Tag Archive | cerita seks

Pijat Sensasi.

Aku Hary. Ingat kisah Hadiah Untuk Istriku ? Namun kali ini aku tidak menceritakan pengalamanku dan istriku dulu, melainkan justru pengalaman keluarga temanku, Ferry.

Ya, Ferry yang dalam kisah Hadiah Untuk Istriku itu. Ferry yang bersama-sama denganku memberikan kepuasan seksual pada istriku di villa itu.

Sejak kejadian di villa itu, justru Ferry lebih terbuka mengenai keluarganya dan seluruh pengalaman kehidupan seksualnya, termasuk apa yang akan aku ceritakan ini.

Pengalaman seksualnya dimulai justru dari kebiasaannya dipijat. Ferry memang memiliki juru pijat langganannya yang setiap minggu memijatnya. Juru pijat itu seorang lelaki seumuran dengannya. Ferry memang mengambil juru pijat lelaki karena tidak ingin ada anggapan negatif, baik dari tetangga sekitarnya ataupun dari Dina istrinya sendiri. Namun justru disinilah awal mula petualangan seksual dirinya dan istrinya itu.

Inilah kisah dan pengalaman selengkapnya sebagaimana yang dia ceritakan kepadaku.

————-

Seperti yang sudah-sudah, Ferry rutin menggunakan jasa juru pijat. Darwis nama si juru pijat itu. Ferry terkesan dengan kemampuan Darwis dalam memijat karena dia sangat ahli dan bisa menghilangkan kepenatan Ferry yang sehari-hari bekerja sebagai seorang sopir di perusahaannya tempat bekerja.

Kejadian diawali saat satu hari di hari Minggu. Ferry menawari Dina istrinya untuk mencoba pijatan Darwis. Mulanya Dina menolak, karena merasa risih dipijat oleh seorang juru pijat lelaki. Namun karena Ferry mendesak, akhirnya istrinya itupun menerima, dengan syarat ditemani olehnya.

Maka mulailah Dina dipijat. Hanya mengenakan sehelai kain penutup tubuhnya, Dinapun mulai menerima pijatan Darwis. Awalnya Dina terlihat canggung dan risih, namun dengan keahlian Darwis, akhirnya Dinapun mulai menikmati pijatan si juru pijat lelaki itu.

Sebenarnya, kalau pada awalnya Dina merasa risih dan agak sungkan dipijat oleh Darwis, namun semakin lama Dina merasakan nyaman juga dengan pijatan lelaki itu. Dan tanpa diketahui Ferry, sesungguhnya diam-diam Dina merasakan ada sesuatu yang asing pada setiap sentuhan jari tangan lelaki itu. Sesuatu yang muncul begitu saja tanpa diinginkan dan disadarinya pada awalnya. Gerakan jari tangan lelaki itu, mengalirkan desiran-desiran aneh dalam dirinya. Desiran-desiran yang membuat tubuhnya terasa agak meradang. Desiran-desiran yang tanpa sadar membangkitkan hasratnya. Dan keadaan itu terus meningkat sampai akhirnya Dina selesai dipijat.

Sampai di situ, Dina harus berjuang mengendalikan dirinya yang seakan lepas kontrol. Sampai selesai dipijat, Dina tak berani bangkit dan tetap berbaring telungkup untuk menutupi perubahan pada dirinya, terutama di raut mukanya. Dina tak ingin Ferry mengetahuinya.

Dan pijatan keduapun seharusnya berlangsung seminggu kemudian. Namun karena Dina menolak dan tak ingin mengalami apa yang dirasakannya minggu lalu. Walau sesungguhnya, penolakan itu tidaklah penuh, karena sebagian hatinya menginginkan apa yang dirasakannya minggu lalu dirasakannya kembali. Dina ingin, Ferry kembali memaksanya. Dan hal itu…tak terjadi kali ini.

Dan di minggu berikutnya, kejadian itu berawal.

Kali ini Dina merasakan suatu ketegangan. Ketegangan yang sama dirasakannya pada saat pertama kali dipijat lelaki itu. Hanya ketegangannya kali ini berbeda bentuk, dan itu hanya Dina sendiri yang mengetahuinya.

Sentuhan pertama sudah membuat Dina harus memejamkan matanya. Sentuhan jari-jari tangan Darwis dipermukaan kulit punggungnya yang putih dan mulus itu. Sentuhan yang kembali membangkitkan desiran-desiran aneh dalam diri Dina. Desiran-desiran yang membuat jalan napasnya seakan tersendat.

Entah mengapa, dipijatan kali ini Dina merasakan kalau pijatan Darwis tak seperti sebelumnya. Pijatan lelaki itu kali ini seperti tak sungguh-sungguh memijat layaknya seorang pemijat, namun seperti sebuah usapan dan belaian saja. Hanya tekanan-tekanan kecil saja di bagian punggungnya yang terbuka.

Andai saja dirinya tak menginginkan, sudah pasti dirinya akan keberatan dengan apa yang dilakukan lelaki pemijat itu. Namun Dina hanya diam, karena memang sesungguhnya dirinya menginginkan dan menikmati apa yang dilakukan lelaki itu.

Dan Dina semakin sulit menahan rasa sesak di dadanya. Rasa sesak karena dirinya harus mengendalikan jalan napasnya yang semakin meningkat, namun berusaha disembunyikannya.

Dina semakin tak berdaya, manakala gerakan jari tangan Darwis di punggungnya itu sudah semakin jauh mengarah ke bagian depan. Gerakan yang terselubung namun cukup disadari oleh Dina. Gerakan yang seakan tak disengaja, namun Dina mengetahui pasti kalau lelaki itu sengaja melakukannya.

Dan Dina hanya mampu menggigit bibir bawahnya sendiri manakala jari tangan Darwis benar-benar mengarah ke perbatasan antara tulang rusuk bagian dalamnya dengan kaki bukit payudaranya. Sekujur tubuhnya terasa mulai meradang merasakan desiran-desiran yang semakin kuat, membuat aliran darahnya terus meningkat. Dan keadaan itu sungguh-sungguh tak mampu dikendalikannya manakala akhirnya Dina merasakan jelas-jelas kalau Darwis memang melakukan sentuhan di kaki bukit payudaranya.

Sentuhan yang terus berlanjut dan semakin dalam. Semakin turun dan semakin mengarah. Dina benar-benar dibuat tak berdaya. Tanpa sadar dan kendalinya, Dina merasakan bagian bawah tubuhnya sudah basah. Basah pada bagian organ keintimannya. Basah oleh gairah yang terbangkitkan oleh sentuhan lelaki itu.

Untungnya, “siksaan” itu segera berakhir. Lelaki pemijat itu menyudahi kerjanya di bagian tubuhnya. Kini Darwis mulai melakukan pijatan di bagian bawah, di kedua kaki-kaki Dina. Untuk sesaat Dina bisa bernapas lega.

Ternyata, Dina hanya mampu bernapas lega sesaat. Ya, sesaat. Karena saat Darwis mengurut bagian bawah tubuhnya itu, “siksaan” lain kembali menderanya, bahkan semakin kuat.

Kalau pada pijatan dua minggu lalu, Darwis hanya memijat sampai ke bagian sepertiga pahanya saja, namun kali ini….lebih jauh. Dina menyadari dengan pasti, kalau lelaki itu menggerakkan tangannya jauh lebih ke atas lagi. Bergerak menyelusup jauh ke atas ke balik kain yang menutupi tubuhnya. Gerakannya semakin lama semakin jauh. Dan Dina…sungguh menyadarinya, namun tak berdaya menghentikannya.

Dina hanya bisa menahan napas saat lelaki pemijat itu semakin jauh bergerak naik. Turun kembali sampai ke lekukan kedua lututnya, lalu naik lagi ke atas dan semakin mendekati ujung pangkal paha bagian atasnya. Terus dan semakin dekat. Dina semakin tegang sekaligus…ingin lelaki itu bergerak semakin jauh. Namun sampai beberapa gerakan, lelaki itu hanya bergerak sebatas beberapa inci dari pangkal paha. Dina terus menunggu dan terus menunggu, namun belum juga didapatkannya. Gerakan tangan lelaki itu tetap tak beranjak dari posisi, hanya beberapa inci dari posisi akhir yang diinginkan Dina.  Putus asa, dirinya menginginkan lelaki itu “menyelesaikan” gerakannya.

Andai saja dirinya bukan siapa-siapa. Bukan seorang wanita bersuami. Andai saja dirinya tak sedang berada di dekat suaminya. Dan andai saja… Ya andai saja dirinya bebas dari segala tuntutan norma dan aturan sebagai seorang istri, tentu Dina sudah meneriakkan apa yang diinginkannya. Dina akan meneriakkan agar lelaki pemijat itu melakukan langkah akhir. Langkah akhir yang saat ini sangat diinginkannya. Dan dengan sudut matanya, Dina melirik ke belakang dimana Ferry suaminya masih duduk menemaninya.

Namun rupanya, apa yang diinginkan Dina untuk saat ini nampaknya harus ditelannya bulat-bulat. Dina tak lagi mempunyai harapan untuk mendapatkan keinginannya. Apalagi kini gerakan tangan lelaki itu justru semakin menjauh dari posisi yang diinginkannya. Lelaki itu justru kini mengarahkan gerakannya kembali ke kedua tumitnya. Lelaki itu justru kini…menjauh. Dina hanya mampu menggigit bibirnya sendiri dengan sejuta kekecewaan.

“Akh” tanpa sadar Dina terpekik saat merasakan lecutan dalam dirinya karena tanpa diduga, dengan gerakan tiba-tiba, Darwis…bergerak naik dan langsung… menusuk pangkal pahanya. Dengan spontan Dina menoleh, bukan hendak memprotesnya, namun lebih mencari sosok suaminya yang semula duduk di kursi dekat pintu masuk kamarnya. Dan tatkala tak dijumpai sosok suaminya, pandangan Dina kini beralih ke lelaki pemijat itu. Pandangan yang bimbang apakah akan memprotes tindakan lelaki itu ataukah…membiarkannya. Dan…dengan sikap yang terbaca, Dina tak melakukan protes apa-apa. Dina bahkan menunggu tindakan selanjutnya dari lelaki itu.

Rupanya Darwis menggunakan kesempatan saat suaminya keluar. Dan apa yang dilakukan lelaki itu, justru memang yang diinginkannya. Entah karena sudah di belenggu hasrat atau memang dirinya sudah hilang kesadaran, Dina justru kali ini senang dengan ketidak hadiran suaminya itu. Dan kesempatan itu tak ingin disia-siakannya. Dina ingin merasakan sesuatu yang berbeda. Berbeda getaran dan sensasinya. Berbeda rasa dan kenikmatannya. Berbeda lelaki yang melakukannya.

Satu gerakan saja, membuat Dina harus menahan pekikannya. Satu gerakan yang membuat tubuhnya tersentak untuk kemudian bergetar hebat. Satu gerakan yang tiba-tiba namun tidak kasar. Satu gerakan sentuhan dan diikuti sapuan di permukaan selangkangnya yang membuat Dina tanpa sadar merenggangkan kedua pahanya. Satu gerakan yang melambungkan sukmanya. Satu gerakan yang….

“Mmmhhh” tak kuasa Dina melepaskan segala apa yang dirasakannya. Lelaki pemijat itu benar-benar telah menerbangkannya ke awang-awang. Gerakan jari tangannya demikian lihainya, bergerak-gerak lembut dan perlahan namun dengan tekanan yang menentukan. Gerakan dan tekanan yang sangat tepat membuat pinggul bulat Dina terangkat tanpa sadar. Satu dua gerakan yang terukur dan akhirnya…

Dina hanya mampu menggigit bantal yang menjadi penyangga kepalanya. Jari-jari tangannya meremas kuat kedua tepian bantal itu saat dengan beraninya lelaki pemijat itu menyelipkan jari-jari tangannya di lipatan celana dalamnya. Bergerak sedikit dan menyingkirkan bagian celana dalamnya, persis di posisi yang tepat. Dina tersentak tak percaya saat dirasakannya jari-jari lelaki pemijat itu…menyelusup masuk ke dalam…liang kewanitaannya !

Menusuk dalam dan dalam sekali. Dina sampai menarik pinggul bulatnya ke belakang hingga bongkahan pantatnya semakin terangkat naik. Kedua pahanya semakin merenggang. Dina hanya mampu menahan napas saat jari-jari tangan lelaki itu bergerak-gerak lincah di dalam rongga kewanitaannya, sementara jari lainnya menari-nari memijat dan menggelitik bagian tersensitif di luar rongga kewanitaannya. Dina hanya mampu diam dan terus diam merasakan seluruh perasaannya yang demikian menggila. Darwis terus melakukan gerakan-gerakan nakal di bagian terintim dirinya. Dan Dina….semakin tenggelam. Tenggelam dalam ketidak berdayaannya. Tenggelam dalam ketidak sadarannya. Tenggelam dalam ketidak ingatan akan dirinya. Dina lupa segala-galanya.

“Mmmhh…mmhhh” berkali-kali rintihan tertahannya meluncur seiring dengan semakin lihainya gerakan jari tangan lelaki pemijat itu di organ kewanitaannya. Pinggul bulat Dina tanpa kendali bergerak-gerak seakan memberi isyarat kalau dirinya amat sangat menikmati apa yang dilakukan oleh lelaki pemijat itu. Gerakan yang memberi isyarat agar lelaki pemijat itu semakin memberi segala sesuatu yang diinginkannya. Gerakan yang memberi isyarat agar lelaki itu terus melakukannya hingga akhir.

Namun sayang, Dina harus kecewa. Bertepatan dengan suara daun pintu yang terbuka, Dina merasakan lelaki pemijat itu menarik tangannya dengan cepat. Meninggalkan posisinya semula. Meninggalkan dirinya yang berada tergantung di awang-awang tanpa terselesaikan. Meninggalkan dirinya yang hanya bisa menggigit bibir bawahnya sendiri dengan segudang kekecewaan. Dina sangat kecewa karena merasa tak terselesaikan.

“Sudah pak. Selesai memijatnya” terdengar ucapan lelaki itu. Dina hanya bisa diam. Hanya bisa pasrah. Dan hanya bisa kecewa karena digantung tanpa penyelesaian.

Sampai Darwis pulang, Dina hanya bisa berbaring dengan segala perasaan yang dialaminya. Ingin rasanya dirinya minta diselesaikan oleh suaminya sendiri, namun Dina tak berani. Khawatir suaminya bertanya-tanya, mengapa selesai dipijat dirinya meminta. Khawatir akan dugaan dan pertanyaan yang mungkin timbul dalam benak suaminya. Akhirnya Dina hanya mampu diam hingga terlelap karena kelelahan sendiri.

Sebenarnya, tanpa juga diketahui oleh Dina juga, Ferry suaminya sudah mengetahui apa yang dialami dan dirasakan Dina, istrinya itu. Sejak minggu pertama, Ferry membaca apa yang dialami oleh istrinya itu. Dan pada saat itu, sesungguhnya Ferry merasa cemburu juga melihat Dina istrinya itu justru menikmati pijatan Darwis dengan cara yang berbeda.

Akibat didera rasa cemburu, itulah kenapa pada minggu berikutnya Ferry tidak memaksa Dina untuk dipijat. Namun uniknya dan anehnya, pada hari-hari menjelang minggu ke tiga, justru Ferry merasakan sesuatu yang berbeda. Ferry seolah merasakan sensasi dan gairah tersendiri menyaksikan Dina menikmati sentuhan lelaki lain. Sensasi yang akhirnya menghadirkan imajinasi akan variasi kehidupan seksuilnya. Ferry ingin mencoba petualangan baru dan nampaknya istrinya itu memungkinkan. Oleh karenanya, di minggu ke tiga ini Ferry membujuk Dina untuk mau di pijat lagi. Dan gayungpun bersambut.

Dan tadi, Ferry benar-benar merasa sangat luar biasa. Sensasi yang dialaminya dan ketegangan serta daya tarik seksualnya benar-benar memuncak manakala diam-diam setelah dirinya pura-pura keluar lalu diam-diam mengintip dari celah-celah lubang angin di bagian atas pintu kamarnya, dengan jelas dirinya melihat dan mendengar apa yang dialami Dina istrinya itu. Hampir saja dirinya membiarkan Dina menyelesaikan apa yang tengah dinikmatinya bersama lelaki pemijatnya itu. Bukan hanya penyelesaian yang sepihak dan sebatas permainan jari tangan, namun lebih dari itu. Namun Ferry tak ingin terburu-buru dan gegabah. Biarlah waktu nanti yang menyelesaikannya.

Satu minggu berikutnya kembali Dina dipijat. Kalau biasanya di hari Minggu, namun kali ini dimajukan, menjadi Sabtu sore. Ferry sendiri yang menginginkan hal itu.

Antara takut akan digantung seperti minggu sebelumnya dengan kerinduan untuk merasakan kembali apa yang dirasakannya minggu lalu. Dina sangat berharap, di kali ini dirinya bisa terselesaikan, entah bagaimana caranya nanti. Demikian juga halnya dengan Ferry. Dirinya berharap, kali ini semuanya bisa berjalan hingga akhir dan dapat mengalami suasana dan nuansa baru dalam kehidupan seksual suami istrinya. Apalagi kini keadaan sangat mendukung, karena sejak Sabtu pagi tadi kedua anaknya yang sudah duduk di bangku SMA dan SMP sedang berlibur di rumah orang tua Dina. Tinggallah mereka hanya berdua saja di rumah.

Jam tujuh malam, Darwis datang. Setelah berbincang sesaat, acarapun dimulai. Kalau sebelumnya Ferry mendahului dipijat oleh Darwis, namun kali ini Ferry menyilahkan Darwis untuk langsung memijat Dina. Untuk tak menimbulkan kecurigaan istrinya, Ferry tetap menemani Dina dipijat. Duduk tenang di sudut kamar dekat pintu kamar. Namun diam-diam, mencuri pandang di balik kamuflase bacaannya.

Sampai beberapa saat, acara pijatan berlangsung seperti biasanya. Dina rebahan telungkup dengan selembar kain yang menutupi sebatas punggung dan betisnya, sementara Darwis terus memijat. Ferry mencari cara dan alasan untuk memberi moment dan kesempatan agar apa yang menjadi fantasinya tercapai. Demikian pula sebaliknya Dina. Dia berharap menemukan moment yang tepat untuk bisa mendapatkan apa yang tak didapatkannya di minggu lalu.

Sampai akhirnya Ferrypun mendapatkan ide. Pura-pura beberapa kali menguap kantuk, Ferry memberi alasan dan kesempatan. Dengan gerakan yang meyakinkan Ferry berpura-pura terkantuk-kantuk sampai bahan bacaannya terjatuh, dan itu diamati oleh Dina istrinya, namun dia diam saja.

Tiba saatnya Ferry menjalankan skenario berikutnya. Dengan pura-pura terhuyung-huyung, Ferry melangkah keluar. Sambil berjalan ke arah sofa, dimatikannya lampu ruangan tengah itu. Cukup cahaya dari kamar tidur yang menerangi ruangan tempat bersantai itu.  Pintupun dibiarkannya terbuka sebagian lalu dirinya rebahan di sofa dengan tetap bisa saling melihat ke dalam kamar dan juga sebaliknya. Perlahan namun pasti, Ferry berpura-pura terlelap dalam tidur namun dengan sedikit memicingkan mata tetap mengawasi ke dalam kamarnya. Belum ada gerakan beberapa saat. Baik Ferry maupun Dina saling menunggu hingga akhirnya….

“Sebentar” ujar Dina sambil memberi isyarat agar Darwis menghentikan dahulu pijatannya. Dina bangkit sambil melilitkan kain ke tubuhnya lalu melangkah mendekat ke suaminya. Dari celah matanya, Ferry bisa melihat istrinya tengah menuju ke arahnya. Ferrypun langsung merapatkan kedua matanya saat Dina semakin mendekat dan pura-pura tertidur pulas.

“Mas…mas” Dina mencoba membangunkan, namun Ferry tetap diam, seakan sangat terlelap. Sekali lagi Dina coba membangunkan, namun Ferry tetap diam. Dina akhirnya kembali melangkah masuk dan…dia menutup lebih rapat pintu kamar tidurnya seperti takut terlihat dari luar. Ferry menunggu sesaat dengan penuh ketegangan.

Setelah dirasa cukup, Ferrypun bangkit perlahan dan mendekat ke pintu kamar tidurnya. Dicoba memeriksa celah pintu, ternyata tak ada celah, walau tak tertutup sampai penuh. Didekatkannya telinganya untuk mencoba mendengarkan suara dari dalam. Hening, tak ada suara. Ferry diam sejenak, lalu dengan gerakan yang sangat hati-hati, sofa kecil yang ada di dekat pintu kamar tidurnya dia angkat dan diletakkan di depan pintu.

Dengan gerakan perlahan dan hati-hati, Ferry menaiki sofa itu dengan perasaan tegang. Perlahan di angkat wajahnya sampai dapat melihat ke dalam kamar tidurnya melalui celah ventilasi pintu kamar tidurnya. Dan terlihat, Dina sudah kembali telungkup melanjutkan pijatannya. Posisi rebahan Dina cukup tepat agak menyamping dengan kaki ke tepi luar tempat tidurnya. Lampu kamarpun tidak dimatikan, semua seperti biasanya.

Dan kembali seperti minggu lalu, Ferry menyaksikan istrinya itu tengah menikmati pijatan Darwis. Bahkan kini…ya…kini, dengan jelas Ferry dapat melihat gerakan jari tangan Darwis sudah lebih jauh lagi dibandingkan minggu sebelumnya. Dan kali ini, dikala dirinya tak ikut hadir di kamar itu, gerakan Darwis tak terlihat lagi seperti tengah memijat seperti sebelumnya, namun…lebih tepat dikatakan…membelai. Ya, lelaki pemijat itu kini dengan jelas bukan lagi sedang memijat melainkan…sedang membelai-belai. Membelai-belai punggung Dina yang terbuka. Belaian yang lalu mengarah ke bagian depan tubuh istrinya itu. Dan Dina…tak menolaknya, bahkan terlihat jelas…menerimanya.

Dengan perasaan tegang sekaligus…gairah, Ferry dapat melihat gerakan jari-jari tangan lelaki pemijat itu semakin berani mengarah ke depan menuju gundukan kedua payudara Dina. Sementara Dina sendiri memang…menikmatinya. Bahkan dalam satu gerakan…Dina mengangkat sedikit badannya, memberi ruang bagi Darwis. Jelas dan sangat nyata terlihat oleh Ferry, kalau istrinya itu semakin mengangkat dadanya hingga….tergantung. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Darwis. Dengan pasti lelaki pemijat itu bergerak maju dan….

“Mmmmhhh” terdengar suara rintihan Dina saat tangan Darwis akhirnya… untuk pertama kalinya menyentuh payudaranya. Bukan hanya menyentuh, bahkan… menggenggamnya !

Sungguh suatu perasaan yang sulit dilukiskan yang dirasakan oleh Ferry saat ini. Perasaan aneh sekaligus sangat membangkitkan hasrat birahi menyaksikan untuk pertama kalinya Dina istrinya berada dalam rengkuhan lelaki lain. Dan Ferry semakin tenggelam dalam seluruh perasaannya, manakala menyaksikan Dina istrinya sangat menikmati hal itu. Rintihan Dina walau berusaha disembunyikan, terdengar jelas oleh Ferry. Bahkan kini, Dina terlihat menggelinjang dalam dekapan Darwis.

Dina sendiri sudah semakin tenggelam dalam buaian rasa nikmat. Nikmat dan sensasi yang menggila. Seluruh tubuhnya terasa menggigil merasakan gelitikan dan pilinan jari tangan lelaki pemijatnya itu di kedua putting payudaranya yang sudah mengeras. Dina hanya bisa memejamkan kedua matanya sambil berusaha menahan rintihannya merasakan permainan jari-jari tangan lelaki asing di kedua payudaranya itu. Terasa sangat berbeda, asing dan penuh misteri namun sangat nikmat. Belaian, remasan, gelitikan dan pilinan jari tangan Darwis benar-benar melambungkan sukmanya.

Walau hanya berlangsung beberapa menit saja, namun tindakan lelaki pemijatnya itu telah mengantarkan Dina ke puncak gairahnya. Dan tatkala Darwis mulai bergerak ke bawah, Dinapun….bersiap.

Ferry menyaksikan, Darwis mulai menyentuh kedua kaki istrinya. Dari apa yang dilihatnya sesaat tadi, Ferry dapat memastikan kalau segala sesuatunya akan berakhir sesuai dengan fantasinya. Dan itu semakin terlihat manakala dengan gerakan pasti, Darwis mulai memijat kedua kaki Dina. Bukan, bukan memijat, tapi… membelai ! Ya, membelai. Sambil bergerak membelai kedua paha paha mulus Dina, Darwis menyingkap kain yang menutupi bagian tengah istrinya itu lebih tinggi lagi. Hal yang tidak dilakukannya saat dirinya hadir di kamar itu. Dan hal itu ternyata…tak ditolak oleh Dina.

Satu dua gerakan, Ferry melihat belum sesuatu yang berarti. Namun digerakan berikutnya….Ferry menahan napasnya. Terlihat dengan jelas, Darwis mulai mengarahkan gerakannya ke pangkal paha Dina. Dari balik kain yang masih menutupi sebagian bongkahan pantat Dina, Ferry dapat menyaksikan gerakan-gerakan tangan lelaki itu dari gelombang-gelombang kain penutup tubuh bagian bawah istrinya itu, dan Ferry dapat memastikan kalau Darwis sudah berhasil menggapai tujuannya…pangkal paha Dina. Hal itu terlihat juga dari gerakan pinggul Dina yang terangkat naik. Juga dengan gerakan kedua paha putih mulus Dina yang merenggang. Ditambah lagi dengan…erangan dan rintihan tertahan istrinya itu.

Ferry benar-benar memuncak dalam amukan gejolak birahinya, namun dia tetap berusaha bertahan, walau lututnya terasa lemas. Sementara Dina sendiri semakin tenggelam semakin dalam. Apa yang dirasakannya minggu lalu, kali ini terasa jauh lebih hebat. Rasa penasaran, tertantang dan ketegangan, justru semakin melipat gandakan kenikmatannya. Dan tatkala kembali dirasakannya jari tangan Darwis berusaha menyelusup masuk ke dalam liang kewanitaannya yang sudah sangat basah itu, Dinapun memberi jalan dengan semakin merenggangkan kakinya.

“Mmmhhh…mmmhhh” hanya itu yang dapat dilakukannya merasakan gerakan jari tangan Darwis yang mulai menyelusup masuk ke dalam liang kewanitaannya. Terus masuk semakin dalam, mengalirkan rasa nikmat dan sensasi yang sulit dilukiskan. Sementara bagian tonjolan daging yang terletak di luar liang kewanitaannya, terus mendapat stimulasi dan rangsangan yang intens dari jari-jari tangan lelaki itu. Dina sampai meregang manakala lelaki itu dengan lihainya mengkobinasikan gerakan jari tangannya baik yang berada di luar maupun yang berada di dalam rongga kewanitaannya. Pinggul bulatnya semakin terangkat naik dan mulai memberikan respon gerakan.

Dina hanya bisa merintih dan mengerang pelan, merasakan semua sensasi, ketegangan dan kenikmatannya. Terasa sangat lihai sekali Darwis menggerak-gerakkan jari tangannya membuat Dina tanpa sadar sudah mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi hingga kini posisinya menungging dengan dada dan kepala rebah.

Gerakan itu terus berlanjut sampai akhirnya….Dina merasakan kalau lelaki itu ingin melepas penghalang satu-satunya yang menggangu segala gerakannya. Dan Dina menyilahkan lelaki itu…menarik celana dalamnya. Dina memberi jalan sampai akhirnya…terlepaslah celana dalamnya dan entah tercampak di mana. Dina semakin tak kuasa mengendalikan dirinya, sementara Ferrypun semakin memuncak menyaksikan semua ini. Apalagi saat Darwispun menyingkirkan kain penutup bagian bawah tubuh Dina tanpa ditolak oleh Dina, maka kini terbukalah seluruh tubuh indah istrinya itu. Dina telungkup menungging dalam keadaan polos tanpa penutup sedikitpun, dan Dina…menerima !

Dina sendiri, anehnya tak lagi merasa canggung dan malu demi menyadari dirinya kini sudah polos tanpa penutup tubuh sama sekali. Apalagi, saat ini dalam posisinya dan dalam posisi lelaki pemijatnya itu, Dina dapat memastikan kalau bagian organ kewanitaannya pasti tengah terpampang bebas dan jelas di hadapan lelaki itu. Namun Dina sudah tak perduli lagi dan apalagi malu. Justru dirinya kini sangat bergairah dan semakin bergairah justru saat menyadari akan kepolosan tubuhnya ini dan tengah ditonton lelaki itu.

Kembali Darwis melakukan kerjanya. Jari tangannya sesaat mengusap permukaan vagina Dina yang kini terpampang jelas. Nampak kemerahan dengan bibir kemaluan yang sudah terbuka.

Dengan jelas sekali, Ferry menyaksikan lelaki pemijat itu kembali memasukkan jari tangannya ke dalam lubang vagina istrinya. Tidak hanya satu, tapi….dua. Tidak….bukan dua, tapi…tiga. Oh ternyata…empat ! Gila ! Dina sampai mengerang dan meliukkan pinggul bulatnya merasakan tusukan empat jari tangan lelaki pemijatnya itu. Dari belakang, Ferry dapat menyaksikan kalau lubang kemaluan istrinya itu sampai meregang penuh untuk dapat menampung keempat jari tangan lelaki pemijatnya itu. Dan tatkala Darwis mulai bekerja, terdengar suara kemerocok dari vagina istrinya pertanda kalau Dina benar-benar berada dalam puncak gairahnya.

Dina sendiri benar-benar tak kuasa lagi menahan seluruh perasaannya. Tindakan nakal lelaki itu yang membenamkan keempat jari tangannya ke dalam liang vaginanya, justru terasa sangat nikmat. Nikmat karena terasa penuh dan meregang habis. Dan lebih nikmat lagi saat keempat jari tangan lelaki itu bergerak liar di dalam lubang kemaluannya. Dina hanya bisa merintih tertahan sambil meliuk-liukkan pinggulnya tanpa sadar.

Dan selanjutnya, apa yang disaksikan oleh Ferry benar-benar membuat jantungnya seakan hendak berhenti. Darwis tak hanya mengorek-ngorek lubang vagina istrinya itu akan tetapi kini….lelaki itu mendekatkan wajahnya ke selangkangan Dina dan akhirnya…mencium selangkangan istrinya itu. Bukan cuma mencium, tapi…menjilati dan mengulum vagina Dina !  Uuukhh….Ferry benar-benar tak kuat lagi rasanya.

Bahkan akhirnya, Darwis tak hanya menggarap selangkangan Dina, tapi juga payudara istrinya yang tergantung bebas. Ferry benar-benar hampir tak kuat menyaksikan istrinya digarap oleh lelaki pemijatnya itu. Sementara Dina sendiri justru sebaliknya, dia semakin tenggelam dalam sejuta kenikmatan merasakan apa yang dilakukan lelaki itu. Sementara payudaranya diremas dan dipilin-pilin putingnya, jilatan, gelitikan lidah, hisapan dan gigitan-gigitan kecil dirasakannya di clitorisnya. Ditambah lagi dengan kocokan keempat jari tangan lelaki pemijatnya itu di liang kewanitaannya membuat Dina memuncak. Dia…ingin segera diselesaikan !

Darwis nampaknya lelaki yang sangat berpengalaman. Tanpa meminta, lelaki itu tahu kapan si wanita menginginkan penyelesaian. Dengan cepat lelaki itu melepaskan garapannya di tubuh polos Dina, lalu dengan cepat juga dia melucuti pakaiannya sendiri hingga sama-sama…bugil ! Ferry tercekat menyaksikan semua itu. Lututnya gemetar. Terlihat kini di dalam kamar tidurnya, istrinya bersama dengan lelaki selain dirinya dalam keadaan sama-sama telanjang bulat. Ferrypun menyaksikan batang kemaluan lelaki pasangan bercumbu istrinya itu sudah menegang penuh, dengan tonjolan urat-urat besar di sekeliling batangnya. Ukuran batang kemaluannya tak jauh berbeda dengan ukuran batang kemaluan miliknya. Hanya diameternya yang lebih besar, sekitar 5 cm-an sedang miliknya, 4 sampai 4,5 cm-an.

Ferry semakin terpaku saat menyaksikan istrinya membalikkan badan. Kini posisi Dina telentang menghadap ke lelaki itu. Terlihat Dina memandang dengan penuh gairah batang kemaluan lelaki itu. Batang kemaluan lelaki lain pertama yang dilihatnya, membuat Dina terlihat sangat bergairah.

Penantian berjalan dengan cepat. Ferry menyaksikan Darwis langsung bersiap diantara kedua paha mulus istrinya itu, sementara Dina bersiap menerima masukan pertama dari lelaki asing dengan tak sabar. Kedua kaki mulus istrinya itu sudah membuka memberi jalan pada lelaki itu. Kedua lututnya menekuk ke atas sambil mengangkang penuh. Dina nampaknya sudah demikian menggebunya hingga tak perduli lagi kalau dihadapannya adalah lelaki lain. Bahkan saat lelaki itu menyempatkan memandangi selangkangannya yang berbulu halus dan tidak terlalu lebat itu, Dinapun tak keberatan atau merasa malu.

“Ssshh…uuuukkkhhh” erangan Dina tak mampu ditahannya. Dengan jelas Ferry menyaksikan batang kemaluan lelaki itu mulai membenam masuk ke dalam lubang kemaluan istrinya. Sementara Dina sendiri, merasakan sensasi dan kenikmatan tersendiri menerima masukan pertama dari lelaki lain. Dina merasakan liang kewanitaannya terasa penuh dan terganjal, namun sangat nikmat. Perlahan sekali Darwis membenamkan batang kemaluannya. Perlahan pula Dina merasakan kenikmatan yang semakin kuat seiring semakin dalamnya batang kemaluan lelaki itu memasuki liang kewanitaannya sampai akhirnya…

“Akh” pekikan kecil Dina mengiringi selesainya benaman batang kemaluan Darwis, yang habis membenam seluruhnya ke dalam lubang vaginanya. Darwis menekan lebih kuat, sementara Dina menarik wajahnya ke belakang merasakan tusukan ujung batang kemaluan lelaki itu di dasar lubang kemaluannya. Dina merasakan tekanan yang kuat di dalam lubang kewanitaannya, menghadirkan tekanan kenikmatan yang kuat pula.

Untuk beberapa saat lamanya Darwis diam sambil tetap menekan, sementara Dinapun tetap menarik kepalanya ke belakang. Sambil menekan, Darwis tak menyia-nyiakan kedua gundukan payudara Dina dan meremasnya dengan sedikit kuat. Di balik kisi-kisi lubang ventilasi pintu kamar, Ferry hanya bisa terpaku. Berkecamuk perasaannya, namun tak ada niatan untuk menghentikan semua itu. Ferry justru merasa sangat terangsang melihat istrinya tengah bersenggama dengan lelaki pemijatnya itu. Ferry tak lagi memikirkan, apakah dirinya normal ?  Yang ada saat ini adalah sensasi yang luar biasa menyaksikan Dina tengah meregang kenikmatan. Seakan masih tak percaya, kalau Dina istrinya itu benar-benar melakukan hal itu. Benar-benar memberikan kesempatan kepada lelaki lain untuk menikmati tubuh polosnya, termasuk sampai menerima masukan batang kemaluan lelaki itu ke dalam lubang kemaluannya. Lubang kemaluannya yang selama ini hanya dirinya yang mengisi, namun kini untuk pertama kalinya istrinya itu menerima masukan lelaki lain, dan Dina nampaknya sangat menikmatinya.

“Sssshhh” erangan Dina mulai terdengar lagi saat Darwis mulai bergerak mundur. Kedua bola mata Dina terpejam rapat. Bibirnya terbuka sebagian. Dari raut wajahnya terlihat kalau Dina istrinya memang sangat menikmati hubungan seks pertamanya dengan lelaki lain itu. Ferry mengamati bagaimana batang kemaluan Darwis mulai bergerak maju mundur keluar masuk ke dalam lubang kemaluan istrinya. Batang kemaluan itu terlihat mengkilat dibasahi oleh cairan pelumas lubang kemaluan Dina.

“Ssshhh….mmmmhhhh” hanya itu yang keluar dari celah bibir Dina, mengiringi pergerakan batang kemaluan Darwis, si lelaki pemijat itu. Dari ekspresi wajah Dina terlihat kalau istrinya itu memang tengah merasakan kenikmatan.

Dina sendiri, dalam buaian kenikmatannya dan dalam selubung gairahnya, merasa heran, kenapa rasanya persenggamaannya kali ini nikmat sekali. Pergesekan dinding liang kewanitaannya dengan batang kemaluan lelaki itu terasa kuat dan nikmat sekali, padahal ukurannya tidak banyak berbeda dengan batang kemaluan suaminya sendiri. Apakah semua ini karena pengaruh keasingan dari lelaki yang tengah bersamanya itu ?  Sosok lelaki asing yang memberi nuansa dan sensasi yang berbeda ?  Penuh misteri namun penuh daya tantang yang kuat.

Masih sempat juga terpikir olehnya, apakah yang dilakukannya ini benar ?  Sebagai seorang wanita yang bersuami, dirinya melakukannya dengan lelaki lain ? Di rumahnya sendiri ?  Disaat suaminya lengah ?  Apa ini lazim ?

Namun ternyata sesuatu yang tidak lazim itu sangat luar biasa. Curi-curi kesempatan seperti ini juga terasa sangat excited. Adrenalinnya terpacu tinggi, menghadirkan ketegangan dan sensasi yang luar biasa. Dan akhirnya, rasa nikmatnyapun terasa sangat hebat. Dina tak kuasa lagi menolak segalanya. Dina sudah tenggelam dalam gulungan ombak kenikmatan birahi yang hebat. Setiap pergerakan lelaki itu, terasa sangat kuat dan nikmat sekali, hingga tanpa sadar pinggulnya bergerak mengimbangi gerakan lelaki itu. Dina hanya bisa pasrah pada “serangan” lelaki itu yang mendatangkan rasa nikmat yang luar biasa. Dina hanya bisa merintih dan mengerang, walau sekuat tenaga dirinya berusaha menahan suaranya agar tak membangunkan suaminya. Dina tak ingin semua yang dirasakannya ini berakhir tanpa penyelesaian.

“Mmmhhh…mmmhh…” erangan kecilnya terus meluncur mengiringi pergerakan Darwis yang semakin cepat menusuk-nusukkan batang kemaluannya ke dalam liang kewanitaannya. Pinggul bulat Dina berputar-putar tanpa sadar. Aliran kenikmatan terus memburunya dan tekanan dalam dirinyapun mulai terasa. Dina semakin tak kuasa menahan segalanya dan membiarkan lelaki itu melakukan apapun yang diinginkannya. Bahkan kedua gundukan payudaranyapun dibiarkannya berkali-kali diremasi jari-jari tangan lelaki itu. Dina…pasrah.

