke Mama..” sambil kuremas barangnya dengan gemes.
“Orang hitam itu kuat dan ganas mainnya, lihat tu Ma..”
“Papa…” aku jadi merangsang suamiku.
Kemudian filmnya dihentikan kami main dengan sangat hot sekali, tapi tidak se-hot waktu main dengan Pak Jono.
Besok harinya aku semakin ingin dipijet lagi oleh Pak jono. Aku terbayang terus, setelah nonton adegan orang hitam dengan perempuan Jepang di film itu. Malam minggu kurang tiga hari. Pikiranku membayangkan apa yang akan terjadi pada malam minggu nanti setelah aku dipijet oleh Pak Jono.
Aku masih terbayang ketika barang Pak Jono yang besar, panjang dan keras itu mulai memasuki pintu kemaluanku. Aku rasanya mau menjerit karena bercampur antara sangat nyilu dan nikmat dan hangat. Aku masih terbayang waktu ia mengecup bibirku dengan gemes sambil mengayunkan barangnya ke lobang kenikmatanku dengan diiringi bunyi ceplak.. ceplok.. srook… Belum hilang dari bayanganku barang yang kepala lebih dari batang bagian tengah dan pangkalnya itu ketika dicabut dari lobang vaginaku berbunyi trooot.. ceplok… Apalagi waktu barangnya dimasukkan lobang anusku yang awalnya terasa sakit lalu dengan pandainya permainan Pak Jono rasa sakit itu rasa nikmat yang sulit kubayangkan.
Kini tibalah malam minggu, malam yang kunanti-nantikan. Suamiku, sebagaimana biasanya, mempersilakan Pak Jono masuk. Sebelum memulai memijet, Pak Jono ngobrol dulu dengan suamiku. Sementara itu aku membuatkan kopi untuk mereka berdua.
Tak lama kemudian suamiku mulai diurut. Sedang enak-enaknya diurut, tiba-tiba ada telpon dari Bosnya. Aku pun memanggil suamiku.
Setelah berbicara di telepon beberapa lama dengan bosnya, ia berkata padaku bahwa ia diajak ke luar kota untuk urusan bisnis. Lalu ia memberiku uang agar diberikan ke Pak Jono nanti setelah aku selesai diurut.
Dalam hati sebetulnya aku merasa sangat terangsang. Pikiranku membayangkan bahwa aku dan Pak Jono sebentar lagi akan melakukan sesuatu yang kenikmatannya sulit aku bayangkan.
Setelah selesai diurut, suamiku mandi, sementara aku mempersiapkan pakaian untuknya. Aku mengantarkan suamiku sampai di pintu melepas keberangkatannya. Setelah itu aku menutup dan mengunci pintu.
“Sebentar ya Pak, teruskan dulu minum kopinya, aku mau ganti baju,” kataku pada Pak Jono.
Aku memakai sarung dan kaos yang tipis, tanpa memakai CD dan BH, karena aku membayangkan sebentar lagi aku akan melakukan hubungan badan yang luar biasa.
“Gaya apa saja malam ini yang akan dilakukan oleh Pak Jono terhadapku?” tanyaku dalam hati sambil berganti pakaian. Kusemprotkan parfum yang istimewa ke tubuhku.
Aku keluar dari kamar utamaku kemudian duduk dulu di ruang tamu bersama Pak Jono. Pak Jono tersenyum. Aku pun membalas senyumannya dengan memberi isyarat yang ia pahami maksudnya.
Kemudian Pak Jono mengajakku ke kamar tempat urut biasanya. Sepertinya Pak Jono sudah tidak sabar lagi. Aku mulai tengkurep. Pak Jono tidak mengurutku seperti biasanya karena nafsunya yang sudah sangat menggelora.
Ia menyingkap sarungku sampai ke panggulku. Ia mengelus-elus pahaku dan meremas-remas pinggulku. Ia ciumi pahaku dan pinggulku. Aku kini sudah tak berdaya karena lama aku menyimpan nafsu birahi.
“Pak .. malam ini aku ingin benar-benar puas, seperti puasnya perempuan Jepang yang digauli oleh orang hitam di dalam film BF,” rintihku.
Pak Jono dengan nafsu yang menyala-nyala dan ganas bertanya kepadaku.