Tekanan dalam dirinya dengan cepat bergerak naik. Jalan napasnya semakin memburu, sementara gerakan Darwis semakin cepat dan kuat. Tusukan lelaki itu terasa sangat dalam. Kenikmatan yang dirasakannya terus mengalir seakan tanpa henti. Dina benar-benar tak berdaya dibuatnya, sampai akhirnya….

“Mmmhh..!” pekiknya ditahan. Kedua betisnya langsung menyergap pinggang lelaki itu dan memitingnya kuat-kuat. Dina….meledak hebat. Tubuh polosnya melengkung, mengejang dan menggeletar kuat. Kepalanya tertarik jauh ke belakang. Wajahnya mengekspresikan sesuatu yang amat sangat yang tengah dirasakannya. Urat-urat lehernya hingga muncul. Dina…sangat kenikmatan.

Ferry benar-benar merasa takjub sekaligus tak percaya menyaksikan semua ini. Dihadapannya, dengan jelas melihat istrinya tengah memacu birahi dengan lelaki lain. Dengan jelas terlihat, istrinya amat sangat menikmati apa yang dilakukannya. Ferry benar-benar terpaku.

Setelah beberapa saat Dina meregang, perlahan terlihat istrinya itu mulai mengendurkan jepitan kedua betisnya di pinggang lelaki pemijatnya itu seakan sebuah isyarat kalau Dina siap melanjutkan. Dan hal itu segera direspon oleh si lelaki.

Darwis meraih kedua betis indah Dina dan mengangkatnya hingga kedua kaki jenjangnya itu lurus terangkat naik. Sambil kedua tangannya memegangi betis Dina, Darwispun melanjutkan kembali gerakannya dan Dinapun…kembali menikmatinya.

Ferry terus memandangi bagaimana batang kemaluan lelaki itu keluar masuk ke dalam lubang kemaluan istrinya. Sementara Dina terlihat sangat menikmatinya. Rintihan dan erangannya kembali terdengar. Kedua bola matanya masih terpejam rapat dan bibirnya setengah terbuka. Berkali-kali, kedua alis Dina melengkung seakan hendak bertaut. Sesekali wajahnya tertarik ke belakang, terutama saat si lelaki menusuk dalam.

Kini lelaki itu mendorong kedua kaki Dina dengan kedua bahunya sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. Posisi kedua kaki Dina condong ke arah tubuhnya. Lututnya mendekati kedua gundukan payudaranya yang terguncang-guncang indah akibat pergerakan si lelaki. Posisi ini memberikan tusukan dan tekanan yang makin kuat. Hal itu terlihat jelas dari ekspresi wajah istrinya itu yang makin ekspresif menandakan kenikmatan yang dirasakannya semakin tinggi.

Dalam tempo beberapa menit saja, lelaki itu sudah menghujami Dina dengan kecepatan dan kekuatan yang tinggi. Dinapun terlihat semakin tenggelam dalam buaian kenikmatan birahinya sampai akhirnya Dinapun kembali menggapai puncak kenikmatan birahinya. Namun kali ini, Ferry melihat, Darwis tak memberi kesempatan pada istrinya itu untuk menikmati dahulu klimaksnya. Lelaki itu terus melanjutkan gerakannya yang cepat dan kuat hingga terlihat Dinapun seperti megap-megap menahan semua yang dirasakannya. Ferry sempat gemas juga dengan lelaki itu, namun baik dirinya maupun Dina istrinya, tak memiliki daya dan kesempatan, atau memang tak ingin melakukan pencegahan itu kalau tak ingin semua yang tengah berlangsung itu berakhir lebih cepat.

Ferry tak ingin mengakhiri ketegangan, sensasi dan keasikannya menyaksikan pergumulan istrinya dengan lelaki itu, sementara Dina sendiri tak ingin segera mengakhiri ketegangan dan kenikmatannya. Demikian juga halnya dengan Darwis, lelaki pemijat itu tak ingin segera berhenti menikmati tubuh wanita yang demikian indah dan nikmatnya itu.  Klop sudah. Ketiganya tak ingin buru-buru menghentikan semua itu.

“Ganti posisi bu, nungging” terdengar suara Darwis. Ferry tercekat mendengarnya. Walau pelan, namun Ferry dapat menangkap ucapan lelaki pemijat pasangan bercumbu istrinya itu. Dan Ferry lebih kaget lagi saat melihat Dina istrinya itu… menerima permintaan Darwis !

Sesaat setelah Darwis mencabut batang kemaluannya dari dalam lubang kemaluan Dina, Ferry melihat istrinya itu langsung merubah posisi tubuhnya. Membalikkan badan dan langsung….nungging !  Akh gila !  Dina sudah benar-benar… gila ! maki dirinya sendiri tak percaya. Namun Ferry kembali hanya bisa terpaku di tempatnya. Lututnya terasa sudah semakin lemas, namun dia tetap berusaha untuk berdiri di tempatnya.

Dengan jelas Ferry melihat, lelaki itu kembali bersiap membenamkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluan Dina. Kali ini dari arah belakang.

“Sssshhh…mmmhhh” erangan Dina kembali terdengar saat lelaki itu dengan perlahan membenamkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluannya. Tanpa kesulitan, Ferry melihat batang kemaluan Darwis terus bergerak masuk ke dalam lubang kemaluan istrinya sampai habis seluruhnya membenam. Lalu sambil memegangi, atau…meremas-remas bongkahan pantat indah istrinya itu, Darwis kembali bekerja, menghujam-hujamkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluan Dina.

Dalam tempo singkat, terlihat Darwis sudah demikian cepatnya bergerak. Hal ini membuat Dina semakin kenikmatan. Sesekali lelaki itu menjulurkan tangannya menggapai payudara Dina yang tergantung bebas, untuk kemudian meremasnya. Sesekali juga lelaki itu membelai-belai punggung mulus istrinya itu. Ferry benar-benar tak berdaya menghentikan semua tindakan lelaki itu.

Gerakan maju mundur Darwis sudah cukup cepat dan kuat, namun dengan kelihaiannya, gerakan itu tak sampai menimbulkan suara tepukan yang keras. Lelaki itu menyadari kalau tak hati-hati akan membuat kegaduhan. Diam-diam Ferry sangat takjub dengan kemampuan pengendalian diri, baik si lelaki maupun Dina istrinya. Kalau saja dirinya tak menyaksikan langsung dan menonton langsung dari celah-celah kisi-kisi ventilasi pintu kamar tidurnya, tentu dirinya tak akan tahu kalau istrinya dan lelaki itu tengah melakukan persenggamaan.

Ferry terus mengamati seluruh gerakan dari pasangan bercumbu di dalam kamar tidurnya itu. Mengamati bagaimana bernapsunya si lelaki menyetubuhi istrinya, dan juga mengamati bagaimana reaksi dan ekspresi istrinya yang demikian menikmati pergumulan pertamanya dengan lelaki lain selain dirinya itu sampai akhirnya terlihat istrinya kembali meregang mendapatkan puncak kenikmatan birahinya. Kali ini si lelaki memberi kesempatan pada Dina untuk menyelesaikan dulu apa yang baru didapatkannya itu. Sambil menekan kuat-kuat pinggulnya, lelaki itu meremasi kedua bongkahan pantat Dina.

Untuk beberapa saat, Ferry melihat tubuh polos istrinya yang masih menungging itu, mengejang hebat. Sesekali terlihat sentakan-sentakan kuat pada tubuh bugil istrinya itu yang nampak mulai dibasahi oleh keringat. Keadaan itu berlangsung beberapa saat lamanya sampai akhirnya perlahan istrinya menjatuhkan tubuh polosnya itu ke depan hingga tertelungkup diikuti si lelaki yang tak ingin batang kemaluannya terlepas dari dalam lubang kemaluan Dina.

Kini dalam posisi telungkup, Dina kembali menerima hujaman dari si lelaki pemijatnya. Sambil setengah menindih tubuh bugil Dina, lelaki itu terus bergerak dan Dinapun kembali terdengar merintih-rintih kenikmatan. Dengan cepat lelaki itu meningkatkan gerakannya, sambil terus menikmati sekujur tubuh polos Dina. Sesekali lelaki itu membelai-belai gundukan payudara Dina yang tertindih tubuhnya sendiri.

Akhirnya pergumulan mereka berakhir dalam posisi itu. Si lelaki menumpahkan cairan kenikmatannya diatas bongkahan pantat indah Dina, lalu keduanya lekas berpakaian kembali. Ferrypun dengan cepat namun hati-hati, langsung turun. Lututnya terasa sangat lemas, hampir saja dia terjatuh.

Setelah menempatkan kursi sofa kecil itu ditempatnya kembali, Ferrypun kembali rebahan di sofa dan berpura-pura tertidur pulas. Dengan susah payah dirinya coba mengendalikan diri, terutama pada bagian selangkangannya yang sulit untuk diredakan.

Sampai akhirnya, dari celah matanya yang terbuka sedikit, Ferry melihat lelaki pemijat itu keluar dari kamar tidurnya di temani Dina istrinya yang hanya menutupi tubuhnya dengan sehelai kain yang tadi digunakannya.

“Bapak…” ujar lelaki pemijat sambil memandang ke arahnya.

“Biar, nanti saya sampaikan. Suami saya kalau sudah pulas, susah dibangunkan” ujar Dina sambil tertunduk, agaknya rasa malunya telah kembali. Malu karena baru saja dirinya melakukan sesuatu dengan lelaki itu yang selama ini hanya dilakukannya bersama dirinya, suaminya.

Lelaki itupun langsung pamit dan beranjak pergi. Dina langsung melangkah ke arah dirinya, Ferrypun memejamkan matanya rapat-rapat dan berpura-pura pulas.

“Mas…mas…” istrinya coba membangunkannya. Apakah memang bermaksud membangunkannya, ataukah sekedar memastikan kalau dirinya masih pulas tertidur. Dan Ferry memutuskan untuk tetap berpura-pura tertidur. Dina segera beranjak pergi dan kembali ke dalam kamar tidurnya. Kamar tidur yang baru saja digunakannya untuk memacu kenikmatan birahi bersama lelaki itu. Wuih..

berlanjut…..

from :  http://pelangicinta30.wordpress.com/2011/01/31/pijat-sensasi/

Pijat Sensasi 3

Bagaimana, kamu senang sayang ?” Ferry berbisik pada Dina istrinya, setelah selesai melakukan “pertempuran” birahi di medan pertempuran baru mereka. Dina yang masih kelelahan, hanya mengangguk sambil tersenyum puas. Diliriknya suaminya sesaat, lalu dia mengecup mesra pipi suaminya itu sebagai ungkapan rasa senang dan terima kasihnya karena telah memberinya sebuah pengalaman yang sangat berkesan. Sambil mencium pipi suaminya, Dina melirik ke arah Darwis yang sedang duduk santai di sudut kamar. Lelaki itu balas memandang ke arahnya sambil menyunggingkan senyum. Dina melirik ke arah pangkal paha lelaki itu. Nampak batang kemaluannya yang terkulai seakan kelelahan setelah memberinya kenikmatan.

Hening beberapa saat, tak ada percakapan. Ketiganya, di kamar tidur itu, masih sama-sama dalam keadaan polos, saling terdiam seolah berusaha mengembalikan stamina mereka masing-masing setelah menguras tenaga untuk berlomba memberi dan menerima kenikmatan birahi. Tanpa terasa, satu jam lamanya mereka melangsungkan pertempuran yang seru. Hanya lirikan dan pandangan mata mereka bertiga saja yang mengkomunikasikan antar mereka. Sesekali tangan Ferry menyentuh dan membelai bagian-bagian di tubuh polos Dina. Selebihnya…hening.

Namun keheningan itu berakhir cepat. Ferry kembali memegang kendali. Diajaknya Darwis bergabung kembali diatas pembaringan. Saling bincang dan saling canda, tanpa rasa malu atau risih mempertontonkan tubuh bugil mereka masing-masing. Ferrypun memberi ijin pada Darwis untuk bebas memperlakukan tubuh polos istrinya itu sesukanya, demikian sebaliknya. Hingga obrolan dan perbincangan merekapun terselingi kegiatan-kegiatan yang membangkitkan kembali gairah mereka, terutama Dina yang dikelilingi dua lelaki sekaligus. Darwis sendiri, sebagai seorang lelaki yang sudah menduda selama lima tahunan, tentu saja sangat bernapsu memandangi kemolekan dan kemulusan tubuh bugil wanita dihadapannya itu. Apalagi, suaminya mengijinkan sepenuhnya untuk melakukan apapun terhadap istrinya itu sekehendak dan sesuka hatinya. Maka kesempatan itu tak disia-siakannya.

Bukan saja terus memandangi betapa merangsangnya tubuh bugil Dina, namun Darwispun selalu menyentuh, meraba dan membelai bagian-bagian tubuh bugil Dina, tanpa kecuali. Hanya bagian selangkangan Dina saja yang tak dijamahnya karena memang selain agak canggung, juga kesulitan oleh posisi Dina yang duduk di atas pembaringan itu. Tindakan Darwis rupanya tak sepihak karena mendapat sambutan dan balasan dari Dina. Sesekali wanita itu, atas ijin suaminya yang sudah memberi kebebasan, menyentuh, membelai ataupun menggenggam batang kejantanan Darwis dan karenanya dengan cepat terbangkitkan lagi.

“Kita mulai lagi yuk ? Kamu udah siap lagi sayang ?” Ferry yang juga terbangkitkan gairahnya oleh pemandangan erotis dihadapannya saat tubuh bugil istrinya dijamahi oleh Darwis hingga tubuh polos istrinya itu beberapa kali menggelinjang dan juga saat melihat betapa Dina istrinya sangat senang menyentuh dan memegang batang kemaluan lelaki itu disamping juga terus memegangi batang kemaluan miliknya sendiri, akhirnya memutuskan untuk memulai babak berikutnya.

Dina, dengan sikapnya sebagai seorang wanita, hanya senyum memandang suaminya. Dari tatapan matanya, Ferry memahami bahwa istrinya itupun sudah kembali berhasrat untuk melanjutkan petualangan birahinya. Baik Ferry maupun Dina nampaknya sangat bergairah menyambut moment dan babak baru kehidupan seksual mereka. Moment dan babak baru yang baru saja mereka alami, membangkitkan gelora dan hasrat yang demikian menggebu.

“Ya udah, kalau gitu, gimana kalau kamu sama Darwis memulai aja dulu, biar aku lebih fresh lagi” ujar Ferry seakan sangat memahami kalau keduanya, Darwis dan Dina istrinya, akan lebih cepat ON bila mereka bercumbu dahulu. Darwis yang sudah lima tahun menduda, tentu sangat haus untuk menikmati tubuh indah wanita dan Dina istrinya, akan lebih bergairah bila bercumbu dengan lelaki baru, yang lebih menantang dan penuh daya misteri.

Tanpa menunggu waktu, Ferrypun turun dari pembaringan, memberi kesempatan pada keduanya untuk memulai. Darwis sendiri, setelah memastikan mendapat lampu hijau dari Ferry dan Dina sendiri, langsung menyergap tubuh bugil wanita dihadapannya dengan gairah meluap-luap. Dengan cepat tubuh bugil Dina dibaringkan, lalu dengan penuh napsu berkobar, lelaki itu menciumi sekujur tubuh bugil Dina. Mendapat serangan gencar seperti itu, membuat Dina terkejut juga, namun akhirnya diapun mulai menikmatinya.

Dina sangat kaget, sekaligus bergairah, merasakan cumbuan yang demikian panasnya. Dina menyadari, ini semua disebabkan oleh rasa dahaga lelaki ini akan wanita setelah sekian tahun tak didapatkannya. Apalagi kini dia diberi kesempatan seluas-luasnya oleh lelaki yang memiliki hak atas dirinya. Tanpa beban mental, maka lelaki itupun mengambil kesempatan ini sebaik-baiknya. Demikian sebaliknya dengan Dina sendiri.

Maka percumbuan keduanyapun berlangsung dengan bergelora. Dina tak lagi ragu mengerang dan merintih merasakan nikmatnya cumbuan lelaki itu. Tak hanya menerima cumbuan, Dinapun membalas dengan rabaan tangannya di tubuh lelaki itu, serta geliatan tubuhnya dan gesekan-gesekan kulit lembut tubuhnya ke kulit tubuh lelaki itu.

Dimulai dari leher jenjangnya, terus turun ke bahunya, dada atas, melewati gundukan payudaranya, turun ke bawah, keperutnya, sampai ke bagian sedikit di bawah pusar Dina, lalu ke kedua pinggulnya, ciuman dan jilatan lidah Darwis kembali mengarah ke atas dan akhirnya terkonsentrasi di kedua gundukan payudara Dina.

Sementara mulut lelaki itu gencar mencecar kedua payudaranya, tangan lelaki itu terus bergerak menjelajahi sekujur tubuh bugil dirinya sejauh yang dapat dicapainya sampai akhirnya mengarah ke pangkal pahanya. Dina merenggangkan kedua pahanya, memberi jalan. Diawali sebuah usapan lembut dipermukaan vaginanya, membuat Dina semakin merintih dan mengerang kenikmatan. Kembali dibukanya kedua pahanya lebih lebar dan mulailah lelaki itu membuka bibir kemaluannya. Jarinya bergerak lincah namun terukur, mulai menjelajahi permukaan organ kewanitaan Dina, mengalirkan rasa nikmat yang semakin tinggi.

“Mmmhhh…mmmhhh…uuukkkhhh…ssshhhh…uuukkkhhh….uuukkkhhh” berkali-kali Dina merintih dan mengerang. Tubuh polosnya yang berada di bawah tindihan tubuh polos lelaki itu terus menggelinjang-gelinjang mengekspresikan kenikmatannya, apalagi saat dirasakannya jari tangan lelaki itu mulai menjamah clitorisnya. Pinggul Dina sampai terangkat naik saat merasakan usapan jari tangan lelaki itu di clitorisnya. Bergerak mengusap-usap beberapa saat untuk kemudian intens melakukan pijatan, gelitikan dan sesekali pilinan di clitoris Dina membuat dirinya semakin melayang dalam kenikmatan yang hebat.

Kombinasi permainan jari tangan di clitorisnya dan permainan mulut lelaki itu di putting payudaranya, membuat Dina dengan cepat memuncak. Dinding-dinding liang kewanitaannya dengan cepat mengembang dan basah, siap untuk kembali dimasuki.

Dan masukan pertama diterima Dina adalah jari tangan lelaki itu. Seperti yang sudah-sudah, lelaki itu memulai dengan satu jari tangannya, menyelusup masuk dan menusuk dalam-dalam ke liang vaginanya. Menari-nari sebentar didalamnya untuk kemudian menyusul jari tangan kedua, ketiga dan keempatnya. Dina benar-benar tak kuasa menahan seluruh kenikmatannya. Kelopak matanya sayu, bola matanya terbalik-balik, wajahnya berkali-kali tertarik ke belakang, sementara erangan dan rintihannya terus mengalir, ditambah lagi gerakan pinggulnya yang tengah terangkat naik itu, bergerak berputar-putar merasakan seluruh permainan lelaki itu. Dina sudah tak ragu lagi mengekspresikan segala kenikmatannya.

“Cu…cuk…kup. Mulai sek…karang” tak tahan lagi Dinapun meminta dimulai babak kedua pertempuran model terbarunya ini.

“Mas, sini” sambil menunggu Darwis memulai, Dina meminta suaminya mendekat. Ferrypun langsung mendekat, duduk di samping tubuh polos istrinya itu yang siap menerima masukan pertama di babak keduanya ini.

Tanpa menunggu lama, Dina langsung menyambar batang kemaluan Ferry yang sudah menegang akibat menyaksikan pemandangan erotis yang dipertontonkan oleh istrinya dan lelaki pasangannya itu. Sesaat Dina mengamati langkah lelaki itu yang sudah bersiap diantara kedua paha mulusnya. Dina memperlebar bukaan kedua pahanya, sementara dilihatnya Darwis tengah mengarahkan batang kemaluannya ke selangkangan dirinya.

“Ssshhh…mmmhhh” sebuah sapuan awal dari kepala batang kemaluan lelaki itu dirasakan Dina dipermukaan vaginanya. Hanya sekali, ya, hanya sekali saja sapuan itu untuk kemudian…

“Sssshhhhh….uuuuukkkkhhhh” erangan panjang Dina mengiringi lajunya benaman batang kemaluan Darwis ke dalam lubang kemaluannya. Terus membenam masuk makin dalam, mengalirkan rasa nikmat yang terasakan sampai ke ujung-ujung jari. Ferry melihat, bola mata istrinya terbalik dengan kelopak mata sayu saat Darwis mulai membenamkan batang kemaluannya itu. Nampak sekali kalau Dina istrinya itu sangat menikmati semuanya, dan Ferry tentu saja senang.

Sambil mengamati reaksi kenikmatan istrinya, Ferrypun memberi tambahan kenikmatan pada Dina dengan meremas-remas payudara istrinya itu. Sementara itu dilihatnya Darwis terus membenamkan batang kemaluannya semakin dalam dan akhirnya, batang kemaluan lelaki yang seukuran batang kemaluannya sendiri itupun habis membenam seluruhnya ke dalam lubang kemaluan istrinya. Dina sampai menarik kepalanya ke belakang sambil mengangkat dadanya saat merasakan tusukan terdalam Darwis. Keduanya diam sejenak untuk kemudian Darwispun mulai bergerak. Menarik perlahan pinggulnya ke belakang hingga batang kemaluannya kembali muncul, lalu kembali membenamkannya hingga tandas diiringi rintihan dan liukan pinggul indah Dina. Tarik lagi, benamkan lagi. Terus berulang-ulang dengan tempo yang semakin cepat. Dinapun semakin menggeliat-geliat dan mengerang-ngerang dalam kenikmatannya. Sampai akhirnya gerakan Darwis konstan. Belum mencapai puncaknya memang, tapi sudah cukup memberi kenikmatan yang tepat untuk Dina. Hal itu terlihat dari reaksi Dina istrinya.

“Ma..ju mas” pinta Dina disela-sela kenikmatannya menerima tusukan Darwis. Ferrypun maju, mendekatkan tubuhnya ke istrinya sampai posisi selangkangannya persis berada di samping wajah istrinya itu. Dengan memiringkan wajahnya, Dina segera melumat batang kemaluan suaminya itu sambil menikmati tikaman-tikaman batang kemaluan Darwis di liang vaginanya. Kedua payudaranyapun terus diremas-remas oleh suaminya dan juga Darwis, memberi efek ganda pada kenikmatan yang didapatkannya.

Menit demi menit berlalu, kenikmatan terus dirasakan oleh Dina, dan gairah terus dirasakan meningkat oleh Ferry menyaksikan persetubuhan istrinya dengan Darwis. Sampai akhirnya, Darwispun mempercepat dan memperkuat gerakannya saat Dina meminta. Rupanya Dina sudah merasakan tekanan dalam dirinya dan sebentar lagi akan berada di puncaknya dan akhirnya meledak dengan sejuta kenikmatan hingga membuat tubuhnya bergetar dan mengejang hebat.

Benar saja, kurang dari dua menit kemudian, Ferry merasakan cekikan jari tangan Dina di batang kemaluannya. Didahului pekikan panjang istrinya itu, terlihat tubuh bugil Dina langsung mengejang hebat lalu bergetar. Dina sudah mendapatkan hasilnya. Ferry bersiap menggantikan posisi Darwis.

Tanpa berucap, baik Ferry maupun Darwis seakan sudah saling mengerti. Darwis mundur dan Ferry maju menggantikan.

“Aku diatas mas” rupanya Dina menginginkan ganti posisi. Ferrypun langsung berbaring telentang, dan Dina bangkit lalu mengangkangi tubuh bugil suaminya persis diatas selangkangannya. Diraihnya batang kemaluan Ferry dan diarahkannya ke selangkangannya untuk kemudian….

“Sssshhhh….uuuukkkhhh” erang Dina mengiringi gerakan turun tubuh bugilnya. Batang kemaluan Ferrypun membenam masuk ke dalam lubang kemaluannya. Terus turun sampai menduduki selangkangan suaminya itu. Diam sejenak untuk kemudian mulai bergerak naik turun. Ferrypun langsung menangkap kedua payudara istrinya itu yang membusung menantang, sementara Darwis duduk menonton sambil mengocok-ngocok batang kemaluannya sendiri untuk mempertahankan ketegangannya.

Gerakan naik turun Dina diatas selangkangan Ferry, makin lama makin cepat. Demikian juga dengan erangan dan rintihan kenikmatannya, semakin cering dan panjang. Pinggul indahnya bergerak lincah, berputar-putar atau maju mundur sambil terus tubuhnya naik turun. Nampak butiran-butiran keringat mulai bermunculan dari sela-sela pori tubuh polosnya, menampilkan sosok tubuh yang terlihat makin segar dan menggairahkan.

“Mas…Darwis, sini” panggil Dina tak tega membiarkan lelaki itu sendirian. Sambil terus naik turun diatas selangkangan suaminya, Dina meminta lelaki itu berdiri disisinya, lalu tanpa ragu lagi menangkap batang kemaluan lelaki itu dan menggenggamnya erat-erat. Sesekali sambil terus turun naik diatas selangkangan suaminya, Dina menyempatkan mengulum batang kemaluan lelaki disampingnya itu, atau sekedar mengocok batang kemaluan lelaki itu dengan kelembutan jari tangannya. Terus dia lakukan semua gerakannya sampai tekanan kembali dirasakannya. Secara otomatis, Dinapun meningkatkan kecepatan gerakan tubuhnya.

Ditengahnya gerakan turun naik tubuh bugil Dina, sesekali Darwis menyempatkan menangkap payudara wanita itu yang tengah menikmati batang kemaluan suaminya sendiri. Dina terlihat semakin bergerak cepat, sementara butiran-butiran keringatnya semakin banyak dan mulai membasahi tubuh bugilnya itu, namun seakan dia tak perduli. Nampaknya sesaat lagi Dina akan mendapatkan hasilnya.

“Aaakh Masshh!” benar saja. Diiringi pekikan panjangnya, Dina langsung ambruk menindih dan memiting tubuh bugil suaminya dengan kuat. Terlihat tubuhnya yang mulai basah kuyup itu mengejang hebat. Ferry merasakan seluruh batang kemaluannya diremas-remas dan dihisapi lubang kemaluan istrinya itu dengan sangat cepat dan kuatnya. Untuk sesaat, Ferry membiarkan istrinya menikmati dahulu seluruh kenikmatan yang baru didapatkannya itu.

Sementara Darwis yang masih berdiri di samping keduanya, sambil mengocok-ngocok sendiri batang kemaluannya, memandangi tubuh bugil Dina di hadapannya. Walau yang terlihat hanya bagian belakang tubuhnya, tetap saja kemolekan tubuh telanjang wanita itu sangat menggairahkan sekali. Kulitnya yang putih bersih dan mulus, nampak terlihat semakin segar karena dibasahi oleh keringat. Pada tengkuknya, terlihat untaian-untaian anak rambut yang melekat erat oleh basah keringatnya, seolah membentuk lukisan-lukisan erotis yang tergores dengan indahnya. Bahu Dinapun memberi daya rangsang birahi tersendiri. Punggung indahnya nampak bergerak turun naik oleh hembusan napasnya yang memburu karena baru saja bekerja keras untuk mendapatkan kepuasan birahinya. Sementara pinggang rampingnya, berpadu dengan pinggul bulat dan mencuat ke luar membentuk lekukan indah dan berdaya tarik birahi kuat. Ditambah bongkahan pantatnya yang membusung padat, rasanya memiliki daya tarik tersendiri. Daya tarik yang seakan magnet untuk menggerakkan tangan setiap lelaki normal untuk meremas dan membelainya. Darwis sudah cukup merasakan bagaimana nikmatnya permukaan selangkangannya dan batang kemaluannya akan  kelembutan, kepadatan dan kenikmatan tersendiri bila bergesekan dan berhimpitan dengan bongkahan pantat indah itu. Darwis semakin tak sabar ingin kembali diberi giliran untuk menikmati tubuh molek wanita itu, namun dia harus bersabar karena hak dan ijin atas seluruh keindahan dan kemolekan tubuh polos wanita itu berada di tangan Ferry, suaminya yang saat ini tengah menikmatinya.

Dan tatkala datang ijin itu, Darwispun bersorak senang. Masih dalam posisi merangkak menindih tubuh bugil suaminya itu, Darwis dipersilahkan melanjutkan. Dari arah belakang, Darwispun segera bertindak. Saat Ferry sudah melepas batang kemaluannya sendiri dari liang kemaluan istrinya itu, Darwispun langsung menggantikan.

“Sssshhh…mmmhhh….” kembali erangan wanita itu meluncur saat lubang kemaluannya dimasuki batang kemaluan Darwis. Langsung membenam masuk seluruhnya. Darwis masih merasakan remasan-remasan dinding lubang vagina istrinya Ferry itu di seluruh batang kemaluannya yang kini sudah membenam habis kedalamnya. Untuk sesaat Darwis diam, meresapi kelembutan, kehangatan dan kenikmatan lubang kemaluan wanita itu yang masih berdenyut-denyut, sisa dari klimaks yang baru didapatkannya. Sambil menunggu, tangan Darwispun tak tinggal diam. Seluruh permukaan bagian belakang tubuh polos Dina diusap-usapnya sampai ke bongkahan pantat indahnya, meresapi betapa halus dan lembutnya permukaan kulit tubuh bugil wanita itu. Lalu dengan penuh perasaan, diremas-remasnya bongkahan pantat istrinya Ferry itu.

“Mmmhhh…mmmhhh…” kembali didengarnya rintihan wanita saat Darwis mulai bergerak. Perlahan, penuh penghayatan meresapi nikmatnya cengkeraman lubang kemaluan wanita di batang kemaluannya. Bergerak mundur perlahan, lalu kembali dibenamkannya sampai terasa menusuk dasar lubang kemaluan wanita itu. Kembali bergerak mundur, lalu maju lagi. Terus berulang-ulang memberi dan menerima kenikmatan bersama ibu rumah tangga yang luar biasa ini. Darwis sangat beruntung memperoleh kesempatan menikmati sepenuhnya tubuh ibu rumah tangga ini.

Sambil terus bergerak maju mundur, kedua tangan Darwis tak henti-hentinya meremasi kedua bongkahan pantat Dina, seakan kedua tangannya hendak memuaskan diri menikmati bongkahan pantat yang sangat merangsang itu.

Perlahan namun pasti, Darwis semakin mempercepat gerakannya. Perlahan namun pasti, Dinapun merasakan aliran kenikmatan yang semakin intens mengalir ke dalam dirinya. Sambil menikmati tusukan batang kemaluan lelaki di belakangnya, Dina berpagutan dengan suaminya yang berada di bawah tubuh polosnya itu. Kedua tangan suaminyapun sejak beberapa saat lalu, intens memberi stimulasi tambahan dengan meremasi kedua payudaranya yang tergantung bebas itu, memberi nilai tambah akan kenikmatan yang dirasakan Dina. Sungguh, ternyata melayani dua lelaki sekaligus, kenikmatannya tak terbayangkan. Sensasi dan ketegangannya sangat berbeda, memacu adrenalinnya secara maksimal. Belum lagi, kepuasannya karena dapat merasakan kenikmatan birahi secara maksimal dan sangat memuaskan. Dirinya dapat meraih seberapapun puncak kenikmatan yang ingin diraihnya, sepanjang tenaganya tersedia.

Sisa-sisa puncak kenikmatannya telah habis, dan karenanya Dina dapat kembali meresapi sepenuhnya tahap pendakian puncak kenikmatan birahi berikutnya. Gesekan, tekanan dan tusukan batang kemaluan Darwis dari belakang, kembali mengalirkan rasa nikmat yang bersumber dari dalam liang kenikmatannya. Dina terus merintih dan mengerang merasakan kenikmatan birahinya yang dia rasakan dari sejak tadi pagi, dan Dina masih ingin terus merasakan semuanya. Kesempatan yang mungkin tak akan terulang lagi ini ingin dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mendapatkan kepuasan setinggi-tingginya. Dan itu, kini sedang dilakukannya.

Gerakan Darwis semakin cepat dan kuat. Aliran kenikmatan terus mengalir ke dalam tubuhnya, dikombinasi dengan lecutan dan sentakan kenikmatan saat ujung batang kemaluan lelaki itu menghantam ujung liang rahimnya dan juga dasar lubang vaginanya. Pinggul dan pantat bulat indahnya, bergerak-gerak liar mengiringi lajunya tusukan batang kemaluan lelaki itu. Dina merasakan juga, jari-jari tangan lelaki itu terus menerus meremasi kedua bongkahan pantatnya, menghadirkan sensasi tersendiri. Apalagi di bagian depan tubuhnya, dibawah tubuh bugilnya, suaminya Ferry terus memberikan kenikmatan tersendiri dengan mencumbu kedua payudaranya. Lengkap sudah rasanya kenikmatan birahi yang dialami dan dirasakannya hingga memacu tekanan dalam dirinya. Tekanan yang sangat dihafalnya. Tekanan yang menandakan dirinya akan segera kembali mendapatkan ledakan puncak kenikmatan birahinya yang mampu melontarkan sukmanya jauh ke ketinggian yang kemudian akan menghempaskannya dengan kuat dalam hamparan keindahan dan kedamaian. Untuk beberapa saat lamanya nanti, dirinya akan merasakan kehilangan tenaga, daya dan segala sesuatunya. Tulang-tulang tubuhnya seakan dilolosi. Namun untaian kebahagiaan dan kepuasan akan menyelimuti seluruh batinnya. Dan Dina menginginkan hal itu terus berulang. Berulang dan berulang sampai waktunya selesai nanti.

“Uuukkkhhh maaassshhh….leb…bih cep…pat…leb…bih cep…paaatt. Yaaa…… terus…ter…rus, ak…ku mau….da…pet la…ggiiii….ooouuuukkkhh….” Dina meminta Darwis mempercepat gerakkannya karena merasakan tekanan dalam dirinya semakin memuncak dan hampir mendapatkan klimaks berikutnya. Darwispun langsung menggenjot tubuhnya sehingga benturan permukaan selangkangan lelaki itu dengan permukaan pantat Dina, menimbulkan suara bertepuk yang cukup keras. Tubuh bugil Dina yang semakin basah oleh keringat itupun sampai terhentak-hentak kuat hingga Ferry suaminya yang berada di bawah berusaha menahan hentakan tubuh bugil istrinya itu agar dapat terus mengulum dan menjilati putting payudaranya. Darwis terus bergerak, Dinapun terus mengerang dan merintih sambil memutar-mutar pantat indahnya hingga akhirnya..

“Mmmaaaassshhh !” pekiknya panjang disusul kemudian wanita itu memeluk kuat tubuh bugil suaminya yang berada di bawahnya. Darwis menghentikan gerakannya sambil menekan kuat-kuat tubuhnya agar batang kemaluannya membenam sedalam-dalamnya di lubang kemaluan istrinya Ferry itu. Darwis kembali merasakan remasan dan hisapan lubang kemaluan Dina di seluruh batang kemaluannya. Sambil memberi kesempatan kepada Dina untuk menikmati semuanya terlebih dahulu, jari-jari tangan lelaki itu terus meremas-remas bongkahan pantat Dina.

Untuk beberapa saat lamanya Dina meregang dan mengejang sampai berangsur-angsur badai pucak kenikmatan birahinya mereda. Setelah itu, tanpa dikomando, Darwis kembali menyingkir, memberi kesempatan pada Ferry, suami wanita itu, untuk melanjutkan.

Ferry menelentangkan tubuh bugil Dina, istrinya. Lalu dengan cepat diapun membenamkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluan istrinya itu. Dina kembali merintih merasakan terobosan batang kemaluan suaminya. Dina sungguh-sungguh merasa bergairah sekali merasakan lubang kewanitaannya bergantian dimasuki dua batang kemaluan lelaki berbeda. Kenikmatannya seakan tak pernah berakhir, walau sekujur tubuh bugilnya sudah bermandikan keringat.

Dina tak menyangka, ternyata melayani dua lelaki sekaligus itu, nikmatnya luar biasa dan sangat puas karena dapat mereguk kenikmatan birahi sebanyak-banyaknya.

Kali ini Ferry suaminya yang memberinya kenikmatan. Sementara Darwis menunggu giliran berikutnya sambil duduk disamping tubuh bugil Dina. Tangannya terus menjelajahi permukaan tubuh polos Dina dihadapan suaminya yang sedang sibuk menusuk-nusukkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluan istrinya itu. Dinapun, sambil menikmati tusukan batang kemaluan suaminya dan remasan serta belaian tangan Darwis di kedua payudaranya, jari-jari tangan lembut Dina terus memegangi batang kemaluan lelaki itu seakan takut kehilangan.

Selesai mendapatkan satu klimaksnya lagi, Dina gantian menerima masukan dari Darwis. Sekujur tubuh bugilnya semakin basah kuyup, namun dirinya masih ingin melanjutkan mereguk kenikmatan birahinya itu. Seakan memiliki tenaga ekstra, Dina sungguh-sungguh ingin merasakan selama mungkin liang kewanitaannya bergantian di tusuk-tusuk dua batang kemaluan lelaki pasangan senggamanya itu.

Posisi berikutnya kembali berubah. Kali ini dalam posisi duduk berhadapan dengan suaminya. Sama-sama mengambil peran aktif. Sama-sama bergerak dan sama-sama menikmatinya. Walau kelelahan mulai menderanya, namun Dina masih belum ingin berhenti. Masih ingin menikmati hujaman kedua batang kemaluan itu di liang kenikmatannya.

Namun akhirnya, setelah hampir satu jam lamanya, Dina tak bisa memungkiri daya tahan tubuhnya. Tenaganya seakan telah terkuras habis, sementara bagian vaginanya mulai merasakan linu. Dina meminta diselesaikan dulu dan ingin beristirahat dahulu.

Akhirnya setelah Darwis dan suaminya Ferry menyelesaikan satu putaran lagi dan keduanya mendapatkan hasilnya, Dinapun terkapar tak berdaya namun dengan tingkat kepuasan yang luar biasa. Selangkangannya terasa linu namun kenikmatannya masih terus dirasakannya. Liang kewanitaannya yang akhirnya terbebas dari “serangan” kedua batang kemaluan lelaki pasangannya itu, terasa berdenyut-denyut nikmat. Sementara tubuhnya yang masih polos itu seakan tak bertenaga. Keringat benar-benar membanjiri sekujur tubuh bugilnya. Dina beristirahat dengan diapit oleh Ferry suaminya dan Darwis “suami” keduanya. Mereka bertiga beristirahat untuk kembali mengumpulkan tenaga dan akan melanjutkan babak berikutnya.

Pengobatan

Setelah perkawinan kami memasuki tahun kelima, aku dan istriku mengalami hubungan suami istri yang makin hari makin hampa, karena kesibukan mengurus 2 anak kami yang masing-masing berumur 2 dan 3 tahun. Istriku malas sekali jika diajak berhubungan suami istri, alasannya terlalu capai bekerja sebagai ibu rumah tangga dan mengurus anak. Aku yakin istriku bukan tipe istri yang suka selingkuh, selain taat beragama, norma-norma moral dan kesusilaan sangat dijaga benar oleh istriku, ini dikarenakan istriku berasal dari keluarga baik-baik dan harmonis.
Aku berusaha mencari informasi bagaimana memulihkan hubungan kami supaya normal kembali. Jika kupaksakan berhubungan, istriku berteriak kesakitan, meskipun sudah dengan pemanasan (four play) yang lama. Istriku tidak terangsang sama sekali dan lubang kemaluannya tetap kering, dan jika dipaksakan masuk, dia akan menjerit kesakitan. Aku berusaha mencari alternatif untuk penyembuhan frigiditas istriku ini. Sudah berbagai terapi dan dokter psiater sex yang canggih kami datangi, tetapi tetap saja istriku belum hilang frigiditasnya.
Istriku berumur 28 tahun dan aku 31 tahun, pada awalnya perkawinan kami boleh dikatakan cukup bahagia, namun sekarang karena istriku mengalami frigiditas yang nampaknya permanen, membuatku bingung mencari solusinya.
Sebelum kulanjutkan, aku ingin menceritakan istriku yang bernama Mia, yang kukawinkan 5 tahun yang lalu, untuk ukuran orang Indonesia dia termasuk wanita yang cukup jangkung dengan tinggi 170 cm dengan berat 49 kg. Kulitnya kuning langsat, rambut sebahu, memiliki leher yang jenjang.
Apa yang kusuka dari istriku adalah kakinya yang panjang dan jenjang, serta bibirnya yang tebal dan sensual, buah dadanya tidak terlalu besar namun bentuknya indah mancung ke atas. Yang membuatku penasaran adalah puting payudaranya yang besar, hampir sebesar ujung kelingking, itu yang membuatku senantiasa gemas dan ingin selalu menghisapnya.
Kembali ke masalah tadi. Setelah mendapat informasi dari seorang rekan kerja, dia mengatakan bahwa di daerah Ciputat ada orang pintar/Dukun yang dapat menyembuhkan segala penyakit termasuk penyakit frigiditas seperti istriku ini. Namanya Pak Acan, dia sering dipanggil Abah Acan (bukan nama sebenarnya). Sebenarnya istriku ragu-ragu untuk berobat ke orang pintar itu, namun atas desakanku tidak ada salahnya dicoba.
Singkat cerita, kami pun pergi ke tempat itu, dan memang banyak yang datang dengan berbagai penyakit, kami pun mendaftar dan mendapat giliran terakhir.
Sambil menunggu, aku mengamati pasien-pasien sebelumnya, ternyata terapi orang pintar tersebut adalah dengan memijat dengan menggunakan minyak (seperti minyak kelapa) yang dibuatnya sendiri. Setiap pasien perempuan harus melepas seluruh bajunya, bh dan tinggal celana dalam, dan mengenakan sarung yang disediakan.
Aku sempat mengamati kamar kerjanya yang serupa dengan kamar tidur itu pada saat pintunya terbuka. Beberapa wanita sedang menanggalkan BH dan memakai sarung. Begitu istriku tahu tentang itu, dia hampir saja mengurungkan niatnya untuk berobat karena risih harus buka pakaian segala, apalagi harus melepas BH.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.30, kemudian giliran kami dipanggil ke dalam. Aku pun disuruh masuk oleh assistennya.
Orang itu meperkenalkan namanya, kemudian menanyakan keluhan penyakit istriku, dia pun mengangguk-angguk mengerti dengan syarat seluruh terapi harus diikuti dengan serius tanpa ragu-ragu. Kami pun mengiyakan, asal istriku dapat sembuh.
Kemudian Abah Acan menyuruh istriku menanggalkan pakaiannya, begitu istriku membuka BH-nya, kulihat ekor mata Abah Acan agak terkejut melihat buah dada istriku yang putih dan mancung ke atas itu, serta puting susunya yang cukup besar itu.
Setelah sarung dililitkan di tubuh istriku yang hanya tinggal mengenakan celana dalam, kemudian istriku disuruh tidur telentang di kasur yang sudah disediakan. Aku melihat Abah Acan mulai meminyaki rambut dan kepala istriku dengan minyak, kemudian istriku disuruh duduk, serta merta lilitan sarung yang dipakai istriku terlepas. Kemudian dari arah belakang Abah Acan meminyaki punggung istriku.
Posisi Abah Acan duduk menghadap punggung istriku. Dari arah belakang kedua tangannya mulai meminyaki payudara istriku yang kiri dan kanan, seluruh permukaan payudara istriku diminyaki, dan kemudian aku melihat Abah Acan melakukan pijatan-pijatan yang menurutku sepertinya pijatan pijatan erotis.
Aku juga melihat tangan Abah Acan meminyaki puting susu istriku, tangannya yang hitam dan telapak tangannya yang besar dan kasar itu meminyaki puting susu istriku. Dan aku terkejut ketika aku melihat jari-jari Abah Acan yang besar itu juga memelintir-melintir puting susu istriku yang besar itu. Anehnya aku melihat istriku diam saja, tidak memberikan perlawanan. Sungguh aku heran, dengan aku saja suaminya dia paling tidak suka puting susunya kupegang-pegang tapi ini kenapa, sama Abah Acan dia diam saja?
Puting susu istriku yang dasarnya memang sudah besar itu semakin besar dan keras terlihat semakin kencang dan mencuat karena terus dipelintir, dipencet dan ditekan-tekan oleh jari-jari Abah Acan, yang kiri dan kanan.
Aku semakin mengamati bahwa pijatan Abah Acan tidak lagi memijat, tapi justru meremas-remas kedua payudara istriku. Aku bertanya-tanya dalam hati, kenapa dia tidak memijat bagian tubuhnya yang lain tapi justru hanya kedua payudara istriku saja. Kuperhatikan kedua puting susu istriku semakin besar dan mencuat keras. Sungguh kontras menyaksikan kedua telapak tangan Abah Acan yang hitam dan besar dengan payudara istriku yang putih yang diremas-remas oleh tangan yang kasar.
Aku semakin heran, apakah ini terapi untuk menghilangkan frigiditas istriku? Dan yang lebih aneh, buah dada istriku nampak makin keras dan mengencang seiring dengan puting susunya yang juga mengencang. Apalagi istriku kok diam saja diperlakukan demikian, karena benar-benar kusaksikan Abah Acan bukan memijat, tapi meremas-remas buah dada istriku seenaknya, dan itu dilakukan cukup lama.
Segala macam bentuk pertanyaan timbul dalam hatiku, bayangkan buah dada istriku diremas-remas oleh Abah Acan di hadapan mata kepalaku sendiri, dan aku mendiamkannya. Dan yang lebih aneh lagi sarung yang masih melilit di pinggang istriku diturunkan ke bawah oleh Abah Acan, tentu saja paha istriku yang putih panjang dan mulus langsung terpampang.
Lalu dia berkata kepada istriku, “Neng, tolong dibuka celana dalamnya, Abah mau periksa sebentar..!”
Anehnya entah karena kena sirep atau apa, istriku menurut membuka celana dalamnya tanpa membantah sedikit pun. Tentu saja aku kaget dan lidahku tercekat. Jantungku berdegup dengan kencang. Kok, Abah Acan menyuruh membuka celana dalam istriku. Dan yang membuat jantungku lebih berdegup dengan kencang, kenapa istriku tidak keberatan atas permintaan Abah Acan?
Setelah istriku melepaskan celana dalamnya, aku melihat sendiri mata Abah Acan terkesiap melihat kemaluan istriku, yang bersih tanpa rambut sedikit pun. (Memang bulu kemaluan istriku selalu dicukur, agar nampak bersih) Dan memang aku mengakui kemaluan istriku termasuk indah seperti kemaluan anak gadis umur 14 tahun, dengan kedua bibir kemaluan yang tertutup rapat.
Jantungku semakin berdegup kencang ketika Abah Acan menyuruh istriku berbaring dan sekaligus melebarkan pahanya ke kiri dan ke kanan yang secara otomatis kemaluan istriku terpampang tanpa ada yang menutupi sama sekali.
Lalu Abah Acan berkata, “Neng, Abah mau periksa dalam yah.., Neng tenang-tenang aja, yang penting frigid-nya Nneng bisa sembuh.”
Lalu istriku pun mengangguk tanda setuju.
Dan tanpa kusadari, batang kemaluanku sudah tegang luar biasa, apalagi ketika jari-jari Abah Acan yang berbuku-buku besar itu mulai membelai-belai kemaluan istriku. Dia mulai memijat mijat bibir kemaluan istriku seraya mengolesinya dengan minyak. Jari-jari Abah Acan, yang besar dan berlumuran minyak itu mulai mempermainkan kemaluan istriku. Aku melihat jari telunjuk Abah Acan menyentuh kelentit istriku. Jari tengahnya mulai masuk perlahan-lahan merojok ke dalam kemaluan istriku.
Aku hampir tidak percaya pada pendengaranku, aku mendengar istriku melenguh kecil dan mendesah-desah tertahan, seperti orang yang sedang menahan suatu kenikmatan orgasme (sebenarnya aku senang mengetahui bahwa sebenarnya istriku tidak frigid). Aku melihat mata istriku begitu redup, seperti orang keenakan. Abah Acan tidak hentinya terus mulai memundur-majukan jari tengahnya ke dalam liang kemaluan istriku. Jari tengah Abah Acan yang besar dan hitam itu masuk dengan lancarnya ke dalam kemaluan istriku. Nampaknya minyak pelumas di dalam kemalaun istriku sudah keluar.
Aku terkejut paha istriku semakin dibuka lebar, dan tanpa disadarinya istriku mulai mengoyangkan pinggulnya.
“Oh.. Bah.. oh.., eh.., eh.., eh..!” desahnya.
Istriku kemudian mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi, sudah dipastikan istriku terangsang luar biasa oleh permaianan Abah Acan.
Aku melihat istriku benar-benar menikmati apa yang dilakukan oleh Abah Acan pada dirinya. Jari-jari Abah Acan yang berada di dalam liang kemaluan istriku membuat tubuh istriku yang telanjang bulat itu mengelinjang-gelinjang tidak karuan sambil tangannya mencengkram kasur serta mengangkat pinggulnya dan pantatnya, kemudian mengoyangkannya ke kiri dan ke kanan. Jari tengah Abah Acan yang besar dan kasar itu terbenam dalam sekali di dalam lubang kemaluan istriku. Aku juga melihat jempol jarinya mengosok-gosok klitoris istriku. Sungguh lihay sekali Abah Acan membangkitkan birahi istriku.
Aku melihat mata istriku menandakan keenakan, dimana biji matanya yang hitam tidak nampak, sementara jari-jari Abah Acan terus bergerak mundur maju di antara bibir vagina istriku, dan makin lama jari-jari Abah Acan makin jauh terbenam di dalam vagina istriku. Lalu yang membuat jantungku berdegup kencang, Abah Acan memutar-mutar jarinya yang sedang berada di dalam kemaluan istriku, diputar ke kiri dan ke kanan, lihay sekali dia merojok-rojok kemaluan istriku.
Klitoris istriku juga menjadi perhatian penuh Abah Acan, jempol Abah Acan yang besar dan kasar permukaanya itu terus mengosok-gosok klitoris istriku. Semakin lama nampak klitoris istriku membesar dan menonjol kepermukaan, sungguh pemandangan yang luar biasa. Digosok dan dimainkan sedemikian rupa, klitoris istriku semakin besar sebesar biji kacang tanah, dan istriku pun melenguh tidak karuan menahan kenikmatan yang didapat oleh Abah Acan.
Aku pun semakin tercekat, karena Abah Acan mulai memasukkan tambahan jarinya, yaitu jari telunjuknya yang berbuku-buku besar itu ke dalam kemaluan istriku. Bersama jari tengah dan telunjuknya yang besar itu, Abah Acan semakin menggila mengexplorasi kemaluan istriku serta sering memutar-mutar jarinya di dalam.
Tidak dapat dibayangkan selama ini, aku saja suaminya tidak pernah melakukan apa yang seperti Abah Acan lakukan. Jangankan memasukkan jari ke dalam kemaluannya, menggosoknya dari luar pun istriku tidak mau, alasan istriku tidak hygienis. Susah dibayangkan, bagaimana rasa nikmatnya Abah Acan ketika jarinya masuk ke dalam kemalauan istriku yang kecil dan tertutup rapat itu dirojok oleh kedua jari Abah Acan yang besar-besar itu.
Apalagi tangan kiri Abah Acan yang bebas mulai menggapai payudara istriku dan mulai meremas-remasnya bergantian yang kiri dan kanan serta memelintir-melintir puting susu istriku bergantian. Aku melihat puting susu istriku yang sebesar ujung kelingking itu membesar dan mencuat ke atas karena diperlakukan demikian.
“Ahhh..!” suara desahan istriku makin keras terdengar (sebenarnya istriku paling malu mendesah-desah keenakan seperti ini, biasanya dia tahan, tidak mengeluarkan suara) tapi dengan Abah Acan dia benar-benar tidak tahan.
Sungguh aku heran, dengan Abah Acan, kok jadi lain. Kalau aku suaminya yang melakukan dia tidak mau, jangankan memasukkan jari ke dalam lubang kemaluannya, meremas-remas buah dadanya saja istriku tidak mau, ngilu katanya. Dengan Abah Acan dia merelakan kedua payudaranya diremas-remas, dan membiarkan Abah Acan mempermainkan puting susunya (yang menurut dia sangat geli dan sensitif). Dan yang membuatku tidak habis berpikir dan membuat birahiku semakin naik, kenapa dia membiarkan jari-jari Abah Acan masuk ke dalam lubang kemaluannya, sedangkan aku ditolaknya dengan tegas jika ingin mempermainkan kemaluannya.
Tapi aku tidak dapat berpikir lama lagi, karena aku sedang menyaksikan pemandangan yang sangat luar biasa, dimana istriku sedang menikmati perbuatan Abah Acan. Jari-jari Abah Acan semakin dalam terbenam dan semakin cepat maju mundurnya.
Dan, tiba-tiba aku melihat kedua paha istriku menjepit kencang tangan Abah Acan yang berada di selangkangan istriku. Kedua tangan istriku menarik tangan Abah Acan sambil berusaha menekan pinggulnya ke depan serta menarik tangan Abah Acan dan berusaha menekan jari-jari Abah Acan untuk lebih jauh masuk ke dalam vaginanya.
Istriku merintih histeris tidak tertahan, “Ahh.., ahh.., ahh.., ahhh..!”
Rupanya istriku telah mencapai orgasme dengan sempurnanya.
Abah Acan dapat merasakan cairan istriku telah keluar dan meleleh ke bibir kemaluannya. Dan aku juga melihat wajah Abah Acan sudah memburu penuh nafsu. Dengan perlahan dia membuka celana hitam komprangnya, kemudian membuka celana dalamnya, lalu tersembul lah batang kemaluan Pak Acan yang sudah membesar dan menegang itu, yang dikelilingi oleh urat-urat yang besar. Aku pun tercekat memandang batang kemaluan Aban Acan yang besar dan panjang itu. Jantungku berdegup dengan kencangnya.
Lalu Abah Acan menoleh kepadaku, “Pak, Bapak rela tidak sebagai suami, demi untuk kesembuhan istri Bapak ini, istri Bapak musti saya suntik dengan ini,” sambil menunjukkan batang kemaluannya yang besar itu, “Saya harus menyetubuhi istri Bapak sekarang. Biar frigidnya hilang.”
Aku pun terdiam, pikiranku berkecamuk, tiba-tiba seperti suara halilintar yang memecahkan telingaku, istriku berkata, “Biar saja Abah Acan, saya mau, yang penting.. saya bisa sembuh.”
Jantungku berdegup kencang, tapi tubuhku menjadi lemas mendengar perkataan istriku barusan. Istriku rela disetubuhi oleh orang yang baru dikenal, bahkan dilakukan di depan suaminya, seingatku Mia adalah istriku yang paling setia, alim dan tidak pernah macam-macam, tapi kenapa sekarang jadi begini, apakah kena guna-guna..? Sirap..? Atau apa..?
Aku tidak dapat berpikir lebih lama lagi, dengan perlahan dan pasti Abah Acan mengarahkan topi bajanya ke dalam kemaluan istriku. Istriku pun juga cukup kaget melihat topi baja Abah Acan lebih besar dari batang kemaluannya. Dan sialnya, sepertinya istriku tidak sabar menunggu batang kemaluan Abah Acan menghampiri kemaluannya. Tanpa rasa malu sedikit pun, istriku menarik pinggul Abah Acan dengan kedua belah tangannya untuk cepat merapat ke selangkangannya.
Tapi ternyata Abah Acan sadar diameter kemaluannya yang hampir 3 cm itu memang terlalu besar untuk kemaluan istriku yang mungil dan imut-imut itu, (sebenarnya ada perasaan minder dalam diriku, karena batang kemaluanku jika dibandingkan dengan Abah Acan jauh lebih kecil).
Perlahan Abah Acan mengosok-gosok topi bajanya di permukaan kemaluan istriku yang kecil dan mungil itu. Aku pun deg-degan melihat pemandangan yang spektakuler itu, apa bisa masuk seluruh batang kemaluan Abah Acan ke dalam vagina istriku..?
Aku melihat wajah ketidaksabaran istriku karena Abah Acan belum memasukkan seluruh batang kemaluannya ke dalam liang vaginanya. Nampak wajah protes dari istriku dan Abah Acan mengerti. Perlahan dan pasti topi baja Abah Acan sudah mulai terbenam masuk ke dalam kemaluan istriku. Mata istriku mendelik-delik ke belakang, merasakan kenikmatan yang luar biasa, dan membuat perasaan iri menjalar di tubuhku. Istriku memeluk tubuh Abah Acan dengan kencangnya, seolah tidak mau melepas batang kemaluan yang sudah masuk ke dalam vaginanya.
Istriku semakin memperlebar kedua pahanya lebar-lebar, ke kiri dan ke kanan, mempersilakan batang kemaluan Abah Acan masuk tanpa hambatan. Kini seluruh batang kemaluan Abah Acan sudah terbenam di dalam liang vagina istriku. Abah Acan tidak langsung memainkan batang kemaluannya, dibiarkannya sesaat batang kemaluan itu terbenam, ini membuat istriku makin gelisah. Dan sungguh di luar dugaan, Abah Acan berusaha mencium bibir istriku yang sensual itu, aku menyaksikan bagaimana bibir Abah Acan yang hitam itu melumat bibir istriku yang tebal dan sensual itu.
Aku tahu sebenarnya istriku tidak mau dicium oleh sembarang pria, tapi karena desakan birahi yang meluap-luap, mau juga istriku membalas ciuman Abah Acan dengan ganasnya. Kulihat mereka berpagutan, namun istriku sudah tidak tahan.
Dia berkata, “Ayo dong.., Abah Acan, mulai..!”
Perlahan dan pasti Abah Acan mulai memaju-mundurkan batang kemaluannya di dalam vagina istriku. Aku melihat disaat batang kemaluan Abah Acan menghujam ke dalam, bibir kemaluan istriku pun ikut melesak ke dalam, dan disaat batang kemaluan tersebut ditarik keluar, bibir vagina istriku pun ikut melesak keluar. Hal ini dikarenakan batang kemaluan Abah Acan yang terlalu besar untuk ukuran vagina istriku yang kecil dan imut itu.
Aku melihat wajah istriku merah padam, menahan kenikmatan yang luar biasa. Matanya terpejam-pejam saat menerima hujaman batang kemaluan Abah Acan serta bibirnya mendesis-desis. Ternyata istriku sangat menikmati persetubuhannya dengan Abah Acan, dikarenakan memiliki batang kemaluan yang besar dan panjang. Sementara aku melihat wajah Abah Acan, matanya merem melek, menikmati liang vagina istriku yang kecil dan imut-imut itu.
Tanpa ada rasa malu, di sela-sela rengekan nikmat yang keluar dari bibir istriku, aku mendengar dia berkata, “Ahh… Ayo dong.. Bah Acan, cepetan..!”
Rupanya istriku sudah ingin mencapai orgasme. Istriku semakin cepat menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, dan mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi. Dan benar saja, Abah Acan semakin mempercepat permainannya, topi baja dan batang kemaluan Abah Acan yang dikelilingi oleh urat-urat yang besar sekarang begitu mudahnya masuk keluar dari dalam liang kemaluan istriku yang sempit itu.
Sukar dibayangkan, batang kemaluan Abah Acan yang demikin besar itu dapat menerobos masuk dan keluar dengan mudahnya, ini dikarenakan pasti istriku sudah mengeluarkan cairan pelumasnya begitu banyaknya. Tapi karena saking besarnya batang kemaluan Abah Acan, bibir kemaluan istriku tetap melesak ke dalam atau ke luar ketika dihujam maupun ketika dicabut.
Ini merupakan pemandangan yang sangat menakjubkan, cepatnya batang kemaluan Abah Acan masuk dan keluar, diikuti dengan cepatnya bibir vagina istriku melesak ke dalam dan keluar. Aku pun sudah tidak tahan untuk melakukan masturbasi melihat istriku disetubuhi oleh laki-laki yang belum dikenal dengan batang kemaluan yang luar biasa besarnya.
Abah Acan ternyata tidak mau rugi sama sekali, apabila diperbolehkan menyetubuhi istri orang dalam rangka penyembuhan, harus dimanfaatkan sebaik mungkin, tidak boleh ada bagian tubuh yang dilewatkan. Memang sungguh keterlaluan, sempat-sempatnya Abah Acan melahap kedua buah dada istriku yang terguncang-guncang terkena hentakan batang kemaluannya.
Dengan rakus disedot-sedotnya puting susu istriku dengan kuatnya yang kiri dan kanan bergantian, sungguh Abah Acan menikmati puting susu istriku yang sebesar ujung kelingking itu (seperti anak kecil ngempeng dot). Pasti nikmat karena terasa puting itu di mulut yang menghisapnya.
Efek dari ini semua istriku tidak tahan untuk berteriak-teriak menikmati kenikmatan yang amat sangat yang belum pernah dirasakan. Dan tiba-tiba aku melihat tubuh istriku mengejang kaku dan bergetar seperti dialiri listrik ribuan volt. Tangan dan kakinya memeluk Abah Acan dengan kuat seperti lengket.
“Ahh.., ahh… Ahh..!” tangannya mencakar punggung Abah Acan hingga berdarah dan bibirnya mengigit lengan Abah Acan hingga berdarah pula.
Pinggul istriku diangkat menempel di tubuh Abah Acan, seolah tidak dapat lepas, istriku mengalami orgasme yang luar biasa hebatnya, yang seumur hidup belum pernah dirasakannya.
Sementara Abah Acan pun sudah tidak tahan, dia mempercepat kocokannya. Dan akhirnya ketika ingin memuntahkan laharnya, dia cepat mencabut batang kemaluannya yang besar dan berurat itu dan ditumpahkannya cairannya diatas pantan bulat istriku.
Setelah selesai, Abah Acan menyuruh istriku mandi air kembang yang disediakannya dan memberikan beberapa ramuan kepadaku untuk diminumkan istriku. Kemudian Abah Acan juga memberikan semacam dildo dari karet, untuk menstimulir birahi istriku, karena katanya istriku hanya dapat orgasme dengan ukuran penis yang besar dan panjang minimal dengan diameter 2 cm dan panjang 20 cm.
Ketika hendak pulang, kutanyakan berapa ongkos tarif terapi yang baru saja dilakukannya. Dikatakannya gratis, untuk istriku karena sudah dibayar dengan tubuh istriku. Dia mengatakan aku merupakan pria yang beruntung mempunyai istri yang lubang kemaluannya kecil dan peret meskipun sudah beranak 2.
Demikianlah pembaca. Setelah kejadian di tempat Abah Acan, istriku sudah mulai berangsur-angsur sembuh dari frigidnya, dan terus menjalankan terapi serta minum ramuan yang dibuat oleh Abah Acan.

from :  http://pelangicinta30.wordpress.com/2011/02/09/pengobatan/

GAIRAH MELIHAT ISTRIKU DI ENTOT ORANG LAIN

Cerita Sex Istriku Dientot Temanku, Namaku Iyan biasa dipanggil iyan, aku tinggal di tengah-tengah kota Jakarta, saat ini pekerjaanku adalah seorang IT pada beebrapa perusahaan di Jakarta, bandung dan Semarang. Usiaku saat ini 29 tahun, karena pekerjaanku sebagai wiraswasta di luar kota kota Jakarta, aku sering sekali berpergian keluar kota. Bahkan terkadang aku hanya satu atau dua hari tinggal di rumahku di daerah Rawamangun Jakarta Timur. Istriku bernama “Nur” usianya 25 tahun lulusan salah satu universitas swasta di Jakarta. Alhamdulilah aku dikarunia seorang putera yang sedang lucu-lucunya bernama “firman” dengan usia 1,5 tahun. Ditengah kesibukanku yang teramat sangat itulah aku sering kali tidak bisa memenuhi hasrat biologis istriku.
Sudah hamper 3 tahun aku menikahi istriku yang selalu diliputi rasa bahagia dan lumayan berkecukupan. Hari-hari kami selalu kami jalani dengan indah, aku bersyukur sekali ternyata Tuhan sangat baik padaku, sehingga aku mendapatkan istri yang benar-benar sangat sayang dan penuh pengertian. Setiap aku ingin minta berhubungan sex dengan istriku, dia tidak menolak dan bahkan selalu memberikanku kepuasan yang tidak digambarkan dengan kata-kata. Meskipun aku sendiri juga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kepuasan sexual istriku. Tiap kali berhubungan aku selalu bertanya dan berdiskusi tentang permainan sex kami, sehingga kami bisa saling memahami kekurangan kami masing-masing. Bahkan setelah itu istriku biasanya meminta berhubungan sex lagi sampai berkali-kali dalam satu malam.
Sampai pada suatu hari istriku mengeluh padaku, tentang profesiku yang selalu meningalkan rumah sampai berhari-hari. Padahal istriku ingin sekali merasakan kehangatan belaianku yang hingga akhirnya sampai berhubungan sex. Tetapi mau gimana lagi, aku tetap sulit menerima keinginannya, karena itu adalah sudah menjadi resiko tanggaung jawab ku dalam profesiku ini. Aku sudah memberikan pengertian baik-baik kepada istriku, walaupun pada akhirnya istriku mengerti dengan keadaanku ini. Tetapi tetap saja aku tidak tega.
Aku tahu pasti kalau istriku sangat setia padaku, karena istriku adalah istri yang taat pada agama. Setiap keluar rumah dia selalu menjaga pandangannya, tak lupa dia sellau mengenakan jilbabnya ketika keluar dari rumah. Banyak temanku bilang kalau istriku itu sangat cantik, tingginya 160 cm / 152 kg, kulit putih dan wajahnya seperti maudy kusnaedi, apalagi payudaranya mnotok banget dengan ukuran 36b. aku paling suka meremas dan menghisap payudaranya, tidak ada bosan-bosannya walaupun hampIr tiap hari aku meremasnya.
Hari semakin hari, bulan semakin bulan terus berlalu, aku melihat istriku adalah type wanita yang mudah sekali terangsang dan nafsunya sulit dikendalikan bila diatas ranjang. Dia selalu sekuat tenaga melepaskan hasrat sexnya jika ku pulang kerumah, tidak siang ataupun malam, hari-hariku selalu tidak lepas dari kata sex. Aku maklumi karena aku hanya pulang satu hari dalam seminggu. Ditengah kegalauanku akupun mendiskusikan masalah ini kepada istriku. Terus terang akupun sangat kewalahan melayani nafsu sex istriku yang menurut saya “sangat gila” karena aku pikir aku juga ingin sekali menghabiskan satu hari in dirumah untuk istirahat.
Setelah aku berdikusi cukup lama dengan istriku barulah aku mengambil kesimpulan bahwa dia cukup menderita dengan kepergianku. Dia selalu melampiaskan hasrat sexualnya dengan melakukan mastrubasi dengan tangannya. Aku tidak habis pikir kenapa ini bisa terjadi, kasian sekali istriku. Tapi bagaimanapun juga istriku tidak selingkuh dengan pria manapun demi kesetiannya terhdap aku.
Akhirnya aku memiliki ide yang cukup gila untuk menuruti keinginan istriku ini, ya memang ini cukup gila dan melanggar kaedah agama. Tetapi mau gimana lagi ini sudah menjadi kesimpulanku untuk mengakhiri penderitaan istriku. Aku mencoba merayu istriku agar melampiaskan sexnya kepada orang lain yang bisa memuaskan dirinya selama aku tidak berada di rumah. Awalnya istriku menolak karena alasan agama dan memang tidak pantas dirinya dijamahi orang lain selain aku. Tetapi setelah aku memberikan pengertian dengan beberapa perjanjian-perjanjian yang harus ditepati diantara kami berdua. Sampai pada akhirnya kami menyepakati ide itu, dengan catatan istriku bisa bermain sex dengan hanya satu orang laki-laki selain diriku yang aku pilih, selain itu aku memberikan peringatan kepadanya agar jangan sekali-kali memasukkan spermanya kedalam vaginanya.
Setelah aku pikir-pikir aku telah memilih sosok laki-laki tampan dengan usia 20 tahun bernama Irwan, dia adalah rekan kerjaku ketika kami masih bekerja diperusahaan swasta pada beberapa tahun yang lalu, dia juga sudah punya istri dan dua orang anak, kebetulan sekali saat ini masih nganggur. Langsung saja aku mengajaknya bertemu empat mata di sebuah rumah makan. Tanpa basa basi lagi aku langsung mengajaknya bekerja mulai pukul 17:00 sampai 22:00 malam. Tugasnya hanya melayani dan memenuhi hasrat sexual istriku. Tetapi sebelumnya aku ingin sekali melihat bagaimana dia melayani istriku diatas ranjang di hadapanku.
Seminggu kemudian, setelah aku pulang dari luar kota saya dan istri saya sudah ceck in di sebuah hotel di daerah matraman Jakarta Pusat tepat pukul 17:00 BBWI. Sedangkan Anakku sudah aku titipkan ke orang tuaku, kini aku sedang menantikan kehadiran Irwan yang janjinya akan datang tepat pukul 18:00. di dalam kamar hotel tersebut, istriku kuperintahkan untuk mengenakan pakaian yang ketat dan sexy yang sengaja aku belikan dari Bandung. Jangankan irwan, aku saja yang sudah sering melihat istriku masih nafsu ketika memandang istriku berdandan seperti ini. Saat ini istriku mengenakan kaos putih ketat yang didalamnya hanya dibalut bra tipis, sedangkan bawahannya mengenakan rok bahan warna hitam yang panjangnya sampai selutut tapi belahannya hampir memamerkan seluruh pahanya yang putih dan mulus. Bibirnya dipoles dengan lisptik warna transparan dengan rambut panjang terurai rapi di atas bahunya. Sesaat aku melihat wajahnya begitu tegang manantikan kedatangan Irwan, sesekali aku menyentuh dadanya berdegap kencang tak karuan menantikan saat-saat yang menegangkan ini.
Tak lama kemudian, aku mendengar suara ketukan pintu, setelah aku buka ternyata benar Irwan sudah datang. Aku persilahkan masuk dan sembari menikmati minuman dingin dan makanan kecil yang baru saja kami beli. Sebelumnya aku bertanya kepada istriku apakah istriku suka pdanya, rupanya tanpa pikir panjang dia menjawab itu adalah terserah saya, kalau saya setuju maka dia juga menuruti perintah saya. Ya pada akhirnya aku mempersilahkan Irwan mendekati istriku di ranjang yang cukup lebar dan luas ini.
Jantungku berdebar-debar melihat istriku yang kelihatnnya tampak tegang setelah disentuh oleh tangannya Irwan. Aku melihat Irwan sosok pria yang lembut, dia tidak langsung menyambar istriku dengan sentuhan-sentuhan yang mengarah pada bagian sensitifnya. Awalnya Irwan memeluk istriku yang duduk tersipu malu menghadap sebuah cermin yang terpampang di depannya. Irwan memeluk kepala istriku dengan lembut meskipun aku lihat istriku sangat kaku sekali. Aku hanya duduk di samping kanan ranjang itu, memang agak jauh karena kamar hotelnnya juga cukup besar bagi ukuran untuk 3 orang. Kelihatannya aku lihat Irwan cukup sabar memeluk istriku, sambil mencunbu istrku, dia tidak sungkan-sungkan mengucapkan kata-kata yang entah aku juga tidak mendengarnya. Berkali-kali pipinya dicium oleh Irwan, tanpa canggung-canggung Irwan juga mencoba menciumi tangan, leher, hidung dan jidatnya. Istriku hanya diam saja, pdahal kalau aku main sex dengan istriku dia selalu rajin menciumi semua daerah kapalaku sampai air liurnya membasahi permukaan wajahku.
Kini Irwan mencoba mencium bibir istriku dengan lembut, kudengar dari kejauhan suara bercakan bibirnya yang saling beradu. Aku lihat istriku juga membalas ciumannya dengan sesekali menggerakan tangannya di bahu Irwan. Ketika beberapa saat ciuman, nampaknya Irwan sudah berani menggerayangi tubuh istriku, awalnya dari punggungnya sampai kini daerah payudaranya, tangan kirinya seperti sudah melekat di payudara kiri istriku. Dia mencoba meraba-raba sambil mencoba meremas-remas dengan lembut. Dapatkan cerita tukar pasangan lainya di ceritaserudewasa.info. Aku merasa sangat menggairahkan melihat adegan ini, apalagi ketika mereka berdua melakukan ciuman yang dahsyat, rasanya sudah beberapa kali mereka melakukannya. Tak lama kemudian Irwan melepaskan ciumannya dan kedua tangannya mengarah ke kedua buah payudara istriku, dua tangannya mencoba meremas-remas payudara istriku dengan berbagai macam variasi.
Istriku hanya terlihat pasrah saja, kedua tangannya ada dibelakang pinggangnya untuk menahan serangan tubuhnya. Irwan sudah tak sabar untuk membuka kaos dikenakan istriku, dia menarik kedua tangan istriku ke atas dan membukakan kaosnya, yang selanjutnya membuka kancing bra. Ouwww.. rupanya payudara istriku sudah terpampang jelas tanpa sehelai benagpun di hadapan Irwan yang nampaknya sudah bersiap-siap melahap payudara istriku.
Kini istriku tidur terlentang mengikuti arahan Irwan, tanpa ragu lagi Irwan melahap payudaranya. Tak henti-hentinya mulutnya menjilat-jilat putingnya sambil meremas-remas payudaranya. Istriku hanya bisa memegang kepala Irwan dengan menahan kenikmatannya. Desahan-desahan kecil mulai terkuak dari mulutnya, ya memang istriku paling suka dijilati payudaranya, itu merupakan rangsangan yang hebat sebelum melakukan ml. ketika payudaranya terus dihisap, dijilat dan diremas-remas oleh Irwan matanya mulai melihat kea rah ku, aku nggak tau apa yang ingin dia katakan, pastinya dia saat ini mersakan rangsangan yang hebat.
Cukup lama irwan menguasai peyudara istriku, akhirnya kini irwan membuka rok istriku dengan cepat, lalu tanpa ragu lagi dia membuka celana dalam istriku. Ouww pengalaman yang sangat menraik ketika seluruh tubuh istriku terpampang jelas tanpa sehelai benangpun di hadapan Irwan. Hatiku berdebar-debar menantikan apa reaksi irwan selanjutnya. Opsss nampaknya irwan membuka lebar-lebar paha istriku, dan…………….benar-benar aku tidak menyangka dia mulai menjilati vagina istriku yang nampaknya sudah basah karena rangangan yang begitu hebat. Belum lama irwan menjilati vagina istriku, kini istriku mendesah hebat, kedua tangannya mulai mengepaal keras. Kepalanya mulai bergerak tak karuan, kulihat matanyapun sudah tak mampu melihat kejadian ini. Tetapi meskipun begit, istriku masih saja menyebut-nyebut namaku ketika mendesah hebat. Aku senang rupanya istriku bisa merasakan apa yang dia inginkan, ini adalah bukti rasa cintaku padanya. Kini aku melihat wajah irwan benar-benar tenggelam di kedua belah selangkangan istriku, karena paha istriku terus mengggelinjang tanpa arah mejepit kepala irwan yang sedang isbuk menghisap vaginanya.
Setelah permainan ini, irwan bangun dari ranjangnya, lalu dia membuka semua pakainannya sampai dia benar-benar telanjang di hadapan istriku. Ku lihat penisnya cukup besar, meskipun tak jauh ukurannya dibandingkan dengan penisku. Rupanya Irwan sudah tidak sabar ingin memasukkan penisnya kedalam vaginanya. Dalam kondisi yang agak lemas, istriku menwarkan untuk menghisap penisnya, tetapi Irwan menolaknya entah alasannya apa.. Irwan kini sudah berada di depan kedua selangkangan istriku, nampak istriku hanya berposisi terlentang menghadap irwan yang sedang duduk sambil memoles-moles penisnya. Baru saja Irwan merenggangkan selangkangan istriku dan ingin memasukkan penisnya. Istriku langsung memanggilku untuk menghampirinya. Langsung saja aku menghampiri istriku itu walaupun entah apa yang dia inginkan. Kini aku duduk di sebelah kepala istriku dan aku bertanya kepada istriku “kenapa sayang?”, lalu istriku menjawab “ maafkan aku ya sayang, tapi aku tetap cinta dan sayang sama papah, aku ingin papah mengusap-usap kepalaku ketika aku dijamah mas irwan, mau khan?”. Aku hanya mengangguk-nganggukan kepalaku dan mencium keningnya. Setelah itu aku mempesilahkan irwan memasukan penisnya kedalam vagina istriku.
Tak lama kemudian Irwan mencoba memasukkan penisnya ke dalam vagina istriku, sulit juga isrwan memasukkan penisnya kedalam vagina istriku. Akhirnya istriku mencoba membantu dengan tangannya untuk memasukan penisnya. Kini penisnya sudah masuk kedalam vaginanya, sudah kutebak irwan mencoba menggerakkan pantatnya dengan dorongan yang cukup pelan. Memang ini adalah strategi ml yang konvensional yang sudah biasa aku lakukan sehari-hari dengan istriku. Tetapi nampaknya istriku begitu sangat menikmati permainan ini, kulihat dia memejamkan matanya sambil menggigit bibirnya menahan rasa nikmat yang ada pada tubuhnya. Kaki istriku tepat ada di punggung irwan dengan vagina yang sudah terbuka lebar di hadapannya. Sesekali aki melihat penisnya begitu gagah keluar-masuk ke dalam vagina istriku. “papahhh…sshhhhh oouwwwwww…… ppaaahhhhhhhhhhh”, aku benar-benar terkejut mendengar rintihan istriku yang cukup keras itu, tidak biasanya istriku merintih sangat keras. Gerakan tubuhnya bergetar hebat tak beraturan, tak bosan-bosannya Irwan terus menancapkan penisnya ke liang vagina istriku, sambil meremas-remas payudara istriku. Aku hanya mengusap-usap kening istriku yang tampaknya benar-benar berada dalam kondisi orgasme. Disamping aku juga lihat Irwan menikmati permainan ini, dengan mengeluarkan desahan halus yang keluar dari mulutnya.
Hampir 15 menit berlalu irwan belum juga lelah terus mendorong pantatnya ke dalam vagina istriku, aku lihat penisnya begitu kekar masuk kedalam liang kemaluan istriku. Padahal keduanya sudah dibasahi keringat disekujur tubuhnya, walaupun hotel ini menggunakan AC yang sangat dingin. Semakin lama istriku mencoba bangkit dari tidurnya dan memeluk irwan lalu menciumi bibirnya. Owwwww ini adalah making love yang sangat romantis yang pernah aku lihat seumur hidupku. Istriku kini ada di atas pangkuan irwan yang secara bergantian menggoyang-goyangkan pantatnya. Hampir setengah jam kemudian Irwan berisyarat bahwa dia ingin mengeluarkan sesuatu dari kemaluannya, cepat-cepat istriku bangun dari pangkuan irwan, ya benar saja tak lama kemudian irwan memuncratkan spermanya di atas selimut ranjang hotel ini. Lalu istriku mencoba membantu mengocok-ngocok penisnya agar spermanya bisa keluar sebanyak mungkin.
Rupanya permainan ini sudah selesai, aku Bantu istriku mengambilkan tissue untuk mengelap sperma yang masih menempel di tangannya. Irwan bergegas ke toilet untuk bersih-bersih. Terlihat senyuman hangat terpancar di wajah istriku, aku cukup bahagia istrku bisa menikmati kepuasan sexualnya meskipun bukan denganku. Aku coba membantu membersihkan cairan yang ada di lobang vaginanya dengan tissue ini. Lalu tak lama kemudian istriku meninggalkanku untuk ke toilet.