“Ibu nonton film BF? Bagaimana ceritanya?”
“Laki-lakinya seperti Pak Jono, barangnya sangat besar dan panjang. Ia dengan ganasnya mengocok perempuan Jepang sampai berkali-kali. Ia merintih-rintih, lalu ia tergeletak lemas dengan memperoleh kepuasan yang luar biasa. Pak Jono.. Aku juga malam ini ingin seperti perempuan Jepang itu.”
Kemudian Pak Jono membalikkan tubuhku. Kini aku terlentang, dan Pak Jono dengan mudah membuka sarung. Memang aku sebelumnya tidak memakai CD. Ia mengangkangkan kedua kakikuku, lalu ia menciumi kemaluanku sambil meludahi lobangnya dan meremas-remas payudaraku. Kini aku tak kuasa lagi menahan nafsuku, rasanya ingin meledak.
Pak Jono membuka baju kaosnya dan celana dan CD-nya. Barang Pak Jono luar biasa tegak dan keras, besar dan panjang. Kemudian ia membuka kaosku. Kini kami berdua telanjang bulat dengan sinar yang cukup terang. Sehingga nampak jelas urat-urat kemaluan Pak Jono yang siap menerjang lobang kemaluanku.
Pak Jono merebahkan tubuhnya kemudian memelukku dengan gemes dan mengecup bibirku sambil menggigit-gigitnya, sementara penisnya dijepitkan ke antara kedua pahaku. Terasa hangat di pangkal kedua pahaku sambil barangnya bergerak-gerak. Kini Pak Jono sudah tidak sabar lagi, akupun juga. Pak Jono menindihku.
“Aduh… Pak… berat sekali badan Bapak,” kataku terengah-engah di bawah himpitan tubuhnya.
Pak Jono mengangkangkan pahaku seperti V. Ia meludahi lobangku dan barangnya agar licin dimasukkannya.
Begitu banyak Pak Jono meludahi lobangku sampai meleleh ke pintu lobang anusku. Pak Jono mengarahkan barangnya yang sangat besar, panjang dan keras itu ke lobang vaginaku yang kecil tapi montok. Ia menekannya tapi pertama dan kedua kali tidak berhasil Masuk.
“Aduh.. Pak.. Pelan-pelan, Pak,” jeritku.
“Katanya ingin puas ngerasain keganasan barangku?” Pak Jono berbisik dengan suara terengah-engah.
“Nanti, Pak.. kalau sudah masuk semua. Sekarang pelan-pelan dulu.”
Ketika ia menekan kembali, akhirnya penisnya berhasil menerobos lobang kenikmatanku. Croook… Trooot… Bleees… Kemudian ia menindihiku. Kini tubuh tinggi, besar dan kekar itu menindihi diriku yang kecil mungil. Ia mulai menggenjotku. Mula-mula ia mengayunkan pinggulnya pelan-pelan. Makin lama makin keras dan ganas, sambil menekan. Ketika ia dengan ganasnya menekan penisnya sampai rasanya nyelu dan ngenyut, sambil memelukku dengan gemes dan ganas.
“Aduh.. Pak!” aku berteriak kecil.
Ia terus menggenjotku dengan tenaga yang kuat dan kerasa sampai aku terkentut karena menahan genjotannya. Memang nikmat sekali, nikmat yang luar biasa. Kemudian aku menggelinjang sambil merintih dan menjerit. Sroot… Aku memcapai puncak kenikmatan. Dan Pak Jono kuat sekali, ia belum juga orgasme.
“Udah dulu, Pak…” kataku dengan suaraku terengah-engah.
“Ibu tengkurep. Aku ingin masuk ke lobang belakang. Aku akan keluarkan spermaku di lobang belakangmu,” bisiknya padaku.
Aku mulai tengkurep, dan Pak Jono mulai menindihku. Ia meludahi lobang anusku sambil menusukkan jarinya. Aduh rasanya… Kemudian ia menusukkan rudalnya ke lobang anusku. Setelah empat kali tekan baru bisa masuk. Ia menggenjot dengan ganasnya. Makin lama makin keras kocokan dan genjotannya, lalu muncratlah air hangat ke dalam lobang anusku. Aduh… nikmat lagi walaupun baru saja aku mencapai orgasme.