Selingkuh Dengan Tukang Pijat Langganan Suamiku

Pijat memang terbukti mampu meregangkan otot yang kaku dan menyegarkan tubuh. Makanya suamiku setiap malam minggu mendatangkan tukang pijat langgannya kerumahku. Namun setelah mengenal Pak Jono, semua menjadi berubah. Tidak suamiku saja yang tambah segar akan service Pak Jono, aku pun menuai kepuasan tiada tara dengan kehadiran dia di rumahku. Hingga perselingkuhan itu pun terjadi. Berikut cerita panas dari kisah pribadiku yang lebih lengkap.
Aku adalah seorang isteri dari seorang karyawan swasta. Aku punya anak dua. Yang kedua kelas satu. Aku sering nungguin anakku yang kedua di sekolahnya, terutama waktu olah raga.
Guru olah raga anakku bernama Pak Jono. Ia suka sekali bercanda dan berhumor. Tubuhnya tinggi, kurang lebih 175 cm dan berbadan besar dan kekar. Warna kulit agak hitam. Ia baru saja bercerai dengan isteri 4 bulan yang lalu. Jadi ia seorang duda. Selain ia guru olah raga, ia pun pintar memijat. Banyak guru lain minta dipijet olehnya.
Ketika olah raga seperti biasanya ia memakai celana training. Sambil menunggu anakku aku memperhatikan ia yang sedang olah raga bersama murid-murid kelas dua. Begitu aku memperhatikan diantara selangkangannya aku lihat tonjolan yang memanjang dan besar. Aku berkata dalam hatiku, wuh panjang dan besar sekali barangnya.
Suamiku hobi dipijat. Tukang pijat langganannya selama ini adalah pemijat tunanetra.
“Guru olah di sekolah anak kita pintar memijat, ngerti urat lagi katanya. Coba saja mas!” kubilangi suamiku.
“Boleh juga kita panggil ke sini malam minggu depan. Mau enggak dia ngurut malam-malam?”
“Enggak tahu ya .. Coba aku tanyakan besok ya.”
Keesokan harinya aku pergi ke sekolahan dan bertemu dengan Pak Jono.
“Pak, mau enggak mijetin suami saya?” tanyaku. “Tapi kalo bisa malam hari, Pak.”
“Boleh juga asalkan ongkosnya mahal,” katanya sambil bercanda.
Setelah suamiku pulang kantor sambil makan malam aku ceritakan padanya bahwa Pak Jono mau.
“Boleh panggil ke sini tapi malam sekitar jam 22.00,” kata suamiku.
Sampai waktu yang ditentukan Pak Jono datang ke rumahku. Ia ngobrol dengan suamiku sambil bercanda sehingga baru saja kenal suamiku merasa akrab dengannya. Aku duduk di dekat suamiku menemaninya. Kemudian suamiku menyuruhku merapikan kamar depan dekat ruang tamu.
Mulailah suamiku dipijet oleh Pak Jono sambil ngobrol ngalor-ngidul. Pak Jono banyak ngebanyol karena memang ia hobi bercanda. Aku nonton TV sambil tiduran di sofa ruang tamu ngedengerin obrolan Pak Jono dan suamiku.
Suamiku mulai bercerita agak serius dengan suara pelan-pelan.
“Aku ini tidak kuat dalam dalam hubungan seksual. Kenapa, ya? Jadinya isteriku suka marah-marah kalau hubungan intim. Kalau Pak Jono bagaimana dengan isteri Anda?”
“Saya sekarang duda sudah 4 bulan. Kalau dulu sebelum cerai saya kebalikan bapak. Ia kewalahan dengan kemampuan saya sampai ia minta cerai.”
“Wah, hebat kamu ini, Pak.”
Pak Jono yang biasanya suka bercanda mulai berbicara serius.
“Mungkin Bapak terlalu lelah, atau mungkin punya Bapak terlalu kecil dan pendek. Bapak urut yang membesarkan dan memanjangkan saja. Saya hanya bisa mengeraskan saja. Kalau memanjangkan dan membesarkan aku tidak bisa,” katanya pada suamiku.
“Wah, tukang urut yang memanjangkan dan membesarkan itu banyak yang bohong,” kata suamiku.
“Ada yang bener, Pak. Ada teman saya berhasil dari 13 menjadi 17 cm dan menjadi besar lagi,” kata Pak Jono berusaha meyakinkan.
“Pak Jono pernah nyoba enggak?” tanya suamiku selanjutnya.
“Saya tidak perlu karena punya saya sudah sangat panjang dan besar. Panjangnya 19 cm dan besarnya 4,5 inch,” jawab Pak Jono sambil tertawa. “Kalau punya bapak berapa?”
“Punya saya panjangnya 12 cm besarnya 2,5 inch.”
Mendengar obrolan suamiku dan Pak Jono aku berkata dalam hatiku.
“Wuh… besar dan panjang sekali punya Pak Jono, pantesan tonjolannya panjang dan besar dan itu belum bangun. Apalagi kalau barangnya sudah bangun.”
Aku jadi berkhayal, kalau seandainya…. Wah, nikmat sekali…
Setelah mereka selesai aku pura-pura tidur. Kemudian suamiku membangunkan aku.
“Bagaimana, Mas? Cocok enggak pijetan Pak Jono?” tanyaku setelah Pak Jono pulang.
“Wah bagus sekali, lebih bagus daripada langganan saya. Sekarang saya mau langganan sama Pak Jono saja. Saya sudah bilang kalau saya mau pijet tiap malam minggu.”
“Kalau kamu mau juga, boleh coba malam minggu depan. Pijetannya bagus kok. Badanku rasanya enteng dan enak sekali,” kata suamiku
“Aku mau, tapi malu mas, nanti ia cerita di sekolahan.”
“Ya enggak sih, nanti kita bilangin jangan cerita-cerita pada orang lain.”
Keesokan harinya saya ketemu Pak Jono. Sambil tersenyum, ia langsung bertanya padaku.
“Bagaimana Bu? Cocok enggak Bapak dengan pijetan saya?” tanya Pak Jono padaku.
“Cocok sekali… Malam minggu depan bapak disuruh suamiku pijet lagi. Bahkan suamiku mau langganan.”
“Ya.. Bapak sudah bilang sama saya.”
Setelah suamiku menawarkan untuk diurut oleh Pak Jono, hatiku tidak karuan, membayangkan bermacam-macam, bercampur takut dan ingin merasakan sesuatu. Karena memang aku jarang menemukan kepuasan dengan suami. Selain punya suamiku lemes, barang kecil dan pendek dan tidak tahan lama.
Hampir-hampir setiap malam aku membayangkan penis punya Pak Jono. Aku berkata dalam hati, barang Pak Jono pasti kehitam-hitaman, besar dan panjang. Biasanya orang yang agak hitam itu kuat, mana badannya tinggi, besar dan kekar. Pokoknya sangat jantan. Kayak apa kalau badan yang besar itu menindiku dan memelukku keras-keras, sementara badanku langsing seperti ini, dan tinggiku hanya 155 cm. Apa kuat aku ditindih badan raksasa itu. Apa bisa masuk barang sebesar itu ke lobangku yang kecil ini. Apa tidak mentok kesakitan bila barang yang keras dan panjang ditekan ke lobangku dengan tenaga yang raksasa. Pokoknya aku membayangkan antara takut dan ingin merasakan.
Kata teman-temanku barang gede dan panjang itu sangat nikmat sekali. Saking nikmatnya, katanya sampai ngeyut ke ubun-ubun.
Malam ini malam minggu, Pak Jono akan datang. Hatiku berdebar-debar. Jam menunjukkan 21.30. Tak lama kemudian Pak Jono datang. Suami mempersilahkan masuk, dan bilang padanya bahwa aku mau juga dipijet malam ini, dan suamiku minta tidak bercerita macam-macam ke orang lain. Pak Jono menjawab, “Ya, tidak dong, Pak.”
Suamiku mulai diurut. Kurang lebih jam 23.00 suamiku selesai diurut.
Sekarang giliran aku yang akan diurut. Aku pakai kain sarung. Suamiku tiduran di sofa di ruang tamu sambil nonton TV.
Aku mulai tengkurep, hatiku dag-dig-dug. Pak Jono mulai menyingkap kain sarungku di bagian betis dan memegang betisku sambil mengurut pelan-pelan, aku merinding merasakan urutan Pak Jono, karena sebelumnya aku membayangkan sesuatu yang nikmat.
Kini Pak Jono membisu seribu bahasa tidak seperti biasanya suka bercanda dan berhumor, mungkin menikmati pandangan terhadap betisku yang mulus. Maklum ia menduda 4 bulan. Semakin merinding dan berdebar-debar hatiku ketika Pak Jono meletakkan kakiku ke pahanya. Sambil mengurut ia maju sedikit-sedikit sehingga kakiku menyentuh ke bagian selangkangannya sehingga terasa kakiku menyentuh benjolan yang mulai mengeras.
Dengan suara pelan dan terpatah-patah Pak Jono bertanya.
“Paha ibu mau diurut?”
“Ya pak, memang di bagian itu agak terasa nyilu-nyilu. Pelan ya, Pak,” aku pun menjawab dengan suara pelan.
Pak Jono mulai menyingkap pelan-pelan sarungku sampai di bawah sedikit pinggulku. Ketika Pak Jono mengurut pahaku sampai ke selangkanganku, aku merintih dengan suara pelan-pelan takut kedengaran suamiku. Pak Jono pun terasa meningkat rangsangannya terasa dari sentuhan tangannya yang kadang-kadang mengurut sambil mengelus dan meremas pahaku apalagi ketika sampai di selangkanganku.
Semakin timbul sensasi yang luar biasa ketika Pak Jono membuka kain sarungku di bagian atas pinggulku dan memelorotin cdku sedikit ke bawah. Kini ia mulai mengurut sambil meremas-remas pinggulku, dan rangsanganku semakin tinggi, aku merintih dengan suara pelan. Dan Pak Jono tahu kalau merangsang, aku juga tahu kalau Pak jono juga merangsang.
Aku berkata dalam hatiku: sebelum aku diurut dalam posisi terlentang, aku akan pamit sama Pak Jono untuk buang air kecil sambil aku ingin melihat apakah suami sudak tertidur atau belum.
Ketika Pak Jono menyuruhku terlentang, aku berkata kepadanya: “Aku mau ke kamar mandi dulu untuk buang air kecil.”
Ketika keluar kamar aku lihat suamiku tertidur pulas mungkin karena lelah seharian dan habis diurut.
Di kamar mandi aku berkata dalam hati. Kalau nanti sarungku disingkap sampai ke selangkanganku dalam posisi terlentang, pasti Pak Jono akan melihat bulu jembutku. Ia akan semakin merangsang. Aku menginginkannya meraba vaginaku dan memasukkan jarinya ke lobang vaginaku.
Setelah masuk ke kamar, aku bilang bahwa suamiku tertidur lelap. Ketika mendengar kataku Pak Jono semakin bersemangat.
Kini aku terlentang di hadapan Pak Jono. Dan Pak Jono tidak was-was lagi ia membuka sarungku sampai ke selangkanganku. Aku memenjamkan mata sambil menggigit bibirku.
Kini Pak Jono tidak memijat lagi tetapi ia mengelus-elus dan meremas-rema pahaku dengan gemesnya. Kini ia melihat bulu jembutku dan mengelus-elus bibir vaginaku, dan semakin tidak tahan rasanya aku ingin memegang barangnya Pak Jono sambil penasaran tapi malu. Pak Jono semakin berani menusukkan jarinya ke lobang vaginaku yang sudah membasah dengan ledir.
Aku mulai memberanikan diri meraba selangkangan Pak Jono. Dan Pak Jono membuka resleting celananya. Sambil aku melirik ke selangkangannya, Pak Jono mengeluarkan rudalnya. Aku terkejut astaga besar dan panjang sekali. Warnanya kehitam-hitaman, nampak urat-uratnya mengeras, dan kepala rudal jauh lebih besar lagi dari batangnya. Aku menggenggamnya tapi genggamanku tidak muat saking besar.
Sambil mengelus-elusnya, aku bayangkan kalau rudal yang kepalanya sangat besar ini dimasukkan ke lobangku. Apakah tidak robek lobang vaginaku dan jebol lobang rahimku. Sensasiku semakin meningkat. Perasaanku bercampur ingin menikmati dan takut robek dan jebol.
Pak Jono kini semakin ganas mengocok lobang vaginaku dengan jarinya, dan aku sangat ingin ditindihi dan disetubuhi tapi takut kalau suami bangun kalau mendengar jeritanku. Sambil mengocok Pak Jono menciumi pipiku. Pelan-pelan ia lalu mengecup bibirku, semakin lama ia semakin ganas mencipoki, aku pun terangsang berat.
Kemudian ia memelukku dan menindihku sambil berusaha menyingkap sela-sela samping CD-ku untuk memasukkan rudalnya, tapi tidak berhasil masuk. Kemudian ia menekan lagi.
“Aduh…” jeritku sambil menggigit bibirku tidak tahan.
Tekanan kedua kalinya ini tidak berhasil memasukkan rudalnya ke lobang vaginaku. Kemudian ia menekan lagi dengan tenaga yang super keras dan hampir masuk, tapi terdengar suara suamiku mengegok. Pak Jono dan aku pun kaget terbangun dan menutupkan sarungku ke seluruh tubuh. Dan aku mengakhiri pijetan.
Kemudian aku membangunkan suamiku. Pak Jono pun pamit pulang karena memang sudah larut malam. Kemudian aku mengajak suami masuk kamar, aku sudah tidak tahan. Barang suami juga mengeras tidak seperti biasanya. Kini aku menyalurkan rangsanganku dengan suami sambil membayangkan disetubuhi Pak Jono. Malam itu aku benar-benar merasakan puncak orgasme yang luar biasa tidak seperti biasanya, juga suamiku.
“Ma… Malam ini tidak seperti biasanya. Urutan Pak Jono memang luar biasa membuat kita benar-benar mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa. Kita minggu depan urut lagi ya, Ma…” kata suamiku.
Hari-hari aku hidup dalam bayangan: Kalau malam minggu depan suamiku tidak ada di rumah, aku akan menyiapkan minyak pelumas agar dioleskan ke lobang vaginaku. Aku membayangkan barang Pak Jono yang besar dimasukkan sambil melelukku, menyepokiku dan menggenjotku. Membayangkannya saja sangat nikmat apalagi benar-benar dimasukkan. Sambil rasa khawatir kalau lobangku nanti robek dan lobang rahimku jebol.
Kini malam minggu datang, hatiku berdebar-debar membayangkan sesuatu yang besar dan panjang, membayangkan lobang vaginaku membengkak lebar, dan lobang rahim diterobos barang besar. Pak Jono datang memakan pakaian yang serasi nampak sangat gagah dan manis. Ketika suami ngobrol dengan Pak Jono telpon berdering. Ternyata teman suamiku mengajak ke luar kota untuk mengurus bisnisnya.
“Ya nanti setelah dipijet,” jawab suamiku.
Malam ini aku semakin yakin bahwa aku akan disetubuhi dengan Pak Jono.
“Ma… saya nanti setelah diurut akan pergi ke luar kota,” kata suamiku padaku.
“Jadi, saya tidak usah dipijat, habis tidak ada Mas.”
“Tidak apa-apa pijet saja, Pak Jono orangnya baik, aku sudah percaya kok.”
Mendengar pernyataan suamiku, hatiku girang karena sebentar lagi pasti aku disetubuhi oleh Pak Jono yang berhari-hari aku membayangkannya.
Setelah suamiku selesai diurut ia mandi. Dan Aku bilang pada Pak Jono, “Tunggu dulu ya pak, minum-minum dulu kopinya. Aku mau menyiapkan pakaian bapak untuk ke luar kota.”
Setelah suamiku menyiapkan semua yang akan dibawa ke luar kota, ia pamit ke Pak Jono. Aku mengantarkan sampai pintu gerbang.
Begitu Bapak berangkat hujan turun rintik-ritik. Aku masuk ke ruang tamu dan bilang sama Pak Jono, “Tunggu dulu ya pak, aku pakaian dulu.”
Aku memakai sarung dan kaos… dan sengaja aku tidak memakai BH dan celana dalam.
Begitu aku keluar, sorotan mata Pak Jono menatap payudaraku, aku tersenyum. Aku duduk di kursi sebentar. Aku bayangkan bahwa Pak jono duda selama 4 bulan, berarti ia tidak berhubungan selama 4 bulan. Aku yakin ia tidak jajan sembarangan. Aku begitu yakin malam ini aku akan digenjot berkali-kali dan berjam-jam. Memang aku ingin sekali berhubungan badan sepuas-puasnya.
Sekarang aku memilih kamar untuk urut di bagian belakang, agar jeritanku yang keras nanti tidak terdengar oleh siapapun. Aku mengajak Pak Jono ke kamar belakang, dan hujan turun cukup deras sehingga cuaca dingin mengantarkan impianku, dan tidak akan terdengar suara apa pun kecuali jeritanku, bunyi cipokan yang mengganas, dan bunyi lobang vaginaku yang digenjot oleh kepala rudal besar dan tenaga yang super keras.
Kini aku beduaan yang sama mengharapkan kepuasan seksual dengan sepuas-puasnya. Pak Jono membuka kain sarungku dan tinggal kaos yang menutupi payudaraku. Ia meremas-remas pahaku. Aku mengelinjang-gelinjang. Kemudian Pak Jono membuka celananya. Rudalnya tegang, membesar dan memanjang. Uratnya mengeras dan kepala rudalnya membesar sekali. Ia menciumi pahaku terus ke bibir vaginaku. Aku sudah tidak tahan karena mulai tadi sudah merangsang karena membayangkan kenikmatan yang sebentar lagi akan aku rasakan.
Ia membuka bajunya dan kaosku. Kini kami berdua telanjang bulat. Hujan turun makin lebat, jam menunjukkan 23.00. Ia meremas-remas tetekku sambil mengocokkan jarinya ke lobang vaginaku.
“Pak, masukkan… aku sudah tidak tahan.”
“Aku juga tidak tahan, aku sudah 4 bulan tidak pernah berhubungan badan, aku ingin malam ini benar-benar puas, mungkin aku main sampai pagi,” timpal Pak Jono.
“Aku juga pak… Aku serahkan semua tubuhku pada Pak Jono. Tapi, oleskan minyak pelumas yang kusiapkan ini ke lobang vaginaku dan ke rudal Bapak agar aku tidak merasakan sakit.”
Aku siapkan parfum dan minyak pelumas yang harum.
“Bu… lobang Ibu kecil sekali,” katanya begitu ia mengoleskan minyak pelumas dicampur dengan ludahnya.
Kini Pak Jono mengangkangkan pahaku lebar-lebar. Pelan-pelan ia menindihiku. Aduh rasanya berat sekali. Ia arahkan rudal besar dan panjang itu lobang vaginaku. Ia menekan, tapi tak berhasil masuk. Kedua kalinya ia menekan lagi dan tidak juga berhasil masuk, aku menjerit kesakitan.
“Pertama rasanya agak sakit, karena lobang ibu kecil sekali, dan barang saya besar sekali, jauh tidak ngimbang,” katanya merayuku.
Ketiga kalinya ia mengolesi lobangku dengan minyak pelumas banyak sekali sampai meleleh ke lobang anusku, ia campur air ludahnya. Ia mengolesi juga rudalnya dicampur dengan ludahnya, kemudian ia menekan rudal besar, panjang, hitam dan keras sekali. Ia menekannya dengan tenaga yang super keras, akhir masuklah kepala rudal besar itu, dan aku pun menjerit kesakitan.
Ia terdiam, menahan sejenak, sambil menindihiku dan menciumiku, merayu dan berbisik ke telingaku.
“Ditahan sakit dahulu ya, nanti Ibu akan merasakan kenikmatan yang luar biasa.”
Aku mengangguk.
“Tahan ya, Bu, aku akan tekan lagi agar masuk semua,” bisiknya lagi.
Ia menekannya dengan tenaga yang keras, aku tidak tahan.
“Aduh.. sakit, Pak,” Jeritku tertahan sambil menggigit bibir.
Akhirnya barang itu trot… bleees… masuk semua. Rasanya rudal itu masuk menembus ke lobang rahimku. Kini beralih dari rasa sakit ke rasa nikmat yang luar biasa.
“Pak .. rasanya nikmat sekali.”
Semakin ganaslah Pak Jono menggenjotnya. Nyaring sekali bunyi lobang vaginaku akibat genjotan yang luar biasa. Nikmatnya luar biasa terasa sampai ke ubun-ubun, aku menggigil, meraung-raung kenikmatan.
“Aah… uuuh… uuh… aku… aku… mau mencapai puncak, Pak…”
Pak Jono menekan keras-keras. Aku pun mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Pak Jono sangat kuat dan bertahan lama, ia belum mencapai orgasme. Aku sudah lemas, tapi karena Pak Jono meremas-remas kembali tetekku dan menjelati vaginaku, aku mulai merangsang lagi.
Pak Jono menyuruhku nungging. Ia menusukkan kembali rudalnya dan mengocoknya dan menggenjot dari belakang, bunyinya semakin keras, ceprok… ceprok.. ceprok… sambil ia mengelus-ngelus lobang anusku. Ia ngambil minyak pelumas dan dioleskan ke lobang anusku, jarinya ditusukkan ke lobang anusku.
“Aduh… Pak!” jeritku.
Tapi ia pintar sekali menciptakan rangsangan baru. Ia kocok lobang anusku pelan-pelang dengan jarinya, lama-lama aku merasakan nikmat.
“Enak.. Pak… Nikmat… Pak.”
Akhirnya Pak Jono menambahi minyak pelumas ke lobang anusku, dan mencabut rudalnya dari vaginaku, ia oles-oleskan kepala rudalnya ke pintu anusku.
“Hangat rasanya, nikmat Pak, nikmat Pak.”
Kemudian menusukkan tepat ke lobang anusku dan menekannya. Akhirnya barang besar itu masuk juga. Cepret… prot… ia tekan pelan-pelan hingga separuh penis itu. Ia mendorongku agar aku tengkurep. Begitu tengkurep ia menindihku, menekankan lagi sisa separuhnya. Aduh nikmat sekali rasanya di anus. Sampai terasa ada cairan muncrat dari dalam lobang anusku. Ia terus mengocok dan menggejot semakin cepat, aku merasakan nikmat sambil menahan genjotan. Prot… prot… druuuuut. Semakin ganas ia menggenjot sampai aku terkentut-kentut dibuatnya. Akhirnya Pak Jono mencapai puncaknya dan muncratlah pejunya memenuhi lobang anusku.
Malam itu aku benar-benar merasakan kenikmatan yang luar biasa. Aku disetubuhi oleh Pak Jono sampai 4 kali hingga pagi.
Pak Jono guru olah raga yang humoris. Setelah kejadian yang pertama itu aku masih sering ke sekolahan tapi aku sering menghindar untuk ketemu Pak Jono karena malu dengan kejadian yang kualami itu, kecuali banyak teman-teman.
Pada suatu ketika aku duduk berjauhan dari tempat olah raga, tapi aku melihat Pak Jono memperhatikan aku dari kejauhan, dan waktu itu kebetulan sepi tidak ada ibu-ibu yang lain. Pak Jono memandangi aku, aduh .. aku rasanya malu, kemudian ia duduk di sebelahku dan bertanya.
“Bagaimana, Bu… Masih terasa sakit dan nyelunya. Maafin aku ya, Bu..”
“Enggak kok udah enggak… Memang sehabis berhubungan badan dengan Pak Jono itu terasa lobang vaginaku terganjal oleh sesuatu sampai dua hari,” jawabku sambil tersenyum malu.
Pernah suatu malam aku diajak nonton film BF oleh suami, aku pura-pura menolaknya, tapi suamiku memaksa dengan merayuku.
“Bagus kok filmnya dan agar kita nanti lebih hangat lagi. Kebetulan film itu antara orang hitam dan wanita Jepang.”
Ketika melihat kemaluan orang hitam aku terbayang barang Pak Jono.
“Pa.. besar dan panjang sekali anunya… sampai perempuannya menggeliat-geliat, menggigit bibir, dan ngerinti-rintih, sakit kali ya, Pa ..” bisikku pada suamiku.
“Tidak justeru itu ia merasakan puncak kenikmatan.”
“Kalau punya Papa… seperti itu asyik ya, Ma ..” bisik suamiku.
“Ah, mana mungkin. Papa kan orangnya kecil dan pendek, sedangkan dia tinggi besar.”
Suamiku berbisik lagi sambil meraba barangku: “Mungkin punya Pak Jono seperti itu ya, Ma..”
“Enggak tahu ya, Pa.. Kok Papa bilang begitu?” jawabku dengan perasaan terangsang.
“Ya soalnya dia pernah cerita pada saya.”
“Apa ceritanya, Pa ..?”
“Dia kalau berhubungan badan dengan isterinya, sebelum ia cerai, isterinya sampai sambat-sambat. Padahal isterinya juga tinggi besar, bagaimana kalau isterinya kecil seperti kamu?”
“Papa… kok isterinya Pak Jono dibandingin ke Mama..” sambil kuremas barangnya dengan gemes.
“Orang hitam itu kuat dan ganas mainnya, lihat tu Ma..”
“Papa…” aku jadi merangsang suamiku.
Kemudian filmnya dihentikan kami main dengan sangat hot sekali, tapi tidak se-hot waktu main dengan Pak Jono.
Besok harinya aku semakin ingin dipijet lagi oleh Pak jono. Aku terbayang terus, setelah nonton adegan orang hitam dengan perempuan Jepang di film itu. Malam minggu kurang tiga hari. Pikiranku membayangkan apa yang akan terjadi pada malam minggu nanti setelah aku dipijet oleh Pak Jono.
Aku masih terbayang ketika barang Pak Jono yang besar, panjang dan keras itu mulai memasuki pintu kemaluanku. Aku rasanya mau menjerit karena bercampur antara sangat nyilu dan nikmat dan hangat. Aku masih terbayang waktu ia mengecup bibirku dengan gemes sambil mengayunkan barangnya ke lobang kenikmatanku dengan diiringi bunyi ceplak.. ceplok.. srook… Belum hilang dari bayanganku barang yang kepala lebih dari batang bagian tengah dan pangkalnya itu ketika dicabut dari lobang vaginaku berbunyi trooot.. ceplok… Apalagi waktu barangnya dimasukkan lobang anusku yang awalnya terasa sakit lalu dengan pandainya permainan Pak Jono rasa sakit itu rasa nikmat yang sulit kubayangkan.
Kini tibalah malam minggu, malam yang kunanti-nantikan. Suamiku, sebagaimana biasanya, mempersilakan Pak Jono masuk. Sebelum memulai memijet, Pak Jono ngobrol dulu dengan suamiku. Sementara itu aku membuatkan kopi untuk mereka berdua.
Tak lama kemudian suamiku mulai diurut. Sedang enak-enaknya diurut, tiba-tiba ada telpon dari Bosnya. Aku pun memanggil suamiku.
Setelah berbicara di telepon beberapa lama dengan bosnya, ia berkata padaku bahwa ia diajak ke luar kota untuk urusan bisnis. Lalu ia memberiku uang agar diberikan ke Pak Jono nanti setelah aku selesai diurut.
Dalam hati sebetulnya aku merasa sangat terangsang. Pikiranku membayangkan bahwa aku dan Pak Jono sebentar lagi akan melakukan sesuatu yang kenikmatannya sulit aku bayangkan.
Setelah selesai diurut, suamiku mandi, sementara aku mempersiapkan pakaian untuknya. Aku mengantarkan suamiku sampai di pintu melepas keberangkatannya. Setelah itu aku menutup dan mengunci pintu.
“Sebentar ya Pak, teruskan dulu minum kopinya, aku mau ganti baju,” kataku pada Pak Jono.
Aku memakai sarung dan kaos yang tipis, tanpa memakai CD dan BH, karena aku membayangkan sebentar lagi aku akan melakukan hubungan badan yang luar biasa.
“Gaya apa saja malam ini yang akan dilakukan oleh Pak Jono terhadapku?” tanyaku dalam hati sambil berganti pakaian. Kusemprotkan parfum yang istimewa ke tubuhku.
Aku keluar dari kamar utamaku kemudian duduk dulu di ruang tamu bersama Pak Jono. Pak Jono tersenyum. Aku pun membalas senyumannya dengan memberi isyarat yang ia pahami maksudnya.
Kemudian Pak Jono mengajakku ke kamar tempat urut biasanya. Sepertinya Pak Jono sudah tidak sabar lagi. Aku mulai tengkurep. Pak Jono tidak mengurutku seperti biasanya karena nafsunya yang sudah sangat menggelora.
Ia menyingkap sarungku sampai ke panggulku. Ia mengelus-elus pahaku dan meremas-remas pinggulku. Ia ciumi pahaku dan pinggulku. Aku kini sudah tak berdaya karena lama aku menyimpan nafsu birahi.
“Pak .. malam ini aku ingin benar-benar puas, seperti puasnya perempuan Jepang yang digauli oleh orang hitam di dalam film BF,” rintihku.
Pak Jono dengan nafsu yang menyala-nyala dan ganas bertanya kepadaku.
“Ibu nonton film BF? Bagaimana ceritanya?”
“Laki-lakinya seperti Pak Jono, barangnya sangat besar dan panjang. Ia dengan ganasnya mengocok perempuan Jepang sampai berkali-kali. Ia merintih-rintih, lalu ia tergeletak lemas dengan memperoleh kepuasan yang luar biasa. Pak Jono.. Aku juga malam ini ingin seperti perempuan Jepang itu.”
Kemudian Pak Jono membalikkan tubuhku. Kini aku terlentang, dan Pak Jono dengan mudah membuka sarung. Memang aku sebelumnya tidak memakai CD. Ia mengangkangkan kedua kakikuku, lalu ia menciumi kemaluanku sambil meludahi lobangnya dan meremas-remas payudaraku. Kini aku tak kuasa lagi menahan nafsuku, rasanya ingin meledak.
Pak Jono membuka baju kaosnya dan celana dan CD-nya. Barang Pak Jono luar biasa tegak dan keras, besar dan panjang. Kemudian ia membuka kaosku. Kini kami berdua telanjang bulat dengan sinar yang cukup terang. Sehingga nampak jelas urat-urat kemaluan Pak Jono yang siap menerjang lobang kemaluanku.
Pak Jono merebahkan tubuhnya kemudian memelukku dengan gemes dan mengecup bibirku sambil menggigit-gigitnya, sementara penisnya dijepitkan ke antara kedua pahaku. Terasa hangat di pangkal kedua pahaku sambil barangnya bergerak-gerak. Kini Pak Jono sudah tidak sabar lagi, akupun juga. Pak Jono menindihku.
“Aduh… Pak… berat sekali badan Bapak,” kataku terengah-engah di bawah himpitan tubuhnya.
Pak Jono mengangkangkan pahaku seperti V. Ia meludahi lobangku dan barangnya agar licin dimasukkannya.
Begitu banyak Pak Jono meludahi lobangku sampai meleleh ke pintu lobang anusku. Pak Jono mengarahkan barangnya yang sangat besar, panjang dan keras itu ke lobang vaginaku yang kecil tapi montok. Ia menekannya tapi pertama dan kedua kali tidak berhasil Masuk.
“Aduh.. Pak.. Pelan-pelan, Pak,” jeritku.
“Katanya ingin puas ngerasain keganasan barangku?” Pak Jono berbisik dengan suara terengah-engah.
“Nanti, Pak.. kalau sudah masuk semua. Sekarang pelan-pelan dulu.”
Ketika ia menekan kembali, akhirnya penisnya berhasil menerobos lobang kenikmatanku. Croook… Trooot… Bleees… Kemudian ia menindihiku. Kini tubuh tinggi, besar dan kekar itu menindihi diriku yang kecil mungil. Ia mulai menggenjotku. Mula-mula ia mengayunkan pinggulnya pelan-pelan. Makin lama makin keras dan ganas, sambil menekan. Ketika ia dengan ganasnya menekan penisnya sampai rasanya nyelu dan ngenyut, sambil memelukku dengan gemes dan ganas.
“Aduh.. Pak!” aku berteriak kecil.
Ia terus menggenjotku dengan tenaga yang kuat dan kerasa sampai aku terkentut karena menahan genjotannya. Memang nikmat sekali, nikmat yang luar biasa. Kemudian aku menggelinjang sambil merintih dan menjerit. Sroot… Aku memcapai puncak kenikmatan. Dan Pak Jono kuat sekali, ia belum juga orgasme.
“Udah dulu, Pak…” kataku dengan suaraku terengah-engah.
“Ibu tengkurep. Aku ingin masuk ke lobang belakang. Aku akan keluarkan spermaku di lobang belakangmu,” bisiknya padaku.
Aku mulai tengkurep, dan Pak Jono mulai menindihku. Ia meludahi lobang anusku sambil menusukkan jarinya. Aduh rasanya… Kemudian ia menusukkan rudalnya ke lobang anusku. Setelah empat kali tekan baru bisa masuk. Ia menggenjot dengan ganasnya. Makin lama makin keras kocokan dan genjotannya, lalu muncratlah air hangat ke dalam lobang anusku. Aduh… nikmat lagi walaupun baru saja aku mencapai orgasme.

Biar Lambat Asal…Nikmat

Matahari bersinar sangat terik sekali siang ini. Farid baru saja membuka pintu gerbang, ingin secepatnya masuk ke dalam rumah yang sejuk. Ditutupnya kembali pintu gerbang, menuntun motor bebeknya, memarkirnya dengan rapi di garasi samping, segera melangkahkan kaki ke pintu depan. Pintu depan terbuka, sepertinya ada tamu, Farid melihat bayangan orang sedang berbicara dari balik jemdela. Kurang jelas terlihat dari pagar sini. Sambil melangkah masuk ia mengucapkan salam.

”Lho…ibu…kapan datang…? Kok nggak ngabarin ? Mana Ayah ?”
”Baru saja ibu sampai.Sengaja tak memberi kabar, sekalian kejutan.”

Baru saja Farid hendak bertanya, budenya sudah memotong pembicaraan

”Sudah, kamu makan saja dulu. Nanti kan bisa ngobrol sama ibumu, sana kamu ganti baju dulu.”
”Iya bude.”
”Sekalian kamu bawakan tas ibumu ini…”

Faridpun mengambil tas yang dibawa ibunya, banyak juga bawaannya. Tak seperti biasanya. Faridpun melangkah masuk ke dalam. Masih bertanya – tanya, kan baru 2 bulan yang lalu ibu berkunjung kemari bersama ayah, kok sekarang sudah datang lagi. Nah sebelum pembaca bingung, ada baiknya dijelaskan dulu semuanya dari awal ya….

Farid, awal 19 tahun, baru saja masuk kuliah tingkat 1 di sebuah Universitas Negeri di kota Yogyakarta, sebentar lagi bersiap masuk tingkat 2, Jurusan Tekhnik. Aslinya dia tinggal di Jakarta. Tapi karena kuliahnya sekarang, dia tinggal di rumah pakde dan budenya yang memang menetap di Yogyakarta.

Ayahnya, Joko, 45 tahun, orang Jakarta asli, pegawai bank pemerintah, bekerja dari awal karir saat masih bujang, kini menduduki jabatan yang lumayan sebagai kepala bagian kredit di salah satu kantor cabang di Jakarta. Ibunya Lisna, 39 tahun, asli Yogyakarta, ibu rumah tangga. Walau ayahnya orang Jakarta, tetapi ibunya lebih terbiasa memanggil suaminya itu dengan sebutan Mas, bukan abang. Farid mempunyai satu orang kakak perempuan, Ningsih, 21 tahun, sudah menikah. Kini ikut suaminya yang bekerja di Kalimantan. Awalnya setelah lulus SMA, ayahnya menginginkan Ningsih kuliah, tetapi bang Husin, 24 tahun, masih tetangga mereka, yang telah memacari kakaknya dari awal kakaknya SMA melamar kakaknya. Orangtua bang Husin juga memaksa, akhirnya karena kak Ningsihnya juga tak keberatan, dan ayah juga sangat mengenal baik kedua orangtua bang Husin, mereka diijinkan menikah. Awalnya setelah menikah mereka masih tinggal di rumah, tetapi tak lama bang Husin dikirim perusahaan pusat ke Kalimantan. Awalnya bang Husin berangkat sendiri, setelah 3 bulan di sana, setelah merasa mantap, juga karena mendapatkan mess bagi karyawan yang menikah, ia meminta istrinya menyusul. Maklum penganten baru hehehehe. Tentu saja ayah dan ibu awalnya berat melepas anak mereka, tetapi sadar kini kak Ningsih telah menjadi tanggung jawab dan juga hak suaminya. Sedangkan Farid sendiri, sewaktu akhir kelas 3, dia mengikuti program masuk universitas negeri, mengambil jurusan tekhnik yang ia suka. Memilih kota Yogyakarta dan satu kota lain sebagai pilihannya, dan behasil lolos. Memang walau sepintas gayanya seperti malas, tapi otaknya cukup encer. Sebenarnya ayah dan ibunya keberatan, anak perempuannya sudah merantau dibawa suaminya, kini anak lelakinya harus kuliah di Yogyakarta. Tapi untuk menghargai usaha Farid yang bisa lolos dari ujian itu, dan karena di Yogya ada keluarga, maka akhirnya merestui.

Awalnya Farid memang maunya kost saja, tapi ditolak ayahnya. Tak ada yang mengawasi katanya. Di Yogyakarta ini ada kakak ibu, bude Sri, 42 tahun. Suaminya Pakde Harno, 46 tahun, insinyur mesin, bekerja di perusahaan swasta yang bergerak di alat berat dan mesin industri. Perusahaan pusatnya di Jakarta. Pakdenya bekerja di cabang yang meliputi region Yogyakarta, Solo dan Jawa tengah. Anak mereka 2 orang, perempuan semua. Sebenarnya Farid juga tak asing lagi dengan mereka. Sudah sering berkunjung dan menginap di sana kalau saat libur sekolah atau hari raya. Pakdenya juga amat sangat senang menerima Farid, maklum tak punya anak lelaki. Anak pertamanya, Mbak Santi, 22 tahun, sudah menikah dan kini menetap di Sumatra, ikut suaminya. Suaminya itu pegawai bank swasta. Awalnya kerja di kantor cabang Yogyakarta. Atasannya menyukai dan senang dengan cara kerjanya. Sewaktu ada informasi mengenai posisi yang bagus di cabang Sumatra, atasannya mengajukan dirinya. Sifatnya optional, boleh diambil, boleh tidak, setelah berdiskusi dengan istri dan mertuanya, akhirnya ia mengambilnya, karena selain akan naik jabatan dan memperoleh fasilitas, juga yang menjadi pertimbangan utama..gajinya naik dalam jumlah yang signifikan. Berangkatlah mereka, rupanya sangat kerasan di sana, bahkan suaminya dibajak sebuah bank di sana, mendapatkan fasilitas dan juga rumah dinas yang baik, sepertinya bakalan berkarir penuh selamanya di sana. Anak Pakdenya yang kedua, mbak Sinta, 20 tahun, baru menikah 2 bulan yang lalu, di mana ayah dan ibu Farid juga datang menghadiri acaranya. Menikahnya masih sama tetangga sekomplek. Hampir serumah sama kak Ningsih dulu, pacarnya ngebet minta kawin. Jadilah walau mbak Sinta masih kuliah, namun tetap menikah. Kini tinggalnya cuma beda beberapa blok saja dari sini.Suaminya pegawai Pemda. Mbak Sinta juga tentu saja tetap melanjutkan kuliah. Nah Farid ini menempati kamar mbak Santi, sebenarnya Farid sangat tak enak, karena kamar tersebut sangat bagus dan komplit. Ceritanya sewaktu baru menikah dulu suami mbak Santi merombak sedikit kamar itu. Di bagian luar ada kelebihan lebar sekitar 1.5 meter, ia membuat kamar mandi di dalam, mungkin biar praktis dan nyaman, tak perlu mondar – mandir ke kamar mandi luar. Ternyata tak lama ia bertugas di Sumatra. Jadilah Farid beruntung menempati kamar 4 x 4 dengan kamar mandi di dalam. Pakde dan Budenya, juga mbak Santi, sudah nyaman dengan kamarnya masing – masing dan tak mau menempati kamar mbak Sinta.

Setelah menikah, kamar mbak Sinta tentunya kosong, Pakde Harno yang memang ingin mempunyai ruang kerja juga perpustakaan mini, akhirnya merombak kamar itu. Toh mbak Sinta tinggal hanya beberapa blok saja dari sini, jadi kalaupun datang tak mungkin menginap. Ia meminta bantuan Farid, dikerjakan kalau hari libur, santai saja. Farid tentu saja senang membantu, peralatan kerja Pakdenya juga komplit, mengerjakannya juga santai saja tak buru – buru, setelah beberapa lama mengerjakan jadilah rak – rak untuk buku juga beberapa meja. Farid sebenarnya agak heran kok banyak juga mejanya, tetapi Pakdenya bilang, ruang ini juga untuk Farid. Dan yang lebih menyenangkan Pakdenya memasang internet dan mengganti komputer yang lama dengan yang baru, komplit sama scanner dan printernya, memang untuk mendukung pekerjaan Pakdenyanya juga. Lumayan pikir Farid, nggak perlu ke warnet lagi. Kasur yang lama disimpan di gudang. Pakdenya hanya berpesan, ruang ini boleh Farid pakai, tetapi di luar waktu khusus Pakdenya. Semua anggota keluarga sudah paham mengenai waktu khusus ini. Baik hari biasa atau libur, Pakdenya setiap jam 7 sampai jam 9 malam, rutin meluangkan waktu untuk dirinya sendiri, baik untuk membaca atau bekerja, dan tak ada yang boleh mengganggu. Dan kini makin asik saja setelah mempunyai ruang khusus. Farid sih tak masalah, toh ia bisa memakainya di luar waktu itu.

Ayah dan ibu mengantar Farid ke Yogyakarta, sekalian mengurus pendaftaran dan administrasi kuliahnya, dan meminta ijin ke saudaranya. Awalnya sewaktu meminta ijin supaya Farid bisa menetap di situ, ayah bermaksud membayar uang tinggal, ya, karena ini kan bukan seperti kunjungan saat liburan. Tentu saja Pakde Harno keberatan, agak tersinggung, katanya ke ayah saat itu. Apa –apaan kau Joko, Farid ini keponakanku, seperti anakku, tinggal saja, tak usah kau malu hati sampai mau membayar uang sewa, memangnya ini kost – kostan. Dan memang Pakdenya ini sangat senang, seperti dapat teman ngobrol sejiwa, maklum nggak punya anak laki, kini dia punya teman diskusi, teman nonton bola saat malam. Memang Pakde dan Farid maniak bola, dulu Pakde kalau nonton malam hanya sendiri, baru bisa mendiskusikannya besok saat ketemu teman di kantor, kini ada Farid yang menemani. Kehadiran Farid seperti anak lakinya sendiri saja.

Untuk uang kiriman bulanan, Farid benar – benar bisa berbahagia, sangat – sangat lebih dari cukup. Ya, maklumlah, ayahnya kan kini berkurang kewajibannya, sudah tak membiayai kakaknya, Ningsih. Jadi bisa melebihkan jatah Farid. Buat makan, paling Farid keluar uang saat di kampus saja, selebihnya dia makan di rumah Pakdenya. Paling ia membeli kopi, susu, gula, dan makanan kecil dalam jumlah agak banyak yang sebagian akan ditaruhnya di lemari dapur, buat keluarga Pakdenya. Selebihnya buat rokok dan bensin. Ayahnya juga membelikan motor bebek, walau bukan baru dan bukan terbitan tahun muda, tapi Farid senanglah, daripada berangkot ria. Pendeknya buat masalah uang, Farid benar – benar makmur, setiap akhir bulan selalu bersisa lumayan banyak, juga bisa lumayan sering traktir temannya.

Normalnya Farid pulang tiap libur semester atau kadang hari raya, kalau ayah dan ibunya tak berhari raya di Yogyakarta. Memang biasanya orangtuanya rolling, tahun ini hari raya di Jakarta dengan keluarha ayah, tahun besok di Yogyakarta keluarga ibu. Ibu hanya 2 bersaudara dengan budenya, orangtuanya sudah tiada, tapi saudara dan kerabat masih lumayan banyak di Yogyakarta dan sekitarnya. Setelah Farid kuliah di sana orangtuanya kadang menjenguknya, ayahnya biasa ijin atau cuti sehari, berangkat kamis malam, nanti kembali Minggu pagi, naik bis atau kereta, kalau lagi banyak rejeki, naik pesawat. Dahulu kalau ayah ibu datang, maka ayahnya akan tidur di kamar Farid, sedang ibunya sekamar dengan mbak Sinta. Jutru ini, sekarang kan kamar itu sudah dirombak, Farid baru ingat hal itu saat ia membawa tas ibunya. Ia terdiam, berbalik kembali ke ruang tamu. Terakhir 2 bulan lalu saat ayah ibunya datang menghadiri kawinannya mbak Sinta, kamar itu masih belum dirubah.

”Eh, bude, kan kamarnya mbak Sinta sudah jadi ruang kerja Pakde…”
”Oh iya, bude lupa…iya Lis, mas Harno sudah merubah kamarnya Sinta buat ruang kerjanya dan juga buat Farid…ya wislah, kamu tidur di kamar Farid sja, tak masalah kan…?”
”Ng..iya deh mbak, di mana saja juga tak masalah.”

Farid segera membawa tas ibunya, kasur peninggalan mbak Santi ukuran besar, maklum kasur ukuran suami istri. Farid memakainya tanpa menggunakan kayunya, cukup di lantai dialas karpet tipis. Biar nanti dia tanya ibu, kalau memang ibu mau sendiri, dia akan ambil kasur yang di gudang, ngegelar di sebelahnya atu di pojokan kamar. Farid segera mengganti baju dan ke kamar mandi bersih – bersih. Saat ia keluar dari kamar mandi, ibunya sudah di kamar.

”Bu..anu..kalau ibu maunya tidur sendiri, biar nanti Farid ambil kasur yang di gudang buat Farid.”
”Ya..ndak usahlah Rid, kasur ini juga besar, kamu nanti di pinggir sana saja.”
”Ya…sudah kalau begitu. Oh ya bu, jadi bagaimana ceritanya nih sampai ibu kemari tanpa pemberitahuan ? Ayah ke mana ? Terus berapa lama ibu nginapnya…?”
”Duh nanyanya satu – satu dong, tolong nyalain kipas anginnya Rid, ibu gerah nih…”

Farid segera menyalakan kipas angin kecil, memang ibunya tak tahan gerah, sudah kayak udang rebus saja saat ini karena cuaca siang ini memang lumayan panas. Dia menunggu ibunya mendinginkan diri sebentar. Setelah sudah agak adem ibunya memulai menjelaskan.

”Ibu memang sengaja tak beritahu kamu. Jadi ceritanya ayahmu itu lagi ada dinas luar, agak lama 2 bulan, di Sulaiwesi. Karena memang cuma 2 bulan dan sayang ongkos, maka ayahmu memutuskan sekalian saja terus disana. Nah ibu kan sendirian di rumah, daripada tak ada kerjaan juga tak ada yang menemani, maka ibu usul ke ayahmu agar selama ia di sana, ibu tinggal di rumah budemu saja. Ayahmu tak keberatan, bahkan mendukung.”
”Oh begitu, sekarang di rumah siapa yang tinggalin bu? Terus memangnya ayah dinas apaan, tumben, biasanya cuma seminggu atau 2 mingguan saja.”

Ibunya menjelaskan, rumah mereka di Jakarta ditunggui sama Mang Jaka, adik ayahnya. Ibu lalu menjelaskan, di kantor cabang Sulaiwesi, tempat bank ayahnya bekerja, telah terjadi masalah, ada kebocoran serius ( Bahasa halusnya buat korupsi ). Pimpinan dan pegawainya banyak yang dipecat. Dari pusat memutuskan untuk merekrut atau mempromosikan tenaga baru dari daerah itu, tapi tetap harus ditraining dan dibina oleh orang pusat. Juga sekalian membenahi pembukuannya yang sudah disulap sana – sini. Maka ayahnya dan beberapa orang lainnya dikirim ke sana. Nantinya tinggal di mess milik Perusahaan. Ayahnya mau, uang dinasnya lumayan kata ibu…hehehe dasar. Jadi begitulah ceritanya sampai ibunya datang tanpa pemberitahuan. Ya sudah, farid sih senang – senang saja dengan kehadiran ibunya. Tak lama bude memanggil mengajak makan, Farid keluar duluan, ibunya ganti baju dulu lalu menyusul.

Setelah makan, Farid masuk kamar, mau rebahan sebentar, tadi mbak Sinta baru saja datang ditelepon bude yang mengabarkan kedatangan ibu, kini asik mengobrol sama ibunya dan Bude. Farid segera berbaring sambil mulai berpikir. Agak aneh juga nanti harus tidur sama ibunya. Farid memang sayang sama ayah dan ibunya. Ibunya juga sangat sayang padanya, karena Farid anak bontotnya. Ibunya walau begitu, selalu menjaga diri dengan baik, tak pernah sembarangan kalau mengganti baju, tak pernah bebas membiarkan Farid melihatnya. Farid sendiri termasuk anak yang baik dalam hal perilakunya selama ini, tak pernh menyusahkan atau terlibat masalah serius, sekolah juga tak pernah bikin masalah, namun seiring umurnya tentu saja ia juga sudah mengenal dan melewati tahap pubernya. Bahkan untuk urusan seks juga Farid bukanlah anak kemarin sore lagi. Di SMA dulu, sering melakukannya dengan pacarnya, sayang hubungannya putus. Di kuliahan sekarang, ia juga akrab bergaul, beberapa anak mahasiswi di kampusnya kini mulai dalam tahap seleksinya. Dan jujurnya, memang Farid mengagumi dan mengakui kecantikan ibunya. Dan seperti anak remaja yang dalam tahap berkembang, dulu juga sering ia berkhayal mengenai ibunya. Tapi tak lebih dari itu. Farid juga remaja yang normal, sering membayangkan gadis remaja seusianya.

Sewaktu tinggal di Yogyakarta, memang Farid mengakui kalau kedua kakak sepupunya cantik dan Farid juga nggak munafik sering mengagumi dan mengkhayalkan mereka. Namun Farid mendapati dirinya justru lebih menyenangi dan lebih bergairah pada budenya, Sri. Walau usianya sudah 42 tahun, tetapi bodinya tetap yahud. Bahkan tanpa ragu Farid berani berkata bahwa bodi budenya jauh…jauh lebih nafsuin dan jauh lebih mendebarkan dibandingkan kedua kakak sepupunya itu. Pantatnya besar, teteknya apalagi besar dan masih kencang, selalu membuat Farid ngaceng setiap melihat tonjolan kembar itu di balik dasternya. Yang paling menyenangkan Farid, budenya ini suka sekali memakai daster yang belahan lengannya lebar, memang kadang tetap memakai BH, tetapi kalau hari panas atau malam menjelang tidur, umumnya Bude akan melepas BHnya, dan kalau budenya mengangkat tangannya agak tinggi, maka Farid dari samping bisa melihat pinggiran tetek budenya yang besar itu, kadang bebas, kadang terbungkus BH yang ketat, juga pangkalan lengannya yang berketek rimbun. Dan budenya juga entah tak ngeh atau memang tak peduli, cuek saja. Memang sih Farid sebisa mungkin mencuri lihat dengan tak terlalu bernafsu, tak pernah ketangkap basah sedang memandang, jadi tak ketara. Yang paling Farid ingat, waktu siang dia sudah pulang kuliah, setelah istirahat, budenya yang lagi membereskan kamar mbak Sinta yang baru menikah, memanggilnya. Budenya berdiri di atas kursi, menurunkan kardus – kardus di atas lemari, tadinya Farid menawarkan diri menggantikan, tapi nggak usah kata budenya. Budenya berdiri di atas kursi, menjulurkan tangan mengambil kardus, yang agak ke belakang letaknya. Farid menunggu untuk menerima kardus itu. Matanya sangat melotot seakan mau lepas, menyaksikan belahan lengan daster budenya, bagian samping sebelah tetek budenya sangat jelas terlihat, karena budenya rada mencondongkan badan. Besar, walau sedikit turun, tapi sangat seksi terlihat, pentilnya juga besar dari samping. Mungkin karena gerah mengangkat – ngangkat, bude tak memakai BH. Karet CD atasnya juga terlihat Belum lagi keteknya kehitaman dan rimbun, sangat erotis. Kont01 Farid sangat keras sekali saat itu, untung celana pendeknya yang model lebar, kalau nggak bisa tengsin. Mana kardusnya lumayan banyak, agak lama jadinya memindahkannya, sangat memuaskan mata Farid menatap keindahan di balik belahan lengan daster itu, juga sekaligus menyiksa, celananya sangat sesak rasanya. Yang pasti kalau lagi seru bermasturbasi, Farid senang sekali membayangkan budenya itu. Tapi ya itu tadi, cuma bisa berkhayal saja. Tak mungkin berbuat lebih.

Sehari sudah ibu menginap.Ternyata ibunya mengalami sedikit masalah, biasanya kan kalau menginap ibunya selalu tidur di kamar mbak Sinta. Kini ibunya mempunyai masalah, kalau mau ganti baju, dia tak nyaman melakukannya di depan Farid. Farid yang memang tak mempunyai pikiran apapun, awalnya tak menyadari, tetap saja cuek di kamar. Barulah saat ibunya menyuruhnya keluar, Farid sadar…duh repot pikir Farid. Memang tak setiap saat, hanya kalau saat Farid sudah di rumah, tapi lumayan mengganggu. Dari sisi Farid sendiri, ia mengalami masalah juga, baru kali ini di usianya yang sekarang ini ia tidur lagi bersama ibunya. Dulu masih kecil sih sering, tapi itu dulu waktu masih kecil dan belum kenal namanya wanita dan seks. Memang ibunya tidur memakai daster yang besar, atau kadang daster model kaos dan celana pendek. Ibunya tidur di pojokan dekat tembok, dia di sisi satunya. Awalnya sih biasa saja, tapi kala ia melihat ibunya yang tertidur tak urung matanya jadi jelajatan, walau saat itu ibunya tidur dalam balutan busana yang sopan, tapi melihat tonjolan teteknya yang sangat busung itu, tetap saja membuat Farid bereaksi. Membuatnya berkhayal, seperti apakah keindahan di balik daster itu. Untunglah ia mampu mengendalikan dirinya.

Dua hari pertama, ibunya banyak melewati hari mengobrol sama budenya, atau kadang jalan keliling ke saudara. Farid kuliah seperti biasa. Di hari ketiga saat mandi pagi harinya, Farid sedang asik nongkrong sambil merokok, ritual rutin pagi harinya. Ibunya sudah di depan membantu budenya menyiapkan sarapan. Matanya menangkap BH ibunya yang tergantung di gantungan tembok kamar mandi, Farid menatapnya, mulai berpikiran ngeres, ia bangun dan segera mengambilnya, besar juga pikirnya…size 38, Farid mendekatkan hidungnya, aromanya sangat lembut dan wangi, kont01nya mulai mengeras, sesekali ia gesekkan kont01nya ke BH ibunya. Dan tak lama ia sudah asik main sabun, mengocok kont01nya sambil tetap menciumi BH ibunya, sungguh sangat merangsang dirinya. Setelah lumayan lama kont01nya pun ngecret, agak memerah. Farid menaruh kembali BH itu. Farid kini mulai terobsesi untuk benar – benar dapat melihat tubuh telanjang ibunya, bagaimanapun caranya, biar sebentar atau sekali saja, ia harus bisa. Berjuanglah…Farid menyemangati dirinya sendiri. Farid berpikir sambil memandang sekeliling ruangan kamar mandi itu, mata Farid memandang pintu alumunium kamar mandi, pintunya rapat sekali…tapi untuk saat ini saja pikirnya. Memang kalau buat urusan ngeres, otak kadang – kacang bisa menjadi sangat kreatif dan inovatif hehehe. Ia segera mengambil handuk, menutupi tubuh bagian bawahnya, keluar sebentar, ibunya masih di luar, ia segera membuka laci meja di kamarnya, mengambil obeng model double, ia kembali ke kamar mandi, menutup pintunya, melepas handuknya dan memulai kreatifitasnya. Mengukur posisi yang pas buat matanya, agak tinggi di tengah, biar tak perlu terlalu membungkukkan badan, juga sudut pandangan harus luas dan maksimal. Dengan mata obeng kembang, ia mulai mengendorkan beberapa mur, tak perlu terlalu kendor. Setelah kelar, ia balik mata obeng, memakai mata obeng min, ia mulai mencongkel sela sekat alumunium, perlahan dan pelan saja, terciptalah celah yang lumayan nyaman dan tak mencolok mata, kalaupun ada yang melihat tak akan curiga itu sengaja dibuat. Obeng ia taruh di pinggir bak mandi. Ia mengarahkan matanya, mencoba mengintip, nampak ruangan kamarnya dengan jelas. Pas….pikirnya. Apalagi bagian belakang pintu kamar mandi ini tak digunakan untuk menggantung handuk. Ia segera mulai mandi sambil bersiul – siul dengan gembira. Setelah selesai mandi dan berpakaian, ia tutup pintu amar mandi dari luar, mengetes sebentar, sangat jelas…hatinya bersorak. Ups…hampir lupa, ia segera mengambil obeng dan membereskannya. Lalu ia keluar kamar, siap sarapan dan berangkat kuliah. Di luar Pakdenya sudah duduk, minum kopi sambil makan roti. Farid mengucapkan salam, lalu duduk ikut sarapan. Bude dan ibunya nampak sedang asik sarapan sambil menonton acara gosip di TV.

”Hey Rid…nanti malam ada siaran langsung nih..Milan lawan MU, temanin Pakde nonton ya.”
”Iya Pakde, pastilah, seru sih, nanti Farid temanin. Sekalian nanti sore Farid beli cemilan. Megang mana Pakde ?”
”Pasti Milanlah. Kuliah jam berapa Rid..?”
”Nanti jam 9an. Kelar jam 1.”
“Oh gitu…ya sudah, nanti malam ya. Pakde pulangnya mungkin agak malam, maklum di kantor sini lagi sibuk. Pusat baru saja dapat kontrak awal rencana kerjasama dengan Perusahaan pertambangan, sekarang lagi sibuk banget, seleksi tenaga terbaik buat dikirim ke sana. Kalau Pakde sih rasanya berat kepilih, maklum sudah tua, mungkin jatah yang muda.”
”Iya Pakde. Oh iya Pakde, itu komputernya sudah selesai Farid install program – program yang Pakde minta, nanti kalau sempat dicek saja ya.”
”Iya…iya, bagus tuh, Pakde memang butuh program itu, bakal membantu kerjaan Pakde. Sengaja pinjam CDnya sama teman Pakde, sayang Pakde sulit installnya, nggak kayak biasa sih. Rada gaptek.”
”Nggaklah…nanti Farid ajarin deh, nggak beda sama yang biasa, Cuma perlu penyesuaian sedikit.”

Memang Pakde Harno tak terlalu menguasai komputer, kalau install program sebenarnya dia bisa, tapi ya itu, kalau program yang benar dan sesuai, tinggal klik, next, klik, next, finish. Kalau program – program yang seperti ia minta Farid installin memang ia tak paham. Maklum program bajakan. Pakde nggak paham memakai cracknya. Takut salah katanya. Padahal sih tinggal copy exe.nya ke directorynya atau masukin patchnya sesuai direktori installnya. Ya sudahlah Farid sih senang saja membantu Pakdenya yang sudah baik padanya. Dia sendiri juga tak begitu paham program – program yang Pakdenya minta install, lebih ke program buat mesin dan perhitungan yang rumit. Belum ia pelajari di kuliahnya. Akhirnya Pakde dan Farid kelar sarapan dan segera berangkat.

Di kampus Farid sama sekali tak konsentrasi. Pikirannya terlalu penuh bayangan mesum. Setelah jam pertama selesai, ia memutuskan bolos saja mata kuliah selanjutnya nitip absent saja. Mau pulang nggak enak, masih pagi, ya sudah ia kini asik nongkrong di kios – kios dekat kampusnya. Mengobrol sama beberapa anak jurusan lain yang ia kenal. Biasalah, mengobrol ngalor – ngidul sambil merokok bareng, Farid memesan kopi susu. Menawarkan kepada yang lain, yang dengan tanpa sungkan menerima. Ya, betapa rokok dan minuman ringan dapat menjadi media yang menjembati dan menghasilkan persahabatan. Sekitar jam 12 kurang, matanya menangkap sosok cantik yang sudah lama ia suka. Kakak seniornya, Yuni, anak hukum tingkat 4. Sudah beberapa kali Farid mencuri kesempatan mengajak bicara. Awalnya kaku, tapi karena Farid cukup luwes dan juga muka badak, akhirnya mulai akrab. Juga mendapat nomor HP-nya, sesekali Farid kirim SMS. Tapi Farid tetap waspada, selalu berusaha mengajak ngobrol kalau Yuni sedang sendiri. Bukan apa, takut anak hukum pada ngamuk, biar gimana kan dia sudah menjamah lahan dan propertinya anak hukum, bisa dituntut pasal berlapis, pidana dan perdata. Nah itu Yuni sedang foto copy. Farid permisi sebentar sama anak – anak, bilang ke si Joe yang punya warung, nanti dia bayar,nanti dia balik lagi. Farid melangkah dengan pasti, melirik dulu ke sekeliling, takut ada anak senior dari hukum, oke tampaknya aman.

”Hei Yun..”
”Eh…kamu Rid, nggak masuk ?”
”Sudah tadi, tapi mendadak bosan, ya sudah titip absent saja.”
”Dasar..entar ketinggalan lho.”
”Hehehe. Lagi apa Yun..?”
”Oh ini, aku lagi fotocopy bahan kuliah, minjam di perpus.”
”Oh gitu, kamu nggak ada kuliah..?”
”Ada sih, nanti jam 1, Hari ini cuma satu saja, jam berikutnya malas, habis yang masuk asisten dosen doang. Nanggung sih benarnya.”

Farid masih asik mengobrol, akhirnya fotocopyan Yuni selesai, ia membayarnya. Maksudnya Yuni yang bayar, bukan Farid dong hehehe. Farid melirik jam duabelas seperapat, nekad sajalah…

”Yun..eh..sudah makan belum ? Eh anu..kalau belum, mau nggak sekalian sama aku. Aku traktir deh, makan bakso saja di pengkolan, mau nggak..?”
”Duh..gimana ya, aku sebenarnya mau balikkin buku lagi ke perpust…eh tapi enak juga nih kalau ditraktir. Ya sudah deh.”
”Nah gitu dong. Kamu tunggu sebentar ya. Aku ambil motorku dulu.”

Farid bergerak cepat, kembali ke warung minuman, membayarnya, sekalian pamit sama anak – anak, ada bisnis katanya. Anak – anak yang sempat melihat Farid mengajak Yuni mengobrol di kejauhan, hanya memberi semangat sambil bertoast ria dengannya. Iyalah anak kuliahan juga norak, kalau temannya ada yang usaha dekati anak senior, mereka juga ikut senanglah. Setelah beres, Farid ke parkiran. Tak sampai 4 menit ia sudah membonceng Yuni ke warung bakso. Nggak terlalu jauh juga tak terlalu dekat sih, tapi sangat enak dan murah, sering dikunjungi anak – anak kuliahan. Agak ramai siang ini, karena pas jam makan siang, setelah menunggu, akhirnya mereka berdua sudah asik menikmati pesanannya. Farid makan dengan grogi, ya pastilah…nggak nyangka bisa ngajak Yuni. Mereka makan sambil mengobrol. Ngalor ngidul yang penting ngobrol. Sudah kelar Farid membayar dan mengantarkan Yuni kembali. Berhenti sedikit jauh dari gerbang kampus…

”Kok di sini berhentinya Rid..”
”Eh..sori Yun, nggak enak sama angkatan kamu, ngerti kan..”
”Iya juga sih hehehe….ya sudah..makasih ya Rid sudah ditraktir.”
”Bukan apa – apa kok, cuma bakso. Ya sudah aku permisi, selamat kuliah ya.”

Yuni tersenyum, Farid segera melaju, hatinya senang sekali. Nyengir terus sepanjang perjalanan pulang, hampir keserempet angkot…kebanyakan nyengir sih. Tak lama ia sampai ke rumah, jam 1 lewat dikit. Sepi pikirnya, saat mengetok pintu. Diketoknya pintu, tak ada sahutan…sekali lagi, juga sama. Dia mengeluarkan kunci serep jatahnya dari tas, membuka pintu sambil berusaha menelepon HP budenya. Tak lama budenya menyahut, minta maaf lupa SMS Farid. Katanya dia, ibunya, sama mbak Sinta lagi jalan – jalan ke pasar klewer sebentar. Suami mbak Sinta minta dibelikan baju batik buat kerja. Ya sudahlah…Farid mengucapkan salam, mematikan HP. Ia lalu menutup pintu, menguncinya. Setelah ganti baju dan bersih – bersih, ia masuk ke ruang kerja. Ya, mendingan juga browsing. Farid dengan sangat berkonsentrasi asik membuka situs – situs porno kesayangannya, mengamati dengan berdebar model – model yang bertetek besar, bikin ngaceng saja pikirnya…dasar si Farid, kalau ngelihat situs porno ya ngacenglah, kalau mau ketawa ya lihat situs humor hehehe. Jam 3 lewat, karena sudah terlalu pusing dan terlalu keras anunya, Farid mematikan komputer, tak lupa menghapus tracknya. Masuk ke kamar rebah – rebahan. Ia pun tertidur. Rasanya belum lama ia tertidur, bahunya serasa ada yang menggoncang – goncang…duh ganggu saja pikirnya, ia membuka mata. Ibunya, sudah memakai daster, rupanya sudah pulang.

”Hei…bangun dulu sana. Tuh ibu belikan makanan. Kamu belum makan ya ? Kasihan…maaf deh, habis ibu keasikan jalan. Yuk bangun dulu, sekalian temani ibu makan.”
”I..iya bu, bentar, masih ngantuk. Ibu duluan deh. Farid cuci muka dulu.”
”Ya sudah. Cepat ya…”

Tak lama Farid sudah di meja makan. Ibunya membuka bungkusan makanan yang dia beli. Mereka pun mulai makan.

”Bude ke mana Bu…?”
”Tidur..kecapekan katanya.”
”Oh…tadi ke mana saja…?”
”Oh itu…mbakmu Sinta minta diantarin nyari kemeja batik buat suaminya, ya sudah sekalian sajalah, ibu tadi lihat – lihat, sayang tak ada yang bagus buatmu.”
”Nggak bagus apa kemahalan bu hehehe…”
”Hush…kamu ini.”
”Ayah belum telepon bu…?”
”Belum,mungkin repot. Biar nanti ibu yang telepon. Kamu ingatkan ya, takut ibu lupa.”

Setelah makan, Farid membawa piring dan mencucinya. Ibunya duduk di sofa, menyalakan TV. Hobi banget sih nonton acara gosip. Padahal mah itu kebanyakan setingan selebritis saja, buat mengatrol popularitas. 80% seperti itu, yang benarnya cuma 20% saja. Paling malas Farid nonton acara kayak gitu, nggak mutu dan nggak ada manfaatnya pikirnya. Yang untung cuma si seleb saja. Tapi karena saat itu tak ada kerjaan, juga mau tidur lagi tanggung, ia duduk menemani ibunya. Sesekali menyahut menjawab ibunya yang mengomentari berita yang ada. Emangnya gue pikirin pikir Farid, mengenai seleb yang mencalonkan diri jadi bupati. Gila saja yang nyalonin apalagi milih pikir Farid. Akhirnya setelah beberapa berita yang penuh balutan kebohongan, acara selesai. Ibunya menanyakan apakah Farid mau terus nonton, Farid menggeleng, bilang mau ke ruang kerja main internet. Ibunya mematikan TV.

”Ya sudah, jangan sampai terlalu sore main komputernya. Duh sudah sore gini tapi tetap panas. Gerah sekali sih, ya sudah ibu sekalian mandi saja dulu baru istirahat. Kamu tolong kunci pintu rumah dulu ya sebelum main komputer.”

Farid mengunci pintu, lalu menyusul masuk kamar, sengaja tak menutup pintu. Ibunya yang sedang mengambil baju di lemari melihatnya sambil bertanya.

”Lho, katanya kamu mau internetan Rid..?”
”Iya…ini mau ambil USB dulu, ada data yang mau Farid lihat.”
”Oh gitu…wislah…ndak paham ibu.”

Ibunya segera mengambil baju dalam salin, lalu masuk dan menutup pintu kamar mandi. Farid buru – buru menuju pintu kamarnya, pura – pura menutup pintu itu, suaranya sengaja ia keraskan, cukup untuk membuat yakin ibunya kalau ia sudah keluar dari kamar. Ketika pintu kamarnya tertutup, secepat kilat ia mengendap menuju pintu. Ia sudah yakin, ibunya tak bakalan keluar lagi, toh semuanya sudah dibawa ibunya ke kamar mandi. Dengan cepat matanya sudah menempel di lobang yang ia buat itu. Nampak ibunya masih berdiri di kamar mandi, memutar keran air, mungkin menunggu airnya agak banyak. Agak menyamping posisinya. Tak lama ibunya menatap kembali bak mandi lalu mulai bergerak….

Jantung Farid mulai berdetak lebih cepat dari seharusnya, ibunya mulai memegang bagian bawah dasternya, mengangkatnya sedikit, nampak pahanya yang putih mulus, lalu angkat lagi, tampak CD putih yang tebal, lalu perutnya yang rata, lagi…wowww….teteknya yang besar bergantungan dengan indah sekali, kont01 Farid langsung tanpa malu – malu segera mengeras. Teteknya sangat besar dan sekal, masih tinggi, pentilnya coklat dan besar. Mata Farid tak lepas menatap ke tubuh ibunya. Tangan ibunya mulai terangkat, melepaskan daster melewati lehernya, astaga…keteknya sama kayak bude, lebat juga, Farid meneguk ludahnya. Perlahan Farid menurunkan celananya. Walau sedang sangat keras…tapi Farid masih berlogika, ia mengambil kaos kotornya, meletakkan dekat kakinya, buat tatakan nanti. Tangannya mulai mengocok batang kont01nya. Di dalam kamar mandi, ibunya mulai menurunkan CD putihnya…gila…tebal sekali m3mek ibunya, rimbunan hitam nan lebat makin menambah pesona keindahannya. Kocokan Farid makin cepat.

Di dalam ibunya nampak memegang sebentar teteknya, membuat tetek besar itu berguncang. Mungkin melihat apakah ada kotoran yang menempel, sambil nunggu air bak penuh. Ibunya bergerak lagi, mengambil sikat gigi dan menaruh odol. Sesaat kemudian ia mulai menyikat giginya, gerakannya secara otomatis membuat teteknya yang besar itu bergoyang dengan sangat nafsuin. Farid tak melepaskan pandangannya. Akhirnya ibunya kelar menggosok giginya. Tak lama ia mulai mengambil gayung, menyiramkan air ke tubuhnya. Ibunya lalu mengambil sabun, mulai mengusapkannya, di daerah teteknya, kini teteknya nampak mengkilap, licin dan bersabun, makin menambah pesonanya di mata Farid. Farid mengurut – ngurut kont01nya, jantungnya berdebar keras. Nampak ibunya memijat dan menyabuni pentilnya, membuatnya makin mancung saja. Sangat erotis sekali melihat gunung kembar itu bergoyang dan bergerak lincah saat disabuni, licin seperti belut yang mau ditangkap. Lalu ibunya mulai menyabuni pangkal lengannya, bulu keteknya nampak berbuih karena sabun, Farid meneguk ludahnya, terangsang berat dia. Setelah itu ibunya mulai menyabuni bagian perutnya yang rata, lalu punggungnya. Setelah kelar dengan bagian atas, ibunya mulai menyabuni daerah selangkangannya, jembutnya seakan menggumpal karena buih busa sabun, tangannya mulai menyabuni belahan m3meknya sampai ke lobang pantatnya, mata Farid menangkap, daerah belahan pantatnya nampak ditumbuhi jembut yang halus. Farid makin asik saja mengocok kont01nya, sekali – kali ia mengelus kepala kont01nya. Saat ibunya menyabuni kakinya, ia mengangkat satu kakinya bergantian, meletakkannya di pinggiran bak. Farid mengocok kont01nya sangat kuat saat ia menyaksikan belahan m3mek ibunya yang kini mengangkang lebar, memperlihatkan lobang m3mek yang kemerahan bercampur buih sabun, sungguh membuat nafsunya naik ke ubun – ubun. Sangat cepat ia mengocok kont01nya, sesat ia merasakan denyut nikmat menjalar di batang kont01nya, dengan cepat ia mengambil kaos kotornya, menaruhnya di kepala kont01nya…pejunya segera muncrat tak tertahankan. Farid diam sebentar, kont01nya masih tegang, ia masih terus mengintip, menyaksikan ibunya mulai menyiram kembali tubuhnya, seluruh tubuhnya nampak berkilat oleh air, menambah tinggi sensualitasnya. Namun Farid juga paham, walau tak rela tapi sudah waktunya ia cabut. Dengan cepat ia menaikkan celana pendeknya, mengambil kaos bekasnya, menjejalkannya di belakang lemari. Perlahan sekali ia membuka pintu kamarnya, lalu menutupnya kembali dengan perlahan.

Sesampainya di ruang kerja, ia tak menyalakan komputer, hanya duduk saja, jantungnya masih berdebar. Baru kali ini ia melihat tubuh telanjang ibunya, dan sangat – sangat mengguncangnya, tubuh ibunya sangat seksi sekali, tak menampakkan usianya yang sudah 39. Bahkan Farid berani membandingkan dengan budenya, tampaknya keduanya sama – sama menawan. Beda – beda tipislah. Pesona wanita dewasa yang sudah matang yang sangat memabukkan. Kalau awalnya ia hanya terobsesi melihat tuuh telanjang iunya, kini di otaknya mulai timbul pemikiran liar lainnya, yang ia sendiri tahu, bahwa pemikiran ini amat sangat tak mungkin ia lakukan. Mengintip adalah satu hal, tapi kalau lebih lagi, itu mustahil pikirnya. Bisa habis ia dimaki ibunya. Lama Farid melamun jorok, akhirnya jam 5 lewat ia keluar, budenya sudah bangun, sedang menonton TV, Farid menegurnya berbasa – basi. Ia masuk kamarnya. Nampak ibunya sedang tidur, menghadap tembok, istirahat. Farid memperhatikan sebentar, lalu ia mengambil kaos bekasnya tadi, membawanya ke kamar mandi, mau ia bilas sekalian mandi.

Malamnya jam 7, Pakdenya belum pulang. Farid baru kelar makan bersama ibu dan budenya. Kini mereka sedang santai mengobrol. Farid ke kamarnya, mengganti celana dan memakai jaket lalu keluar lagi. Ibunya menanyakan mau kemana.

”Mau ke mana Rid…?”
”Eh mau beli makanan kecil buat nanti nonton bola sama Pakde.”
”Eh Rid sekalian saja antar ibu. Ibu kepingin minum wedang jahe, sudah lama nih tak minum.”
”Ya sudah, ibu ganti baju dulu, Farid tunggu.”

Ibunya lalu berbicara sebentar dengan bude.

”Mbak, aku pergi sebentar ya. Mbak mau..? nanti aku belikan sekalian.”
”Ya sudah. Rid kamu beli yang di dekat pasar saja, enak tuh, sudah pernah ke sana kan..?”

Farid hanya mengangguk. Pakdenya sering mengajaknya ke sana. Semenjak Farid tinggal di sana, kalau malam dan senggang Pakdenya memang sering minta dibonceng keliling cari makanan. Pakdenya malas kalau harus keluarin mobil, jadi lebih sering pergi sama Farid naik motor, sekalian buat teman ngobrol. Farid sih oke – oke saja, sekalian jadi tahu buat referensi tempat makanan yang enak. Ibunya sudah berganti pakaian, kini mereka sudah di jalan. Farid ke mini market dahulu beli cemilan. Setelah itu baru mereka ke sana. Karena sudah malam dan dingin, ibunya duduknya agak rapat. Farid merasakan ada yang empuk – empuk kenyal sedikit menempel di punggungnya. Jadi sedikit bereaksi kont01nya. Tak lama mereka pun tiba. Farid menyalakan rokok, Lisna agak kurang suka sebenarnya, sayangnya suaminya mengijinkan anak ini merokok setelah masuk kuliah, memang suaminya juga merokok. Mereka duduk menunggu pesanan diantar, ibunya memulai percakapan.

”Gimana kuliahmu..?”
”Biasa saja bu.”
”Ya…yang penting kamu tekun saja. Ayah dan ibu pasti mendukung. Ngomong – ngomong sudah hampir setahun kamu kuliah, jangan – jangan sudah punya pacar nih…”
”Ah ibu bisa saja, tadi katanya Farid musti tekun kuliah.”
”Bukan begitu, kalau memang ada yang kamu suka ya jalankan saja kalau memang itu jodohmu.”
”Belum bu, belum…masih mencari yang tepat dan sesuai.”

Pesanan mereka diantarkan, mereka meminumnya sambil ngobrol ringan. Setelah selesai ibunya memesan lagi 2 bungkus buat pakde dan bude. Jam hampir jam 9 kurang saat mereka tiba. Pakde sudah pulang, lagi di ruang kerja. Farid mengantarkan wedang jahe lalu keluar lagi. Ke kamarnya baca buku. Ibu dan bude masih asik ngobrol. Tak lama ibunya masuk kamar, sebelum tidur ibunya menelepon ayah. Farid hanya mendengarkan saja. Setelah selesai ibunya langsung tidur. Farid masih asik membaca buku. Lumayan banyak halaman yang ia sudah baca, matanya sudah penat, ia segera menaruh bukunya. Ia melihat ibunya, nampak sudah terlelap. Sungguh sangat dilematis bagi Farid. Setelah ia mengintip ibunya tadi sore, kini dirinya menyimpan hasrat yang baru, yang jauh melebihi dari sekedar mengintip. Wajah ibunya nampak sangat cantik, Farid memandang dasternya, sayang daster tidur yang saat ini ibunya kenakan yang model besar dan longgar. Lama Farid memandangnya, sambil berkhayal jorok…..ah sudahlah, sudah jam 1 kurang, lebih baik keluar, menunggu bola. Farid pun keluar kamarnya, takut kalau di kamar terus otaknya akan pusing tujuh keliling. Di luar ia menyalakan rokok sambil menonton TV. Masih menonton Film, setelah agak lama, acara siarang langsung siap dimulai. Baru saja ia mau membangunkan Pakdenya, Pakdenya sudah keluar dari kamar. Akhirnya mereka mengobrol sambil menonton bola sambil menikmati kopi dan cemilan. Pertandingannya juga seru. Silih berganti menyerang. Farid dan Pakdenya sesekali berteriak kalau ada moment seru. Sesudah selesai Farid masuk kamar, ngantuk berat langsung tidur. Untunglah pikirnya…jadi nggak ngeres nih otak.

Paginya ia sudah bangun, memang sudah terbiasa, walau nonton bola sampai larut, tapi tetap di pagi hari ia bangun. Setelah selesai sarapan, ia berangkat kuliah. Pulang siang, langsung tidur pulas. Sorenya ia bangun, didengarnya suara air di kamar mandi, segera saja ia berdiri, mengintip, kembali ia terpesona dengan tubuh telanjang ibunya. Tapi tak lama ia mengintip, langsung kembali pura – pura tidur. Ibunya memakai daster model kaos dan celana pendek. Malamnya semuanya asik berkumpul menonton TV, sambil bersantai Sekitar jam 10…byar…pet…lha mati lampu. Ibunya nampak terpekik. Untung tak sampai berapa detik lampu emergency menyala. Memang selain tak tahan gerah, ibunya juga paling takut sama gelap. Kalau gelap biasa saja, yang masih mendapat cahaya dari ruang lain ibunya tak begitu takut, tapi kalau gelap total seperti ini, ibunya sangat takut. Katanya saat kecil dulu, waktu mati lampu, ibu pernah ditakuti sama para sepupunya yang menyamar pakai sprei putih. Ibu menjerit histeris saat itu, makanya ibu samapi sekarang paling takut sama gelap. Mau pakai lilin satu tak masalah, yang penting ada cahaya.

Farid dan Pakde lalu mengobrol sambil merokok di teras, ibu dan bude tetap di dalam. Lama juga mati lampunya, hampir 2 jam kini, belum nyala. Ibu dan budenya sudah masuk kamar. Di kamar Farid juga ada lampu emergency. Farid menyalakan sebatang rokok lagi, kembali mengobrol. Setengah jam kemudian Pakdenya juga mengantuk, akhirnya mereka masuk, Farid mengunci pintu dan jendela. Farid masuk kamarnya, ibunya nampak sudah tidur di pojokan, memeluk guling, agak gelap. Lampu emergencynya di atas lemari sudah agak lemah pancarannya. Farid melihat jendela juga dibuka sama ibunya. Farid segera berbaring di ujung satunya. Sebelum lupa, ia pencet tombol kipas angin, biar pas listrik nyala, kipas angin langsung nyala. Hampir satu jam ia berbaring, susah tidur, gerah, kampret nih pikirnya…bayar listrik saja yang mahal, sekalinya mati, lama benar, sudah hampir 4 jam mati lampu, nanti sekalian saja deh ajak teman kampus demo. Mungkin makiannya berguna juga, tak berapa lama listrik menyala…baguslah pikirnya. Ia segera bangun menutup jendela, takut banyak nyamuk, juga kipas angin sudah menyala. Dan pas ia berbalik mau ke tempat tidur, ia terpana, tadi karena lampu emergency yang tak terlalu terang, ibunya yang tidur di pojokan yang agak gelap dan terhalang guling, matanya tak begitu jelas melihat. Kini setelah lampu terang, ia melihat ternyata ibunya tidur dengan melepas bagian atas dasternya, hanya ber BH saja, mungkin saking gerahnya, tadinya mungkin ia menggunakan daster yang ia lepas sebagai penutup, juga menutupinya dengan memeluk guling, kini setelah terlelap beberapa lama, gulingnya sudah tak ia peluk lagi, dan dasternya sudah lepas. Farid meneguk ludahnya. Pemandangan yang dilihatnya sangat merangsang nafsunya.Tangan ibunya satu terangkat ke belakang kepala, sebagai bantal kepalanya, memperlihatkan rimbunan keteknya, juga teteknya yang besar di balik bungkusan BH yang ketat, sontak kont01nya langsung meronta. Ibunya sudah terlelap, apalagi kini kipas angin sudah menyala. Mulai nyaman dan sejuk. Walau begitu nampak tubuh ibunya masih sedikit menyisakan keringat. Membuatnya berkilat dan mempesona..

Perlahan Farid naik ke tempat tidur, berbaring. Matanya terus menatap pemandangan menggoda di hadapannya. Ampun….pikirnya. 15 menit pertama ia hanya memuaskan diri dengan melihat, celananya sudah sesak sekali. Belahan tetek ibunya sangat jelas sekali. Bahkan Farid bisa melihat pentilnya yang terceplak samar di balik BH yang agak tipis itu. Farid mulai goyah, akhirnya dengan sangat perlahan ia mendekat. Dengan agak gemetar, hidungnya mulai menciumi pangkal lengan ibunya, aroma yang harum dan menggelitik nafsunya mulai tercium. Tangannya terjulur, mulai membelai bulu ketek ibunya, keset dan tebal. Setelah puas, ia beralih…tangannya dengan gemetar memegang BH putih ibunya, terasa keras dan empuk. Sesekali jarinya menyentuh belahan tetek ibunya yang sangat dalam itu. Lama ia menyentuhnya, pentilnya terasa juga walau dibalik BH, ibunya nampak masih tertidur pulas. Makin lama makin timbul keberanian Farid, nekad deh pikirnya, tingal lihat nanti saja, paling kalau tengsin cuma diomelin. Jari jemarinya dengan terampil dan perlahan mulai mengangkat bagian bawah BH ibunya, agak sulit di awalnya, cukup ketat membungkus tetek ibunya, lalu BH itu mulai kendor, dan diangkatnya penutup BH itu…jantung Farid berdetak dengan sangat tidak normal kini. Bahkan Farid merasa ia bisa mendengar dentuman detak jantungnya yang berdebar. Tetek besar itu kini terpampang bebas, sangat kencang dengan pentil mengacung sempurna, dihiasi lingkaran kecoklatan yang agak lebar. Tepat saat ia masih mengagumi, ibunya bergeser, kini tidur dengan tubuh miring.

Farid dengan perlahan mulai berbaring, kepalanya tepat di depan tetek ibunya itu. Jarinya mulai menyentuh pentilnya, keras juga empuk, tak lama ia menyentuhnya, ia punya agenda lain. Mulutnya mulai bergerak, pentil itu mulai ia jilati, aroma wangi sabun dan sedikit keringat karena ibunya tadi kegerahan sungguh menimbulkan sensasi wangi yang menaikkan birahinya. Lidahnya mulai menggoyang – goyang pentil ibunya. Lalu ia mulai mengulumnya, menghisapnya lembut, nampak tubuh ibunya sedikit bergerak, tapi masih tertidur. Kont01nya sudah sangat keras saat ini. Satu tangannya menyusup ke balik celananya, memainkan kont01nya. Farid asik sekali mengulum dan menghisap kedua pentil itu bergantian, ibunya masih pulas tertidur, bahkan sesekali ibunya mendesah, membuat Farid makin terangsang, sedikit makin berani, ia mulai meremas tetek ibunya. Saking semangatnya ia menghisap pentilnya dengan kuat. Ibunya tentu saja kelojotan dan segera terbangun, nampak kaget dan terkejut, Farid juga terkejut segera melepaskan mulutnya dari pentil ibunya. Tangannya yang tadi meremas kont01 juga sudah ia keluarkan. Ibunya segera merapikan BH-nya, menutupinya dengan daster. Suara ibunya pelan saat berbicara takut terdengar keluar, namun nada marahnya tak bisa disembunyikan. Farid memasang muka bersalah dan menyesal.

”FARID..A..apa yang kamu lakukan.”
”Se…sebelumnya Farid minta maaf bu. Ta…tapi tadi saat lampu menyala, Farid melihat ibu yang hanya tidur memakai BH, Fa…Farid jadi ingin merasakan ba..bagaimana rasanya menetek sama ibu. Ma…maafkan Farid bu.”
”Duh…nak, kamu ini sudah besar, sudah tak pantas lagi seperti itu. Ini juga salah ibu, karena gerah makanya tidur hanya seperti ini.”
”Bu…Farid benar – benar menyesal, tapi sungguh tak ada niat lain. Farid hanya mau merasakan menetek saja. Maaf ya bu.”
”Sudah…ibu sebenarnya marah, tapi kali ini ibu maafkan, ingat kamu sudah sebesar ini, sudah tak pantas lagi menetek sama ibu, ada – ada saja kamu.”
”Ya…ya bu…eh…boleh nggak Farid menetek sebentar lagi, tanggung bu.”
”Nggak…nggak…sudah kamu tidur sana.”

Ibunya menunggu Farid pindah ke ujung ranjang, saat Farid berbalik, ibunya segera memakai dasternya, berbaring menghadap tembok, sungguh…Lisna sangat terkejut dengan apa yang Farid perbuat. Macam – macam saja pikirnya. Tapi anak itu tak salah sepenuhnya, salah Lisna juga tidur dengan hanya ber BH saja. Wajarlah anak seusia Farid tergoda. Lisna kemudian kembali memejamkan matanya, ia merasakan m3meknya sedikit basah.

Farid berbaring memunggungi ibunya…nyaris pikirnya. Ia memang sudah memperhitungkan resikonya, dan memang ibunya hanya marah saja. Tak mungkin sampai mengadu ke ayahnya. Farid memang menyesal….sangat menyesal karena tak bisa ke tahap lebih jauh.

Esoknya sikap ibunya sudah seperti biasa. Hanya Farid yang sedikit canggung. Tapi tak urung malamnya Farid meminta untuk menetek sama ibunya, biar bagaimanapun setelah merasakan. Tentu Farid ingin merasakannya lagi, tentu saja ditolak mentah – mentah oleh ibunya. Farid tidur sambil merengut. Pantang menyerah saat tidur esok harinya ia kembali meminta, kali ini dengan rayuan maut dan ancaman. Lisna hanya berbaring saja mendengarkan ocehan anaknya ini.

”Bu…ayo dong…kasih deh, satu kali saja.”
”Nggak…kamu ini sudah bangkotan begini, minta yang aneh – aneh saja.”
”Bu…ibu nggak sayang nih sama Farid.”
”Rid…ibu sayang sama kamu, tapi kalau kamu minta yang aneh kayak gini, tak ada kaitannya sama soal kasih sayang ibu.”
”Ah pokoknya memang ibu tak sayang.”

Lisna hanya diam saja. Walau ia sayang sama anak lelaki bontotnya ini, tentu ada batasnya, nggak mungkin ia mengabulkannya. Lisna memilih diam saja, biar saja pikirnya, nanti juga kalau didiamin, anak itu akan anteng dengan sendirinya. Lagian sudah lama nih bocah nggak pernah kolokan berlebihan, kok sekarang sudah sebesar ini dia mulai lagi. Farid kembali merengek.

”Baik kalau ibu tak mau, nanti Farid nggak akan pernah mau pulang ke Jakarta.”
”Rid…jangan begitu. Tapi kalau kamu tak mau pulang ya nggak apa, ibu juga bisa ngirit jadinya hehehe.”
”Tuh..ibu malah bercanda. Sudah kalau ibu tak mau, biarin nanti Farid bayar perempuan saja buat ngerasain netek. Iya…Farid bakal lakukan itu.”
”Rid…jangan…bahaya tahu, kamu bisa kena penyakit.”
”Biarin…lagian kalau netek doang mana ada sih kena penyakit. Besok Farid mau lakukan deh.”
”Rid kamu ini kelewatan ya. Kamu mikir dong. Aduh nggak tahu deh ibu musti ngomong apalagi.”

Lisna hanya diam saja, berpikir. Susah punya anak laki paling kecil. Kalau sudah maunya suka aneh – aneh. Dia pikir nggak ada resikonya apa bayar perempuan…duh nih anak. Dibilangi malah bisa saja jawabnya, kalau netek saja nggak bahaya. Lisna menghela nafas menatap Farid yang merengut.

”Eh..baiklah, ibu akan turuti, dengan dua syarat.”

Wajah Farid langsung berubah cerah. Dengan agak nyengir ia segera menjawab, ibunya jadi sedikit kesal melihat cengirannya.

”Ya sudah…apa syaratnya bu ?”
”Pertama…ingat ini hanya karena ibu sayang sama kamu maka ibu ijinkan itu juga hanya kali ini aja, tak ada yang lain kali, mau kamu ngambek atau ngapain kek, ibu nggak bakalan kasih lagi.”
”Oke…terus apa lagi bu…?”
”Kedua…jangan pernah kamu membayar perempuan buat hal – hal yang aneh. Jangan, ingatlah ibu dan kakakmu yang juga wanita. Lagipula resikonya Rid. Ibu perlu menekankan hal ini, kamu biar bagaimanapun jauh dari pengawasan ayah dan ibu.”
”Iya bu.”

Lisna lalu diam sejenak, agak ragu, ia mengenakan daster panjang berbahu, mau menurunkan dasternya lewat bahu jelas tak bisa, terlalu sempit, karena belahan lehernya tinggi dan rapat. Dengan sungkan akhirnya ia mengangkat roknya, Farid sekilas bisa melihat pahanya yang mulus juga CD-putihnya yang tebal, Lisna segera menutupi daerah selangkangannya dengan bantal. Ia kembali mengangkat dasternya, memperlihatkan perutnya yang rata dan mulus, sedikit lagi, nampak bagian bawah teteknya, akhirnya teteknya yang besar terlihat bebas, tanpa BH. Farid menatapnya tanpa berkedip, Lisna sedikit risih jadinya.

”Sudah..nggak perlu dilihatin terus sampai melotot begitu, kalau mau netek cepat, kalau sudah, kamu cepat tidur.”
”I..iya bu, bukan melihati, hanya mengamati lebih jauh dulu.”
”Alah…apa bedanya Rid. Kalau kamu tak mau ya sudah, ibu turunin lagi daster ibu. Ibu juga mau tidur.”

Farid tentu saja tak mau ibunya mengurungkan niatnya, segera ia berbarig sejajar dekat ibunya. Mulutnya segera menghisap pentil ibunya. Pentil itu masih setengah mekar saat ini. Lidahnya segera menjilati dan memainkannya. Lisna agak terkejut jadinya, tak menyangka anaknya akan memainkan pentilnya, namun ia hanya diam saja. Ya…sebenarnya para pembaca juga pasti sudah pahamlah niat dan agenda terselubung si Farid sebenarnya. Farid masih asik memainkan pentil ibunya bergantian. Dia ingat sekali, dulu waktu SMA dia sering ngewek sama pacarnya. Dan pacarnya selalu terangsang setiap kali Farid memainkan tetek dan pentilnya. Padahal saat itu tetek pacarnya tak begitu besar, masih dalam tahap pertumbuhan. Dan kini saat ia melakukannya pada tetek ibunya yang besar ternyata efeknya lebih dashyat. Farid merasakan sesekali suara ibunya mendesah tertahan, mungkin tak mau anaknya mendengar, kedua pentilnya sudah sangat besar dan mekar mengacung, terasa nikmat sekali dikulum oleh lidahnya. Farid menghisapnya bervariasi, pelan lembut lalu kuat, berulang – ulang, bahkan ibunya diam saja tak melarang saat Farid makin berani, tangannya kini meremas kuat tetek milik Lisna sambil menghisap pentilnya kuat. Desahannya kini sudah terdengar jelas di telinga Farid.

”Ssshh…Ooohh…sudaaaahhh…yaaa…Rid…”
”Aaahhh…Riddd…sudaaaahhh…..ibuuuu…”
”Ughhh….taaakk……tahhaaaaannnnnn……”

Bantal yang menutupi CDnya terlepas saat Lisna mengangkat pantatnya, mengejang dan menyemburkan orgasme. Sungguh bahkan dengan suaminyapun ia tak pernah mengalami orgasme hanya dengan dimainkan teteknya atau pentilnya. Mungkin karena suaminya itu, kalau sudah puas main sama teteknya dan ngacengnya sudah keras akan segera menyodok m3meknya. Tapi anaknya ini, Farid amat sangat membuatnya terangsang, lidahnya begitu menggelitik pentilnya, dan mungkin karena yang melakukannya Farid, anaknya sendiri, yang seharusnya tak boleh malah makin membuatnya bergairah, hisapannya yang kuat, sudah begitu Farid sudah lumayan lama menetek padanya. Hampir setengah jam lebih, bukan hanya menetek tepatnya, dibarengi remasan dan permainan lidah yang agresif pada pentilnya. Lisna benar – benar merasakan sekujur tubuhnya dibanjiri kenikmatan. Ia sebenarnya sudah mau menyuruh Farid stop, sudah cukup, pasti anak itu juga sudah puas, tapi ia tak bisa, masih merasakan nikmatnya saat teteknya yang besar ini dimainkan dan diremas sama anaknya ini. Biarkan sebentar saja lagi deh pikirnya toleran.

Farid merasakan betapa sesaknya celana pendeknya, tanpa ibunya sadari, satu tangannya perlahan menurunkan celana dan kolornya sebatas paha, membebaskan kont01nya dari sengsara. Ia masih asik mengulum pentil ibunya, kini pentil itu sudah sangat keras dan kemerahan karana Farid terus menghisapnya dengan kuat. Farid menyadari bantal yang tadi menutupi CD- ibunya kini sudah entah di mana, juga entah ibunya sadar atau tidak. Yang pasti kont01nya yang bebas kini tepat menghadap CD yang kelihatan tebal itu. Perlahan ia geser pantatnya, sedikit demi sedikit, akhirnya kepala kont01nya menyentuh CD ibunya.

Lisna masih menikmati hispan pada pentilnya, makin kuat Farid menghisapnya, membuat badan Lisna serasa melayang. Lalu ia menyadari, sepertinya ada sesuatu yang sudah amat familiar sekali menyentuh permukaan CD-nya. Ya..ampun ini kan..ini kan…ujung kont01 anaknya. Lisna agak kaget, tapi ia berpikir, mungkin Farid sudah sangat ngaceng, jadi menurunkan celananya karena merasa sesak. Dan karena posisi mereka berdekatan saat Farid menetek, maka wajarlah kalau ujung kont01nya menyentuh permukaan CD-nya, itu bukan kesengajaan. Lisna memutuskan membiarkan saja. Tapi makin lama ia meraasakan sentuhan itu makin cepat, sudah menyerupai gesekan yang konstant, bahkan saat ia agak merenggangkan kakinya karena sedikit pegal dan untuk menyamankan kembali CD-nya yang sudah agak basah menempel, kont01 Farid dengan cepat merangsek masuk menempel di antara kedua pangkal pahanya, tepat di bawah CD-nya. Biarkan saja pikir Lisna, mungkin saat ia agak merenggangkan kakki, tak sengaja kont01 anaknya meleset masuk ke antara pahanya. Maka kini kont01 Farid berada di antara jepitan pangkal selangkangannya. Lisna bahkan hanya diam saja saat kont01 itu mulai bergerak maju mundur….wajar saja, Farid lagi menetek, Lisna agak menggerakkan badannya sesekali, mungkin ia menyesuaikan ritme badannya dengan tetekku yang bergoyang. Lisna sedikit terkejut juga, menyadari besarnya benda yang sedang menempel di pangkal pahanya. Besar dan cukup panjang. Ia merasakan bagian bawah CD-nya terelus dengan nyaman seiring kont01 yang maju mundur di jepitan pahanya. Tak urung ia merasakan m3meknya makin basah saja Saat ini ia merasakan sensasi yang tak biasa. Jujurnya, suaminya sendiri amat memuaskan dirinya. Selalu bisa membuatnya menikmati dan mengalami orgasme setiap berhubungan. Mungkin kini sedikit berkurang frewkensinya, karena usia suaminya tak mudah lagi, namun secara kemampuan, Lisna merasakan cukup dan terpuaskan. Namun saat ini ia merasakan sesuatu yang lain. Ada kenikmatan tersendiri yang menjalari tubuhnya.

Farid menyadari ibunya hanya diam saja, tahap demi tahap, secara perlahan Farid bergerak, kini bahkan kont01nya sudah berada di jepitan pangkal paha ibunya, di bawah selangkangannya, ibunya tak melarang, tetap diam, juga saat ia memaju mundurkan memompa kont01nya. Makin PeDe saja Farid, masih tetap menetek, satu tangannya kini meluncur turun ke bawah, dan mulai diletakkan di atas CD ibunya. Hanya diletakkan, menunggu reaksi ibunya, tak ada reaksi. Farid mendiamkan saja dahulu, merasakan ketebalan dan nyamannya CD itu. Lalu setelah agak lama, Farid makin nekad saja, tangannya mulai menyusup ke balik CD ibunya. Saat itu Lisna tersadar. Ia melarang anaknya, suaranya direndahkan sepelan mungkin. Kont01 Farid masih di jepitan pahanya.

”Farid…cukup nak. Jangan kau melangkah lebih jauh lagi.”
”Ta…tapi bu…”
”Cukup…tadi juga kau hanya minta menetek saja kan, nah sudah ibu berikan, sekarang sudah, cukup, jangan melangkah terlalu jauh. Kita sudahi dan tidur.”
”Ibu…ibu sebenarnya curang, kalau memang dari awalnya ibu hanya mengijinkan Farid menetek, kenapa ibu tak melarang saat kont01 Farid mulai menyentuh CD ibu, bahkan saat berada di jepitan paha ibu, ibu mendiamkan saja.”
”Bu…bukan begitu nak…”
”Memang BEGITU bu. Sekarang saat Farid sudah dalam kondisi BEGINI, ibu malah menghentikan, makanya Farid bilang ibu curang.”
”Te..terus maumu bagaimana…?”
”Paling tidak biarkan Farid menyelesaikannya bu, sampai keluar. Sekali in saja”
”APA..? TIDAK…ibu belum gila nak…..ta..tapi baiklah karena kamu bilang ibu curang, ibu bantu kamu sampai tuntas, tetap dengan posisi ini, di jepitan paha. Ingat, pertama dan terakhir kalinya.”

Farid tak menyahut, sebagai jawaban ia mulai menggerakkan pantatnya, memaju mundurkan kont01nya. Perlahan saja, juga menyerang kembali pentil ibunya dengan hisapan dan kuluman yang kuat. Lama – lama gerakan kont01nya makin cepat, sedikit membuat paha Lisna berkeringat, Lisna sendiri sebenarnya mulai merasakan terangsang, namun mana bisa pikirnya. Tak boleh dan tak mungkin. Karena desakan tubuh Farid, makin lama tubuh Lisna makin mepet ke tembok, sedikit banyak menghambat gerakannya dan justru membuat Farid makin leluasa menekannya. Kont01 Farid bergerak cepat, karena terlalu cepat jepitan paha Lisna makin renggang, bahkan sangat renggang, kont01 Farid terlepas. Baru saja Lisna hendak menyuruh Farid membetulkannya, anaknya ini sudah bertindak cepat, sangat cepat, tubuh atas Farid menempel ke teteknya, menekannya kuat, tangannya di bawah tak bisa bergerak, satu tangannya di atas dipegang kuat oleh Farid. Sementara entah bagaimana caranya dan cepatnya, satu tangan Farid yang lain sudah mengangkat bagian penutup CD-nya merenggangkannya, dan karena m3meknya memang sudah basah dan mekar, dengan cepat dan mudah kont01 anaknya itu sudah menerobos masuk ke dalam lobang m3meknya, tubuh Lisna bergetar saat kont01 Farid menghujam masuk. Ia mau protest dan marah, tapi bibirnya sudah di ciumi dengan kuat oleh anaknya itu. Lisna berusaha memberontak, tapi sia – sia, Farid sudah mulai memompakan kont01nya, tangannya yang tadi mengangkat CD-nya sudah beralih fungsi, kini sambil memainkan it1lnya. Farid merasakan nikmat sekali m3mek ibunya ini, masih terasa rapat dan hangat. Kont01nya menyodok dengan mantap, keluar masuk tanpa jeda. Lisna masih berusaha melepaskan ciuman Farid, tapi sulit. Sodokan Farid makin kuat saja, tanpa ampun, saat menusuk ke dalam, ia sodokkan sedalam mungkin, belum lagi jemarinya sangat aktif menggelitik it1lnya. Lisna lambat laun mulai merasakan gelombang kenikmatan menghantam dirinya. Sejujurnya sewaktu Farid belum nekad memasukkan kont01nya secara paksa, Lisna juga sudah mulai tak tahan, ia sudah merasakan sangat terangsang dengan gesekan kont01 Farid di pahanya. Memang Lisna mudah sekali bangkit birahinya, sedikit rangsangan yang pas akan membuatnya panas. Saat Farid masih memompa kont01nya pada jepitan pahanya, Lisna juga sudah mulai berpikir…entah berapa lama lagi ia mampu menahan gairahnya, ini bukan lagi masalah hubungan ibu – anak, ini masalah gairahnya sebagai wanita. Dan tanpa ia duga, justru saat ia sedikit kendor, anak itu dengan cepat memanfaatkannya. Bukan salah anak itu sepenuhnya, lelaki manapun pasti tak sabar dan merasa puas hanya dengan jepitan paha saja saat lelaki itu sudah sangat terangsang.

Dan kini Lisna mulai menikmati, pantatnya bahkan ikut bergoyang sesekali mengimbangi. Farid juga merasakan perubahan bahasa tubuh ibunya ini, namun ia belum mau melepaskan ciumannya yang sekaligus mencegah ibunya berteriak. Tidak sampai saat yang tepat pikir Farid. Maka ia segera mempercepat sodokannya, makin mempercepat permainan jarinya di it1l ibunya. Badan Lisna mulai bergerak liar, desahannya tertahan mulut Farid. Sodokan kont01 anaknya sangat mantap, belum lagi it1lnya yang geli – geli enak. Tak butuh waktu lama tubuh Lisna akhirnya mengejang, menyemburkan orgasmenya. Setelah ibunya keluar, Farid memperlambat pompaannya, perlahan ia lepas ciumannya. Lisna nampak lega, sedikit mengambil nafas…

”Gila kamu Farid….apa…apa yang…”
”Bu…sudahlah, tubuh ibu nggak nolak kan..”
”Bukan itu, tapi kan kamu nggak perlu sekasar tadi.”
”Bu…ini juga karena ibu sendiri, sebenarnya mau tapi belagak nolak. Lagian mana bisa tahan Farid, sudah sejauh ini, juga salah ibu yang paling besar adalah…tubuh ibu terlalu seksi…sungguh sangat merangsang.”
”Ya sudahlah, mau bagaimana lagi, kamu sudah masukin ke dalam m3mek ibu, sekalian saja…tuntaskan sampai selesai, keluarin saja di dalam, nggak kenapa. Tapi ingat karena kamu sudah melakukannya juga karena kamu mengakui sendiri kalau kamu terangsang sama tubuh ibu……sebaiknya kamu melakukannya sebaik mungkin, atau ibu tak akan memaafkanmu.”
”Beres…anggap saja sudah dilaksanakan. Bu…celana dalamnya dibuka ya, biar nggak ribet, sekarang agak mengganggu nih…”
”Duh kamu ini, tadi waktu maksa nyodok pertama tadi, nggak ada masalah, setelah ibu melunak, malah ngelunjak, ya sudah cabut dulu kont01mu,biar ibu buka celana dalam ibu.”

Farid mencabut kont01nya, ibunya masih berbaring segera menurunkan CD-nya, Farid kembali terpesona melihat m3mek ibunya, jembutnya sangat menggiurkan, dan walau m3mek ibunya sudah sangat basah, juga lobangnya kini melebar karena baru ia sodok, tetap terlihat menawan, bahkan lobangnya yang kemerahan itu makin mempesona. Sementara Lisna baru sekarang melihat dengan jelas kont01 anaknya ini, sedari tadi hanya menerka dari merasakannya saja. Matanya menatap dengan kagum, sedikit lebih besar dari punya suaminya, juga masih penuh tenaga dan semangat muda. Saat ia masih menatap terpesona, Farid malah sudah asik memainkan m3meknya, pakai mulut dan lidahnya…

”Rid…aduh jangan…kan basah…Rid…”
”Farid…ibu…risiiiiihhh…aaaahhhh…”

Dan Farid memang tak peduli, walau sudah basah dan baru saja ia sodok, tetapi m3mek itu terlalu menggodanya, aromanya harum dan khas. Bahkan sedikit asin rasanya karena cairan ibunya tadi. Lidahnya asik sekali memainkan it1l ibunya, menggoyangnya ke sana kemari. Lobang m3mek ibunya ia sodok, sekaligus pakai jari telunjuj dan jari tengahnya. Lisna mendesah nikmat.

Tak mau kalah, juga tak kuat menahan gairah yang sangat enak, Lisna sedikit mengubah posisi tubuhnya, kini tangannya menggenggam kont01 anaknya itu, meremasi biji peler Farid. Tangannya mengocok kont01 anaknya yang agak lengket karena cairan m3meknya. Setelah itu tanpa ragu lidahnya mulai menjilati kont01 Farid yang kini terasa asin dan gurih. Menjilatinya dengan ganas, bertekad membalas semaksimal mungkin, bukan hanya anaknya yang bisa membuat puas….aku juga bisa. Lidahnya bergerak lincah, kini kont01 yang tadinya lengket itu sudah kembali normal, basah oleh jilatannya dan kembali terasa tawar. Lidahnya menggelitik kepala kont01 Farid, membuat anaknya sedikit menggoyangkan pantatnya. Lalu hup…perlahan mulutnya mulai mengulum dan menelan kont01 itu, amblas sampai batas maksimal mulutnya mampu menelan, saat sudah masuk semua ke mulutnya, ia segera mengemut dan menghisapnya kuat, kontan Farid kelojotan, gilaaaa….ternyata ibu sangat hebat untuk urusan ini pikir Farid yang sementara ini sedang asik memainkan m3mek Lisna. Kont01nya terasa dikulum dan dipompa dengan cepat, enaknya saat bersentuhan dengan bibir Lisna yang tebal menggoda itu. Belum lagi saat mengulum dan menghisap, lidah ibunya tetap aktif menggelitik. Mana tahaaaannnnn……

Lidah Farid masih saja menggoyangkan it1l yang lumayan besar itu, sesekali menghisap dan menariknya lembut. Jarinya juga makin cepat saja menyodok lobang m3mek ibunya itu. Terasa basah dan lengket pada kedua jarinya itu. Dengan gemas ia menarik lembut it1l ibunya, Lisna kelojotan, kembali Farid menggoyangkan it1l itu secepat dan selincah mungkin, lidahnya bergerak tanpa henti.

Kunjungan ibu ini benar – benar menyenangkan sekali, hampir tiap malam kini Farid menyodok ibunya, bebagai macam gaya dan variasi. Kadang pagi sebelum kuliah, ia dan ibunya akan mengunci pintu kamar untuk secara cepat melakukannya seronde saja. Ibunya juga jujur mengakui, ayahnya masih oke dan kompeten dalam menunaikan tugasnya memuaskan ibunya, tapi ibunya menikmati sensasi yang berbeda saat melakukannya dengan Farid, bahkan ibunya mengakui kalau ia lebih sering dan mudah orgasme bersama Farid, entahlah…mungkin karena merasakan rangsangan tersendiri dari hal yang seharusnya tak boleh. Setelah satu bulan, Farid mendapat kesempatan hanya berduaan saja sama ibunya. Kok bisa…? Iya, Pakde dan Budenya harus pergi menghadiri kondangan keluarga besannya, mertuanya mbak Sinta. Mereka pergi naik mobil Pakde. Pakde, Bude, mbak Sinta dan suaminya beserta kedua besannya. Yang kawin itu anak adik besannya, karena waktu mbak Sinta kawin mereka datang dan membantu, tentu saja sekarang Pakde merasa wajib hadir. Lokasinya lumayan jauh, sudah dekat kota Semarang. Mereka pergi Jumat sore, rencananya balik minggu malam. Tadinya ibu diajak, tapi ibu beralasan ia tak terlalu kenal dan tak berkepentingan, juga harus menunggui Farid. Dan kini mereka hanya berdua saja. Sepanjang hari rumah Pakde terkunci, jendelanya tertutup rapat.

Ibunya baru saja selesai mengirim SMS ke ayahnya. Menanyakan kabar. Menaruh HP-nya di tepi meja. Ia dan Farid tak berbusana….nggak mau repot, toh hampir tiap saat mereka melakukannya, kalaupun istirahat dan mengobrol, maka tak lama setelah merasa segar dan sama – sama terangsang, mereka akan melakukannya lagi, di mana saja, selama 2 hari ini rumah ini bebas menjadi milik mereka. Dan baru saja ia bersandar, Farid sudah memeluknya dari samping, mendesaknya, sedikit mendorong pantatnya ke atas, kini Farid masuk menyelinap. Farid yang kini duduk bersandar di sofa. Ibunya kini di pangkuan pahanya, memunggunginya. Farid segera saja, mulai merangsang ibunya, meremas teteknya dan memilin pentilnya, lembut lalu kuat, setelah bosan memakai tangannya, anak itu agak mencodongkan miring badannya, mulai menghisap pentilnya, sementara tangannya melebarkan kaki ibunya. Tangannya mulai mengelus jembutnya, memainkannya, sesekali menarik – nariknya dengan gemas, akhirnya jarinya mulai melebarkan belahan m3meknya, jarinya mulai memainkan it1lnya, jari tangan yang lain mulai menyodok m3meknya. Kont01 Farid sendiri sudah ngaceng, tapi masih ia letakkan dengan manis di belahan pantat ibunya. Lisna mulai merasa terangsang saat jari anaknya memainkan lobang m3meknya, tangannya terangkat, mengapit bagian belakang kepala Farid. Kepalanya bersandar di bahu Farid. Farid dengan ganas mulai menciumi dan menjilati keteknya yang rimbun, sesekali menarik bulu halus itu lembut dengan mulutnya. Anak itu suka sekali sama ketek ibunya ini, sangat merangsang katanya, bukannya terlihat jorok, malah sangat seksi, kontras, menambah daya tarik tubuh mulus dan putih ibunya. Bergantian rambut di pangkal lengan Lisna ia jilati, sampai agak basah jadinya. Sementara it1l Lisna semakin menjadi – jadi ia mainkan, membuat Lisna mendesah dan kelojotan….Aaahhhhh…dengan cepat Lisna menggapai orgasmenya….bandit cilik ini selalu membuatku sangat terangsang dan mudah mendapat orgasme pikir Lisna. Farid melepaskan tangannya yang tadi mengerjai it1l ibunya itu, membiarkan ibunya memegang kendali.

Tangan Farid segera mendorong belahan pantatnya ke atas, Farid memegang batang kont01nya. Ibunya lalu mulai perlahan menurunkan pantatnya…..blesss….dengan sangat terkendali dan mulus, lobang m3mek itu mulai turun menelan kont01nya, Farid sedikit meringis kegelian…lalu ibunya mulai menggoyangkan pantatnya, naik turun, kiri kanan, memompa dan memberikan kenikmatan pada kont01 Farid, Farid hanya bersantai saja menikmati, tangannya saja yang masih asik meremas tetek besar ibunya itu. Lisna menggerakkan pinggulnya perlahan lalu cepat, kini bahkan saat naik, sengaja ia naik sampai batas kepala kont01 Farid, lalu bless ia turun lagi, naik lagi dengan posisi yang sama, makin lama makin cepat. Farid sampai merem – melek menahan nikmatnya sensasi dan rasa geli yang teramat sangat pada kont01nya. Guna meredam agresifitas ibunya, kini jemari tangannya segera memainkan kembali it1l ibunya, menggoyangkan dan menjepit seskali it1l itu dengan jarinya. Ibunya sedikit banyak teredam agresifitasnya, kenikmatan yang seimbang bagi keduanya. Kini ibunya mulai mendesah sesekali, apalagi saat Farid memilin agak kuat dan menarik – narik it1lnya lembut.

Lagi enaknya bermain, HP-ibunya berbunyi, panggilan masuk. Karena dekat, maka tangan Lisna menjangkaunya, mengambil HP di tepi meja itu, Ia melihat layar, membaca siapa yang menelepon, ia melihat lalu menunjukkannya ke Farid. Dari suaminya, ayah Farid. Sebenarnya Lisna enggan menjawab sekarang, nanti saja ia telepon lagi, tapi tangan Farid malah dengan cepat sudah menekan tombol jawab. Mau tak mau Lisna berbicara, karena dekat dengan kupingnya, Farid bisa mendengar suara ayahnya. Lisna kini berhenti menggoyangkan pinggulnya, eh malah Farid yang bergerak menyodok kont01nya, satu tangannya memegang kuat kedua paha Lisna, menyebabkan Lisna tak bisa menghentikan gerakan Farid, tangan yang lain masih memainkan it1lnya.

”Ya…mas, tadi aku SMS ke kamuuuu…”
”Oh iya, tadi mas lagi pergi keluar sama teman, HP-nya mas tak bawa, Caru makan sekalian beli rokok di warung. Gimana kabar di sana Lisna…?”
”Baiiikk maasss…”
”Si Farid gimana kabarnya…?”
”Baik Jugaaaa….Ahh…sehat, mas sendirii..?”
“Baik…eh kamu kenapa si dari setadi kok nafasnya terengah begitu…?”
”Iniii…akuu lagi beresin kamaar si Fariiid. Nggak enak kan sama Mbak Sriii, kotor banyaakk debunya, maklum anak laki malass…hidungkuu banyak kemasukaaann debu…..susah nafas agak tersumbaaattt, mana berat ngangkatin barang sendiriaannn…aaahhh..sori mas sambil ngangkat barang nih. Gimana kerjanya..?”
”Baik, lancar, memang sedikit sulit melacak transaksi yang terlanjur dimanipulasi itu…butuh waktu mentrace ulang.”

Lisna agak memiringkan kepalanya, melotot ke Farid, nih anak bukannya diam malah makin kuat saja nyodoknya, belum lagi tanganya mainin it1lnya. Farid malah nyengir tanpa rasa bersalah. Lisna baru mau melotot lagi memberi tanda menyuruh Farid berhenti dulu, suara suaminya sudah terdengar…

”Eh…memangnya pada ke mana semuanya…”
”Mbak sama suaminya kondangan, si Farid ngelayaaap, ya sudah…aku sendiriannnn..”
”Oh gitu…Las…aku kangen nih sama kamu…”
”Aku juga maaas…”
”Pingin cepat ketemu, mau ngerasain itu kamu yang enak.”
”Hehehe…samaaa…aku juga kangen sama anunya maas…”
”Las..aku lagi di kamarku di mess ini, sendirian. Jadi bebas saja ya, aku kangen nih sama tubuhmu, desahanmu…duh…tuh kan…jadi bereaksi deh.”
”Samaaa maasss….maasss, Lisna hibuur sama desahan Lisna yaaa…”
”He eh…yang seksi dan nafsuin ya….kan kamu juga lagi sendirian di sana.”
”Aaaaahh…..Oooohh…uggghhh….”
”Aww….Sssstt……Auhhhh….Yesssss”
”Duh Las, makin kangen aku jadinya….”

Sebenarnya Lisna memanfaatkan kesempatan, mumpung omongan suaminya mengarah sekalian saja deh, gila nih si Farid, mainin it1lnya kagak kira – kira sampai kelojotan dia. Setengah mati nahan orgasme, juga desahannya….untung saja saat ia keluar tadi berbarengan dengan permintaan suaminya….sinting nih si Farid. Suara mas Joko kembali terdengar…

”Persis banget kayak aslinya Las, kamu segitu kangennya ya sama aku…kasihan…”
”Iyaaaa…mas…aduuhhhh…Ooohhh…makanya akuuuu sengaajaaa kasiiihhh desahaaannn yaaang paling hoottt buat mas.”
”Iya..makasih, buat ngobatin kangen nih…”
”Iya maaass…sudah duluu yaahh, lagi repot nih lagiii ngurusin peraboootaaan si Farid. Nanti telepon lagi yaaaa…”
”Iya deh Las…sampai nanti, salam kangen dan rindu ya…”
”Yaaa…Oooohhhh….”

Lisna buru – buru mematikan HP. Segera menghentikan kegiatan Farid. Ia bahkan mencabut kont01 Farid dari m3meknya. Duh…padahal sedikit lagi nih…gerutu Farid dalam hati. Ia lalu dengan gusar duduk di samping Farid…

”Rid..kamu ini sudah edan ya, gimana kalau ayahmu curiga ?”
”kenyataannya nggak kan bu…? Lagian aku lucu saja dengar percakapan tadi. Nggak nyangka ayah yang kelihatannya kaku, bisa jadi kolokan sama ibu. Memang tubuh ibu bisa membuat siapa saja kangen….duh…aku kangen nih sama kamu….”
”Kamu ini…malah bercanda…”
”Nggak…nggak bu, memang lucu kok huahahaha…hehehe.”

Walau awalnya kesal, tapi mau tak mau akhirnya Lisna tertawa juga, memang benar sih kata Farid tadi, jarang banget suaminya kolokan seperti tadi. Jadi lucu kedengarannya. Lisnapun tertawa lepas, kemarahannya menguap begitu saja. Farid yang masih nanggung, segera merebahkan Lisna di sofa. Satu kaki Farid menginjak lantai, satunya dilipat di sofa, segera saja ia menyodokkan kont01nya ke lobang m3mek ibunya itu. Kembali memompanya dengan cepat dan kuat, menebus sedikit rasa tanggung yang masih tersisa. Kont01nya menyodok dengan cepat membuat tetek ibunya bergoyang lincah tak terkendali, makin menambah rangsangannya, ia benamkan sedalam dan sekuat mungkin, menggelitik bibir bibir kemaluan ibunya itu setiap kali kont01 itu bergerak. Tangannya memegang dan meremas erat tetek ibunya itu. Pompaan kont01nya sudah sangat maksimal, menghujani lobang m3mek yang sudah basah dan licin itu, menggelitik semua bagian dinding pada lobang nikmat tersebut. Ibunya juga sudah mulai kembali enjoy, bahkan pantatnya juga mengimbangi sodokan Farid. Mulutnya kembali mendesah nikmat. Wajahnya sangat menikmati, tergambar jelas sekali, yang makin membuat Farid nafsu saja saat melihat ekspresi penuh mesum di wajah canti ibunya itu. Jleb…jleb…plook…plook….makin cepat dan kuat….Ooohh….desahan makin nyaring….dan akhirnya…crooot…crooot…..nikmatnya. Kedua insan ini terkulai lemas dan bahagia.

Akhirnya masa – masa menyenangan Farid pun harus berakhir. Dua bulan sudah medekati akhir. Kemarin malam ayahnya menelepon ibunya, katanya 2 hari lagi pulang, pesawat yang siang, tak langsung ke rumah, mampir sebentar ke kantor. Besoknya ibunya meminta Farid mengantarnya beli oleh – oleh, bolos saja kuliah kata ibu. Bude sebenarnya mau mengantar, tapi ibu menolak, katanya sekalian mau belikan Farid baju. Ya sudah pagi – pagi kami sudah jalan. Tujuannya, nggak langsung belanja, ke hotel kelas melati yang agak di pinggiran. Memuaskan moment terakhir. Baru jam satu kami keluar dan pergi belanja. Petugas hotelnya nyengir nyebelin, dipikirnya mungkin ada tante lagi main sama brondong. Sambil beli oleh – oleh, ibu sekalian membeli tiket pesawat buat besok pagi. Sesekali naik pesawat saja kata ibu, lebih cepat. Ibu membeli oleh –oleh buat saudara ayah di Jakarta dan tetangga. Juga buat pakde dan bude. Malamnya kembali kami mereguk kenikmatan bersama untuk terakhir kali pada kunjungan ibu ini, kata ibu setelah ini libur dulu, nanti kalau aku libur kuliah dan pulang ke Jakarta, toh bisa bebas lagi melakukannya sesukaku, sepanjang pagi sampai sorekan ayah di kantor. Esoknya Pakde dan bude mengantar ibu ke airport, aku tak ikut kuliah, kemarin sudah bolos sih. Ya…dua bulan yang menyenangkan dan penuh sensasi itu sudah berakhir. Walau terlambat memulainya, tapi bagiku tak masalah. Biar agak telat aku memulainya, namun akhirnya tetap sama…nikmat. Bahkan makin enak, karena di usianya sekarang ini, ibu makin matang dan makin merangsang.

Hampir 3 bulan sudah kini berlalu. Kehidupan berjalan seperti biasa dan datar saja. Setelah kenangan indah bersama ibu mulai mereda, kembali aku mulai memikirkan bude Sri, yang sedikit tersisihkan dari otak kotorku saat kehadiran ibu, makin hot saja budeku ini. Nggak beda jauh sama ibu, bahkan bodinya sedikit lebih montok dan padat, mungkin karena bude tak setinggi ibu. Tapi tetap saja, tak bisa berbuat lebih jauh. Pendekatanku sama Yuni sedikit bergerak lebih maju, SMS dan telepon makin sering, mulai sering jalan ke mall atau ke tempat jajanan yang enak dan asik. Tapi belum pernah ke rumahnya atau ngapel, biarlah, slow saja toh arahnya sudah positive. Yuni sendiri dari pengamatanku sejauh ini sepertinya belum punya pacar, Pernah waktu lagi makan di mall, Yuni ke toilet meninggalkan HP-nya di meja, aku iseng membuka, tak ada SMS atau nama ID yang mengindikasikan pacarnya. Bahkan aku kaget karena ID namaku dia buat…Yayang Farid…wah ini sih bisa segera ditembak…tinggal tunggu moment yang greget saja.

Tapi sudahlah, cerita Yuni lain kali saja. Sekarang aku juga lagi sibuk ujian. Melelahkan, baik teori dan praktek, untung akhirnya kelar.Sambil menunggu hasil, aku jadi jarang kuliah dulu, toh lebih banyak santainya saja kalau ke kampus. Aku sering menghabiskan waktu browsing internet di rumah, Seperti pagi ini, Pakde kerja seperti biasa, bude lagi ke rumah mbak Sinta, kayaknya mbak Sinta menunjukkan gejala hamil nih.Aku bersantai saja, membuka jendela, maklum sambil merokok. Karena santai aku juga tak terburu – buru bahkan buka situs apa juga aku nggak nentuin dulu, saat aku ketik satu huruf awalan situs degan awalan k, seperti biasa di address browser suka muncul history address yang pernah dikunjungi sebelumnya yang awalannya k, mataku menangkap alamat konsultasikesehatan, perasaan nggak pernah buka situs ini, paling pakde, iseng aku klik saja deh. Halaman segera loading…tak lama…lho apaan nih…kok isinya artikel tentang ejakulasi dini sih, karena penasaran aku buka menu history. Aku sendiri kalau habis browsing selalu rajin menghapus jejakku, beda sama pakde yang agak awam. Kulihat semua adress history, rata – rata situs konsultasi kesehatan dan seksiologi, satu persatu kubuka…ejakulasi dini lagi…sama ini juga…itu juga ejakulasi dini dan cara mengatasinya…semua sama. Otakku yng tadinya mau bersantai browsing situs jorok akhirnya mau nggak mau berpikir…apakah pakdeku sedang mengalami masalah ejakulasi dini alias baru nyodok atau nempel dikit sudah langsung ngecret…sambil berpikir aku juga jadi prihatin. Akhirnya karena merasa dipikirkan juga itu bukan masalahku, Pakde juga tak mungkin cerita hal ini padaku, aku segera memulai kesibukkanku browsing situs – situs porno idolaku.

Malamnya Pakde memanggilku, bude juga ada di situ, ada apa ini..? Pakde segera memulai percakapan.

”Rid…ada yang Pakde mau omongin ke kamu.”
”Iya Pakde..ada apa…?”
”Gini, Pakde kan pernah cerita, kantor pakde belum lama ini sedang dalam tahap awal kerjasama dengan Perusahaan tambang batubara di Kalimantan dan Sumatra. Perusahaan itu bermaksud melakukan peremajaan besar – besaran pada mesin – mesinnya.”
”Ya…lalu apa hubungannya sama Farid..?”
”Bukan sama kamu hehehe. Nah Perusahaan tempat Pakde bekerja tentu tak mau menyiakan kesempatan emas in, sulit melobi perusahaan pertambangan itu samapi bisa berhsil teken kontrak. Kami bermaksud menjalin hubungan jangka panjang. Juga bagus buat kredibilitas Perusahaan sat menawarkan mesin ke tempat lain. Nah singkatnya kontrak sudah ditandatangani, mesin – mesin sebagian sudah dikirim. Nah di awal ini kantor pusat sudah menargetkan tak boleh ada kesalahan, walau tak diwajibkan dalam kontrak, tapi sudah diputuskan menyeleksi dan mengirimkan para insinyur mesin terbaik, baik dari pusat atau kantor cabang guna mengawasi kinerja mesin – mesin baru itu selama 3 bulan ke depan. biaya Perusahaan Pakde sendiri. Tadinya Pakde nggak berharap atau yakin bakalan terpilih, ya sudah tua, masih banyak yang muda, tapi dari pusat ternyata memasukkan nama Pakde untuk bertugas di sana selama 3 bulan ini.”
”Wah, selamat Pakde. Memang Pakde itu insinyur mesin yang jempolan. Masih diperhitungkan atasan.”
”Ah bisa saja kamu muji Rid, jadi GeEr nih Pakde. Tapi bukan itu masalahnya, masalahnya Pakde harus meninggalkan rumah 3 bulan ini, memang minimal sebulan sekali Pakde dapat jatah tiket pesawat buat pulang. Tapi budemu sendirian dirumah. Tak mungkin Sinta di sini terus, suaminya juga terkadang dinas luar. Lagian mbakmu itu lagi hamil muda, harus istirahat. Jadi baik di sini dan yang di sana sama – sama tak bisa menginap, nggak ada yang jagain rumah. Nah kamu kan sebentar lagi libur kuliah, Pakde minta tolong, kamu jangan pulang ya, jagain budemu, nanti Pakde akan telapon ayah ibumu mereka pasti akan mengerti…bagaimana…?”
”Ya…ba..baiklah Pakde.”
”Nah…kamu memang bisa diharapkan. Pakde telepon ayahmu dulu.”
”Kalau begtu Farid balik ke kamar dulu deh Pakde, bude…”

Walau Pakde merendah saat mengatakan ia terpilih, tapi Farid tahu Pakdenya senang dan bangga bisa terpilih, hidungnya saja sampai kembang kempis saat menceritakan hal tadi. Farid pun balik ke kamar. Jujurnya Farid nggak sepenuhnya menyanggupi, mengingat hal istimewa yang bakalan ia dapat dari ibu saat ia pulang. Tapi mau nolak, nggak enak, Pakde sudah sangat baik menerimanya, bahkan membiarkan aku memakai fasilitas internet dan ruang kerjanya. Lagipula…ehem…siapa tahu aku bisa memancing di air jernih….lho nggak salah Rid ? Bukannya memancing di air keruh ? Nggak…nggak salah kok, kalau situasinya Pakde pergi dinas, dan aku hanya tinggal berdua saja, maka namanya itu sudah air jernih hehehe.

Akhirnya memang orangtuaku tak keberatan, bahkan kata ayah, kalaupun Pakde tak minta dan ayah tahu budeku sendirian, pasti ia juga akan menyuruhku tetap tinggal di sana untuk menemani. Alasan ayah sama denganku, karena mereka sudah berbaik hati mau menerimaku. Ibu bahkan dengan teganya menggodaku saat meneleponku di HP…katanya..Kasihan anakku…libur lagi nih ye….huah…hiks. Nilai ujianku keluar, nilainya lumayan oke, Nilai C nya Cuma satu, sisanya B dan A, tak ada yang mengulang, aku naik tingkat 2.

Seminggu terakhir menjelang keberangkatan Pakde dan juga karyawan lain yang dikirim mendapat libur seminggu penuh dari kantornya. Kebijakan Perusahaan, buat berkumpul bersama keluarga. Sekalian lembur ngejatah bini…pikir Farid ngeres. Seminggu itu juga Farid yang kini banyak waktu senggang, sibuk membantu Pakdenya men-scan sketsa – sketsa diagram mesin, buku panduan dan catatan atau gambar penting lainnya, lumayan banyak. Pakdenya menyimpannya di USB, biar praktis dan mudah menemukannya kalau dibutuhkan nanti. Akhirnya Pakde berangkat. Selama awal liburan aku paling keluyuran kalau siang, sesekali aku ijin bude meminjam mobil Pakde, keliling agak jauhan sedikit, ngajak temanku atau Yuni, sekalian melumasi mesin mobil karena jarang dipakai. Bude mengijinkan. Tapi setelah seminggu bosan juga keluyuran, aku mulai banyak di rumah, membaca atau nonton film, main internet, juga menemani bude ngobrol. Belum melihat adanya kesempatan memancing di air jernih, mau nekad bisa panjang urusannya. Aku kini lagi asik menemani bude ngobrol di dapur, duduk di bangku kecil, bude lagi asik mencuci dan memotong sayuran. Sambil ngobrol juga nyuci mata ngeliatin lobang lengan daster bude yang lebar itu.

”Kamu bosan ya Rid..?”
”Ah nggak ko Bude.”
”Ah ndak usah bohonglah kamu. Paling kamu lagi mikirin enaknya libur di Jakarta.”
”He he…sedikit sih bude, tapi benar kok nggak kenapa. Toh bude sama pakde sudah baik sama Farid selama ini.”
”Bude perhatikan kalau malam mingguan, kamu jarang keluar toh, memangnya belum punya gacoan ?”
”Belum, masih nyari kok. Belum ada yang nyantol.”
”Oh gitu, apa karena kamu sudah punya pacar di Jakarta Rid…?”
”Nggak juga…memang belum dapat kok.”
”Ya wis…padahal kamu tampangmu bagus juga lho. Kalau kamu mau nanti bude bilangin mbak Sintamu itu, suruh dia nyomblangi kamu.”
”Ah…ndak usah toh bude. Biarin saja, nanti juga kalau sudah waktunya pasti ketemu.”

Ngobrol sih ngobrol, kont01ku sudah ngaceng, ngelihat ketek sama bagian pinggir tetek bude, mana bude nggak pakai BH lagi. Mungkin terasa panas dan pengap kalau dipakai sambil memasak di dapur. Nanggung ah, bude juga nggak tahu. Aku asik saja mengobrol dan mengamati.

”Pakdemu kalau ngomong sama bude selalu saja mengatakan senang dengan adanya kamu di sini Rid, maklumlah dari dulu nggak kesampaian pingin punya anak laki. Makanya Pakdemu sudah menganggap kamu sebagai anak lelakinya.”
”Farid juga menganggap Pakde sebagai ayah kok.”
”Pakdemu itu sebenarnya senang sekali bisa dipercaya dikirim ke Kalimantan. Bude juga tak keberatan. Cuma memang setahun belakangan ini Pakdemu kerjanya terlalu giat, sampai…”
”Sampai apa bude…”
”Ah..ng..nggak, nggak kenap…lho kamu sedang lihatin apa Rid ?”

Sebenarnya aku penasaran bude mau ngomong sampai apa sih Pakdeku itu, tapi penasaranku sambil memandangi belahan lengan dasternya. Memang sih bude saat itu lagi mengambil panci dalam lemari atas, otomatis saat lengannya terjulur lobang di lengan daternya makin lebar, nyaris menampakkan sebelah teteknya. Sialnya bude yang salah tingkah karena hampir kelepasan ngomong jadi menoleh tepat saat mataku sedang menatap dengan sangat fokus. Tengsin. Bude memandangku lalu menyadari ke mana arah pandanganku. Harus bisa berkelit nih.

”Kamu lihat apa toh Rid…?”
”Maaf bude nggak sengaja dan nggak bisa…eh ditolak. Habis mau gimana lagi, awalnya sih Farid berusaha melihat ke bawah, mau bilang bude nggak enak. Tapi lama – lama kan nggak enak ngobrol sambil lihat lantai terus. Tapi benar kok, Farid nggak bermaksud melihat..eh..itu dari lengan daster bude.”
”Ya wis..bude paham, memang bukan salah kamu, bude memang nyaman pakai daster begini, adem. Lagian kamu ngapain juga ngelihatin bude yang sudah tua. Masih banyak kok perempuan muda yang cakep.”

Farid merasa mendapat angin sejuk saat ini, mulai berani ngomongnya.

”Ya..awalnya memang tak sengaja kok bude…eh…tapi..anu…maaf..bude jangan marah ya..duh..nggak enak Farid ngomongnya….”
”Ngomong saja Rid, nggak kenapa, Bude nggak akan marah kok.”
”I..iya…anu i..itu lho…bude masih cantik kok, masih seksi kok. Eh..a..anu…tadi nggak sengaja terlihat, te…tetek bude juga masih bagus, besar dan kencang…ben…benar masih menarik dan seksi. Bude belum tua kok, masih menarik.”
”Duh kamu ini bisa saja mujinya. Bude sudah tua begini dibilang cantik, teteknya juga sudah kendor dan turun.”
”Ng…nggak kok.”
”kamu ini kalau bude bilangin. Ya sudah deh nih coba kamu lihat…”

Dan budenya dengan santai menarik lengan dasternya ke tengah, memperlihatkan sebelah teteknya…buset…besar banget pikir Farid, pentilnya juga sudah mengacung, kecoklatan, belum lagi lingkaran sekelilingnya yang agak lebar, teteknya sedikit turun tapi masih sangat sangat kencang. Kont01 Farid tak terkendali. Tapi budenya sudah menutup peluang…kembali merapikan dasternya.

”Nah percaya kan. Wong bude sudah tua kok. Sudah mandi sana, nggak usah merasa bersalah ya Rid, memang kamu nggak sengaja kok, nemanin bude ngobrol, daster bude saja yang lengannya kelebaran, jadinya kamu serba salah. Sana mandi.”
“I…iya bude..tapi benar kok,bude masih cantik hehehe.”
”hush…kamu ini, cepat mandi sudah siang.”

Sementara Farid ke kamarnya, budenya hanya nyengir sambil menggelengkan kepala, ada – ada saja anak itu pikirnya. Apa yang membuat dia tertarik sama budenya yang sudah tua ini. Dia lalu ingat, suaminya pernah berkata sambil lalu sewaktu di kamar, di awal Farid baru tinggal sama mereka. Kata suaminya…Sri, kamu sebaiknya mengganti model dastermu, nggak enak ada si farid, diakan sudah besar, takutnya gimana gitu, sungkan sama kamu. Tapi Sri menjawab, nggak kenapa, toh Farid keponakannya, lagian dia ogah ganti model daster, sudah lama menyenangi dan nyaman memakai model begini, adem dan lebih sejuk, dapat angin banyak. Suaminya akhirnya mendiamkan saja dan tak membahas lagi, apalagi suaminya juga tak pernah melihat mata Farid jelajatan. Terus ia berpikir kembali, kalau sekarang murni si Farid nggak sengaja, sulit bagi anak itu mengobrol tanpa melihat….salahku yang lebih besar pikir Sri lagi meneruskan kesibukannya memasak.

Farid masuk kamarnya, sebenarnya dia bisa saja nekad tadi, tapi belum yakin dengan reaksi budenya, dia juga yakin tadi kalau budenya sebenarnya bermaksud ngomong pakdenya bekerja terlalu giat sampai berpengaruh pada daya seksualitasnya, mengakibatkan stress dan lelah, salah satu faktor penyebab ejakulasi dini. Tapi paling nggak Farid akhirnya bisa dapat melihat tetek budenya, bahkan budenya secara sukarela memperlihatkannya, mulai ada peluang pikir Farid. Ia pun segera mandi, tentu saja sebelumnya ia ber onani ra, melepaskan desakan pada kont01nya. Siangnya budenya memanggilnya untuk makan, budenya bahkan masih memakai daster itu, walau sudah tahu tadi Farid melihat dengan mata melotot isi di balik lengan dasternya. Nampaknya mmang budenya serius hanya menganggap itu suatu hal yang tak disengaja dan tak kuasa dihindarkan. Farid makan dengan sedikit rada canggung. Budenya bersikap netral. Selesai makan budenya bilang mau istirahat sebentar, Farid membawa piring kotor dan mencucinya. Setelah selesai ia mengunci pintu depan, maklum siang begini sepi, takut ada maling, sering kejadian…juga Farid punya agenda lain. Tak lama ia mengetuk pintu kamar budenya. Budenya menyuruhnya masuk Nampak budenya lagi tiduran telentang, Farid duduk di pinggir ranjang. Farid memasang muka menyesal, sambil memijat kaki budenya. Budenya tak melarang, karena memang suka meminta Farid memijat betisnya kalau lagi pegal. Bahkan budenya senang karena saat ini Farid memijat kakinya tanpa ia minta.

”Eh..anu..bude..”
”Kenapa Rid…kok kayak orang nggak enak hati gitu sih. Kenapa..? Ngomong saja..”
”I..itu..tadi…Farid masih merasa bersalah, sudah melihat eh itu tuh…menyesal sekali.”
”Ah…sudahlah…kan kamu tadi sudah jujur menerangkan, memang tak kuasa untuk tak melihat. Bude juga punya andil, daster bude memang modelnya begitu.”
”I..iya..Farid benar – benar minta maaf.”
”Sudahlah Rid, tak masalah. Bude tak marah kok. Lagian apa sih yang menarik dari bude.”

Farid sengaja diam, menggantung suasana. Ia masih asik memijit betis mulus budenya, memijatnya seenak mungkin, bahkan kini sudah sampai sendi lutut budenya. Farid kembali bicara.

”Kalau Farid boleh terus terang, bude nggak marah kan…?”
”Ya nggaklah Rid. Ngomong saja. Mau ngomong sama bude saja kok pakai ijin segala.”
”I..iya…anu bude, sebenarnya bude memang menarik kok..eh..maaf ya bude, buktinya saat tadi Farid tak sengaja melihat, Farid..eh a..anu…jadi bangun…itu kan membuktikan bude menarik. Eh pahanya mau dipijat sekalian bude ?”
”A..apa Rid…ya…ya pijat saja sekalian.”

Farid lalu agak menaikkan daster budenya, mulai memijat paha montok budenya yang putih bersih. Budenya sendiri sedang memikirkan kata – kata keponakannya ini, makanya tadi agak kaget waktu Farid bertanya soal memijat pahanya. Pikir budenya…kayaknya si Farid lagi merayunya. Iyalah, budenya juga nggak bego – bego amat. Budenya kembali berpikir, memang belakangan ia banyak kecewa. Suaminya, Harno, memang baik dan sayang sama dia. Tapi belakangan ini setiap berhubungan seks selalu saja begitu masalahnya. Baru juga nempel atau goyang sebentar sudah keluar, tak seperti dulu, sangat memuaskan. Ibarat hidangan, makanan pembuka alias rangsangannya bagus, mampu membangkitkan selera, masuk ke hidangan utama…buruk, Hidangan penutup ? Apalagi, hidangan utamanya saja tak memuaskan. Sedikit banyak Sri terganggu juga. Tak bisa lagi menuntaskan gairahnya. Lalu keponakannya ini, nampak sekali sedang berusaha meraih sesuatu, Sri pernah membaca di majalah, memang ada anak muda yang tergila – gila pada wanita dewasa atau paruhbaya, bukan berarti mereka tak suka wanita seusianya, apakah Farid keponakannya ini termasuk salah satunya, tentunya di sini Sri memikirkan tanpa melibatkan masalah hubungan kekeluargaan, murni dari sisi personal. Sri lama menimbang. Dan keponakannya itu juga menarik, tinggi, tegap dan lumayan imut. Jujurnya dia memang belakangan jadi sering sakit kepala, hasrat yang tak tuntas membuatnya mudah uring – uringan, gelisah, pusing. Maafkan aku msa Harno, bukannya aku berkhianat, tapi kalau kau tak tahu, toh tak akan jadi masalah, lagian aku bukannya mencari lelaki asing sama sekali. Kalau sama Farid, terus terang saja Sri bisa mempertimbangkannya sebagai opsi untuk menuntaskan masalahnya belakangan ini. Baiklah Sri membulatkan tekad. Farid, kamu sudah melepas umpan, kini bude akan menangkapnya, tapi bude akan bersenang – senang sedikit, ngerjain kamu.

”Eh…tadi kamu bilang apa Rid ? Apanya yang bangun..? Bude nggak paham..?”
“A..anu..ah nggak deh bude, malu aku…”
“Sudah ngomong saja…eh sekalian pantat bude kamu pijit, belakangan sering pegal. Pijitan kamu enak dan berasa.”
”I..iya bude..eh bude yakin mau tahu apa yang bangun.”
”Iya…apaan sih..?”
”Itu…eh anu Farid..eh kont01 Farid…maaf ngomongnya kasar.”
”Oh itu…nggaklah nggak kasar kok ngomongnya, memang namanya kont01 kan. Eh, kurang berasa pijitannya, kamu angkat saja daster bude…ndak kenapa.”

Ampun…batin Farid…rejeki nih. Dengan genetar ia singkapkan daster budenya, nampaklah bongkahan pantatnya yang besar, terbungkus CD putih yang ketat. Farid mulai memijatnya, meremasnya sih kalau mau lebih tepat. Tangannya jahil, sehingga ”Tak sengaja” belahan pantat budenya jadi tersingkap dari CD nya. Farid nyaris melotot sampai matanya mau copot, belahan pantat itu dihiasi jembut lebat yang nampaknya menyambung dari bagian m3meknya. Gilaaaa….kont01 Farid nyut – nyutan. Budenya kembali bicara.

”Memangnya kalau kont01 kamu bangun, mau kamu apain Rid..? tidurin lagi dong, biar anteng.”
”Maunya sih bude, tapi sulit…habis sudah melihat bodi bude yang seksi…bangunnya jadi lama banget.”
”Masa sih…? Sekarang masih bangun…? Mana sini coba bude sentuh.”

Wow…this is too good too be true sorak Farid dalam hati. Budenya masih telentang Nampak menjulurkan tangannya, Farid segera pasang posisi untuk memudahkan tangan budenya menyentuh tonjolan di balik celana pendeknya itu. Sri menjulurkan tangannya, awalnya ia mengira hanya akan menyentuh kont01 keponakannya yang standart – standart sajalah. Tentunya standart menurut jualifikasinya Sri sendiri. Perkakas suaminya juga lumayan mengesankan.Lha..Sri saja doyan banget sama perkakas suaminya. Tapi saat ia menyentuh tonjolan di balik celana keponakannya itu, merabanya, mengira – ngira sizenya, Sri agak bergidik dan bergairah….gilaaaa…ini sih lebih dari standart. Ia hanya memegangnya sebentar, lalu melepasnya lagi, masih senang menggoda Farid.

”Iya…memang bangun Rid. Kamu nggak kasihan apa..?”
”Maksud bude…? kasihan apaan…?”
”Iya…sesak dong itu kont01 kamu, sudah keras begitu, disekap terus dalam celana. Dikasih udara segar dong.”
”Ah,,,nggaklah bude, nanti saja, malu sama bude.”
”Kamu ini…ngomongnya nggak malu. Sudah bebaskan saja…nggak kenapa, sama bude saja malu. Kayak bude belum pernah lihat kont01 saja sebelum ini. Sana, kamu bebaskan dulu. Sama bude sendiri kok malu.”

Farid segera melepas celananya, kolornya, melemparnya ke lantai. Kont01nya yang sudah ngaceng mengacung bebas dan tegar berkibar. Budenya masih teletang kembali menjulurkan tangannya, menyetuh perkakas keponkannya yang sudah bebas itu, kini saat tak tertutup celana, Sri merasakan kont01 keponakannya bahkan sangat mengesankan. Ia meraba dan mengelusnya. Farid tentu saja tak merasa perlu protest. Sri melanjutkan percakapan…

”Eh…kayaknya kont01 kamu gede juga ya…bude boleh lihat nggak..?”
”Boleh saja bude…sama keponakan sendiri saja kok malu hehehehe.”
”Ngebalas omongan bude nih ceritanya…dasar nggak mau kalah ya kamu.”

Budenya segera berbalik, matanya menatap terpesona melihat kont01 Farid. Kini Sri teringat saat ia melihat adiknya Lisna yang wajahnya sangat ceria di pagi itu, waktu ia menginap di sini. Sebenarnya Sri berpikir, kok wajah adiknya ceria seperti wajah istri yang semalam baru dipuaskan suaminya secara maksimal. Kalau melihat kapasitas kont01 si Farid sih, wajar saja kalau adiknya itu ceria. Ia dan naluri kewanitaannya sangat yakin kalau adiknya itu telah melakukan hal itu dengan Farid. Tapi ia tak akan menanyakan atau menegurnya. Apa bedanya dia dengan adiknya. Posisinya saat ini juga sedang mengarah ke sana. Apa yang adiknya lakukan, itu urusannya. Kembali ia berucap

”Gede amat…eh bude boleh..eh menghisapnya…sebentar saja….penasaran eh ngerasain.”
”Lama juga boleh kok bude.”

Gong…Farid sudah sangat yakin, this is show time baby…yeah, soraknya dalam hati. Nggak mungkin meleset. Farid segera bergeser bersandar di kepa ranjang. Budenya bangkit, kini posisinya agak menungging, masih mengenakan dasternya. Budenya Nampak masih memandangi kont01nya sebentar. Tangannya lalu mulai menjulur, memainkan dan meremasi biji peler keponakannya itu. Enak dan lihai…biji peler Farid terasa sangat nyaman saat budenya memijatnya, sedikit kuat namun lembut juga dan tak menyakitkan. Benar – benar patent, kalu tak ahli benar, yang ada bisa sakit kalau biji kita diremas kuat. Tapi ini beda, budenya meremasnya kuat sampai batas minimumnya saja. Benar – benar membuat biji peler Farid berdenyut nikmat bahkan saat tangan bibinya sudah tak meremasnya lagi.Tak menunggu jeda, biji pelernay sudah dikenyot dan dikulum sama mulut budenya, sementara tangan bude mengocok kont01nya….buset…ganas juga bude pikir Farid. Asik rasanya saat merasakan biji pelernya seakan mau melesat dari kuluman di ujung bibir budenya itu, geli – geli penuh sensasi yang gimana gitu….

Puas menservis bijinya, kini lidah bude mulai menjilati kepala kont01nya, memulasnya dengan gerakan melingkar, sesekali menusuk lobang pipisnya. Lidahnya juga mulai menjilati batang kont01nya, tak satu bagianpun terlewatkan. Lambat saja, namun penuh tekanan tenaga pada tiap jilatannya. Akhirnya mulutnya pun mulai menelan kont01nya, kulumannya lembut dan erotis, hisapannya maksimal, juga mulutnya mengocok dengan sangat mantap. Gilllaaaa…ibunya saja sudah sangat enak saat menghisap kont01nya….budenya malah jauh lebih edaaan….mulut budenya mulai ganas, sambil memompa kont01 Farid, tangannya juga meremas dan mengocoki pangkal batang kont01nya. Bibirnya sangat terampil menyentuh bagian kont01nya, memberikan raa basah, geli dan nikmat…campur aduk jadi satu.

Farid mendesah, tangannya segera membuka kaosnya, ia lalu agak mencondongkan badannya, nggak mau tinggal diam, ia singkap dster budenya, menampakkan kembali bongkahan semok pantatnya itu, dengan kasar ia turunkan CD budenya sampai ke pahanya. Kepalanya mendekat, memandang belahan m3mek budenya yang tebal. Mulutnya segera menciumi belahan m3mek itu, jarinya membelainya, m3mekarkannya. Terasa m3mek bude mulai basah, bude makin hot saja posisi nunggingnya, farid mengagumi keindahan jembut yang menghiasi belahan pantat budenya, juga lobang pantat budenya, tapi nggak terlalu memikirkannya. Ia lalu mulai menjilati dan memainkan lidahnya, sama panasnya dengan permainan budenya. Lobang m3mek yang kemerahan itu makin mekar, farid tanpa ragu langsung menusukkan 3 jari sekaligus, menyodok – nyodok m3mek budenya, yang makin hot saja menggoyangkan pantatnya. Lidahnya agak sulit mencari posisi it1l budenya yang sedng nungging itu…nah ketemu, sudah besar dan maksimal, digoyangkannya dengan cepat dan lincah ke sana kemari. Ketiga jarinya makin cepat dan sudah lengket saat menyodok – nyodok m3mek budenya. Sesekali terdengar desahan budenya yang tertahan aksi hisapan kont01nya. Farid merasakan nikmat menjalar saat mencium aroma wangi yang khas dari m3mek budenya, juga hisapan pada kont01nya makin ganas, seiring makin cepatnya sodokan jari dan permainan lidah Farid di it1l budenya itu.Lama mereka berdua saling menyerang, memberikan kepuasan, akhirnya…budenya mengejang, mengeluarkan orgasmenya. Farid juga nyaris klimaks. Beruntung budenya saat itu menghentikan hisapannya.

Farid sudah tak sabar, bersiap membaringkan budenya, tapi budenya keburu berdiri, menurunkan celana dalamnya, melemparkannya ke atas tempat tidur. Budenya berucap.

”Rid…sabar dulu ya…5 menit saja. Bude ada perlu siapin diri…sabar ya tahan sebentar…”
”Duh….tanggung nih bude….”
”Iya…iya bude tahu…bude juga sama, tapi nahan 5 menit tak apakan, toh waktu kita masih sangat panjang. Lagian ini juga buat enaknya kamu kok. Bude janji deh…5 menit saja ya.”

Budenya keluar dari kamar, Farid hanya berbaring rada BeTe, tapi lumayanlah bisa menetralkan kont01nya yang hampir ngecret. Iseng ia ambil CD budenya, menciumi aromanya dengan hidungnya, sambil sesekali mengocok pelan kont01nya. Terdengar suara air di kamar mandi luar….duh bude pikir Farid…padahal tak perlu mandi segala, sudah nanggung juga. Untungnya tak lama budenya kembali, tapi nggak seperti habis mandi…sebodohlah…habis ngapain kek…yang penting farid sudah nggak tahan.

Baru juga budenya sampai di pinggir tempat tidurnya., Farid sudah menarik lengannya, merebahkannya, dengan gansa farid menciumi bibir dan leher budenya, tangannya meremasi tetek besar budenya, terasa pentil yang mengacung, tak sabar Farid berusaha melucuti dasternya, budenya nyengir melihat ketidaksabaran farid, segera membantu melepaskan daster. Mata Farid menatap rimbunan keteknya saat budenya melepas dasternya adi, segera ia rebahkan kembali budenya, mengangkat lengannya, dan mulai menciumi keteknya, menjilati sambil seseklai menarik – nariknya lembut. Bergantian kiri dan kanan, sangat seksi dan merangsang sekali buat Farid. Lalu akhirnya mulutnya mulai bergerilya di tetek besar yang sudah lama ia idamkan, pentilnya jelas sudah keras dan mengacung, gillaaaa….besarnya, sangat berasa sat lidahnya memainkannya, budenya kelojotan saat ia menghisap pentilnya bergantian dengan kuat.

Dan budenya juga sudah tak tahan ingin merasakan kedashyatan kont01 keponakannya ini, ia merenggangkan kakinya, lalu tangannya mengarah ke selangkangan Farid yang masih asik menghisapi pentilnya. Digenggamnya kont01 Farid, membimbingnya menuju lobang m3meknya, blesss,,,kont01 Farid mulai menerobos….budenya nampak bergetar, menikmati kesan yang mendalam saat kont01 Farid sudah amblas seluruhnya. Farid pun sama, diam sejenak menikmati kehangatan m3mek budenya. Lalu ia mulai bergerak memompakan kont01nya…perlahan lalu cepat, tangannya bertumpu menopang tubuhnya, matanya menikmati tetek besar yang bergoyang itu, pompaannya makin cepat…semenit…dua menit…tiga menit…budenya sudah kerap mendesah….

”Riiiiddd….Auwww…..Soddoookkkkk….”
”Yessss…..Sssttttttt…….Gilaaaaa…..”
Ooohh……Aaahhhh….”

Budenya mengejang kuat sekali, bahkan Farid merasakan betapa kont01nya seperti disirami rasa hangat yang besar saat budenya menyemburkan orgasmenya.Farid segera berhenti menyodok, mencabut kont01nya. Dengan cepat ia berbaring sejajar di belakang budenya. Memiringkan tubuh budenya. Budenya yang tahu keinginan keponakannya ini, lalu mengangkat stu kakinya agak ke atas, membuka jalur buat kont01 Farid….dan blessss, kembali Farid memompa kont01nya, kali ini budenya memberikan perlawanan, mennoyangkan pantatnya berlawanan dengan gerkan sodokan Farid, membuat kont01 Farid serasa dibetot. Sodokannya makin kuat.
Satu tangannya memegang panhkal lengan budenya, mengelus dan memainkan rimbunan keteknya. Tangan yang lain membelai mesra dan meremasi tetek besar budenya itu, bibirnya asik berciuman dengan ganas. Sementara budenya menambah kepuasannya sendiri dengan memainkan it1lnya menggunakan jarinya sendiri. Nggak ku ku deh…..kurang apalagi enaknya hidup ini pikir Farid. Makin kuat saja ia menyodokkan kont01nya, desahan budenya seperti penyiram energi bagi nafsu mereka, keringat mereka mulai mengalir, tapi tak mengurangi sedikitpun keasikan mereka. Kont01nya menerobos lancar keluar masuk, menghantam lobang m3mek budenya, bahkan gerakan pantat budenya makin heboh memberikan perlawanan, Farid memang sudah lama terobsesi sama budenya, makanya di saat pertama ini ia benar – benar sulit mengatur emosinya yang menggelora, sodokannya sangat cepat, dan akhirnya berbarengan dengan budenya yang mencapai klimaks….ia pun mencapai puncaknya juga, terkulai lemas. Diam sejenak, ia cabut kont01nya. Berdua berbaring dalam diam agak lama. Kont01nya sudah pulih dan mengacung lagi. Dia hanya melihat budenya membuka laci, mengambil handuk dan botol berisi cairan bening. Budenya lalu menyeka bersih kont01nya juga m3meknya, lalu mulai berbicara…

”Pintar kamu Rid…lagipula sekarang sudah bangun lagi hehehe.”
”Ya…semangat muda bude, masih menggelora, juga budenya memang hot sih.”
”Yuk lanjut…tapi bude mau kamu sodok dari pantat…”
”Pantat…?”
”Iya…memangnya kamu belum pernah…?”
”Be..belum…”

Budenya nyengir saja, mengambil botol yang ternyata baby oil. Budenya lalu melanjutkan pembicaraan.

”Tenang saja, sama saja kok enaknya dengan lobang m3mek. Nah saat melihat kont01 kamu tadi tadi itu, bude nggak bisa nahan diri…bude pikir pasti enak kalau kont01 kamu nyodok pantat bude. Juga sudah agak lama bude nggak disodok pantatnya sama Pakdemu. Makanya tadi bude keluar sebentar ke kamar mandi buat bersihin daerah itu,biar kamunya enak dan juga lancar nyodok tanpa gangguan. Yuk…mau nyobain nggak…?”
”Ma…mau dong bude.”
”Nah sekarang kamu mainin dulu sambil siramin baby oil ini ke lobang pantat bude, tenang saja sudah bersih. Kalau ndak dikasih oil, bude agak sakit pas disodok.”

Tentu saja Farid tak menyiakan kesempatan ini, ia belum pernah sih menyodok dari lobang pantatnya. Dengan pacarnya dulu, ia juga sudah cukup puas menyodok lobang m3meknya. Kini budenya mulai berbring, lalu melipat kedua kakinya, dan melebarkannya, pantatnya terangkat tinggi, menampakkan lobang m3meknya tang memerah bekas disodok tadi, juga lobang pantatnya yang masih kecil. Agak ragu Farid mendekatkan mulutnya, nampak jembut sedikit menghiasi sekelilingnya, ternyata tak berbau, malah wangi sabun. Farid mulai menjilatinya dengan lidahnya, lobang itu kelamaan menjadi mekar…setelah agak lama budenya kembali mengarahkannya.

”Sodok – sodok pakai jari kamu Rid. Jangan lupa disirami baby oil…Ughhhh…”

Farid segera menusukkan jari engahnya, bude Sri agak mengerang, membuat ragu Farid, tap mata budenya segera meyakinkannya untuk terus, ia buka tutup baby oil, menyiramnya sebanyak mungkin ke lobang pantat dan jarinya. Jari tengahnya mulai menyodok dengan lancar, lobang pantat bude mulai mekar, sesekali bude nampak enggoyangkan pantatnya, Farid makin menyukai hal baru ini, ia tuangkan lagi baby oil, kini bahkan ia menyodok lobang pantat budenya dengan jari tengah dan jari telunjuk sekaligus, lobangnya makin lebar, desahan budenya makin kuat. Lama sekali ia menyodok lobang pantat budenya…budenya kembali berucap…

”Ayoooo Riiid…masukkin…pakaiiii….kontoooolllmuuu…Aww….”

Farid segera melepaskan jarinya, secara naluriah ia menyiramkan baby oil ke kont01nya, ia tutup botol itu, dilemparnya sembarang. Kaki budenya yang terlipat makin lebar saja mengangkan, lobang pantatnya sudah mulai merekah lebar kemerahan. Farid memposisikan diri…sekali meleset, kedua sama saja…budenya membantu…digenggamnya kont01 keponakannya itu, diarahkan ke lobang pantatnya, perlahan kepala kont01 Farid menerobos…perlahan namun pasti…

”Aaaahhh….Auhhh…Gilaaaa…Terusssss saaajjaaa…Riiiiddd…”

Ekspresi wajah budenya agak mengernyit sedikit, sementara kont01 Farid sudah amblas seluruhnya, Farid mendiamkan, rasanya kont01nya dicengkram dengan sangat kuat. Akhirnya ia mulai memompa, masih seret di awalnya, juga budenya agak mengerang…lama – lama seiring lobang pantat bude yang makin mekar, kont01nya dapat memompa dengan leluasa…..sumpaaahhh, Farid membatin, enak banget, mesti praktekkin sama ibu nih.Kont01nya menyodok kuat dan cepat, bibinya mendesah tak eruan, matanya merem melek, Farid makin nafsu dan makin cepat menyodok….budenya sesekali menggiyangkan pantatnya, akhirnya mengejang…orgasme lagi, farid masih asik saja menyodok pantat itu, kini bisa leluasa mendekatkan tubuhnya ke tubuh budenya, tangannya kembali meremas dengan kuat tetek budenya. Sebagai variasi ia cabut kont01nya, menyodoknya ke lobang m3mek budenya yang sudah menganga lebar, disodok dengan kuat dan dalam, sampai –sampai bude Sri merasa agak sesak namun nikmat…lumayan lama ia menyodok m3mek budenya, ia cabut lagi, mengarahkan kont01nya kembali ke lobang pantat budenya. Kali ini mudah saja, karena lobang pantat itu juga sudah menganga lebar. Terasa hangat dan penuh cengkraman pada kont01nya. Ia maju mundurkan pantatnya, memompa dan menyodok dengan cepat dan stabil, bibirnya kembali menciumi bibir budnya yang membalasnya dengan tak kalah ganas. Plok…plok…bunyi pahanya yang beradu dengan belahan pantat montok budenya sat ia menyodok ke dalam makin menambah tinggi suasana penuh rangsangan ini. Keringat nampak mengaliri wajah Farid, tapi ia belum klimaks, ia makin ganas saja menyodok…lagi…dan lagi…dan…..lagi…..akhirnya denyut nikmat pada kont01nya menandakan ia mendekati klimaks, ia peluk kuat budenya, menciumnya dengan hangat, satu sodokan kuat ke lobang pantat bude Sri mengakhiri semuanya…crooot….crooot. pejunya memuncrat membasahi lobang pantat budenya. Farid mencabut kont01nya, lalu berbaring lemas. Budenya segera mendekati kont01nya, menjilati sampai bersih sisa peju yang menempel. Puas banget si Farid. Setelah suasana mulai adem, budenya membuka kembali percakapan…

”Jadi…gimana Rid…masih berpendapat budemu ini masih cantik dan seksi…?”
”Pastilah bude. Bahkan untuk selanjutnya juga Farid nggak bakalan bosan nyodokin bude…itu juga kalau bude mau hehehe…”
”Ya wislah…tapi ingat…”
”Iya…iya Farid tahu…jangan sampai Pakde tahu kan…beres deh.”
”Hehe…pintar kamu. Sebenarnya tadi bude lupa blang, tapi juga nggak masalah sih.Kamunya juga sudah bgecret di dalam. Memang tak bakalan masalah. Bude sudah tak bakalan hamil kok hehehe.”

Mereka masih asik berbicara sambil bercanda. Sepanjang hari itu dan juga hari – hari esoknya mereka habiskan dengan saling bergumul memuaskan pasangannya. Tentu saja ada hambatan, kadang kalau siang mbak Sinta suka datang berkunjung ke ibunya, untung setiap kali ngewek pintu selalu terkunci. Jadi mbak Sinta akan menunggu sampai pintu dibuka entah oleh farid atau bude Sri yang memasang muka seperti orang habis tidur. Di kedepannya untuk kenyamanan, bude Sri meminta agar mbak Sinta sebelum datang menelepon dulu ke Hpnya, takutnya di sini pada tidur siang, jadi telepon dulu, supaya saat kamu datang, sudah dibukakan pintu, itu alasan bude, dan mbak Sinta tak curiga sedikitpun.

Pakde Harno memang pulang di akhir bulan, dapat jatah pulang seminggu. Saat pakdenya tiba, Farid memutuskan ijin pulang ke jakarta, akan balik saat Pakdenya berangkat kembali. Ia kangen sama ayahnya…terutama ibunya. Lagipula Farid mau memberikan waktu pada Pakdenya. Mungkin belakangan ia sudah santai, tak stress atau mengalami tekanan pekerjaan sehingga bisa membaik dari ejakulasi dininya. Sebagai insinyur mesin, kini saatnya ia turun mesin, membenarkan perkakasnya sendiri. Farid memutuskan menemui Lisna, ibunya, sekaligus mempraktekkan beberapa gaya yang ia dapat dari bude Sri. Toh nanti kalau ia balik ke Yogya, dan mulai kuliah lagi, sepanjang siang sampai sore bude Sri bisa ia garap sepuasnya.

Bude Sri sendiri menikmati babak baru kehidupan seksnya sama keponakannya Farid. Memang akhirnya suaminya bisa membaik, ternyata suaminya dulu mengalami ejakulasi dini karena stress memikirkan apakah dirinya akan terpilih atau tidak untuk proyek kerjasama dengan perusahaan pertambangan. Walau suaminya sudah membaik, bude Sri sudah kadung doyan sama kont01nya Farid, makin banyak makin nikmat…itu prinsipnya. Juga sama sekali tak bertanya pada adiknya Lisna atau Farid mengenai apakah mereka juga sudah melakukan hubungan seks. Apa bedanya sih sama aku pikir Sri. Toh Lisna juga sama…mencari sedikit tambahan kenikmatan.

Farid sendiri tetap melanjutkan kuliahnya, lalu hubungannya dengan Yuni..? Ah biarlah, slowly but sure, itu bagian cerita lain dalam hidupnya. Toh saat ini ada ibu dan bude yang sudah cukup menguras energinya. Farid tak menyesali aksinya yang rada terlambat…biar bagaimanapun…Biar Lambat Asal….Nikmat.

********************** S E L E S A I **********************

KISAH CINTA DIGUNUNG KEMUKUS

Cerita temenku bikin penasaran. Dia bercerita bahwa di Jateng nggak jauh dari Solo ada tempat ziarah yang bisa bebas melakukan hubungan sex dengan orang lain. Yang lebih bikin penasaran, banyak cewek, maksudnya ibu-ibu yang datang berziarah kesana mencari pasangan laki-laki untuk melengkapkan niat ziarah mereka. Temenku ini sudah beberapa kali kesana. Katanya dia tidak mementingkan ziarahnya, tetapi lebih ke berburu ibu-ibu yang mencari pasangan.
Informasi dari temanku ini kucermati secara lebih rinci, rasanya penasaran juga ingin mencoba. Berbekal info yang kurasa cukup lengkap berangkat lah ke Solo dengan penerbangan murah dari Jakarta. Tarif murah biasanya hari Rabu, tapi kalau hari Sabtu Minggu, selalu lebih mahal.

Sesampai di Solo, Rabu sore aku orientasi dulu . Cari penginapan yang murah di sekitar stasiun Solo, lumayan banyak hotel yang harganya miring dan cukup bersih dan bagus. Sesampai di hotel aku langsung ditawari temen bobo, dengan bingkai promosi yang kadang-kadang berlebihan.

Karena tujuanku ke Gunung Kemukus, maka berbagai tawaran itu aku tolak halus.
Kamis menjelang Jumat Pon, perburuan dimulai. Berbekal tip dan trik dari temanku, aku berusaha mencari dan memilih pasangan dari terminal Tirtonadi di Solo. Kendaraan umum jurusan Purwodadi menjadi amatanku, untuk mencari penumpang yang kemungkinan akan ziarah ke Gunung Kemukus.
Tidak mudah memang, karena sudah 2 jam aku belum menemukan perempuan yang layak. Ya paling tidak kan cakep dan bodynya bagus, meski mereka umumnya STW.

Selagi aku melamun sambil mereokok, ada seorang ibu-ibu menegorku. “Mas bus jurusan Purwodadi yang mana ya ,” tanyanya.
Aku terkejut, karena yang menegor itu adalah ibu-ibu dengan kisaran umur 30 tahun, berwajah khas Jawa, tidak terlelu gendut, tapi semok juga.

“ Oh di sini bu, ibu mau ziarah ??” tanyaku langsung ke sasaran.
“Iya,” katanya.
Ibu itu ternyata baru pertama kali mau ziarah ke Gunung Kemukus. Aku sempat heran juga, kenapa dia berani jalan sendiri tanpa pendamping.
“Mbak sudah tahu syaratnya untuk ziara ke Gunung Kemukus,” tanyaku.
“Ya tahu dikit, mas nya mau kemana,? Tanyanya.
“Saya juga mau kesana,” kataku.
“Mbak sudah punya pasangan untuk ziarah ke sana,” tanyaku lagi.
“Belum sih, apa mas ee mau nemenin saya,” tanyanya.

Melihat penampilan perempuan ini yang lumayan ok, aku langsung setuju menemani dia. Dia memperkenalkan diri, namanya Surtiyah berasal dari Purworejo.

Dia mendapat cerita dari temannya yang juga berdagang bahwa sejak ziarah dan minta dagangannya laris ke Gunung Kemukus, dagangannya bisa maju.
Mbak Surti, juga berdagang. Dia jualan makanan seperti nasi goreng, mi goreng, mi rebus dengan warung tenda.. Ketika kami ngobrol di perjalanan dia bercerita bahwa dirinya janda beranak tiga, ditinggal cerai sama suaminya. Untuk menghidupi ke 3 anaknya dia berusaha jualan nasi goreng dengan kemampuan seadanya. Dia dagang baru setahun, tetapi rasanya dagangannya gak maju-maju. Setelah dapat informasi dari temennya yang dagangannya maju, dia jadi penasaran ingin mengikuti jejak temannya, ziarah ke makam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus, pada malam Jumat Pon.

Tadinya dia agak berat juga mengetahui syarat untuk menyempurnakan ziarah itu harus berhubungan badan dengan laki-laki yang bukan suaminya. Tapi katanya lama-lama dia makin penasaran dan pasrah, demi melariskan dagangannya dan membiayai anak-anaknya yang sudah makin besar-besar.

“Untung saya ketemu mas e di Solo, jadi rasanya gak malu banget. Kalau sampai di Kemukus belum dapat pasangan kan rasane piye yo,” katanya dalam bahasa yang dicampur-campur Indonesia dan Jawa.

Saya pun berterus terang bahwa baru kali ini ke Gunung Kemukus, karena diberi tahu teman. Tapi saya ngarang aja bahwa saya dagang beras. Untung dia nggak tanya macem-macem soal dagang beras. Kalau dia sempat tanya itu, wah aku bisa gelagepan juga.

Di mobil angkutan aku berkali-kali melirik Mbak Surti. Umurnya kira-kira 3 tahun di bawah aku, tapi badannya semok benget. Susunya gede dan pantatnya bahenol. Yang terlihat istimewa dari bodynya adalah pinggangnya ramping. Model yang begini ini amat jarang saya temukan. Umumnya kalau susu gede, dan pantat semok, perutnya juga besar.

Kami sampai di pemberhentian Barong. Sang supir meneriakkan kemukus-kemukus. Ternyata banyak juga penumpang yang turun di situ. Di tempat pemberhentian angkutan itu sudah banyak laki-laki, yang kelihatannya menunggu pasangan, menawarkan diri menemani para peziarah perempuan. Si Mbak Surti menggandeng tanganku, untuk menegaskan kepada orang-orang di sekitar situ bahwa dia sudah punya pasangan. Dengan begitu memang tidak ada laki-laki yang menawari untuk menemani dia berziarah. Tukang Ojek sudah menunggu dan terkesan berebut menawarkan jasa ojek. Karena aku tidak tahu sejauh apa tempatnya, kami berdua setuju menyewa ojek sampai ke pinggir dermaga penyeberangan. Kebetulan waktu kami kesana, air waduk Kedung Ombo sedang naik, jadi untuk mencapai gunung Kemukus kami harus menyewa perahu penyeberangan.

Gila juga, mereka menawari ongkos semaunya. Aku langsung patahkan dengan menawar biaya sepantasnya. Berbekal kembang dan pernak-pernik untuk ziarah kami menaiki tangga yang lumayan tinggi dan banyak. Katanya jumlah anak tangga itu ada 157. Diatas disambut oleh juru kunci dan Si mbak langsung menjelaskan maksudnya berziarah ke sana. Aku diam saja sambil mengamati, betapa ramainya orang berziarah ke sini. Makam Pangeran Samudro berada dibawah semacam bangunan Joglo yang cukup luas. Makamnya dikerudungi kelambu. Terasa suasana sakral di sekitar makam itu. Aku ikut-ikutan saja menabur kembang dan duduk seperti peziarah lainnya. Mbak Surti kelihatan khusuk benar dia berdoa. Aku tidak tahu dia berdoa minta kepada siapa, apa ke rohnya Pangeran Samudro apa ke Tuhan YME.

Aku ke sini kan tidak berniat ziarah sungguh-sungguh, tetapi ingin merasakan petualangan ritual sex yang melegenda.

Selesai menuntaskan ritual berdoa, kami lalu mundur dari bangunan makam Pangeran Samudro. Waktu itu sudah sekitar jam 10 malam. Di sekitar makam itu di bagian agak ke bawah terdapat tempat-tempat penginapan . Tapi menurut temanku, lebih asyik kalau melampiaskan hasrat berhubungan badan di semak-semak di dekat pohon besar. Aku menyarankan kepada Mbak Surti untuk kami beristirahat sambil menyewa tikar di bawah pohon besar di semak-semak itu. Suasananya agak remang-remang karena hanya mengandalkan sinar bulan purnama. Kami mencari tempat yang agak lega.

Dalam pencarian itu kami melewati pasangan yang lagi asyik berhubungan badan dan mereka tampaknya tidak perduli ada orang yang melintas dekat mereka. Banyak sekali pasangan yang sedang tumpuk-tumpukan. Mereka melakukannya tanpa melepas seluruh pakaiannya. Oleh karena itu meski pada posisi orang berhubungan badan, tetapi tidak bisa terlihat payudara pasangan perempuannya. Namun yang bikin lebih seru ada pasangan yang perempuannya mengerang-ngerang nikmat. Kami mendapat tempat yang agak lega. Meskipun lega tetapi tidak sampai 3 m ada pasangan lain yang sedang bergelut. Karena suasananya cuek, kami pun berlaku begitu.

Kami mulanya tidur berdampingan. Aku rikuh juga mau mulainya gimana ya, masak langsung meluk dan mencium lalu pegang tetek. Belum juga aku menemukan jalan , aku terus ngobrol sambil berbisik, jam sudah menunjukkan hampir 12 malam. Tiba-tiba tangan Mbak Surti meremas selangkanganku. “Lho udah bangun toh,” katanya.

“Udah mbak dari tadi sih, tapi masih sungkan, karena kita baru kenal kali ya, “ kataku.
“Udah nggak usah sungkan, emang kemari kan tujuannya mau gituan,” katanya sambil dengan pedenya dia membuka sabuk dan resletingku. Penisku langsung digenggamnya. “Wah keras benget,” katanya.

Birahiku mulai naik, aku pun mulai memberanikan diri langsung memegang bagian selangkangannya. Dia mengenakan celana panjang, sehingga kontur kemaluannya kurang terasa ketika diremas dari luar.

Aku berusaha membuka celana panjangnya sekaligus celana dalamnya. Kuturunkan sampai ke mata kaki. Lalu tanpa foreplay macam-macam aku langsung menungganginya.

Mbak Surti kelihatannya sudah siap akan ditunggangi, kakinya dilebarkan. Penis kutempelkan ke gerbang vaginanya. Pelan-pelan aku tekan. Agak seret juga, mungkin pelumasannya belum sempurna. Kutarik sedikit, lalu kudorong lagi. Begitu berkali-kali sampai akhirnya bisa kejeblos seluruhnya ke dalam memek Mbak Surti.

Rasa memeknya legit banget dan masih cukup menjepit, meskipun dia sudah beranak 3. Kelihatannya dia pandai merawat kewanitaannya. Penisku terasa sangat digenggam oleh liang vaginanya. Aku terus menggenjot. Mbak Surti ternyata berpembawaan rame. Artinya dia mengerang-ngerang ketika merasakan kenikmatan disetubuhi. Tetangga kiri –kananku sampai-sampai menoleh ke arah kami. Aku cuek aja. Itung-itung ini adalah sex party dengan pasangan tetap. Boleh jadi kalau tempatnya terang mungkin ada ratusan pasang yang lagi bersetubuh disitu. Kayak film orang jepang yang ngesex rame-rame.

Aku terus menggenjot sambil menahan agar orgasmeku tidak segera datang. Mbak Surti makin ribut, apalagi ketika orgasmenya nyampe, dia melenguh panjang tersedat-sedat mengikuti ritme orgasmenya. Melihat dia mencapai orgasme birahiku makin tinggi sehingga aku pun tidak kuasa lagi menahan ejakulasiku. Kubenamkan dalam-dalam penisku ke dalam memek Mbak Surti sambil merasakan hangatnya vagina Mbak Surti.

Kami berdua mencapai kepuasan. Aku tetap menindih Mbak Surti sampai penisku mengecil dan akhirnya keluar sendiri dari sarangnya. Dengan tissu yang sengaja kami siapkan kami membersihkan diri seadanya lalu merapikan kembali pakaian kami.

“Ini afdol banget ya mas, kita main di bawah pohon di semak-semak sini, teman saya juga nyarani agar kalau main jangan dipenginapan, tetapi disemak-semak, biar niatnya cepat terkabul.,” kata Mbak Surti.

Setelah selesai melakukan ritual yang aneh itu, kami beranjak menuju Sendang Ontrowulan. Disana sekedar berbasuh muka dan kaki. Ada kepercayaan air sendang itu membuat orang awet muda dan cantik.
Jam sudah menunjukkan 2 dini hari. Kami memutuskan untuk kembali ke Solo ke penginapanku. Angkutan masih ramai. Eh lupa, sebelum kami kembali, kami sempat membersihkan diri di wc umum. Risih juga rasanya, apalagi rada-rada kebelet pipis .

Sesampainya di Solo, kami tidak langsung ke penginapan, tetapi mengisi perut yang lagi keroncongan. Hidangan dini hari di Solo yang populer adalah nasi liwet. Nikmat sekali rasanya menyantap nasi liwet sambil duduk lesehan, malam-malam begini. Padahal selama ini aku kurang suka nasi liwet, karena menurutku rasanya rada hambar dan jemek. Tapi kalau waktunya tepat di tengah malam gini terasa enaknya.

Setelah perut terisi, dengan becak kami menuju penginapan. “Enak juga mas kamarnya, bersih lagi,” katanya. Aku menawarkan mandi sebelum kami bobo.

“Dingin ah mas” katanya.

Kamar mandi di kamarku dilengkapi dengan shower air panas. Akhirnya dia mau juga mandi air panas. Alasanku biar badannya nggak lengket dan segar. Aku langsung saja mebuka semua bajuku. Mbak Surti bingung melihat kenekatanku, langsung telanjang di depannya.

“ Ih masnya kok nggak malu sih,” katanya.
“Lha buat apa malu kita kan udah lebih dari telanjang tadi,” kataku

Aku membantu Mbak Surti yang masih rada malu bertelanjang di depanku. Perempuan kadang-kadang aneh juga. Dia udah kita setubuhi, tapi masih merasa malu. Setelah telanjang bulat di kamar yang sengaja lampunya aku terangi, Mbak Surti berusaha menutupi payudaranya dan kemaluannya dengan kedua tangan nya. Aku biarkan saja dia begitu, mungkin dia masih dalam proses transisi untuk berani telanjang sesungguhnya di depanku. Kurangkul dan kubimbing ke kamar mandi. Shower aku atur agar tidak terlalu panas, tetapi juga tidak dingin. Pertama aku guyur seluruh tubuh Mbak Surti termasuk rambutnya.

Body Mbak Surti ini memang benar-benar aduhai. Rugi amat suaminya meninggalkan istri sebagus ini. Mukanya juga gak terlalu jelek, malah menurutku untuk ukuran di sini sudah bisa mencapai skor 7 lah. Aku menyabuni seluruh tubuhnya. Bagian payudaranya agak lama aku remas-semas dengan sabun yang licin. “ Ah mas e nakal, main disitu terus,” katanya. Selanjutnya adalah selangkangan. Baru aku sadar bahwa Mbak Surti tidak banyak memiliki jembut, sehingga memeknya yang mentul terlihat jelas. Aku memasukkan jari tengahku dan membersihkan belahan memeknya dengan sabun. “Aduh mas geli ah, “ katanya manja. Aku gantian minta disabuni. Dia memperlakukan aku seperti sedang memandikan anaknya, Bedanya dibagian penisku dia melakukan kocokan, sehingga penisku pelan-pelan mulai bangun lagi.

Nikmat sekali dan segar rasanya membersihkan diri, meskipun waktunya sudah dinihari. Dengan berbalut handuk kami kembali kekamar tidur. Aku menyarankan Mbak Surti untuk langsung masuk ke bawah selimut dengan melepas handuknya. AC kamarku terasa sangat dingin, apalagi sehabis mandi begini rasanya tidak tahan berlama-lama telanjang. Setelah badanku kering aku juga langsung masuk ke dalam selimut yang sama dengan Mbak Surti.

Tempat tidur di kamarku cukup leluasa untuk ditempati berdua. Aku langsung memeluk tubuh mbak Surti yang kedinginan . Tanganku mulai bergerilya meremas susunya yang masih padat dan menantang. Dia mulai bangkit birahinya, ditandai nafasnya yang makin cepat. Pentilnya kupilin-pilin dan akhirnya aku hisap dan gigit dengan kedua bibirku. Nafsu Mbak Surti makin tinggi dengan sekali-kali melenguh. Giliran berikutnya tanganku menggapai belahan memeknya yang berbulu jarang. Terasa sudah mulai berlendir di bawah sana. Aku turun menciumi perutnya yang masih kencang sambil jariku terus memainkan clitorisnya. Dia mengejang-ngejang setiap kelentitnya diusap.

Selimut sudah terbuka dan badan Mbak Surti terekspos bugil. Aku terus ke bawah dan menciumi gundukan memeknya. “Mas jangan ah jijik, “katanya.
Rupanya dia belum pernah dioral. Aku tidak perduli malah terus menelusuri kebawah dan lidahku sudah menemukan titik sasaran, yaitu clitorisnya. Memek Mbak Surti sama sekali tidak berbau. Mungkin juga karena habis mandi tadi dibersihkan dengan sabun, atau karena dia memang pandai merawat kewanitaannya. Aku mulai melakukan operasi ke seputar memeknya. Mbak Surti sudah lupa soal jijik tadi. Dia malah menggelinjang-gelinjang menikmati rangsangan lidahku di kelentitnya. “ Aduh mas enak e masssss,” erangnya berkali-kali.

Tiba-tiba dia terdiam dan tidak berapa lama kemudian menjerit keras dan bersamaan dengan itu seluruh permukaan kemaluannya berkedut-kedut. Dia mencapai orgasmenya melalui oralku. Aku bekap terus mulutku ke memeknya dan menghentikan gerakan lidah. Tangan Mbak Surti menekan kepalaku agar lebih ketat menekan memeknya. Aku memang agak kesulitan bernafas jadinya, tetapi masih ada celah sedikit.

Selesai dia menuntaskan orgasmenya dia tergolek lemas. Aku meneruskan mencolok jari tengah dan jari manis perlahan-lahan memasuki memeknya yang sudah makin basah. Titik G pot yang dicari terasa menonjol di bagian langit-langit vaginanya. Pelan-pelan aku raba halus. Awalnya Mbak Surti diam saja. Namun lama-kelaman dia mulai lagi merintih-rintih. Aku menggerakkan kedua jariku di dalam memeknya dengan gerakan yang makin keras. Mbak Surti pun makin mengerang. Aku buka kedua kakinya sehingga belahan memeknya juga terbuka. Memeknya cukup bagus, tidak ada gelambir berlebihan, dan warnanya juga tidak terlalu pekat. “ Mas-mas stop dulu mas aku rasanya kebelet pipis, aduh mas,” erangnya. Aku tidak menuruti kemauannya tetapi terus mekin keras mengangkat kedua jariku di dalam liang vaginanya. Aku sengaja membuka lebar celah vaginanya. Seperti yang kuharapkan, dari celah vaginanya menyemprot cairan agak kental mengenai mukaku. Sekitar 4 kali semprotan itu terjadi dan makin melemah sampai akhirnya hanya meleleh.

“Aduh mas aku pipis tadi ya, tapi rasane koq uenak banget yoo, aku lemes banget mas,” katanya.

Tidak menghiraukan keluhannya aku langsung menindihnya dan memasukkan penisku yang sudah mengeras sejak tadi. Meski memeknya basah, tetapi jepitannya masih terasa mencengkeram. Aku menandai, jika cewek baru orgasme, otot-otot vaginanya demikian mengembang sehingga memberi efek lebih menjepit. Aku memompa dengan gerakan kasar. Mbak Surti mencapai orgasme lagi, dia sampai minta-minta ampun karena katanya badannya lemas banget. “ Aduh mas wis mas aku ampun mas lemes banget massss,” tapi terus aku genjot. Mbak Surti mesti mengiba-iba minta kuhentikan, tetapi dia merintih=rintih keenakan juga. Aku memainkan penisku di dalam vaginanya pada posisi konstan tepat dimana bagian-bagian sensitifnya tergerus. Rasa nikmat mulai menjalari seluruh tubuhku dan orgasmeku sudah makin mendekat dan akhirnya meledaklah spermaku di dalam memeknya. “Aduh mas e pinter banget main e, aku nganti lemes banget mas. Aku durung pernah ngrasake koyo ngene,” katanya.

Setelah beristirahat sejenak dia kuajak ke kamar mandi. Tapi dia rada enggan. Aku bilang, nggak enak, kalau tidur belepotan gitu. Di bawah pantatnya memang aku alasi handuk, agar maniku yang meleleh keluar dari memeknya tidak sampai mengotori sprei.

Dengan malas-malasan akhirnya dia menggelayut ditubuhku menuju kamar mandi. Setelah itu kami tertidur pulas. Kami terbangun sudah sekitar jam 11 siang. Perut rasanya keroncongan.

Setelah kami main satu ronde lagi, kami mandi dan berpakaian lengkap. Hari ini aku berencana mengantar Mbak Surti ke Purworejo.

“Mas tau enggak, aku kan waktu di Terminal Tirtonadi kemarin, pura-pura saja nanya ke mas. Padahal aku naksir mas biar jadi pasanganku untuk ke Gunung Kemukus,” katanya sambil berbisik dalam perjalanan kami dengan kereta Pramex (Prambanan Expres). Dalam hatiku ternyata sama juga dengan aku, memilih-milih pasangan sebelum ke Kemukus.

Sesampainya di Purworejo aku langsung mencari hotel, dan malamnya janjian mau merasakan nasi gorengnya. Mbak Surti dibantu keponakannya membuka tenda Nasi Goreng. Aku mencicipi nasi goreng olahannya, juga mi rebus. Ternyata bumbunya terasa masih kurang mantap, malah terkesan terlalu banyak MSG. Kalau dia mempertahankan rasa nasi goreng seperti ini, biar berpuluh kali ke gunung Kemukus, nasi goreng dagangannya gak bisa tambah laku. Aku berjanji akan memberi resep bumbu nasi goreng yang lebih yahud. Dia kelihatan senang sekali. “ Lha mas e pinter masak toh,” tanyanya heran bercampur gembira. Kami janjian ketemu besok dengan dia menjemputku ke hotel dan mengajak ke rumahnya.

Keesokan harinya aku bersama Mbak Surti belanja ke pasar membeli bumbu yang kuperlukan seperti kecap asin, kecap inggris, ebi, kemiri dan bumbu kaldu sapi dan ayam serta trasi yang bagus. Semua belanjaannya kubayari. Dia kelihatan senang sekali.

Dari pasar kami langsung menuju rumahnya yang sederhana. Rumahnya kelihatan sepi kecuali keponakannya yang kemarin membantu berjualan. Semua anak-anaknya sedang bersekolah. Aku menunjukkan olahan bumbu nasi goreng berbagai versi, ada versi chinese food, ada versi nasi goreng jawa, sekaligus dengan isinya ada udang, ayam, hati ampela ayam dan baso. Dengan gaya koki profesional aku mendemontrasikan penggunaan bumbu dan memasak nasi gorengnya dengan berbagai versi. “Wah nasi goreng mas e enak tenan je,” katanya. Aku juga mengajari cara memasak mi goreng, mi rebus dengan bumbu yang sederhana tetapi terasa sedap. Aku minta dia mengikuti resepku untuk dijual di warungnya. Aku sekaligus mengajari pula cara membuat Kwetiau goreng ala Medan dan Kwetiau siram.

“Wah isine lengkap banget yo mas, iki di jual berapa mas. “ tanyanya.
Untuk pertama Nasi goreng lengkap dan Kwetiau gorengnya dijual dengan harga 10 ribu dulu, nanti kalau sudah banyak pelanggannya baru dinaikkan. Dengan harga 10 ribu sudah cukup bisa dapat untung kok. Dia sepakat mengikuti arahanku dan nanti malam menu baru ini akan di coba dijajakan. Itu saja tidak cukup aku membantu membuatkan menu dengan menyewa komputer di warnet lalu difoto copy dan tendanya diubah dengan tampilan print digital banner dengan disain yang lebih menarik. Malam itu pengujung warungnya lebih ramai dari biasanya, sampai mereka harus rela menunggu agak lama menunggu pesanannya. Menu baru yang kurancang itu lumayan berhasil malam itu. Aku terus menunggu di warung Mbak Surti, sampai dagangannya habis jam 12 malam. “Wah lumayan je mas duite akeh,” kata Mbak Surti.

Memang tampilan warung Mbak Surti agak mencolok dibandingkan warung-warung di dekatnya. Banner yang mencolok memikat orang untuk mampir. Apalagi menu yang ditawarkan belum ada saingan di kota itu. Mbak Surti sebenarnya punya sense yang bagus soal memasak, sehingga aku tidak perlu terlalu susah mengajari bumbu-bumbunya.

“Mbak kuncinya di telor, jangan dimasukkan diawal, tetapi dipertengahan kita menggoreng, biar tidak amis taburi merica. Dengan telor itu makannya jadi tidak terlalu berminyak, sehingga orang tidak cepet muak,” kataku memperingatkannya.
“Mbak ziarah ke gunung kemukus itu harus 7 kali lho dengan jeda setiap 35 hari dan harus dengan pasangan yang sama lho,” kataku menggoda.
“Wah 10 kali pun gak apa-apa asal sama mas e” katanya genit.

Sebulan kemudian dia mengabariku bahwa warung tendanya sekarang sudah memiliki 3 meja, dan rame terus. Padahal waktu itu cuma ada 1 meja. Dia sudah punya 2 asisten untuk masak dan 2 lagi untuk melayani.

Aku tidak tahu apakah Mbak Surti meyakini kemajuan dagangnya karena ziarah ke Kemukus, atau karena menu baru yang kuajarkan kepadanya. Hampir setiap bulan aku ke Solo dan kami ke Kemukus melaksanakan sex orgy di alam bebas. Setahun kemudian dia sudah makin berkembang dengan memperbesar tendanya menjadi 8 meja. Omzetnya sudah bisa mencapai 2 jutaan dan kalau malam minggu bulan muda bisa mencapai 5 jutaan.

Jika dulu aku yang membiayai hotel dan segala macamnya. Sekarang Mbak Surti mencegah aku membiayai itu, Dia semua yang membayarnya.
Aku menyukai mbak Surti karena memeknya uenak banget, sebaliknya dia menyukai ku karena jasa resepku dia bisa maju . Kabar terakhir dia sudah buka cabang di kota yang sama. Bravo Mbak.